NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Sama Gue

Jangan Jatuh Cinta Sama Gue

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:809
Nilai: 5
Nama Author: Iskak M

Bram bekerja sebagai marketing di perusahaan retail di Jakarta. Hidupnya hanya kerja, gym, dan cari wanita lewat app atau club. Dia ahli di ranjang tapi takut komitmen. Cerita mengikuti perjalanan Bram yang terus berganti pasangan, menghadapi konflik dari mantan, keluarga, kantor, dan masalah kesehatan. Dia ingin tetap bebas, tapi tekanan semakin besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iskak M, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 Bogor Hujan

Malam itu setelah Sinta pulang, apartemen gue kembali sunyi. Lampu ruang tamu masih nyala, tapi gue nggak benar-benar fokus melihat apa pun. Pikiran gue penuh.

Ucapan Sinta tadi terus muter di kepala.

Tentang kehamilan.

Tentang tanggung jawab.

Tentang pernikahan.

Semua datang terlalu cepat.

Gue rebahin kepala ke sofa sambil menatap langit-langit. Jujur aja, gue capek. Belakangan hidup gue rasanya nggak pernah tenang. Satu masalah belum selesai, masalah lain sudah datang lagi.

Ponsel gue bergetar.

Nama Sinta muncul lagi.

“Aku mau ketemu besok pagi. Penting.”

Gue menatap chat itu cukup lama sebelum akhirnya membalas singkat.

“Oke.”

Besok paginya gue datang ke sebuah kafe kecil dekat apartemen Sinta. Tempatnya belum terlalu ramai karena masih jam sembilan pagi. Aroma kopi bercampur musik jazz pelan memenuhi ruangan.

Sinta sudah duduk di pojok dekat jendela. Wajahnya pucat. Matanya sembab seperti kurang tidur.

Begitu gue duduk, dia langsung bicara.

“Jadi?”

Nada suaranya dingin.

Gue menarik napas pelan sebelum menjawab.

“Sinta, gue udah pikirin semuanya baik-baik. Dan keputusan gue tetap sama.”

Dia langsung menatap tajam.

“Gue nggak bisa nikah karena keadaan ini.”

Wajah Sinta berubah. “Lo serius?”

“Serius.”

“Tapi aku hamil, Bram.”

“Iya, gue tahu.”

“Dan lo tetap mau lepas tangan?”

Gue mengusap wajah sebentar sebelum menjawab lagi.

“Gue nggak lepas tangan. Gue masih mau bantu kalau memang lo butuh bantuan. Tapi soal nikah, gue nggak bisa maksa diri gue buat ngelakuin sesuatu yang gue sendiri nggak yakin.”

Sinta tertawa kecil, tapi nadanya pahit.

“Lo enak ya ngomong kayak gitu.”

“Gue cuma jujur.”

Suasana mulai canggung. Beberapa pengunjung sempat melirik ke arah meja kami karena suara Sinta sedikit meninggi.

“Aku kira lo beda,” katanya lirih.

Kalimat itu bikin dada gue terasa nggak nyaman.

Jujur aja, gue juga nggak bangga ada di posisi ini. Tapi gue nggak mau ambil keputusan besar cuma karena tekanan sesaat.

“Gue bakal tetap bantu semampu gue,” kata gue pelan. “Tapi lo juga harus mulai nerima kenyataan.”

Sinta menunduk lama.

Untuk pertama kalinya sejak semua drama ini dimulai, dia nggak marah. Dia cuma terlihat lelah.

Setelah ngobrol hampir satu jam, kami akhirnya keluar dari kafe tanpa benar-benar menyelesaikan apa pun.

Hari itu gue malah sibuk menghubungi beberapa teman lama. Gue mencoba bantu Sinta dengan cara lain. Siapa tahu ada orang yang memang siap menerima kondisinya sekarang.

Tapi ternyata nggak mudah.

Begitu tahu Sinta sedang hamil, sebagian besar langsung mundur.

Ada yang awalnya tertarik, tapi setelah ngobrol lebih jauh mereka menghilang pelan-pelan.

Sore harinya Sinta sempat menelepon lagi.

“Capek ya ternyata,” katanya pelan.

“Iya,” jawab gue jujur.

“Hidup gue berantakan banget sekarang.”

Gue diam beberapa detik sebelum menjawab, “Semua orang pernah ada di titik itu, Sin.”

Obrolan malam itu terasa berbeda. Nggak ada teriakan. Nggak ada emosi berlebihan. Hanya dua orang yang sama-sama bingung menghadapi hidup.

Keesokan harinya suasana kantor kembali sibuk seperti biasa.

Baru beberapa menit gue duduk di meja, Bu Sita sudah manggil ke ruangannya.

“Masuk, Bram.”

Gue duduk di depan mejanya sambil membawa notebook.

“Rencana penugasan Bogor ada perubahan,” katanya sambil membuka laptop.

“Perubahan gimana, Bu?”

“Arman jadi dipindahkan kembali ke cabang Bogor. Jadi tugas lo sekarang cuma ngajarin sistem marketing dan workflow kantor pusat selama beberapa hari.”

“Berapa lama?”

“Sekitar sepuluh hari.”

Gue mengangguk pelan.

“Tapi ada tambahan satu orang.”

“Siapa?”

“Icha.”

Gue sedikit kaget. “Icha ikut?”

Bu Sita tersenyum kecil. “Dia sendiri yang minta. Katanya mau belajar langsung di lapangan.”

“Berani juga dia.”

“Bagus dong. Anak magang yang aktif justru lebih cepat berkembang.”

Mau nggak mau gue setuju.

Menjelang pulang kantor, gue mulai pamit ke beberapa orang terdekat.

Laras jadi orang pertama yang gue temui malam itu.

Kami duduk di kafe langganan dekat kantornya. Laras kelihatan sedikit murung sejak gue bilang harus pergi beberapa hari.

“Sepuluh hari lama loh,” katanya sambil mengaduk minuman.

“Cepet kok.”

“Buat kamu mungkin.”

Gue tertawa kecil lalu menggenggam tangannya.

“Nanti gue kabarin tiap malam.”

“Jangan lupa makan.”

“Siap, Bu.”

Laras akhirnya tersenyum meski masih terlihat berat melepas gue pergi.

Malam berikutnya gue juga bertemu Aprilia.

Berbeda dari Laras, Aprilia jauh lebih tenang.

“Ini kesempatan bagus buat karir kamu,” katanya santai. “Nikmatin aja prosesnya.”

“Thanks.”

“Yang penting jangan terlalu stres.”

Gue cuma mengangguk sambil tersenyum tipis.

Pagi harinya gue dan Icha berangkat ke Bogor naik mobil kantor.

Icha kelihatan excited dari awal perjalanan.

“Kak, aku baru pertama kali ikut tugas luar kota kayak gini,” katanya sambil melihat jalan tol dari jendela.

“Anggap aja pengalaman baru.”

“Aku deg-degan tapi seneng.”

Sepanjang perjalanan dia nggak berhenti cerita. Tentang kuliah, tentang cita-citanya di dunia digital marketing, sampai tentang keluarganya di Bandung.

Energinya memang beda.

Sesampainya di Bogor, udara langsung terasa lebih dingin dibanding Jakarta.

Kami menginap di penginapan sederhana dekat kantor cabang. Tempatnya nggak mewah, tapi cukup nyaman.

Hari pertama langsung padat.

Gue mulai ngajarin Arman soal database customer, monitoring campaign, sampai laporan mingguan.

Arman sendiri orangnya santai.

“Jujur gue paling pusing kalau udah ketemu analytics,” katanya sambil ketawa.

“Makanya belajar pelan-pelan.”

Icha duduk di samping sambil mencatat semua penjelasan gue dengan serius.

“Rajin banget,” kata Arman.

Icha nyengir malu. “Biar nggak salah nanti.”

Hari-hari berikutnya berjalan cukup lancar.

Dan di situlah gue mulai kenal lebih dekat sama Vania.

Vania adalah staf marketing cabang Bogor. Orangnya pendiam, tapi cara bicaranya tenang dan enak diajak ngobrol.

Dia selalu pakai hijab simpel dengan warna-warna netral. Nggak mencolok, tapi justru itu yang bikin dia terlihat elegan.

Icha cepat akrab dengannya.

“Kak Vania lucu banget sumpah,” bisik Icha suatu siang.

Vania langsung ketawa malu. “Apaan sih, Cha.”

Karena penginapan kami berdekatan, beberapa malam kami sering ngobrol santai di teras sambil minum kopi sachet.

Topiknya random.

Kadang soal kerjaan.

Kadang soal kuliah.

Kadang soal hidup setelah dewasa.

Dari obrolan-obrolan kecil itu gue mulai tahu kalau hidup Vania ternyata nggak semudah kelihatannya.

Ayahnya sudah lama sakit, dan sekarang dia jadi salah satu tulang punggung keluarga.

“Makanya aku nggak bisa terlalu banyak main-main,” katanya suatu malam sambil menatap hujan di luar.

Gue mengangguk pelan.

Entah kenapa, ada sesuatu dari Vania yang bikin gue nyaman. Bukan karena dia berusaha menarik perhatian, justru karena dia nggak pernah mencoba jadi siapa-siapa selain dirinya sendiri.

Suatu malam hujan turun cukup deras.

Listrik penginapan sempat mati beberapa menit sebelum akhirnya menyala lagi.

Icha sudah tidur duluan karena kecapekan. Tinggal gue dan Vania yang masih duduk di teras.

“Bogor emang identik sama hujan ya,” kata gue sambil melihat jalanan basah.

Vania tersenyum kecil. “Makanya orang sini santai-santai.”

Suasana malam itu tenang banget.

Nggak ada suara kendaraan keras. Cuma suara hujan dan angin dingin.

Tiba-tiba Vania menoleh ke arah gue.

“Kak Bram sebenarnya lagi banyak pikiran ya?”

Gue sedikit kaget.

“Kelihatan?”

“Iya.”

Gue tertawa kecil lalu bersandar ke kursi.

Akhirnya malam itu gue cerita banyak hal. Tentang tekanan kerja. Tentang Sinta. Tentang hidup yang akhir-akhir ini terasa berantakan.

Vania mendengarkan tanpa memotong sedikit pun.

Kadang dia cuma mengangguk kecil.

Kadang cuma diam.

Tapi justru itu yang bikin gue nyaman.

“Nggak semua masalah harus selesai cepat,” katanya pelan setelah gue selesai cerita. “Kadang orang cuma butuh waktu buat napas.”

Kalimat sederhana itu entah kenapa terasa menenangkan.

Sejak malam itu hubungan kami jadi lebih dekat.

Bukan dekat yang berlebihan.

Lebih seperti dua orang yang sama-sama nyaman berbagi cerita.

Hari-hari berikutnya berjalan cepat.

Arman mulai paham sistem kerja yang gue ajarin.

Icha juga makin percaya diri ikut meeting kecil dengan tim cabang.

“Kak, ternyata dunia kerja seru juga ya,” katanya semangat setelah presentasi pertamanya.

“Selama belum ketemu deadline besar aja,” jawab gue bercanda.

Semua tertawa.

Menjelang hari terakhir di Bogor, tim cabang mengadakan makan malam sederhana.

Suasananya hangat.

Arman yang biasanya pendiam malah jadi paling banyak cerita.

Icha sibuk foto-foto makanan.

Sementara Vania beberapa kali tertawa kecil mendengar candaan tim.

Di tengah suasana itu, gue sadar satu hal.

Selama di Bogor, kepala gue terasa lebih ringan.

Mungkin karena jauh dari drama Jakarta.

Mungkin karena ritme hidup di sini lebih tenang.

Atau mungkin karena ada orang-orang baru yang tanpa sadar bikin gue nyaman.

Malam terakhir sebelum pulang, gue duduk sendirian di depan penginapan sambil melihat jalan yang masih basah habis hujan.

Ponsel gue bergetar.

Pesan dari Ria masuk.

“Udah betah di Bogor?”

Gue membaca pesan itu lama tanpa langsung membalas.

Hidup gue memang nggak pernah benar-benar tenang.

Ada Sinta dengan masalahnya.

Ada Laras yang selalu perhatian.

Ada Aprilia yang dewasa dan menenangkan.

Dan sekarang ada Vania yang hadir diam-diam tanpa banyak drama.

Kadang gue sendiri bingung hidup gue lagi menuju ke mana.

Pagi harinya kami kembali ke Jakarta.

Di mobil, Icha sibuk cerita soal pengalaman pertamanya ikut penugasan luar kota.

Sementara gue lebih banyak diam sambil melihat jalan.

Bogor perlahan tertinggal di belakang.

Tapi entah kenapa, ada sesuatu yang rasanya ikut tertinggal di sana juga.

1
Iskak
terima kasih , boleh tukeran baca
S.Moonlight
hi, penulis baru.. ceritamu seru kok. semangat ya 💪

btw, sy juga baru mula menulis novel. kalau ada masa terluang bole lah singgah profile saya. terima kasih 😄😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!