"sebuah kontrak yang menyelamatkan namun siksaan dari profesor untuk mahasiswinya..."
Akankah yang awalnya siksaan itu menjadi sebuah kenikmatan atau kebahagiaan, bisa jadi penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Sandiwara di Ruang Kuliah
BAB 4: Sandiwara di Ruang Kuliah
Setelah malam panjang penuh siksaan mental di apartemen—di mana Adrian hanya menggoda dan membiarkannya mati penasaran tanpa menyentuhnya lebih jauh—Kiara mengira ia bisa bernapas lega saat melangkah masuk ke area kampus. Sesuai kesepakatan, di luar apartemen mereka adalah dua orang asing yang kebetulan berada di institusi yang sama.
Namun, Kiara keliru. Justru di sinilah letak permainan Adrian yang sesungguhnya.
Pagi ini adalah jadwal mata kuliah Teori Makroekonomi Lanjutan. Sial bagi Kiara, kelompoknya mendapat giliran pertama untuk melakukan presentasi materi di depan kelas. Dan yang lebih sialnya lagi, dosen pengampunya adalah Adrian Alkatiri.
Suasana kelas mendadak senyap dan mencekam begitu langkah tegap Adrian memasuki ruangan. Pria berumur dua puluh sembilan tahun itu tampak luar biasa tampan sekaligus berwibawa dengan setelan kemeja formal abu-abu gelap yang melekat sempurna di tubuh tegapnya. Rambutnya disisir rapi ke belakang, dan kacamata berbingkai tipis bertengger di hidung mancungnya, menambah kesan jenius sekaligus dingin yang tak tersentuh.
Sama sekali tidak ada sisa-sisa tatapan lapar atau senyum tengil yang Adrian tunjukkan di apartemen semalam. Di sini, dia adalah Profesor Adrian yang killer dan ditakuti semua mahasiswa.
"Kelompok satu, silakan maju ke depan. Waktu kalian hanya lima belas menit," ujar Adrian dingin. Suara baritonnya menggema tegas di ruang kuliah, membuat nyali anggota kelompok Kiara menciut.
Kiara menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang menggila. Ia maju ke depan kelas, berdiri di samping proyektor dengan memegang pointer. Hari ini Kiara memakai kemeja putih formal dan rok span hitam sepanjang lutut—pakaian standar presentasi kampus. Namun, setiap kali ia bergerak, Kiara bisa merasakan gesekan halus dari lingerie sutra tipis yang sengaja dipasangkan Adrian di tubuhnya tadi pagi sebelum berangkat. Adrian mengancam tidak akan memberinya uang saku kuliah jika Kiara berani melepasnya.
Presentasi dimulai. Sebagai ketua kelompok, Kiara menjelaskan materi dengan lancar. Namun, fokusnya buyar ketika ia melirik ke arah meja dosen.
Adrian sedang duduk bersandar dengan kedua tangan terlipat di dada. Mata elang di balik kacamata itu tidak sedang menatap layar proyektor, melainkan lurus tertuju pada Kiara. Pandangan Adrian perlahan turun, menelusuri bagaimana rok span ketat itu membungkus pinggul seksi Kiara, lalu naik lagi memperhatikan bibir Kiara yang bergerak menjelaskan materi. Tatapan itu begitu intens, seolah-olah Adrian sedang menelanjangi Kiara di depan puluhan mahasiswa lainnya.
Wajah Kiara mendadak terasa panas. Ia mulai terbata-bata menyebutkan angka inflasi dalam laporannya.
"Saudara Kiara," potong Adrian tiba-tiba, suaranya yang dingin memotong penjelasan Kiara di tengah kalimat. "Fokus Anda ke mana? Penjelasan Anda mulai melantur dan tidak sesuai dengan data di slide."
Beberapa mahasiswa di kelas mulai berbisik-bisik, mengasihani Kiara yang langsung kena teguran sang profesor killer. Kiara mengepalkan tangannya di balik punggung, menahan kekesalan. Di kampus pria ini benar-benar memperlakukannya dengan kejam!
"Maaf, Pak. Saya lanjutkan," cicit Kiara, mencoba mengontrol suaranya agar tidak bergetar.
Adrian hanya mengangkat sebelah alisnya, menunjukkan seringai super tipis yang hanya bisa ditangkap oleh mata Kiara. Tangan Adrian bergerak meraih ponselnya di atas meja. Jemari panjangnya mengetik sesuatu di layar dengan santai sembari matanya tetap mengawasi Kiara.
Bzzzt.
Ponsel Kiara yang diletakkan di atas podium presentasi bergetar pelan. Kiara melirik sekilas ke arah layar yang menyala, menampilkan sebuah pesan masuk dari nomor yang semalam ia simpan dengan nama 'Tuan Posesif'.
Tuan Posesif: “Presentasimu berantakan, Mahasiswaku. Tapi harus kuakui, rok span hitam itu membungkus asetmu dengan sangat indah dari sudut pandangku di sini. Gerakan tubuhmu saat gugup benar-benar membuatku ingin menguncimu di bawah meja dosen sekarang juga.”
Mata Kiara membelalak sempurna membaca pesan laknat itu. Jantungnya berdentum begitu keras hingga rasanya mau melompat keluar. Tubuhnya menegang kaku, dan tanpa sadar kedua paha Kiara merapat erat, merasakan sensasi menggelitik akibat pesan vulgar yang dikirimkan oleh dosen yang sekarang sedang menatapnya dengan wajah paling polos dan dingin di depan kelas.
Kiara menatap Adrian dengan pandangan tidak percaya sekaligus menuntut penjelasan. Namun, Adrian justru meletakkan kembali ponselnya, lalu menopang dagunya dengan satu tangan sembari menatap Kiara dengan binar mata yang berubah menjadi sangat nakal di balik kacamatanya.
Bzzzt. Satu pesan lagi masuk.
Tuan Posesif: “Jangan menatapku seperti itu di depan teman-temanmu, Kiara. Atau aku akan maju ke depan dan memeriksa sendiri apakah kamu memakai hadiah pagi tadi dengan benar. Temui aku di ruang dosen begitu kelas ini selesai, atau kupastikan kelompokmu mendapat nilai E.”
Kiara menelan ludahnya dengan susah payah, merasa seluruh pasokan oksigen di ruang kuliah mendadak menguap begitu saja akibat godaan tengil nan panas dari sang profesor.
Gimana BESTie? Adrian bener-bener tengil, di depan umum sok killer tapi di balik layar malah ngegodain Kiara lewat chat sampai lemes!