Sael, seorang pengacara muda yang ambisius, akhirnya kembali ke tanah kelahirannya setelah tujuh tahun di luar negeri.
Ia dipertemukan kembali dengan Aeros—pria yang dulu ia kenal sebagai teman masa kecil, namun diam-diam menyimpan perasaan terhadap Sael.
Mereka mulai menyadari bahwa hubungan ini tidak lagi bisa disandarkan pada kata "kakak-adik".
Bagaimana mereka menghadapi cinta yang tumbuh di tengah ambisi dan debar yang tak lagi bisa disembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 : Rival Kantor
Adhitama & Partners adalah firma hukum terbaik di kota ini. Suatu pencapaian besar Sael bisa masuk ke firma ini.
Di kantor, ia memiliki seorang rekan kerja sekaligus rival yang cukup menyebalkan dan menjengkelkan.
Arka adalah tipe pengacara yang sangat vokal, ambisius, dan selalu merasa perlu membuktikan bahwa dia lebih baik dari Sael.
Pagi itu, suasana di ruang rapat utama lumayan tegang. Sael baru saja meletakkan berkas kasus perdata klien mereka di atas meja.
"Sael, kamu yakin dengan argumen ini?" Arka menyilangkan tangan di dada, bersandar di kursinya dengan nada meremehkan. "Kasus ini melibatkan perusahaan konstruksi besar. Jika kita terlalu keras, mereka akan memutus kontrak firma kita."
Sael menoleh, menatap Arka dengan tatapan datarnya yang membuat Arka tidak nyaman.
"Aku dibayar untuk memenangkan kasus, bukan untuk menjaga perasaan klien," jawab Sael dingin. "Kalau kamu takut dengan risiko, mungkin kamu salah memilih profesi, Arka."
Arka mendengus kesal, namun ia tidak mampu membalas perkataan Sael.
Ini adalah minggu kedua mereka berada di Adhitama & Partners tapi nampaknya hubungan keduanya tidak terlihat membaik, dari hari pertama masuk mereka sudah menjadi rival, keduanya saling berusaha mengalahkan satu sama lain, hingga akhirnya mereka dipanggil oleh atasannya.
Di ruangan Pak Hamdan, Sael dan Arka berdiri berdampingan. Arka masih merapikan dasinya dengan gerakan gelisah, sementara Sael tetap berdiri tenang namun penuh kewaspadaan.
Pak Hamdan menatap keduanya dengan tatapan yang tajam.
"Kalian berdua punya bakat yang luar biasa, tapi ego kalian adalah bom waktu yang bisa menghancurkan firma ini," ucap Pak Hamdan dingin.
"Sael, kamu terlalu analitis hingga sering kali lupa bahwa hukum butuh negosiasi. Dan kamu, Arka, kamu terlalu agresif hingga sering mengabaikan detail krusial yang bisa membatalkan seluruh gugatan kita."
Arka hendak menyela, namun sebuah lirikan tajam dari Pak Hamdan membuatnya mengurungkan niatnya.
"Mulai hari ini, kalian akan bekerja sebagai satu tim untuk menangani kasus akuisisi perusahaan tambang. Jika kalian gagal, kalian berdua keluar."
Sael menoleh ke arah Arka, yang kini menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Paham?" tanya Pak Hamdan sekali lagi, suaranya menggelegar di ruang kerja yang kedap suara itu.
"Paham, Pak," jawab Sael dan Arka hampir bersamaan.
Saat mereka melangkah keluar dari ruangan, Arka menabrakkan bahunya ke bahu Sael dengan sengaja. "Jangan harap aku akan membiarkanmu memerintahku, Sael," desisnya rendah.
Sael hanya tersenyum tipis, "Aku tidak akan memerintahmu, Arka. Aku hanya akan memastikan kita tidak kalah karena kecerobohanmu."
Malam itu, di atas meja panjang, ribuan lembar dokumen akuisisi tambang berserakan, bercampur dengan gelas kopi plastik yang sudah kosong.
Arka mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi. Ia baru saja menemukan celah di laporan audit keuangan klien, namun ia kesulitan merangkai narasi hukumnya agar terlihat menguntungkan bagi posisi mereka.
"Kalau kita pakai argumen 𝘧𝘰𝘳𝘤𝘦 𝘮𝘢𝘫𝘦𝘶𝘳𝘦 di bagian ini, klausa penalti akan gugur," celetuk Arka, suaranya terdengar lelah.
Sael, yang sejak tadi sibuk membedah kontrak kerja sama di sisi seberang meja, menghentikan ketukannya di papan tik. Ia bangkit, melangkah mendekat ke arah monitor Arka.
"Itu bunuh diri, Arka. Lawan kita adalah firma hukum kelas atas. Mereka akan membalikkan argumen itu dengan Pasal 1243 KUH Perdata dalam hitungan detik."
Arka memutar kursinya, menatap Sael tajam. "Lalu apa saranmu? Kita hanya diam dan membiarkan klien kita membayar penalti yang tidak masuk akal itu?"
Sael mengambil spidol dari meja dan menuliskan satu frasa di papan tulis kecil di dekat mereka: '𝘈𝘥𝘮𝘪𝘯𝘪𝘴𝘵𝘳𝘢𝘵𝘪𝘷𝘦 𝘖𝘷𝘦𝘳𝘴𝘪𝘨𝘩𝘵'.
"Jangan menyerang langsung pada poin 𝘧𝘰𝘳𝘤𝘦 𝘮𝘢𝘫𝘦𝘶𝘳𝘦," Sael mulai menjelaskan, jemarinya bergerak lincah menunjuk angka-angka di layar Arka. "Kita serang validitas perizinan operasional tambang mereka di tingkat daerah. Jika izin itu cacat secara administratif, maka seluruh kontrak yang ditandatangani di atasnya otomatis cacat hukum. Kita tidak perlu berdebat soal penalti, kita batalkan kontraknya dari akarnya."
Arka terdiam. Ia memproses logika Sael. Matanya menyusuri dokumen yang dimaksud, mencari kelemahan yang selama ini ia lewatkan karena terlalu fokus pada angka-angka.
"Sial," gumam Arka pelan. "Itu sangat kotor... tapi jenius."
"Ini bukan soal kotor atau bersih," sahut Sael, kembali ke kursinya dengan wajah tenang. "Ini soal memenangkan pertarungan."
"Oke," kata Arka akhirnya, "Aku akan siapkan draf gugatannya besok pagi. Kamu yang urus legalitas administratifnya. Kita bagi tugas."
Sael tertegun sejenak, lalu memberikan anggukan kecil. "Oke."
Beberapa hari kemudian, sidang arbitrase itu berlangsung. Di seberang meja, firma hukum lawan tampak sangat percaya diri. Mereka datang dengan tumpukan dokumen tebal dan pengacara senior yang tersenyum meremehkan ke arah Sael dan Arka.
Ketika giliran pihak Sael dan Arka berbicara, Arka melangkah ke podium dengan tenang. Ia meletakkan landasan kasusnya, memancing pihak lawan untuk merasa di atas angin dengan argumen yang ia bangun sebagai pengalih perhatian.
Pengacara senior lawan tertawa kecil. "Pihak klien kami tidak melihat relevansi dari argumen yang diajukan. Kami meminta majelis arbitrator untuk menolak tuntutan ini karena tidak adanya dasar 𝘧𝘰𝘳𝘤𝘦 𝘮𝘢𝘫𝘦𝘶𝘳𝘦."
Arka melirik Sael. Inilah momen yang mereka tunggu.
Sael berdiri dan membetulkan jasnya. "Kami setuju bahwa 𝘧𝘰𝘳𝘤𝘦 𝘮𝘢𝘫𝘦𝘶𝘳𝘦 bukan inti masalahnya. Akar permasalahannya adalah keabsahan objek kontrak itu sendiri. Mohon Majelis Arbitrator memeriksa kembali Bukti T-14 yang telah kami serahkan."
Sael mengarahkan pandangan tajam ke lawan.
"Dokumen tersebut membuktikan adanya cacat wewenang –𝘶𝘭𝘵𝘳𝘢 𝘷𝘪𝘳𝘦𝘴–saat izin operasional tambang diterbitkan di tingkat daerah. Karena objek perjanjian ini cacat hukum, maka berdasarkan Pasal 1320 KUH Perdata, kontrak akuisisi ini tidak memenuhi syarat kausa yang halal dan batal demi hukum sejak hari pertama. Jika kontraknya saja tidak mengikat, maka klausul penalti yang diajukan pihak lawan otomatis tidak memiliki kekuatan hukum apa pun."
Ruangan mendadak sunyi. Pengacara lawan tampak pucat, sibuk membolak-balik dokumen yang selama ini mereka remehkan.
"Strategi yang bagus, Sael," ujar Arka singkat sambil tersenyum kecil.
Sael meliriknya, lalu memberikan senyum tipis. "Itu tidak akan berhasil kalau kamu tidak bisa memancing mereka masuk ke jebakan narasi yang kamu buat, Arka."