NovelToon NovelToon
Titik Tertinggi Mencintai

Titik Tertinggi Mencintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:597
Nilai: 5
Nama Author: Nisaul Mardhiyah

Ketika perbedaan kasta memaksa mereka berpisah dan amnesia menghapus ingatan Neya, akankah kisah cinta delapan tahun yang mereka rajut sejak SMP benar-benar berakhir atau takdir punya cerita lain ?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Obat Apa Itu ?

Kinan bangkit dari ranjang, berjalan menuju kamar mandi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia Menyalakan wastafel, membasuh wajahnya dengan air dingin berkali-kali, mencoba mengusir sisa-sisa gairah dan kebingungan yang berkecamuk di dalam kepalanya.

Di depan cermin, sepasang mata elang Kinan kembali menajam. Logika tajam seorang Kusuma akhirnya mulai bekerja kembali. Ia tahu ada sesuatu yang tidak beres dengan perubahan drastis pada tubuh dan fokus pikirannya selama ini.

Ketegangan yang menggantung di kamar utama semalam tidak serta-merta menguap begitu pagi datang. Justru, atmosfer di dalam mansion Kusuma terasa kian mendingin. Kinan bangun lebih awal dari biasanya. Tanpa menunggu pelayan mengantarkan kopi ke kamarnya, pria itu sudah rapi dengan setelan kerja lengkap—bahkan sebelum matahari benar-benar terbit sempurna.

Langkah kakinya yang berat dan tegas menggema di sepanjang koridor menuju ruang kerja pribadinya di lantai bawah. Di dalam kepala Kinan, kabut yang selama beberapa bulan ini mengondisikan emosinya kini telah benar-benar terusir oleh dinginnya logika. Ada ketidakberesan yang terlalu nyata untuk diabaikan. Sebagai pria yang terbiasa menganalisis risiko dan membaca pergerakan lawan di dunia bisnis, ia tahu bahwa perubahan drastis pada siklus tubuh, emosi, dan hilangnya fokus secara mendadak bukanlah sebuah kebetulan biologis.

Kinan duduk di balik meja kerjanya, menyalakan lampu meja yang temaram, lalu meraih ponsel pribadinya. Ia mendial sebuah nomor yang sangat privat.

"Halo, Dokter taufik," ucap Kinan begitu panggilan tersambung. Suaranya rendah, bariton, dan penuh penekanan rahasia. "Aku butuh kamu datang ke kantor pribadi Kusuma Group siang ini. Secara privat. Jangan lewatkan sekretaris utamaku, langsung masuk melalui jalur belakang."

"Ada masalah kesehatan yang serius, Pak Kinan?" tanya suara di seberang telepon dengan nada khawatir.

"Aku butuh pemeriksaan darah menyeluruh. Tapi aku tidak ingin pemeriksaan ini tercatat dalam sistem rumah sakit keluarga, dan jangan sampai ada satu pun laporan yang bocor ke tangan Mama maupun Sherly. Kamu paham maksudku?"

Sejenak ada jeda di seberang sana sebelum dokter pribadi itu menjawab dengan takzim, "Baik, Pak. Saya mengerti. Saya akan menyiapkan peralatan portabel dan datang sendiri siang ini."

Kinan menutup sambungan telepon, meletakkannya di atas meja dengan tatapan yang mengeras. Tangannya bergerak membuka laci meja kerja, tempat di mana ia biasanya menyimpan catatan-catatan penting. Pikirannya kembali berputar pada rutinitas pagi yang selalu disuguhkan Sherly selama berbulan-bulan ini. Kecurigaannya kini mulai mengerucut pada satu titik: cangkir kopi hitam yang tidak pernah absen menemani fajarnya.

Sementara itu, di lantai atas, Sherly terbangun dengan perasaan cemas yang tidak bisa ia sembunyikan. Ia menoleh ke samping dan mendapati sisi ranjang Kinan sudah dingin dan kosong. Tidak ada kecupan pagi, tidak ada tatapan intens, dan tidak ada lagi gairah menuntut yang biasanya selalu ia dapatkan dari suaminya akhir-akhir ini.

Rasa mual akibat awal kehamilan kembali menyerang perutnya, namun kecemasan psikologis di dalam dadanya jauh lebih menyiksa. Sherly beranjak dari tempat tidur, merapatkan kimono satinnya, dan berjalan menuju meja nakas tempat cangkir kopi Kinan biasanya diletakkan. Kosong. Bahkan tidak ada tanda-tanda Kinan menyentuh area itu pagi ini.

Dengan langkah yang sedikit tergesa, Sherly turun ke lantai bawah dan langsung menuju dapur utama. Ia mendapati beberapa pelayan sedang menyiapkan menu sarapan khusus untuknya atas perintah Mama Casandra.

"Di mana Kinan?" tanya Sherly dengan nada suara yang tertahan, mencoba menjaga wibawanya di depan para domestik.

"Pak Kinan sudah berada di ruang kerja bawah sejak subuh tadi, Nyonya Muda," jawab salah satu pelayan sembari menunduk hormat. "Beliau juga menolak saat kami ingin mengantarkan kopi atau sarapan pagi."

Mendengar hal itu, jantung Sherly berdegup kencang. Menolak kopi.

Dua kata itu bagai alarm bahaya yang berdering keras di dalam kepalanya. Taktik halus yang diajarkan oleh Mama Casandra sangat bergantung pada konsumsi konstan dari ramuan tersebut. Jika Kinan mulai menolak dan menarik diri, itu berarti pria itu mulai mencium adanya kejanggalan.

Sherly membalikkan badannya, berjalan cepat menuju ruang kerja Mama Casandra untuk melaporkan situasi ini. Retakan kecil yang terbuka semalam kini perlahan melebar, mengancam untuk meruntuhkan seluruh sandiwara dan dominasi sempurna yang telah mereka bangun dengan susah payah.

Kinan duduk di balik meja kaca besarnya, menatap tajam ke arah Dokter Taufik yang baru saja menyelesaikan analisis cepat menggunakan alat laboratorium portabel yang dibawanya.

Dokter paruh baya itu tampak ragu, dahinya berkerut dalam seiring jemarinya yang gemetar merapikan berkas hasil cetak digital dari mesin pemindai darah.

"Bagaimana hasilnya, Taufik?" suara bariton Kinan memecah keheningan, terdengar begitu dingin dan penuh penekanan yang mengintimidasi. "Jangan ada yang disembunyikan. Katakan yang sebenarnya."

Dokter Taufik menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian sebelum menatap langsung ke sepasang mata elang bosnya. "Pak Kinan... hasil analisis toksikologi dan hormonal Anda menunjukkan sesuatu yang tidak wajar. Ada akumulasi zat aktif dari senyawa herbal konsentrat tinggi di dalam aliran darah Anda."

Kinan menyipitkan matanya. "Zat apa?"

"Ini adalah senyawa penstimulasi hormon yang sangat kuat, biasanya digunakan dalam terapi kesuburan ekstrem yang dikombinasikan dengan zat penekan kecemasan dosis tinggi," jelas Dokter Taufik dengan suara berbisik, seolah takut dinding ruangan itu bisa mendengar. "Efek samping dari kombinasi ini adalah melemahnya kendali korteks prefrontal di otak Anda—bagian yang mengatur logika, keputusan, dan kewaspadaan. Sebaliknya, zat ini memaksa tubuh Anda berada dalam kondisi gairah dan ketergantungan fisik yang konstan terhadap stimulan di sekitar Anda."

Mendengar penjelasan medis itu, tangan Kinan yang berada di atas meja perlahan mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Semua kepingan teka-teki yang membingungkannya selama berbulan-bulan ini mendadak jatuh di tempat yang tepat. Rasa kantuk yang hilang setiap pagi, gairah liar yang tak tertahankan, hingga hilangnya ingatan emosionalnya secara drastis pada masa lalu—semuanya adalah hasil dari manipulasi biologis yang dirancang dengan sangat rapi.

"Apakah zat ini bisa dimasukkan melalui makanan atau minuman?" tanya Kinan, suaranya kini terdengar begitu tenang, namun ketenangan itu justru menyimpan badai amarah yang siap meledak.

"Sangat bisa, Pak. Zat ini tidak berwarna, tidak berbau, dan memiliki rasa pahit alami yang akan tersamarkan dengan sempurna jika dicampurkan ke dalam kopi hitam pekat," jawab Dokter Taufik dengan takzim.

Kinan menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran, tatapannya kosong menatap langit-langit ruangan. Kopi hitam. Cangkir yang selalu disuguhkan oleh Sherly dengan senyuman manis setiap fajar tiba."Satu hal lagi, Pak," Dokter Taufik menambahkan dengan ragu. "Jika Anda menghentikan konsumsi zat ini secara mendadak, tubuh Anda akan mengalami efek detoksifikasi. Anda akan merasa sangat jenuh, emosional, dan sakit kepala hebat selama beberapa hari ke depan sebelum fungsi logika Anda kembali pulih seratus persen."

"Biarkan saja," sahut Kinan dingin, matanya kini berkilat penuh dendam yang membara. "Aku ingin merasakan setiap rasa sakit itu untuk mengingatkanku betapa bodohnya aku telah masuk ke dalam jebakan mereka. Terima kasih, Taufik. Ingat, rahasia ini mati bersamamu."

Setelah dokter pribadi itu berpamitan keluar melalui pintu rahasia, Kinan berdiri dan berjalan menuju jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan kota di bawahnya. Rasa bersalah yang selama berbulan-bulan ini diredam oleh kabut obat mendadak menghantam dadanya dengan kekuatan penuh. Ia telah dikelabui. Ia telah hanyut dalam pelukan wanita yang mengkhianatinya, sementara hatinya yang sesungguhnya kini entah berada di mana.

1
Unicha
apa sebenarnya yang sedang direncanakan Neya?
Unicha
apa yang akan dilakukan sherly setelah membaca pesan itu ?
Unicha
madu ? apakah haris sudah menikah sebelumnya? atau siapa wanita yang mengaku menjadi madu Neya itu ?
Unicha
apakah perlahan Kinan akan mencintai Sherly dan melupakan neya ?
sakura
...
Unicha
Kenapa Imelda menangis ,apa yang Imelda sembunyikan?
Unicha
Siapakah laki laki yang menjadi suami neya itu ? ,apakah neya benar sudah menikah ?
lalu Kinan ?
Unicha
Apakah Kinan dan neya benar benar akan berakhir?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!