NovelToon NovelToon
Istri Polos Untuk Sang Mafia Dingin

Istri Polos Untuk Sang Mafia Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Xavier Volkov, adalah seorang pemuda tampan yang dikenal dingin dan sangat sulit didekati. Namun ia memiliki sisi gelap sebagai seorang mafia yang ditakuti banyak orang. Meski banyak wanita yang mendekatinya, Xavier sama sekali tidak tertarik pada cinta ataupun hubungan serius. Namun hidupnya berubah saat sang ibu memaksanya untuk segera menikah. Karena tidak ingin dijodohkan dengan wanita hasil pilihan keluarganya, Xavier akhirnya memilih menikahi seorang mahasiswi polos yang bernama Lyko. Bagi Lyko, pernikahan itu bukan tentang cinta. Ia membutuhkan uang untuk bayar hutang dan pengobatan ibunya. Dengan terpaksa gadis itu menerima tawaran Xavier dan masuk ke dalam kehidupan pria yang sama sekali berbeda dari dunianya. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Xavier tetap bersikap dingin dan cuek pada Lyko. Tetapi semakin lama tinggal bersama, Xavier mulai merasa ada sesuatu yang tumbuh dihati. Di saat perasaan itu mulai tumbuh, berbagai macam bahaya mulai datang menganggu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 03 : Strategi

Cahaya pagi menyelinap lewat celah tirai, hangatnya menimpa wajah Xavier, membuatnya terbangun dari tidur.

Matanya terbuka perlahan, mukanya tampak masih sedikit mengantuk. Ia tampak masih mengumpulkan seluruh nyawa dan kekuatannya sebelum akhirnya bangun.

Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya pelan. “Aku ketiduran,” ucapnya sambil memegang kepalanya.

Xavier duduk di tepi kasur, mengusap wajahnya kasar, lalu perlahan ia berdiri. Xavier berjalan menuju lemari kecil, mengambil pakaian rapi yang sudah tersedia dilemari, ia memilih pakaian yang ada disana lalu berjalan menuju ke kamar mandi.

Air dingin membasuh tubuhnya, cukup untuk membuat kantuknya hilang seketika. Wajahnya seketika menjadi segar dan kembali tegas.

Kurang dari beberapa menit, Xavier kini sudah selesai dengan mandinya. Ia mengenakan kemeja putih seperti biasa, lalu memakai dasi. Namun saat ia baru saja mengencangkan dasi tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar.

TOK! TOK! TOK!

Xavier menoleh sedikit, “masuk.”

Pintu terbuka, memperlihatkan Felix muncul dengan langkah tegap, “selamat pagi, Tuan,” ia membungkuk kan badannya. “Ares, ketua tim strategi meminta izin untuk bertemu, Tuan.”

Xavier mengernyit tipis, “untuk apa?”

Felix menjelaskan perlahan, “mereka ingin melaporkan revisi strategi kemarin yang sempat gagal, Tuan.”

Xavier terdiam sebentar. Ia hampir lupa dengan itu. Kemudian ia menjawab, “berkumpul diruang rapat,” ucapnya langsung berjalan ke arah pintu.

“Baik, Tuan,” jawab Felix kemudian mengikuti dari belakang.

*****

Ruang rapat itu luas, dindingnya gelap, dan layar besar memenuhi sisi depan ruangan. Udara di dalamnya dingin, bahkan terasa sangat tegang untuk tim strategis yang pernah gagal memuaskan hati Xavier.

Lampu putih memantul di permukaan meja panjang yang dipenuhi oleh tablet, map tebal, dan lembaran laporan yang ditata rapi.

Di ujung ruangan, layar proyektor sudah menyala, menampilkan peta besar wilayah musuh, lengkap dengan jalur, titik jaga, serta tanda merah yang terletak di beberapa area penting. Tak lama kemudian, Xavier dan Felix masuk bersamaan.

Begitu Xavier duduk di kursi utama, suasana langsung berubah. Tidak ada yang berani berbicara lebih dulu, tidak ada yang berani menatapnya terlalu lama.

Ares, selaku ketua tim strategi berdiri tegap di depan layar, bersama beberapa anggota lain yang memegang tablet dan dokumen.

“Selamat pagi, Tuan Xavier,” sapa Ares dengan hormat dan tegas.

Xavier mengangguk sebagai jawaban, satu tangan bersandar santai di sandaran kursi, tapi tatapannya cukup untuk membuat satu ruangan itu seperti kehilangan oksigen.

“Mulai sekarang,” ucapnya singkat.

“Baik, Tuan,” katanya tegas.

Ares kemudian mengambil dokumen diatas mejanya dan membukanya.

“Rencana kemarin kami evaluasi ulang. Ada kesalahan dalam eksekusi konsep, jadi hari ini saya akan menjelaskan ulang… dengan tujuan yang berbeda,” ia menatap Xavier sebentar, memastikan atensinya penuh.

“Strategi kali ini saya bagi menjadi dua tahap,” lanjutnya berusaha menyembunyikan kegugupannya itu.

Ares memperbesar tampilan gudang musuh, “kali ini target pertamanya bukan tanah mereka. Bukan juga langsung penembakan, namun target kami adalah blue print,” ia menunjuk sebuah titik di tengah area gudang.

“Target pertama adalah flashdisk blue print cadangan yang menyimpan pola strategi musuh, termasuk pergerakan pasukan, jalur suplai, serta rencana serangan berikutnya.”

“Mengapa kalian yakin, bahwa blue print itu dapat membantu?” tanya Xavier mencoba agar Ares menjelaskan dengan detail dan jelas.

Ares menjawab dengan yakin, “jika kita mendapatkan blue printnya, kita bisa membaca pola mereka sebelum mereka bergerak.”

Xavier mengangguk merasa jawabannya Ares tepat, “benar.”

Tak lama, Ares menekan remote lagi, menampilkan semua jalur-jalur masuk, “tujuan strategi pertama ini hanya satu, mencuri mata musuh.”

Xavier menyipitkan mata. “Beri tahu aku, mengapa tidak sekalian habisi mereka malam itu?” katanya lagi-lagi menguji mental Ares yang terlihat gugup.

Ares menjawab tanpa ragu, suaranya kali ini jelas tanpa keraguan, “karena jika kita menyerang besar-besaran, itu hanyalah tindakan orang bodoh yang tidak memiliki strategi serta akal untuk berfikir,” ucap Ares jelas.

Xavier memejamkan mata mendengarkan, kemudian ia mengangguk, merasa jawaban itu kembali membuat hatinya puas, tak lama ia kembali berkata, “lanjutkan.”

Ia menunjuk jalur masuk kecil di sisi timur gudang. “Tim infiltrasi masuk lewat jalur semak timur. Ada blind spot CCTV saat pergantian shift, dan waktu kita cuma empat menit.”

Ia memindahkan penunjuk ke bagian belakang gudang. “Tim kedua masuk lewat drainase belakang. Tetapi jangan langsung menyerang, karena untuk membuka akses menuju kontainer.”

Ia menatap Xavier lagi.

“Strategi 1 ini murni operasi senyap. Dan hanya 3 langkah saja, pertama kita ambil flashdisk itu, kedua kembali ke markas, dan yang terakhir pelajari sistem gerak strategi mereka untuk pertempuran nanti.”

Xavier terdiam sejenak, merasa rencana itu sungguh lebih baik dari kemarin. Ruangan itu mendadak hening beberapa detik terasa seperti nyawa mereka akan dicabut

Lalu, Xavier mengangguk pelan. “Lanjutkan.”

Setelah mendengar kata itu, Ares menjadi lega, ia perlahan menekan remote kembali.

Lalu peta itu perlahan berubah. Kini yang muncul bukan hanya gudang, melainkan wilayah luas tanah utama musuh, jalur distribusi, titik penjagaan, hingga lokasi pemukiman.

“Kemudian, setelah blue print kita amankan…” suaranya lebih berat, lebih tegas.

“Barulah kita masuk ke strategi kedua,” ia menunjuk garis batas wilayah. “Strategi kedua adalah pengambilan total,” ia berhenti sejenak.

“Tujuan kita adalah mengambil tanah mereka untuk menjadi milik Black Colfer, ini juga memperbesar jalur kekayaan markas, jalur senjata, dan memperkuat nama komunitas kita,” jelasnya.

Salah satu anggota tim menampilkan data tambahan di layar, yaitu jalur akses, posisi penjaga, dan kemungkinan titik perlawanan yang mungkin dipakai oleh musuh.

Ketua tim strategis melanjutkan. “Di strategi kedua ini, kita tidak bisa bermain-main. Kita harus membuat mereka panik, agar pikiran mereka kacau dan tidak bisa melangkah lebih jauh.”

Ia menunjuk titik lemah musuh pada peta, “mereka punya tiga titik pertahanan. Tapi kelemahan terbesar mereka ada di dua hal, pertama jalur evakuasi mereka sangat sempit untuk anggota mereka yang lumayan banyak, dan yang kedua pusat komando mereka berada terlalu dekat dengan gudang suplai.”

Ia menatap semua orang di ruangan. “Jadi rencana kita bisa dibilang sederhana. Dan sebelum itu masing-masing anggota sudah saya bagi menjadi beberapa tertentu, Tuan,” ucapnya pada Xavier.

“Tim 1 yaitu Tim Alpha, menyerang dari depan, memancing tembakan dan menguras amunisi mereka.”

“Tim 2 yaitu Tim Bravo, memotong jalur kabur di sisi barat, jangan biarkan satupun orang keluar hidup-hidup.”

“Tim 3 yaitu Tim Charlie, mengambil posisi tinggi untuk sniper. Target utama yaitu pemimpin lapangan musuh.”

“Tim 4, yaitu Tim Delta masuk dari belakang dan kuasai pusat komando.”

“Dan terakhir, Tuan Xavier dapat membereskan sisanya, kalau Anda mau.”

Xavier menyeringai tipis, “baiklah.”

Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan suara datar, “dan setelah wilayah dikuasai… kita bersihkan semuanya, alias party darah.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi semua orang di ruangan tahu artinya, bukan sekadar menang, melainkan menghapus jejak musuh sampai rata.

Xavier menyandarkan tubuhnya, matanya tetap tajam, dan perlahan berkata, “berapa lama mereka dapat bertahan?”

Ares menjawab, “kalau mereka bertahan mati-matian, maksimal waktu yaitu dua jam, Tuan. Karena jumlah anggota mereka sungguh kurang jika dibandingkan dengan kita.”

Xavier menatap layar, lalu berkata dingin, namun ada kepuasan dihatinya, “bagus. Dua jam mungkin cukup.”

Ia berdiri dari tempat duduk lalu mencondongkan badan sedikit, “pastikan strategi pertama berhasil. Kalau flashdisk itu hilang… strategi kedua akan jadi perang buta. Dan aku, tidak mau sampai hal itu terjadi, mengerti?” katanya lantang.

Ares dan semua orang disana menunduk dan menjawab. “Dimengerti, Tuan.”

“Aku puas, ini baru namanya strategi. Kerja bagus, Ares. Lakukan semuanya dengan baik, aku percayakan ini padamu,” katanya sambil menatap Ares cukup dalam.

Ares mengangguk, merasa lega karena rencananya kali ini sungguh memuaskan hati Xavier, “baik, terimakasih, Tuan.”

Xavier mengangguk, lalu berkata kembali, “siapkan semuanya, pastikan besok kita sudah bisa mulai peperangan ini.”

“Laksanakan, Tuan,” jawab semua orang dengan tegas dan lantang.

“Rapat diakhiri, semuanya sudah cukup untuk hari ini, bubar sekarang,” perintahnya.

Ia perlahan berkata pelan pada Felix, “lakukan apa yang seharusnya kau lakukan,” ucap Xavier dingin nyaris tanpa intonasi.

Felix menelan ludah, lalu menunduk lebih dalam, seolah tahu apa yang dimaksud oleh Tuannya itu. “Baik, Tuan.”

Xavier melangkah keluar ruangan tanpa menoleh lagi, seolah ia tidak mau mendengar apapun lagi dan ingin mengerjakan hal yang harus ia kerjakan.

1
Raicy Starmoonix
bnr lgi/Facepalm/
It's me Sky: efek trlalu kaya bgtu tuh/Proud/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
bohongnya nyambung lagi/Facepalm/
It's me Sky: bkn skrip dlu mrka/Slight/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
gmna g terpesona Lykonya aja cantik gituu/Sly//Rose/
It's me Sky: //Chuckle//Chuckle/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
tegang tor, aura mafianya ada bgt/Shame/
It's me Sky: bulu kudup aman?/Blush/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
bagusss bgt ceritanyaa/Kiss//Kiss/
Raicy Starmoonix
si mc ganteng bgt tor/Drool/
It's me Sky: kiww🤭
total 1 replies
Raicy Starmoonix
Xavier tanggung jwb anak orng salting/Facepalm/
It's me Sky: xavier aja salting sendiri/Proud/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
salting.... saltingg/Smirk/
It's me Sky: gengsi... gengsi/CoolGuy/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
omak, terbakar cemburu dan posesif/Doubt/
It's me Sky: shhtt/Shhh/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
astaga diksih black card.../Doubt/
It's me Sky: iya dong/Casual/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
lyko nya polos bgt pilss/Proud/
It's me Sky: hu um, soalnya dya bukan batik/Tongue/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
pingin punya cowok spek Xavier ihh, royal bgt😍/Rose/
It's me Sky: heii aku jg mau lohh/Proud/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
wahh alurnya keren/Joyful/
Arditya
luar biasa mantap thor
It's me Sky: makasihh/Hey/
total 1 replies
Arditya
Mampir baca thor😍
It's me Sky: yuk¹ mampir/Proud/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!