NovelToon NovelToon
CINTA YANG TAK SEPADAN

CINTA YANG TAK SEPADAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:429
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Kepergian kekasihnya membuat Naya menyadari akan kehilangan yang begitu mendalam. Luka yang ditawarkannya pun begitu hebat hingga membuat Naya harus benar-benar pulih dari rasa sakit hati.

Dan seiring berjalannya waktu, Zaki datang dan mengubah kehidupannya yang dulu begitu terasa hampa penuh luka tersebut kini penuh kebahagiaan yang tak pernah ia miliki sebelumnya.

Namun sayangnya, kebahagiaan itu harus mereka perjuangkan bersama agar tetap bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RASA TAK BIASA

​Ruang Kurikulum terasa sesak oleh aroma kertas tua dan deru kipas angin yang berputar malas di langit-langit. Setelah beberapa menit berbincang dengan Pak Munawar, wakasek kurikulum sekaligus guru yang menjabat sebagai ketua praktik kerja lapangan di tahun ini, Zaki akhirnya melangkah keluar dengan napas lega.

Di tangannya, surat pengajuan praktik kerja lapangan yang baru saja dibubuhi stempel resmi itu terasa begitu berarti—sebuah tiket menuju dunia nyata yang selama ini ia incar.

​Langkahnya mantap menyusuri koridor yang mulai sepi karena jam istirahat telah berakhir.

Dan, saat ia sampai di depan pintu kelasnya, langkah Zaki mendadak terpaku.

​Di dalam sana, sosok yang tak asing sedang berdiri di depan meja guru, tengah merapikan tumpukan buku dengan gerakan yang tenang.

Naya.

Zaki mematung di ambang pintu, merasa jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia sempat tertegun sejenak, membandingkan sosok anggun yang berdiri di depan kelas ini dengan Naya yang ia temui di kafe tempo hari—seseorang yang penuh luka namun tetap berusaha tegar.

​Sementara itu, Naya, yang menyadari kehadiran seseorang di ambang pintu, menoleh perlahan. Begitu matanya menangkap sosok Zaki yang sedang memegang amplop surat, ia melempar senyum tipis yang hangat.

​"Silakan masuk, Zaki," ucap Naya lembut, memberi isyarat dengan tangannya agar pemuda itu tidak perlu ragu.

​Suara itu seperti perintah yang sekaligus menjadi undangan. Zaki mengembuskan napas panjang, mencoba menetralkan degup dadanya, lalu melangkah masuk ke dalam kelas. Di bawah tatapan Naya, ia merasa perannya sebagai siswa kembali melekat, namun di balik itu, ia sadar bahwa ada ikatan tak kasat mata yang kini menghubungkan mereka setelah pertemuan di kafe itu.

"Oke anak-anak... sekitar tiga minggu lagi kita akan melaksanakan ujian akhir semester..." Kata Naya lantang. "Ibu ingatkan kembali, bagi kalian yang merasa nilai tugas dan catatannya yang belum lengkap... silahkan lengkapi. Karena itu akan berdampak dengan nilai akhir kalian nanti. Jadi, silahkan periksa kembali lembar buku kalian dan cocokkan dengan teman sebangku. Bagi yang merasa sudah mengerjakan atau lupa bagian mana yang belum dikerjakan, silahkan maju ke depan. Paham semua?"

​"Pahaaaam, Bu!" jawab murid serentak, disusul suara riuh kursi yang bergeser dan buku yang dibuka.

​Naya menghela napas lega, lalu kembali ke meja guru untuk duduk sejenak. Matanya memindai setiap sudut kelas, memperhatikan kesibukan mereka. Tak lama, seorang siswa melangkah maju ke meja guru dengan langkah tenang. Tanpa ragu, ia tiba-tiba bersimpuh tepat di hadapan kursi Naya, lalu meletakkan buku catatannya di atas meja sembari membuka lembar demi lembar dengan rapi.

​"Za-zaki..." gumam Naya, suaranya tercekat di tenggorokan.

​Jantung Naya berdegup tidak karuan. Zaki tetap berada dalam posisi bersimpuh—sebuah gestur yang bukan sekadar formalitas kesopanan di sekolah, melainkan sesuatu yang jauh lebih personal. Bagi Naya, posisi ini terasa sangat intim sekaligus mendebarkan. Ada sensasi aneh yang menjalar ke sekujur tubuhnya, seolah-olah ia tidak sedang berhadapan dengan muridnya, melainkan dengan pria yang ia temui di kafe kemarin sore.

​Bola mata mereka saling mengunci. Zaki menatapnya dari bawah, namun tatapan itu tidak menyiratkan rasa takut atau sungkan yang kaku. Sebaliknya, ada binar ketulusan dan penghormatan yang begitu dalam di sana. Ada sebuah sikap yang membuat Naya merasa dihargai dan dimuliakan dengan cara yang tidak pernah ia dapatkan dari siapa pun sebelumnya.

​"Apa ada tugas saya yang belum lengkap, Bu?" tanya Zaki pelan. Suaranya rendah, namun entah kenapa terdengar begitu dominan di tengah kesunyian ruang di sekitar mereka.

​Naya berusaha menetralkan napasnya yang terasa sesak. Ia menatap buku di hadapannya, namun pikirannya justru tertuju pada lekuk wajah Zaki yang kini begitu dekat.

Seluruh atmosfer di kelas seolah menguap, menyisakan ruang privat di antara mereka berdua di tengah riuhnya suasana kelas. Naya merasa tersanjung, sekaligus gugup—sebuah perasaan yang sama sekali tidak pernah ia rasakan, kini hadir di hadapan pria yang baru saja ia kenal namun terasa begitu memahami dunianya.

"Hmmm." Gumam Naya berdeham, mencoba menetralkan degup jantungnya yang kian tak keruan. Ia mengulurkan tangan, jemarinya sedikit gemetar saat mulai membalik lembar demi lembar buku catatan Zaki.

Saat pandangannya jatuh pada barisan kalimat di sana, Naya hampir saja tersenyum geli. Ternyata, jika ia amati tulisannya Zaki sungguh berantakan. Huruf-hurufnya tegak-miring dengan ukuran yang tidak konsisten, mengingatkannya pada tulisan anak sekolah dasar yang baru belajar merangkai kata. Namun, di balik kerapian yang absen itu, setiap barisnya terbaca dengan jelas, seolah pemuda itu menuliskan setiap poin dengan penuh konsentrasi dan kejujuran.

​"Hmmm," gumam Naya lagi, kali ini bukan untuk menutupi kegugupan, melainkan untuk menyembunyikan rasa gemas yang tiba-tiba muncul.

Sementara, ​Zaki masih bersimpuh di sana, menunggu dengan sabar. Posisi itu membuat jarak di antara mereka begitu tipis hingga Naya bisa mencium aroma samar kopi dan sabun maskulin dari kemeja pria itu. Naya merasa tatapan Zaki tidak pernah lepas dari gerak-gerik tangannya yang membalik kertas.

"Bagaimana, Bu? Apa ada yang kurang?" Kata Zaki, kali ini suaranya terdengar lembut dan penuh permohonan.

Dan bagi Naya, suara itu terdengar seperti magnet yang menarik paksa benteng pertahanannya untuk runtuh. Bukan lagi suara seorang murid yang sedang menagih validasi nilai, melainkan bisikan seorang pria yang tengah menguji seberapa jauh Naya mampu menyembunyikan getaran di hatinya.

Naya menunduk, menatap buku yang masih ia dekap di atas meja. Debaran di dadanya terasa seirama dengan napas Zaki yang berhembus pelan di dekat meja guru. Suara itu begitu dominan, memekakkan telinganya dari kebisingan kelas yang tiba-tiba terasa seperti latar belakang yang jauh dan tidak nyata. Ada nuansa hangat sekaligus menyesakkan. Sebuah kerentanan yang Zaki tawarkan secara terang-terangan di depan matanya. Kenapa aku seperti ini? Enggak, Nay. Sadar, Nay... sadar! Dia itu cuma bocah! Usianya pun lumayan jauh, mana mungkin aku bisa...

"Bu!" Sahut seseorang mengejutkan keduanya.

Suara itu memecah gelembung hening yang mereka ciptakaN. Wajah Naya refleks terangkat, tersentak seolah ditarik paksa dari dunia khayal yang baru saja menghanyutkannya. Ia segera menarik tangannya dari buku Zaki, lalu memutar kursi sedikit ke samping untuk menyembunyikan semburat merah yang pasti telah menjalar di kedua pipinya.

"Ya ampuuuun Dion. Ngagetin, aja!" Protes Naya. "Ada apa?!"

Dion, siswa berbadan tinggi gempal itu, hanya menyengir lebar tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Maaf ya, Bu. Hehe... saya kebelet banget pengen ke toilet, Bu. Udah nggak kuat!"

Naya hanya bisa menghela napas panjang, lalu melambaikan tangan sebagai isyarat agar siswa itu segera pergi sebelum benar-benar terjadi 'insiden' di kelasnya. Setelah pintu tertutup kembali, Naya berusaha menenangkan sisa debaran di dadanya. Ia menutup buku catatan Zaki di hadapannya, lalu memberanikan diri menatap ke arah bangku Zaki.

​"Buku kamu lengkap, Zaki," ucap Naya dengan suara yang ia usahakan tetap stabil. "Catatanmu detail, bahkan tidak ada satu poin pun yang kosong."

​Naya menjeda sejenak, menatap Zaki yang masih berdiri di depannya. "Hanya saja... untuk tugas praktik seperti minggu lalu yang kamu kumpulkan kemarin, kamu selalu mengumpulkannya terlambat. Saya harap ke depannya kamu bisa lebih disiplin. Apalagi sekarang kamu sudah mau naik kelas dua belas dan akan melaksanakan PKL."

​Zaki menunduk, bahunya sedikit merosot—sebuah gestur yang membuat Naya merasa bersalah telah menegurnya, padahal itu memang tugasnya. "Saya mohon maaf ya, Bu," gumamnya, suaranya terdengar memelas dan sarat akan penyesalan yang tulus. "Saya janji akan memperbaiki kekurangan saya. Terima kasih sudah mengingatkan saya, Bu."

​Naya hanya mengangguk pelan, membalas dengan senyum tipis yang sekilas tampak profesional. Namun, di balik topeng ketenangannya, hatinya justru sedang tidak keruan. Ada riak yang mengusik ketenangannya. Ada sebuah perasaan hangat yang menjalar pelan yang membuat napasnya yang kali ini terasa lebih berat ketika ia menyadari bahwa meski Zaki baru saja menjauh, namun kehadiran pemuda itu masih memenuhi seluruh ruang kelas yang terasa mendadak sempit ini.

****

1
Rahmi Mamimima
Typo ini.. Harusnya aku yg pduli sm kamu
Rahmi Mamimima
Kasian, naya udah g punya sahabat baik lagi

Kinan jug ksian krna uda g punya orang tua
Rahmi Mamimima
Wadduuhh gimana si kecil? Apa dy ikut dlm kcelakaan itu?
Rahmi Mamimima
Ah masa iya stlh obrolan itu tdk ad obrolan lgi ntara nya dan zaki
Mlah nay tu dr grup sekolahan, bkn dr zaki sendiri
Rahmi Mamimima
🤣🤣🤣😄Org lagi jatuh cinta kok malah mau d bw k psikiater
Rahmi Mamimima
Jatuh cinta beneran si naya sm muridnya
Rahmi Mamimima
Ibunya sdh mninggl? Apa krna anaknya g jdi mnikah?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!