NovelToon NovelToon
Jodoh Yang Dibeli

Jodoh Yang Dibeli

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Q Lembayun

Hari ini adalah hari ulang tahun Arla yang ke-18, dimana ia sudah dianggap dewasa dan 'matang'. Sehingga sudah saatnya ia dipanen dan dijual oleh rumah lelang ini.

Sebagai seorang gadis yang dijual oleh keluarganya sendiri, ia dirawat oleh rumah lelang ini untuk dijual kepada para laki-laki hidung belang dengan harga yang lebih mahal. Meski begitu, keluarganya sering datang dan mengatakan bahwa mereka menyesal menjualnya dan berjanji untuk membelinya kembali agar dapat pulang ke rumah dan berkumpul dengan keluarganya lagi.

Akan tetapi saat malam ulang tahunnya datang, tak ada satupun keluarga yang datang untuk menebusnya. Sehingga ia terpaksa dijual kepada laki-laki yang tidak ia kenal.

Bagaimana nasib Arla setelah dibeli oleh laki-laki itu, dan apakah ia akan berakhir menyedihkan seperti para budak nafsu yang telah mati karena kekerasan, seperti yang dialami oleh banyak gadis yang keluar dari tempat ini...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Q Lembayun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebenaran

“Apakah Dokter Abimana benar-benar ditampar?” tanya seorang suster.

“Iya, tamparan itu sangat keras. Aku mendengarnya dan melihatnya sendiri. Aku belum pernah melihat Dokter Diana semarah itu, dan ini pertama kalinya aku melihat dia menampar orang lain,” jawab suster lainnya dengan wajah yang tampak meyakinkan.

Mendengar hal tersebut, mereka pun langsung melanjutkan pembicaraan ke tahap selanjutnya. Gosip memang sangat bervariasi dan sering terjadi di lingkungan rumah sakit. Namun, ini pertama kalinya mereka mendengar gosip yang cukup menarik antara dua dokter sekaligus, yang keduanya memiliki citra yang cukup baik—Diana yang dikenal lembut, dan Abimana yang terkenal profesional dalam bekerja.

“Tapi aku juga belum pernah melihat Dokter Abimana bersikap kasar pada orang lain, kecuali jika orang tersebut memang memulainya terlebih dahulu.”

“Iya, aku juga selalu tahu itu. Dokter Abimana memang orang yang cukup dingin, tetapi dia tidak pernah melakukan sesuatu yang berlebihan. Dia datang bekerja, memperlakukan orang lain dengan baik, lalu pulang tanpa banyak terlibat sosialisasi di luar jam kerja."

Mereka pun mengangguk setuju. Walaupun Abimana tidak bisa bersikap terlalu lembut pada semua orang, ia juga bukan tipe yang kasar. Karena itu, mereka merasa heran—apa yang sebenarnya membuat Diana begitu marah hingga berani menampar Dokter Abimana?

“Oh, kalian pasti tidak ada di kantin tadi siang. Dokter Gio mengejek Dokter Abimana dan mengatakan langsung di depannya bahwa dia tidak menyukai perempuan dan seorang gay. Jadi Dokter Abimana sangat marah dan memilih makan di ruangannya sendiri.”

“Wah, Dokter Gio sangat berani. Itu sebenarnya sudah jadi rahasia umum, tapi tidak ada yang berani mengatakannya langsung di depan Dokter Abimana. Kalaupun itu benar, bukankah itu sudah ranah pribadi? Dokter Gio tidak berhak menyinggung hal seperti itu.”

Ketertarikan Abimana terhadap laki-laki memang sudah menjadi rumor sejak ia masih kuliah. Entah bagaimana, rumor itu juga menyebar ke lingkungan kerja. Apalagi ditambah fakta bahwa ia tidak pernah terlihat berkencan dengan siapa pun, sibuk bekerja, dan tidak pernah bergandengan tangan dengan wanita mana pun—seolah itu menjadi “konfirmasi” bagi sebagian orang bahwa Abimana memang menyukai sesama jenis.

Namun, itu tetaplah urusan pribadi. Mereka tidak berhak menghakimi. Karena itu, yang bisa dilakukan hanyalah membicarakannya diam-diam di belakang, menjadikannya semacam rahasia umum yang diketahui banyak orang.

“Lalu apa hubungannya dengan Dokter Diana?”

“Dia yang melerai Dokter Gio dan Dokter Abimana agar tidak terjadi perkelahian. Tapi setelah Dokter Abimana pergi, beberapa saat kemudian aku melihat Dokter Diana berada di dekat ruang praktik Dokter Abimana.”

“Apa? Bukankah jelas Dokter Abimana menghindari keributan? Kenapa Dokter Diana justru menghampirinya dan malah marah?”

“Itu juga yang aku pikirkan. Aku belum pernah melihat Dokter Diana bersikap sekasar itu pada orang lain. Tapi aku juga belum pernah melihat Dokter Abimana semarah itu. Jadi aku curiga… mungkin hubungan mereka jauh lebih kompleks daripada sekadar teman.”

Percakapan demi percakapan pun terus berlanjut. Orang-orang mulai berspekulasi bahwa Diana dan Abimana mungkin bukan sekadar teman. Jika hanya teman, mengapa Diana sampai meminta maaf mewakili Gio? Dan jika hanya rekan kerja, mengapa Abimana begitu marah hingga menyebut laki-laki di sekitar Diana sebagai anjing?

Spekulasi itu berkembang liar—mungkin ini soal asmara. Namun mereka tidak tahu apakah itu antara Diana dan Abimana, atau Diana dan Gio.

Sementara itu, Abimana tidak peduli dengan semua gosip yang beredar. Ia sudah bertahun-tahun menghadapi rumor yang tidak benar dan tetap tenang saja. Baginya, rumor bukanlah hal penting—fakta adalah yang utama. Karena itu, ia mengabaikan semua spekulasi tentang dirinya.

Ia pun mencuci kotak bekal yang diberikan istrinya. Ia tidak ingin membawa barang kotor ke apartemen.

Melihat sikap Abimana yang tetap tenang, Suster Dini pun mendekat. Mereka sudah lama bekerja sama, dan ia cukup mengenal karakter Abimana. Ia merasa bersimpati atas semua gosip yang ditujukan kepadanya.

“Kamu terlihat tidak kaget saat orang-orang mengatakan kamu gay,” ujar Suster Dini.

“Ya, aku sudah tahu sejak lama.”

“Kenapa kamu tidak mengklarifikasinya? Itu malah akan membuat orang-orang semakin berspekulasi tentangmu.”

Abimana mengelap kotak makan itu hingga benar-benar kering dan bersih, lalu menatap Suster Dini dengan senyum hangat.

“Kenapa aku harus mengklarifikasi sesuatu yang bahkan tidak pernah aku lakukan? Seharusnya mereka yang berspekulasi yang datang untuk mengonfirmasi padaku. Lagipula itu tidak benar, dan selama tidak ada yang berani menuduhku secara langsung, aku akan mengabaikannya.”

Suster Dini memang lebih tua dari Abimana, sehingga pengalamannya lebih banyak. Namun dalam hal kedewasaan, Abimana memang bisa dibilang cukup matang. Ia pandai mengendalikan emosi, meskipun hari ini ia sempat terpancing hingga terlibat pertengkaran.

“Kalau begitu, boleh aku mengonfirmasi langsung padamu? Apakah kamu benar-benar tidak suka perempuan?”

Mendengar pertanyaan langsung itu, Abimana langsung tertawa kecil.

“Aku sangat tampan, jadi bagaimana mungkin aku menyia-nyiakan ketampanan ini tanpa menggoda gadis cantik?”

Ia kemudian berjalan mendekat ke arah Suster Dini, lalu mengangkat tangannya dan memperlihatkan cincin di jari manisnya. Cincin itu sederhana, dengan ornamen bintang kecil yang berkilau.

Hal itu membuat Suster Dini terkejut. Ia langsung menggenggam tangan Abimana dan memperhatikan cincin itu lebih dekat, memastikan apakah itu cincin pernikahan atau bukan.

“Ini asli?”

Abimana tertawa.

“Tentu saja ini asli. Cincin ini pasangan dari istriku. Kalau palsu, dia pasti sudah membunuhku sekarang.”

Suster Dini pun menepuk bahu Abimana dengan bangga sambil tertawa puas. Ternyata ia adalah orang pertama yang mengetahui bahwa Abimana sudah menikah—sebuah gosip besar yang belum diketahui siapa pun di rumah sakit.

“Kau gila. Orang-orang mengira kamu tidak menyukai perempuan, tapi ternyata kamu sudah jadi suami orang. Aku benar-benar tidak bisa menebak isi pikiranmu, Abimana.”

“Itu hanya kebetulan. Aku menemukan gadis cantik dan langsung menikahinya. Suatu saat aku akan memperkenalkan mu padanya. Sebelum itu, ambilkan aku tote bag untuk menyimpan kotak bekal ini.”

Suster Dini menatap kotak bekal di tangan Abimana, lalu tersenyum menggoda.

“Istrimu?”

Abimana tersenyum dan mengangguk.

“Ya, dari istriku.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!