NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aiza-ra

Jennaira Hanania Mecca tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah setelah menerima perjodohan dengan Arshaka Zayd Kalandra, pria dingin pewaris keluarga Kalandra yang sulit percaya pada cinta.

Pernikahan mereka dimulai tanpa kehangatan. Setelah akad, Shaka menetapkan batas yang jelas antara dirinya dan Jenna. Baginya, Jenna hanyalah tanggung jawab, bukan seseorang yang boleh masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya.

Namun Jenna, dengan kelembutan, kesabaran, dan ketulusan hatinya, perlahan membuat pertahanan Shaka runtuh. Dari rasa penasaran, cemburu, hingga perhatian yang tak lagi mampu ia sembunyikan, Shaka mulai menyadari bahwa Jenna bukan sekadar istri yang dijodohkan dengannya.

Ia adalah perempuan yang diam-diam mengubah rumahnya menjadi tempat pulang, dan hatinya menjadi sesuatu yang kembali ingin percaya pada cinta.






Update setiap hari ya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 — Senyum yang Tidak Biasa

Pagi itu, meja makan rumah mereka terasa berbeda.

Biasanya, sarapan diisi oleh suara sendok yang beradu dengan piring, aroma kopi hitam Shaka, teh hangat Jenna, dan keheningan panjang yang sering kali terlalu canggung untuk disebut nyaman.

Namun pagi ini, keheningan itu berubah.

Jenna duduk di seberang Shaka dengan kepala sedikit menunduk. Di hadapannya ada sepiring roti panggang, telur rebus, dan buah potong. Shaka duduk seperti biasa, rapi dengan kemeja kerjanya, secangkir kopi hitam berada di dekat tangan kanannya.

Sekilas, semuanya tampak normal.

Sampai mata mereka tidak sengaja bertemu.

Jenna langsung tersenyum.

Shaka menatapnya beberapa detik, lalu sudut bibirnya ikut terangkat.

Jenna cepat-cepat menunduk, pura-pura mengambil garpu. Namun beberapa detik kemudian, ia kembali melirik.

Shaka ternyata masih menatapnya.

Jenna tersenyum lagi.

Shaka juga.

Begitu terus.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Sampai akhirnya Jenna tidak tahan.

“Cukup, Mas,” ucapnya sambil tertawa kecil. “Kita seperti orang gila.”

Shaka yang sedang mengangkat cangkir kopinya berhenti sebentar. Ia menatap Jenna, lalu menjawab dengan nada tenang, tetapi matanya jelas menyimpan gurauan.

“Aku memang sudah gila karenamu, Jenna.”

Jenna membeku.

Detik berikutnya, wajahnya langsung memerah.

“Mas Shaka…”

Namun sebelum Jenna sempat menyembunyikan wajahnya, Shaka tertawa.

Bukan senyum tipis.

Bukan tawa kecil yang tertahan.

Tetapi tawa sungguhan.

Ringan, rendah, dan lepas.

Jenna terdiam memandanginya.

Baru kali ini ia melihat Shaka tertawa selebar itu. Wajah yang biasanya dingin dan sulit dibaca mendadak terlihat begitu berbeda. Lebih muda. Lebih hangat. Lebih hidup.

Dan Jenna merasa dadanya dipenuhi sesuatu yang sulit ia namai.

Mungkin bahagia.

Mungkin lega.

Mungkin keduanya.

Shaka menyadari Jenna menatapnya.

“Apa?”

Jenna tersenyum malu. “Tidak apa-apa.”

“Kamu menatapku.”

“Karena aku baru pertama kali melihat Mas tertawa seperti itu.”

Shaka terdiam sebentar.

Panggilan itu membuatnya menyadari sesuatu.

Aku.

Bukan Jenna.

Pagi ini, tanpa mereka sepakati dengan jelas, jarak bahasa di antara mereka mulai berubah. Jenna mulai menggunakan aku. Shaka pun sejak tadi tidak lagi memakai saya. Sesederhana itu, tetapi rasanya seperti satu dinding kecil di antara mereka runtuh perlahan.

Shaka menatap Jenna lebih lembut.

“Mulai hari ini, jangan terlalu formal lagi.”

Jenna mengangkat wajah.

“Maksud Mas?”

“Panggil aku seperti tadi. Aku-kamu.”

Jenna menunduk, pipinya kembali menghangat.

“Mas juga.”

Shaka mengangguk pelan.

“Iya. Aku juga.”

Dari arah dapur, Mbak Rini yang sedang membawa piring tambahan berhenti beberapa detik. Ia menatap dua majikannya dengan bingung.

Kemarin-kemarin rumah itu terasa seperti ruang rapat yang terlalu sunyi. Tuan Shaka dan Bu Jenna selalu berbicara seperlunya. Sopan, tetapi kaku. Dingin, tetapi dijaga.

Namun pagi ini, keduanya saling pandang, saling tersenyum, bahkan tertawa seperti pasangan yang baru sadar sedang jatuh cinta.

Mbak Rini menunduk cepat agar tidak terlihat memperhatikan. Namun di dalam hati, ia benar-benar heran.

Ini Tuan dan Nyonya kenapa? Seperti sedang kasmaran.

Jenna melihat Mbak Rini yang menahan senyum, lalu semakin malu.

“Mas, Mbak Rini melihat.”

Shaka menoleh sebentar, lalu kembali menatap Jenna.

“Biarkan.”

“Mas.”

“Kan memang kita suami istri.”

Jenna menutup wajahnya sedikit dengan telapak tangan.

“Mas pagi ini menyebalkan.”

“Tapi kamu tersenyum.”

Jenna tidak bisa membantah.

Karena benar.

Ia tersenyum sejak tadi.

Dan hatinya terasa sangat ringan.

Seperti biasa, mereka berangkat bersama.

Shaka mengantar Jenna ke kafe lebih dulu sebelum menuju kantor. Namun perjalanan pagi itu tidak lagi diisi keheningan berat seperti hari-hari sebelumnya.

Jenna duduk di kursi penumpang sambil sesekali melirik Shaka.

“Mas.”

“Hm?”

“Eh, maksudku… kamu.”

Shaka meliriknya sekilas, lalu tersenyum tipis.

“Kenapa?”

Jenna menggigit bibir, menahan tawa.

“Rasanya aneh.”

“Aku-kamu?”

“Iya. Seperti baru kenalan ulang.”

“Kalau begitu, kenalan ulang saja.”

Jenna menoleh dengan mata membesar.

“Mas serius?”

“Kamu.”

Jenna tertawa kecil.

Shaka ikut tersenyum.

Jenna lalu berdeham pelan, membuat wajah sok formal.

“Baiklah. Perkenalkan, aku Jennaira Hanania Mecca Nirankara Kalandra.”

Shaka meliriknya. “Panjang sekali.”

“Itu nama lengkap.”

“Kalau begitu, perkenalkan. Aku Arshaka Zayd Kalandra.”

Jenna mengangguk-angguk pura-pura serius.

“Senang berkenalan denganmu, Tuan Shaka.”

Shaka menoleh sebentar dengan tatapan datar yang dibuat-buat.

“Tuan?”

Jenna tersenyum jahil.

“Kan kemarin kamu dan Kak Sagara saling panggil tuan.”

Wajah Shaka langsung berubah.

“Jenna.”

Jenna tertawa pelan.

“Kenapa? Cemburu lagi?”

Shaka mengencangkan genggamannya pada setir, tetapi kali ini bukan karena marah. Lebih karena gemas.

“Kamu mulai berani menggodaku.”

“Karena kamu lucu kalau cemburu.”

“Jenna.”

“Iya, iya. Aku diam.”

Namun Jenna jelas tidak benar-benar diam. Matanya masih melengkung, wajahnya penuh senyum kecil yang membuat Shaka ingin mencubit pipinya kalau saja ia tidak sedang menyetir.

Beberapa menit kemudian, di lampu merah, Shaka tiba-tiba mengulurkan tangan kanannya.

Jenna menatapnya bingung.

“Apa?”

“Tanganmu.”

Jenna menatap tangannya, lalu menatap Shaka.

“Untuk apa?”

“Digenggam.”

Wajah Jenna langsung memanas.

“Mas…”

“Kamu,” koreksi Shaka pelan.

Jenna menunduk, salah tingkah.

“Kamu tiba-tiba sekali.”

“Boleh?”

Pertanyaan itu membuat Jenna terdiam.

Ia menatap tangan Shaka yang terbuka di atas konsol tengah. Tangan itu dulu terasa jauh dan kaku. Tangan yang hanya ia cium setelah akad dengan hati bergetar. Tangan yang pernah ia rasa tidak akan pernah benar-benar menggenggamnya dengan lembut.

Namun pagi ini, tangan itu menunggu.

Bukan memaksa.

Hanya meminta.

Pelan-pelan, Jenna meletakkan tangannya di atas tangan Shaka.

Shaka langsung menggenggamnya.

Hangat.

Kuat.

Tetapi hati-hati.

Jenna menunduk, pipinya semakin merah.

Shaka melihatnya dari sudut mata dan merasa dadanya dipenuhi rasa puas yang aneh.

“Kamu malu?”

“Jangan tanya.”

“Berarti iya.”

“Mas Shaka.”

Shaka terdiam sepersekian detik.

Lalu senyumnya melebar sedikit.

Jenna baru sadar, lalu segera panik.

“Maksudku—”

“Panggil lagi.”

“Tidak.”

“Jenna.”

“Tidak mau.”

Shaka tertawa kecil.

Dan Jenna merasa pagi itu terlalu indah untuk menjadi nyata.

Ketika mobil berhenti di depan Jenna’s Bloom Café, Jenna masih tersenyum sendiri.

Shaka menggenggam tangannya beberapa detik lebih lama sebelum melepas.

“Nanti aku jemput.”

Jenna mengangguk.

“Iya.”

“Jangan lupa makan siang.”

“Kamu juga.”

Shaka menatapnya.

“Kabari aku kalau ada apa-apa.”

Jenna tersenyum lembut.

“Iya, Mas Shaka.”

Kali ini ia sengaja.

Setelah mengucapkan itu, Jenna cepat-cepat turun dari mobil sebelum Shaka sempat membalas. Ia masuk ke kafe dengan langkah yang tampak biasa, tetapi senyum di matanya tidak bisa ia sembunyikan.

Di dalam kafe, Naya langsung menyadarinya.

“Kak Jenna?”

Jenna meletakkan tasnya di meja belakang.

“Iya?”

Naya menyipitkan mata.

“Kakak kenapa?”

“Kenapa memang?”

“Kakak senyum terus.”

Kevin yang sedang menyiapkan mesin kopi ikut menoleh.

“Iya, Kak. Dari pintu masuk sampai sini senyumnya belum turun.”

Alya memperhatikan wajah Jenna dari kasir.

“Kak Jenna sedang bahagia?”

Jenna mencoba bersikap biasa, tetapi senyumnya justru makin terlihat.

“Jenna memang sedang bahagia. Itu saja.”

Semua karyawan menatapnya aneh.

Amanda yang baru keluar dari dapur membawa daftar stok ikut berhenti.

“Bahagia karena apa, Kak?”

“Tidak ada.”

Kevin mengangkat alis.

“Kalau jawabannya tidak ada, berarti pasti ada.”

Naya langsung menepuk pelan meja bunga.

“Ini pasti karena Pak Shaka.”

Jenna mengambil gunting bunga dengan tenang.

“Naya, buket pesanan pagi ini sudah dicek?”

Naya tersenyum menang.

“Mengalihkan pembicaraan. Berarti benar.”

Jenna pura-pura sibuk merapikan bunga, tetapi wajahnya semakin merah.

Para karyawan saling pandang.

Bos mereka yang biasanya lembut dan tenang hari itu terlihat seperti seseorang yang baru saja menerima kabar paling menyenangkan di dunia.

Dan mereka semua tahu, apa pun yang terjadi, itu pasti berhubungan dengan suaminya.

Di kantor AZ Global Enterprises, kejadian serupa juga terjadi.

Sejak masuk ke ruang kerja, Shaka tampak berbeda.

Ia tetap rapi. Tetap tenang. Tetap menyelesaikan pekerjaannya dengan efisien. Namun ada yang berubah pada wajahnya. Sesekali, sudut bibirnya terangkat sendiri saat menatap layar ponsel. Beberapa kali ia tampak melamun sebentar, lalu tersenyum tipis sebelum kembali membaca dokumen.

Bagi karyawan biasa, mungkin perubahan itu tidak terlalu terlihat.

Tetapi bagi Rafa, itu seperti alarm besar.

Rafa masuk ke ruang kerja Shaka membawa beberapa dokumen, lalu berhenti di tengah ruangan.

Ia menatap Shaka.

Shaka sedang tersenyum kecil sambil menatap laptop.

Rafa membeku.

“Ya Allah.”

Shaka mengangkat wajah.

“Apa?”

Rafa menunjuknya dengan map.

“Lo senyum.”

Shaka langsung kembali datar.

“Tidak.”

“Jangan bohong. Gue lihat dengan mata kepala sendiri.”

“Rafa.”

“Nasihat gue berhasil, kan?”

Shaka menatapnya malas.

“Dokumennya mana?”

Rafa berjalan mendekat, tetapi wajahnya sudah penuh kemenangan.

“Gue tahu. Pasti lo sudah bicara sama Bu Jenna. Lo minta maaf. Terus Bu Jenna luluh. Terus sekarang lo jadi suami kasmaran.”

Shaka tidak menjawab.

Rafa menepuk meja pelan.

“Diam berarti benar.”

Shaka mengambil map dari tangan Rafa.

“Jangan terlalu percaya diri.”

“Ka, gue ini sahabat lo. Kalau wajah lo yang biasanya seperti badai utang perusahaan tiba-tiba cerah seperti habis lihat sunrise, gue tahu ada sesuatu.”

Shaka menandatangani dokumen pertama tanpa banyak bicara.

Rafa memperhatikannya dengan mata menyipit.

“Jangan-jangan lo sudah mulai romantis?”

Tangan Shaka berhenti sebentar.

Rafa langsung berseru pelan, “Wah!”

“Rafa.”

“Lo genggam tangan Bu Jenna?”

Shaka menatapnya tajam.

Rafa langsung tertawa.

“Berarti benar!”

“Keluar.”

“Belum. Gue mau menikmati momen langka ini.”

Shaka menutup map dengan tenang, lalu berkata, “Nasihatmu kemarin…”

Rafa langsung menegakkan tubuh.

“Iya?”

“Lumayan berguna.”

Mata Rafa membesar.

“Sebentar. Ini pujian?”

Shaka menatapnya datar.

“Jangan membuat saya menariknya kembali.”

Rafa meletakkan tangan di dada dengan dramatis.

“Setelah bertahun-tahun, akhirnya Arshaka Zayd Kalandra mengakui manfaat sahabatnya.”

Shaka menghela napas.

“Karena nasihatmu berguna, saya akan beri bonus tambahan bulan ini.”

Rafa membeku.

Lalu wajahnya berubah bahagia.

“Serius?”

“Iya.”

“Ka, mulai hari ini gue siap jadi konsultan rumah tangga pribadi lo.”

“Tidak perlu.”

“Perlu. Lo jelas masih pemula.”

“Rafa.”

“Tapi bonusnya tetap, kan?”

Shaka menatapnya datar.

“Keluar sebelum saya berubah pikiran.”

Rafa langsung mengambil map dengan cepat.

“Baik, Pak Suami Romantis. Saya keluar. Semoga hubungan rumah tangganya semakin harmonis, penuh cinta, dan bonus saya lancar.”

Shaka mengambil pulpen.

Rafa langsung kabur sebelum benda itu dilempar.

Setelah pintu tertutup, Shaka kembali menatap layar ponselnya.

Tidak ada pesan baru dari Jenna.

Namun hanya mengingat Jenna menggoda dirinya di mobil tadi, lalu meletakkan tangan dengan malu-malu di genggamannya, sudah cukup membuat senyum tipis kembali muncul di wajahnya.

Ia benar-benar sudah mulai gila.

Dan anehnya, ia tidak keberatan.

Menjelang siang, Jenna berada di ruang belakang kafe untuk memeriksa stok bunga. Setelah memastikan semuanya aman, ia duduk sebentar di kursi kecil sambil membuka ponsel.

Jarinya berhenti di kontak Shaka.

Pagi tadi terasa begitu hangat sampai ia ingin memperpanjangnya sedikit lagi.

Setelah ragu beberapa detik, Jenna mengetik pesan.

Jenna:

Mas Kamu sudah makan siang?

Ia menatap layar dengan jantung sedikit berdebar.

Balasan Shaka datang tidak lama kemudian.

Shaka:

Belum. Kamu?

Jenna tersenyum.

Jenna:

Belum juga. Mau makan siang bersama?

Di kantor, Shaka membaca pesan itu dan langsung berhenti meninjau dokumen.

Makan siang bersama.

Jenna yang mengajak.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

Ia mengetik balasan.

Shaka:

Datanglah ke kantorku. Kita makan siang bersama di sini.

Jenna membaca pesan itu, lalu menggigit bibir untuk menahan senyum.

Kantor Shaka.

AZ Global Enterprises.

Tempat yang selama ini hanya ia dengar dari cerita keluarga dan berita bisnis.

Ia membalas singkat.

Jenna:

Baik. Aku ke sana setelah bereskan sedikit pekerjaan di kafe.

Shaka:

Aku tunggu.

Dua kata itu membuat hati Jenna menghangat.

Aku tunggu.

Sederhana.

Namun terasa sangat berbeda dibandingkan hari-hari awal pernikahan mereka, saat semua ucapan Shaka terdengar seperti batas.

Jenna meletakkan ponselnya di dada sebentar, lalu tersenyum sendiri.

Naya yang kebetulan masuk ruang belakang langsung berhenti.

“Kak Jenna?”

Jenna tersentak.

“Naya!”

Naya menunjuk wajah Jenna.

“Itu senyum orang diajak makan siang sama suami.”

Jenna berdiri cepat.

“Jenna mau keluar sebentar nanti. Tolong jaga kafe.”

Naya tertawa kecil.

“Siap, Kak. Pergilah. Jangan khawatir, kafe aman.”

Jenna berusaha tetap tenang, tetapi langkahnya ringan saat kembali ke meja bunga.

Siang itu, untuk pertama kalinya, ia akan datang ke kantor Shaka bukan sebagai tamu keluarga, bukan sebagai seseorang yang asing, tetapi sebagai istri yang ditunggu.

Dan di kantor AZ Global Enterprises, Shaka sudah menutup beberapa dokumen lebih cepat dari biasanya.

Bukan karena pekerjaannya selesai.

Tetapi karena untuk pertama kalinya, makan siang dengan Jenna terasa jauh lebih penting daripada rapat apa pun di hari itu.

1
partini
dihhh bikin esmosi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!