Berikut deskripsi novel singkatnya.
Jennaira Hanania Mecca Nirankara tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah setelah menerima perjodohan dengan Arshaka Zayd Kalandra, pria dingin pewaris keluarga Kalandra yang sulit percaya pada cinta.
Pernikahan mereka dimulai tanpa kehangatan. Setelah akad, Shaka menetapkan batas yang jelas antara dirinya dan Jenna. Baginya, Jenna hanyalah tanggung jawab, bukan seseorang yang boleh masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya.
Namun Jenna, dengan kelembutan, kesabaran, dan ketulusan hatinya, perlahan membuat pertahanan Shaka runtuh. Dari rasa penasaran, cemburu, hingga perhatian yang tak lagi mampu ia sembunyikan, Shaka mulai menyadari bahwa Jenna bukan sekadar istri yang dijodohkan dengannya.
Ia adalah perempuan yang diam-diam mengubah rumahnya menjadi tempat pulang, dan hatinya menjadi sesuatu yang kembali ingin percaya pada cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 — Bakso dan Bianglala
Pukul delapan malam, suasana Jenna’s Bloom Café masih cukup ramai.
Malam minggu selalu menjadi hari yang panjang bagi kafe itu. Beberapa pelanggan masih duduk di area indoor, menikmati kopi dan dessert sambil berbincang pelan. Di sisi flower shop, wangi bunga segar masih memenuhi udara, bercampur dengan aroma kopi yang keluar dari mesin espresso.
Jenna baru saja menyelesaikan buket terakhir malam itu.
Buket itu bernuansa soft pink dan putih, dibungkus dengan kertas transparan buram dan pita satin kecil. Ia merapikan bagian ujungnya sekali lagi, memastikan tidak ada bunga yang miring, lalu menyerahkannya kepada Naya.
“Naya, ini pesanan atas nama Dinda. Tolong taruh di rak pengambilan, ya.”
“Siap, Kak.”
Jenna menghela napas lega.
Tubuhnya lelah, tetapi hatinya cukup puas. Semua pesanan bunga selesai. Bahan untuk kegiatan bakti sosial besok juga sudah dikemas rapi dalam beberapa kotak besar. Tinggal dibawa ke panti esok pagi.
Bel pintu kafe berbunyi.
Jenna yang sedang melepas sarung tangan plastik menoleh.
Shaka masuk.
Kemeja kerjanya masih rapi, meski lengan bajunya sudah sedikit tergulung. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, tetapi matanya langsung mencari Jenna begitu memasuki kafe.
Naya yang melihat kedatangannya langsung menyenggol Alya pelan.
“Pak Shaka datang,” bisiknya.
Alya menahan senyum. “Jangan mulai.”
Kevin dari balik mesin kopi ikut melirik. “Aura CEO-nya masih kuat ya, walau cuma jemput istri.”
Amanda yang sedang membereskan meja menahan tawa.
Jenna pura-pura tidak mendengar bisikan karyawannya. Ia berjalan mendekati Shaka dengan langkah tenang, meski entah kenapa dadanya berdebar kecil.
“Mas Shaka.”
Shaka menatapnya.
“Sudah selesai?”
“Iya. Baru saja selesai membuat buket terakhir.”
Shaka melirik meja bunga yang masih penuh sisa potongan tangkai, pita, dan kertas wrapping. Lalu ia kembali menatap Jenna.
“Kita pulang?”
Jenna mengangguk. “Iya. Jenna ambil tas dulu.”
Ia berbalik menuju meja kecil di belakang kasir, mengambil tasnya, lalu mengecek kembali kotak-kotak bahan untuk acara besok.
“Naya, Alya, bahan untuk besok jangan lupa disimpan di ruang belakang. Besok pagi Jenna ambil.”
“Siap, Kak,” jawab Alya.
“Kevin, pastikan mesin kopi dibersihkan sebelum tutup.”
Kevin langsung mengangkat jempol. “Aman, Kak.”
“Amanda, Arya, terima kasih ya hari ini. Maaf jadi ramai sekali.”
Amanda tersenyum. “Namanya juga malam minggu, Kak.”
Arya dari arah dapur mengangguk singkat. “Tidak apa-apa, Kak.”
Naya tersenyum jahil sambil menatap Shaka dan Jenna bergantian.
“Kak Jenna pulang duluan nggak apa-apa. Kafe tutup jam sembilan, kami bisa urus.”
Jenna menatap Naya dengan mata menyipit.
“Naya.”
“Aku cuma bilang fakta, Kak.”
Shaka memperhatikan interaksi itu dalam diam. Ia melihat bagaimana para karyawan Jenna tampak dekat dengannya. Tidak sekadar menghormati sebagai pemilik kafe, tetapi benar-benar menyayangi Jenna.
Jenna berpamitan kepada mereka satu per satu.
“Jenna pulang dulu, ya. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam,” jawab mereka hampir bersamaan.
Kevin menambahkan dengan suara pelan, tetapi masih terdengar, “Hati-hati, Kak. Selamat malam mingguan.”
Alya langsung menyikutnya.
Jenna menunduk sedikit, berusaha menyembunyikan malu.
Shaka hanya menoleh ke arah Kevin dengan tatapan datar.
Kevin langsung pura-pura sibuk mengelap meja.
Shaka membukakan pintu kafe untuk Jenna. Setelah mereka keluar, udara malam langsung menyambut. Lampu jalan menyala kekuningan, dan jalanan kota masih ramai oleh kendaraan malam minggu.
Mereka masuk ke mobil.
Beberapa detik pertama di dalam mobil hanya diisi keheningan.
Shaka menyalakan mesin, lalu melirik Jenna sekilas.
“Kamu sudah makan?”
Pertanyaan itu terdengar seperti basa-basi. Shaka sendiri menyadarinya. Namun ia belum terlalu pandai memulai pembicaraan ringan dengan Jenna. Selama ini, percakapan mereka sering kali terlalu hati-hati, terlalu formal, atau terlalu dipenuhi jarak.
Jenna menoleh sedikit.
“Belum.”
Shaka diam sebentar.
“Kenapa belum makan?”
“Tadi kafe ramai. Jenna juga masih menyiapkan bahan untuk besok.”
Shaka menatap jalan di depan, rahangnya mengeras tipis.
Ia ingin menegur Jenna karena melewatkan makan malam. Namun ia menahan diri agar nada bicaranya tidak terdengar seperti memerintah.
“Mau makan di luar dulu?”
Jenna tampak terkejut.
“Sekarang?”
“Iya. Kamu belum makan.”
Jenna menatapnya beberapa detik, lalu menunduk sedikit. “Boleh.”
“Mau makan apa?”
Jenna berpikir sebentar.
Pertanyaan sederhana itu membuatnya merasa sedikit asing. Selama ini, ia terbiasa memilih sendiri atau menyesuaikan dengan orang lain. Ditanya langsung seperti itu oleh Shaka membuat hatinya bergerak kecil.
“Bakso,” jawab Jenna akhirnya.
Shaka langsung menoleh.
“Bakso?”
“Iya.” Jenna mulai ragu. “Kalau Mas tidak mau, tidak apa-apa. Kita bisa makan yang lain.”
Shaka kembali menatap jalan.
Bukan tidak mau.
Ia hanya jarang sekali makan makanan seperti itu. Selama ini, makan malamnya lebih sering di restoran, hotel, atau rumah dengan menu yang sudah tersusun rapi. Bakso pinggir jalan bukan sesuatu yang masuk dalam rutinitas hidupnya.
Namun Jenna menginginkannya.
Dan untuk pertama kalinya, Shaka tidak ingin mengganti keinginan Jenna dengan pilihan yang menurutnya lebih pantas.
“Bakso boleh,” ucapnya.
Jenna menatapnya.
“Benar?”
“Iya.”
“Mas Shaka pernah makan bakso di luar?”
Shaka diam sejenak.
“Pernah.”
“Kapan?”
“Lupa.”
Jenna menahan senyum.
Jawaban itu terdengar terlalu jelas. Laki-laki itu pasti sangat jarang makan bakso.
Shaka meliriknya.
“Kamu menertawakan saya?”
“Tidak.”
“Mata kamu bilang iya.”
Jenna langsung menunduk.
“Maaf, Mas.”
Shaka terdiam sebentar, lalu berkata pelan, “Tidak perlu minta maaf.”
Jenna menoleh.
Nada Shaka terdengar sedikit berbeda. Masih datar, tetapi tidak dingin.
Keheningan kembali turun. Namun kali ini tidak terlalu kaku. Ada canggung yang asing, seperti dua orang yang baru belajar berjalan berdampingan tanpa tahu harus memulai dari mana.
Shaka menghentikan mobil di sebuah tempat makan bakso yang cukup ramai, tetapi bersih. Warung itu berada di pinggir jalan besar, dengan meja-meja sederhana dan aroma kuah kaldu yang langsung tercium begitu mereka turun dari mobil.
Jenna terlihat lebih hidup.
“Ini tempatnya enak, Mas. Jenna pernah makan di sini sama Syana.”
Shaka menatap warung itu, lalu mengangguk.
Mereka duduk di meja dekat sisi luar. Jenna memesan bakso urat dengan mie kuning sedikit, sementara Shaka memilih bakso biasa setelah beberapa detik membaca menu dengan wajah terlalu serius.
Jenna hampir tertawa lagi.
“Mas Shaka bingung?”
“Tidak.”
“Menunya cuma bakso.”
“Saya sedang memilih.”
Jenna menunduk, tetapi matanya melengkung.
Shaka melihat itu.
Dan untuk beberapa saat, ia lupa bahwa mereka sedang berada di warung bakso pinggir jalan.
Mata Jenna yang melengkung saat menahan tawa membuat dadanya terasa hangat.
Ketika pesanan datang, Jenna langsung menghirup aroma kuahnya dengan senang. Ia menambahkan sedikit sambal dan jeruk nipis, lalu mengaduknya pelan.
Shaka memperhatikannya.
“Kamu suka bakso?”
“Suka. Dulu Kak Abi sering ajak Jenna makan bakso diam-diam kalau Ibu masak menu sehat terlalu banyak.”
Shaka mengangkat alis.
“Diam-diam?”
Jenna mengangguk kecil.
“Kak Abi bilang hidup harus seimbang. Ada sayur, ada bakso.”
Shaka hampir tersenyum.
Hampir.
Jenna melihat perubahan kecil di wajahnya dan merasa sedikit senang.
“Mas Shaka dekat dengan makanan apa waktu kecil?”
Shaka terdiam, seolah pertanyaan itu terlalu personal.
Jenna segera menyesal.
“Maaf, kalau Mas tidak mau jawab tidak apa-apa.”
Shaka mengaduk baksonya perlahan.
“Dulu Mama sering membuat sop iga.”
Jenna menatapnya.
“Yang Jenna masak kemarin?”
“Iya.”
“Mas suka sejak kecil?”
Shaka mengangguk.
“Kalau saya sakit atau terlalu lelah, Mama biasanya membuat itu.”
Jenna mendengarkan dengan serius.
Untuk pertama kalinya, Shaka menceritakan sesuatu tentang dirinya tanpa diminta terlalu jauh. Hal kecil, tetapi bagi Jenna, itu terasa seperti pintu yang terbuka sedikit.
“Pantas Mama Aruna langsung tahu waktu Jenna tanya,” ucap Jenna pelan.
Shaka menatapnya.
“Kamu benar-benar tanya Mama hanya untuk memasak itu?”
Jenna menunduk, memainkan sendoknya.
“Iya.”
“Kenapa?”
Jenna diam sebentar.
Karena aku ingin menyenangkan hatimu.
Karena aku ingin rumah kita tidak terus dingin.
Karena aku ingin mencoba mengambil hatimu, meski pelan-pelan.
Namun ia tidak sanggup mengatakan semua itu.
“Karena Jenna ingin belajar,” jawabnya akhirnya.
“Belajar apa?”
“Belajar menjadi istri Mas.”
Shaka terdiam.
Sendok di tangannya berhenti bergerak.
Jawaban itu sederhana, tetapi menghantam sesuatu di dalam dirinya. Jenna mengatakan itu tanpa menuntut balasan. Tanpa menyindir. Tanpa mengungkit luka. Hanya sebuah kejujuran yang membuat Shaka semakin merasa bahwa perempuan di hadapannya terlalu baik untuk terus ia lukai.
Shaka menatap Jenna lama.
Lalu ia berkata pelan, “Saya juga sedang belajar.”
Jenna mengangkat wajah.
Mata mereka bertemu.
Malam itu, di meja sederhana sebuah warung bakso, di antara mangkuk panas dan suara kendaraan lewat, kalimat Shaka terdengar lebih hangat daripada semua kalimat panjang yang pernah ia ucapkan.
Jenna menunduk, menyembunyikan senyum kecil.
Mereka melanjutkan makan dalam suasana yang masih canggung, tetapi tidak lagi sepenuhnya asing.
Shaka ternyata tidak buruk saat makan bakso. Ia memang tampak sedikit kaku ketika mencoba menambahkan sambal dan hampir memasukkan terlalu banyak. Jenna segera menahan tangannya.
“Mas, itu pedas.”
Shaka menatap sendok sambal.
“Sedikit saja.”
“Itu bukan sedikit.”
Shaka menatap Jenna.
Jenna menatap balik.
Akhirnya Shaka meletakkan kembali setengah sambal di sendoknya.
Jenna mengangguk puas.
“Begitu lebih aman.”
Shaka berdecak pelan, tetapi menurut.
Untuk alasan yang tidak ia pahami sepenuhnya, ia tidak keberatan diatur oleh Jenna untuk hal sekecil itu.
Setelah makan selesai, Shaka membayar. Jenna sempat ingin membayar karena merasa ia yang memilih tempat, tetapi Shaka menatapnya datar.
“Saya suamimu.”
Jenna langsung diam.
Namun pipinya menghangat.
Dalam perjalanan pulang, mobil melewati sebuah lapangan besar yang dipenuhi lampu warna-warni. Musik riang terdengar samar. Ada banyak orang berjalan, anak-anak membawa balon, penjual jajanan berderet, dan beberapa wahana sederhana berputar pelan.
Pasar malam.
Jenna tanpa sadar menoleh ke luar jendela.
Matanya langsung terlihat antusias.
Shaka melihatnya.
Ia memperlambat laju mobil.
“Mau mampir?”
Jenna menoleh cepat.
“Ke pasar malam?”
“Iya.”
“Sekarang?”
“Kalau kamu mau.”
Jenna tampak ragu. “Tapi sudah malam.”
“Belum terlalu larut.”
“Mas Shaka tidak keberatan?”
Shaka menatap jalan, lalu membelokkan mobil ke area parkir.
“Kalau keberatan, saya tidak akan menawarkan.”
Jenna terdiam.
Lalu matanya melengkung senang.
“Terima kasih, Mas.”
Shaka tidak menjawab, tetapi sudut hatinya terasa hangat melihat ekspresi itu.
Mereka turun dari mobil dan berjalan memasuki pasar malam. Suasananya ramai, tetapi menyenangkan. Lampu-lampu kecil menggantung di atas stan makanan. Ada aroma jagung bakar, sosis, telur gulung, gulali, dan popcorn. Suara anak-anak tertawa bercampur dengan musik dari wahana komidi putar.
Jenna berjalan perlahan, menatap sekeliling dengan mata berbinar.
Shaka berjalan di sampingnya, sedikit kaku di tengah keramaian. Ia jelas bukan orang yang terbiasa datang ke tempat seperti itu. Namun melihat Jenna tampak bahagia membuatnya tidak ingin segera pergi.
“Mas Shaka pernah ke pasar malam?” tanya Jenna.
“Pernah.”
“Kapan?”
“Waktu kecil.”
“Dengan Mama Aruna?”
“Iya. Dan Papa.”
Jenna tersenyum. “Jenna dulu sering diajak Ayah, Ibu, dan Kak Abi. Kak Abi paling suka main lempar gelang, padahal selalu kalah.”
“Dia tetap main?”
“Iya. Katanya bukan soal menang, tapi soal harga diri.”
Shaka kali ini benar-benar tersenyum tipis.
Jenna melihatnya dan terdiam sebentar.
Senyum Shaka sangat jarang muncul. Dan ketika muncul, meski hanya sedikit, wajah dinginnya berubah menjadi jauh lebih lembut.
Jenna segera mengalihkan pandangan sebelum terlalu lama menatap.
Mereka mencoba beberapa jajanan. Jenna membeli gulali kecil dan membaginya kepada Shaka. Shaka awalnya menatap gulali itu seperti benda asing, tetapi tetap mencicipinya saat Jenna menyodorkan.
“Terlalu manis,” komentarnya.
Jenna tertawa pelan.
“Namanya juga gulali.”
Mereka juga berhenti di stan permainan lempar bola. Jenna mencoba sekali dan gagal. Shaka mengambil bola berikutnya, melempar dengan tenang, dan langsung menjatuhkan susunan kaleng.
Penjaga stan memberi mereka boneka kecil berbentuk kelinci.
Jenna menerimanya dengan mata berbinar.
“Mas Shaka hebat.”
“Hanya lempar bola.”
“Tapi Jenna tidak bisa.”
Shaka menatap boneka kecil di tangan Jenna.
“Kalau begitu ambil saja.”
“Untuk Jenna?”
“Memang untuk siapa lagi?”
Jenna menggenggam boneka itu dengan hati yang diam-diam menghangat.
Setelah berjalan cukup lama, Jenna berhenti di depan wahana bianglala.
Bianglala itu tidak terlalu besar, tetapi cukup tinggi untuk melihat lampu-lampu pasar malam dari atas. Kabinnya bergerak perlahan, membawa orang-orang naik turun dengan irama tenang.
Jenna menatapnya penuh minat.
Shaka melihat arah pandangnya.
“Mau naik?”
Jenna menoleh.
“Boleh?”
“Boleh.”
Mereka membeli tiket, lalu masuk ke salah satu kabin. Saat kabin mulai bergerak naik perlahan, Jenna duduk di sisi dekat jendela kecil, memandang keluar dengan antusias.
Lampu-lampu pasar malam tampak semakin kecil di bawah. Suara keramaian perlahan meredup, berganti dengan angin malam yang menyentuh wajah.
Jenna tidak bisa menyembunyikan bahagianya.
Matanya melengkung indah.
Bahkan tanpa melihat senyum penuh di wajahnya, Shaka tahu Jenna sedang tersenyum. Cara matanya menyipit lembut, cara kepalanya sedikit miring ketika melihat lampu-lampu di bawah, cara tangannya menggenggam boneka kelinci kecil di pangkuan—semua itu membuatnya terlihat sangat hidup.
Shaka tertegun.
Selama beberapa hari ini, ia lebih sering melihat Jenna dalam diam, dalam luka, dalam sikap sopan yang berjarak. Namun malam ini, ia melihat sisi lain dari Jenna.
Jenna yang sederhana.
Jenna yang mudah bahagia karena bakso, gulali, boneka kecil, dan bianglala pasar malam.
Jenna yang tidak membutuhkan hal mewah untuk merasa senang.
Dan Shaka merasa ada sesuatu dalam dirinya yang semakin luluh.
“Indah ya, Mas,” ucap Jenna pelan, masih menatap keluar.
Shaka tidak langsung menjawab.
Ia justru menatap Jenna.
“Iya,” katanya rendah. “Indah.”
Jenna menoleh.
Mata mereka bertemu.
Untuk sesaat, Jenna merasa Shaka tidak sedang membicarakan lampu pasar malam.
Dadanya berdebar.
Shaka juga tampak menyadari makna kalimatnya sendiri. Ia segera mengalihkan pandangan ke luar, tetapi keterlambatan kecil itu sudah cukup membuat suasana di dalam kabin menjadi canggung.
Jenna menunduk, memeluk boneka kelinci kecil di pangkuannya.
Shaka berdeham pelan.
Keduanya diam.
Namun diam itu tidak dingin.
Diam itu dipenuhi debar yang sama-sama belum berani mereka akui.
Ketika bianglala berhenti di titik tertinggi, Jenna menatap langit malam. Tidak ada banyak bintang karena lampu kota terlalu terang, tetapi angin di atas sana terasa menenangkan.
“Mas Shaka,” panggil Jenna pelan.
“Iya?”
“Terima kasih sudah mengajak Jenna mampir.”
Shaka menoleh kepadanya.
“Saya hanya melihat kamu ingin.”
Jenna menatapnya lembut.
“Tidak semua orang peka.”
Kalimat itu membuat Shaka terdiam.
Ia tidak pernah menganggap dirinya peka. Selama ini, ia bahkan sering sengaja mengabaikan hal-hal yang berkaitan dengan perasaan. Namun bersama Jenna, ia mulai memperhatikan hal kecil tanpa sadar.
Mungkin karena ia ingin.
Mungkin karena Jenna mulai penting.
Setelah turun dari bianglala, mereka berjalan sebentar lagi. Jenna membeli telur gulung untuk dibawa pulang, sementara Shaka hanya mengikutinya dengan sabar. Sesekali, orang-orang menoleh karena penampilan mereka cukup mencolok: Shaka dengan wajah dingin dan pakaian rapi, Jenna dengan gamis anggun serta khimar panjang, keduanya berjalan di tengah pasar malam sambil membawa boneka kecil.
Namun untuk malam itu, Shaka tidak terlalu peduli.
Ia hanya memastikan Jenna tidak terlalu dekat dengan keramaian, sesekali menempatkan dirinya di sisi luar agar Jenna tidak tersenggol orang lewat.
Jenna menyadarinya.
Ia tidak mengatakan apa-apa, tetapi hatinya mencatat.
Ketika akhirnya mereka kembali ke mobil, waktu sudah cukup larut.
Jenna duduk di kursi penumpang dengan boneka kelinci kecil di pangkuannya. Wajahnya tampak lelah, tetapi bahagia.
Shaka menyalakan mesin mobil.
“Capek?”
“Sedikit.”
“Besok ada kegiatan dari pagi. Setelah sampai rumah, langsung istirahat.”
Jenna mengangguk pelan. “Iya, Mas.”
Mobil melaju meninggalkan pasar malam.
Sepanjang perjalanan pulang, mereka tidak banyak bicara. Namun suasananya berbeda dari perjalanan-perjalanan sebelumnya. Tidak lagi penuh tekanan. Tidak lagi terlalu dingin.
Jenna sesekali menatap boneka kecil di pangkuannya, lalu tersenyum sendiri. Shaka melihat itu dari sudut matanya, dan untuk pertama kalinya ia merasa puas karena berhasil membuat Jenna bahagia meski hanya dengan hal sederhana.
Saat mereka sampai di rumah, malam sudah larut.
Lampu halaman menyala lembut. Rumah dua lantai itu tampak tenang, dengan taman bunga di samping yang bergerak pelan tertiup angin.
Shaka mematikan mesin, lalu menoleh kepada Jenna.
“Besok kita berangkat jam berapa?”
Jenna menatapnya.
“Kita?”
Shaka mengangguk.
“Saya ikut, kan?”
Mata Jenna melembut.
“Iya. Kita berangkat jam delapan, Mas.”
“Baik.”
Jenna menggenggam boneka kecilnya, lalu berkata pelan, “Malam ini menyenangkan.”
Shaka menatapnya cukup lama.
Lalu ia menjawab, “Saya juga.”
Jenna terdiam.
Dua kata itu sederhana, tetapi membuat hatinya berdebar hangat.
Mereka keluar dari mobil dan masuk ke rumah bersama. Langkah mereka masih canggung. Jarak di antara mereka masih ada. Namun malam itu, jarak tersebut tidak lagi terasa seperti dinding tinggi.
Lebih seperti ruang kecil yang perlahan sedang mereka pelajari untuk isi bersama.
Dengan bakso sederhana.
Dengan pasar malam yang ramai.
Dengan bianglala yang berputar pelan.
Dan dengan satu kebahagiaan kecil yang membuat Shaka sadar bahwa mungkin, membuat Jenna tersenyum adalah sesuatu yang ingin ia lakukan lagi.