NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Sang Raja Mafia

Pengantin Pengganti Sang Raja Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Perjodohan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Syahrul Mulia

Demi menyelamatkan ayahnya dari lilitan utang, Arunika Maheswari terpaksa menggantikan kakaknya menikah dengan Arsen Valentino, seorang CEO sekaligus Raja Mafia paling berkuasa. Pernikahan yang berawal dari keterpaksaan itu membawa Arunika masuk ke dunia penuh rahasia, pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan yang mengancam nyawanya setiap saat.

Di tengah bahaya yang terus mengintai, hubungan mereka perlahan berubah menjadi cinta yang tak terduga. Namun, mampukah Arunika bertahan sebagai istri sang Raja Mafia, atau justru menjadi kelemahan terbesar yang akan menghancurkan Arsen?

Disclaimer : Novel ini dibuat semata-mata untuk hiburan. Seluruh isi cerita merupakan imajinasi penulis dan tidak untuk ditiru atau dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Penulis tidak bertanggung jawab atas segala bentuk penyalahgunaan isi novel di luar tujuan sebagai bacaan hiburan.

Terima kasih dan selamat menikmati cerita. ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahrul Mulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Bayang-Bayang Ganda

Kesadaran Arunika mengambang di antara kabut hitam yang pekat dan aroma manis gas tidur yang masih melekat di paru-parunya. Kepalanya terasa seberat batu, dan setiap kali dia mencoba membuka kelopak matanya, rasa pening yang hebat langsung menghantam bagian belakang kepalanya. Dunia di sekelilingnya sunyi, sebuah kesunyian yang mencekam setelah badai tembakan dan ledakan yang menghancurkan aula pernikahan beberapa saat lalu.

Namun, yang paling menyiksa batinnya saat ini bukanlah rasa sakit fisik, melainkan gaung kalimat terakhir dari sosok bertopeng gas yang menyeretnya ke dalam kegelapan.

*“Selamat datang kembali ke rumah... Valeria kecil.”*

Mengapa sosok itu memanggilnya dengan nama kakaknya? Mengapa Valeria? Bukankah Valeria yang seharusnya berdiri di posisinya sekarang? Arunika mencengkeram kepalanya sendiri yang berdenyut kencang, mencoba meraba ubin tempatnya berbaring. Dingin, kaku, dan berbau debu serta mesiu tua. Ini bukan lagi lantai marmer hitam aula mansion Valentino yang mewah.

"Kau sudah bangun, Umpan Kecil?"

Sebuah suara dingin yang sangat dia kenali memecah keheningan. Arunika terlonjak, memaksakan matanya terbuka lebar mengabaikan rasa perih yang menyerang. Di sudut ruangan yang remang-remang, diterangi oleh seberkas cahaya lampu minyak yang tergantung di langit-langit beton, Arsen Valentino duduk di atas sebuah kursi besi tua.

Pria itu tidak lagi mengenakan tuksedo hitamnya yang sempurna. Kemeja putihnya tercoreng oleh jelaga hitam dan noda darah kering, dengan beberapa luka sayatan kecil di lengan jasnya yang robek. Di tangan kanannya, sebuah pisau taktis bermata gelap dimainkannya dengan gerakan memutar yang ritmis dan berbahaya.

"Arsen..." ratih Arunika, suaranya serak seperti ampelas. Dia mencoba bangkit, mendapati dirinya tergeletak di atas sebuah dipan besi tanpa kasur di dalam sebuah ruangan yang menyerupai bunker bawah tanah. "Di mana... di mana kita?"

"Di tempat di mana musuh-musuhku mengira mereka bisa menyembunyikanmu," sahut Arsen datar. Pria itu berdiri, melangkah mendekati dipan dengan ritme yang lambat namun menekan.

"Gudang logistik sektor empat di pelabuhan utara. Tempat yang sama di mana mereka menyiksa ayahmu beberapa jam lalu."

Arunika terbelalak. "Kau... kau menyelamatkanku lagi?"

"Jangan salah paham, Arunika," Arsen membungkuk, menumpukan satu tangannya di sisi dipan besi, mengunci pandangan matanya yang tajam tepat ke arah manik mata gadis itu. "Aku tidak menyelamatkanmu karena aku peduli. Pasukan bayangan bawah tanahku berhasil memotong jalur pelarian mereka sebelum mereka sempat membawamu keluar dari pelabuhan internasional. Kau masih berutang dua puluh miliar padaku, dan darah ibumu masih mengalir di dalam nadimu. Kau tidak boleh mati sebelum aku mengizinkannya."

Rasa lega yang sempat terbersit di dada Arunika seketika menguap, digantikan oleh rasa sesak yang kembali menghimpit hatinya. Pria di hadapannya ini tetaplah monster yang sama.

Seorang raja mafia yang hanya melihatnya sebagai alat tukar dan objek dendam masa lalu.

"Tapi sepertinya," Arsen meluruskan tubuhnya kembali, menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang sarat akan intrik, "ada sesuatu yang jauh lebih menarik daripada sekadar dendam sepuluh tahun lalu."

Arsen melemparkan sebuah benda ke atas dipan besi, tepat di samping kaki Arunika. Sebuah paspor internasional bersampul biru tua dengan beberapa lembar dokumen penerbangan resmi di dalamnya.

"Buka," perintah Arsen singkat.

Arunika mengambil paspor itu dengan jemari yang gemetar. Ketika dia membuka halaman pertama yang menampilkan foto dan identitas pemiliknya, jantungnya seolah berhenti berdetak seketika. Di sana, terpampang foto wajahnya sendiri—wajah Arunika—namun nama yang tertera di bawah foto tersebut dicetak dengan huruf kapital yang sangat jelas: **VALERIA BASKORO**.

"I-ini... ini salah..." bisik Arunika, kepalanya menggeleng dengan panik. "Ini paspor Kak Valeria! Tapi kenapa fotonya... kenapa fotonya memakai fotoku?!"

"Catatan manifes penerbangan ke Paris tiga jam sebelum pernikahan kita tidak pernah bohong, Arunika," ucap Arsen, suaranya merendah menjadi desis berbahaya yang mengirimkan gelombang ngeri ke punggung gadis itu. "Wanita yang terbang ke Eropa menggunakan nama Valeria Baskoro adalah seorang wanita dengan wajah yang sama sekali berbeda denganmu setelah tim intelijenku memeriksa kamera pengawas bandara. Dan wanita yang berdiri di depanku sekarang... wanita yang memiliki tanda lahir bulan sabit merah di bahunya... memiliki dokumen resmi atas nama Valeria."

Kejutan besar itu menghantam isi kepala Arunika seperti gada besi. Pikirannya berputar hebat mengilas balik seluruh kehidupannya selama ini. Sejak kecil, dia selalu diberitahu bahwa dia adalah Arunika, adik perempuan yang biasa-biasa saja, sementara kakaknya yang cantik dan pandai memikat orang adalah Valeria. Tapi kenapa dokumen resmi kenegaraan justru menyatakan hal yang sebaliknya?

Sebelum Arunika sempat mencerna kebenaran yang mengerikan itu, suara langkah kaki yang berat menggema dari balik pintu besi bunker yang tebal.

*Brak!*

Pintu itu terbuka kasar. Marco melangkah masuk dengan wajah yang dipenuhi luka memar dan keringat. Di belakangnya, dua orang pengawal berjas hitam menyeret tubuh seorang pria bertopeng gas yang sudah tidak berdaya, pria yang sama yang membisikkan kalimat misterius di telinga Arunika sebelum dia pingsan di aula.

"Tuan Arsen," ucap Marco sambil terengah-engah. "Kami berhasil melumpuhkan pemimpin tim penyusup dari faksi barat. Pria ini mencoba menghancurkan sistem kelistrikan gudang untuk melarikan diri."

Arsen berjalan mendekati pria bertopeng gas yang kini berlutut di atas lantai semen yang kotor. Tanpa banyak bicara, Arsen merenggut topeng gas tersebut dengan satu sentakan kasar hingga talinya memutuskan beberapa helai rambut sang tawanan.

Wajah di balik topeng itu terkespos di bawah cahaya lampu minyak yang temaram.

Arunika menahan napasnya, tangannya menutup mulutnya sendiri menahan pekikan histeris yang nyaris lolos. Wajah pria itu... meskipun kini dipenuhi darah dan lebam akibat pukulan Marco, adalah wajah pria yang sangat dia kenali.

Seorang pria yang selama ini dia ketahui sebagai mantan tunangan kakaknya, Valeria, yang dikabarkan telah tewas dalam kecelakaan tragis satu tahun lalu.

"Rangga...?" bisik Arunika tak percaya.

Pria bernama Rangga itu perlahan mengangkat kepalanya yang berat. Mulutnya yang berdarah menyunggingkan sebuah seringai sinis, bukan ke arah Arsen, melainkan lurus ke arah Arunika yang duduk gemetar di atas dipan besi.

"Lama tidak bertemu... Arunika yang malang," ucap Rangga, suaranya parau dan penuh racun.

"Rangga, apa maksud dari semua ini?! Kenapa kau masih hidup?! Dan kenapa kau memanggilku Valeria di aula tadi?!" teriak Arunika, emosinya pecah menjadi histeria yang tak terkendali. Dia ingin berlari mendekati Rangga, namun kilatan pisau taktis di tangan Arsen membuatnya tertahan di tempat.

Arsen melangkah selangkah lebih dekat, menodongkan ujung pisaunya tepat di bawah dagu Rangga, memaksa pria itu mendongak maksimal. "Bicara. Sebelum aku menguliti lehermu inci demi inci."

Rangga terkekeh rendah, suara tawanya terdengar gila di dalam ruangan beton yang sempit itu. "Kau mengira kau sudah tahu segalanya, Arsen Valentino? Kau mengira kau memegang anak perempuan dari Katarina Vane untuk membalaskan dendam ibumu? Kau salah besar. Kau hanya bidak bodoh dalam permainan yang diatur oleh keluarga Baskoro sejak sepuluh tahun lalu!"

Rangga melirik kembali ke arah Arunika dengan tatapan yang sarat akan konspirasi gelap. "Gadis yang kau bawa ke mansionmu ini... gadis yang memiliki tanda bulan sabit merah di bahunya... dia bukan anak kandung Katarina Vane. Dia adalah anak haram yang diadopsi Baskoro dari panti asuhan untuk dijadikan perisai hidup jika suatu saat faksi Valentino datang menagih darah!"

Ruangan itu seketika membeku. Kata-kata Rangga bergaung seperti petir di siang bolong, menghancurkan seluruh fondasi kenyataan yang dipercayai oleh Arsen maupun Arunika selama ini.

"Bohong! Kau bohong!" jerit Arunika, air matanya tumpah deras membasahi pipinya yang pucat. "Ibu kandungku... ibuku..."

"Ibu kandungmu yang asli adalah Valeria yang asli! Wanita yang sekarang sedang terbang menuju Paris dengan membawa seluruh dokumen rahasia milik perusahaan saingan Arsen!" potong Rangga dengan suara yang meninggi, memutus kalimat Arunika tanpa belas kasihan. "Kalian berdua ditukar sejak bayi! Baskoro sengaja memberikan tanda lahir buatan pada bahu gadis ini menggunakan tinta kimia permanen milik dunia bawah tanah agar semua orang mengira dialah pewaris darah Eclipse! Sementara anak kandung Katarina yang asli... hidup aman dalam gelimang kemewahan tanpa pernah tersentuh oleh bahaya!"

Arsen Valentino tertegun untuk pertama kalinya dalam malam yang panjang ini. Rahang tegasnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol tajam, sementara cengkeramannya pada pisau taktisnya mengencang hingga jemarinya memutih. Jika apa yang dikatakan Rangga adalah kebenaran, maka selama ini dia telah memburu umpan palsu yang sengaja dipasang untuk mengelolanya.

Arsen membalikkan tubuhnya dengan lambat, mengarahkan sepasang mata elangnya yang kini berkilat oleh amarah purba yang jauh lebih mengerikan dari sebelumnya, tepat ke arah Arunika yang terduduk lemas bagai boneka rusak di atas dipan besi.

Tepat di saat ketegangan di dalam bunker bawah tanah itu mencapai titik puncaknya, seluruh lampu minyak di langit-langit mendadak padam total, melemparkan mereka semua ke dalam kegelapan yang pekat.

*Duar! Duar!*

Suara rentetan tembakan senjata otomatis berkaliber besar tiba-tiba menggema dari arah lorong luar bunker, disusul oleh suara teriakan panik para pengawal Arsen yang berjaga di luar. Di dalam kegelapan yang gulita itu, Arunika bisa mendengar suara seretan rantai besi dan suara hantaman fisik yang keras tepat di dekat tempatnya berada.

Sebuah tangan yang dingin dan berbau mesiu mendadak mencengkeram pergelangan tangannya dengan sangat kasar dari balik kegelapan, menarik tubuhnya keluar dari dipan besi hingga dia terjatuh ke lantai semen.

"Ikut aku jika kau ingin tahu siapa dirimu yang sebenarnya, jalang kecil!" sebuah suara berbisik kasar di dekat telinganya, namun itu bukan suara Arsen, bukan suara Rangga, dan bukan pula suara Marco. Itu adalah suara seorang wanita dengan nada yang sangat dingin, yang getarannya membuat seluruh tubuh Arunika membeku karena ketakutan yang amat sangat.

_____________________________

**Bersambung ke Bab 9...**

*Siapakah sosok wanita misterius yang menyelinap di balik kegelapan dan mencoba menculik Arunika di tengah kepungan pasukan Arsen? Apakah konspirasi pertukaran identitas yang diungkapkan oleh Rangga adalah sebuah kebenaran mutlak, ataukah bagian dari taktik adu domba faksi barat untuk menghancurkan fokus sang raja mafia? Dan apa yang akan dilakukan Arsen saat menyadari tawanannya kembali berada di ambang pelarian? Jangan lewatkan badai rahasia yang semakin mencekam di bab berikutnya!*

1
lee eun ji
😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!