Lin Tian, seorang pemuda dari kasta terendah Sekte Awan Hijau, harus menelan kepahitan takdir saat Dantiannya dihancurkan tanpa ampun demi melindungi adik perempuan satu-satunya. Alih-alih mendapat keadilan, sang adik dirampas oleh petinggi sekte yang serakah, sementara Lin Tian dibuang ke tambang beracun di Lembah Kematian untuk membusuk sebagai manusia cacat.
Namun, di kedalaman keputusasaan, Lin Tian menolak untuk menyerah pada nasib. Ketika langit menutup jalan kultivasi ortodoks baginya, ia memilih untuk membelah langit itu sendiri. Diasingkan bersama kerangka para pendekar masa lalu, ia menemukan Seni Pedang Sembilan Kematian—sebuah warisan kuno dan terlarang yang tidak membutuhkan Dantian.Tanpa lautan Qi, ia menjadikan daging dan tulangnya sebagai wadah pedang. Menempuh jalur yang dipenuhi siksaan berdarah dan rasa sakit yang melampaui batas manusia, Lin Tian perlahan menempa dirinya menjadi senjata paling mematikan di bawah langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Bayangan Pembantai
Hutan Belantara Selatan di malam hari adalah labirin maut yang bahkan ditakuti oleh para kultivator berpengalaman. Akar-akar pohon menyembul dari tanah seperti ular raksasa, sementara kabut tipis berbau tembaga mengaburkan pandangan.
Lin Tian melompat dari dahan ke dahan tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Tidak ada fluktuasi Qi yang memancar darinya, membuatnya menyatu sempurna dengan kegelapan. Di tangan kirinya, ia menggenggam erat gagang pedang patah sisa jarahannya. Tangan kanannya yang terluka parah dibiarkan menggantung, meski di bawah kulitnya, Niat Pedang kuno sedang bekerja keras menjahit otot dan tulang yang terkoyak.
Sekitar setengah mil dari gua persembunyiannya, kilatan cahaya spiritual merah dan biru menebas kegelapan, disusul denting logam yang beradu keras.
Lin Tian berhenti di dahan pohon ek purba, menyembunyikan auranya di balik dedaunan lebat. Dari atas sana, matanya yang sedingin es mengamati medan pertarungan di tanah.
Di area yang sedikit terbuka, seorang gadis muda berjubah biru muda sedang tersudut. Napas gadis itu tersengal-sengal, darah merembes dari luka di bahu dan pahanya. Ia memegang sebilah pedang tipis yang memancarkan aura elemen air, namun cahayanya sangat redup. Di dadanya, terdapat noda kehitaman yang menjalar ke leher—tanda jelas bahwa ia terkena racun tingkat tinggi.
Gadis itu dikepung oleh tiga orang pria berpakaian hitam dengan sulaman burung gagak merah di dada mereka.
"Sekte Gagak Hitam," gumam Lin Tian dalam hati. Ia pernah mendengar nama itu saat masih menjadi murid luar. Itu adalah sekte aliran hitam (unorthodox) yang beroperasi di pinggiran Hutan Belantara Selatan, terkenal dengan kekejaman dan racun korosif mereka.
"Menyerahlah, Nona Mu Qingyi," tawa pria berwajah codet yang menjadi pemimpin kelompok itu. Tekanan auranya menunjukkan bahwa ia berada di tahap Pembangunan Pondasi Awal. Dua anak buahnya berada di Pengumpulan Qi Tingkat Puncak. "Racun Gagak Pembusuk Tulang sudah memasuki jantungmu. Semakin kau menggunakan Qi, semakin cepat jantungmu meleleh."
Gadis bernama Mu Qingyi itu menggigit bibirnya hingga berdarah. "Tuan Muda kalian benar-benar serigala berbulu domba. Kami dari Paviliun Angin Musim Gugur datang jauh-jauh dari pinggiran Benua Tengah untuk berdagang, tapi kalian justru menyergap kami!"
"Hahaha! Benua Tengah memang kaya, tapi kami butuh barang yang kau bawa," pemimpin sekte Gagak Hitam itu menyeringai, matanya memancarkan keserakahan. "Serahkan Peta Rahasia Lembah Musim Gugur itu! Dengan peta itu, Sekte Gagak Hitam kami akan menjarah seluruh peninggalan di alam rahasia dan menjadi penguasa baru wilayah ini! Jika kau menyerahkannya, aku berjanji akan meninggalkan mayatmu utuh."
Mendengar kata "Peta Rahasia Lembah Musim Gugur", mata Lin Tian di atas pohon tiba-tiba berkilat tajam. Alam Rahasia itu adalah tujuannya berikutnya. Ia tidak peduli dengan konflik sekte mereka, namun peta itu adalah kunci untuk menemukan peninggalan pedang kuno dan Biji Teratai Pedang.
Di bawah sana, Mu Qingyi tertawa getir. "Kalian bermimpi! Bahkan jika aku harus menghancurkan Dantianku sendiri, peta ini tidak akan jatuh ke tangan sekte kotor seperti kalian!"
Mu Qingyi mengangkat pedangnya, bersiap membakar sisa esensi darahnya untuk satu serangan bunuh diri terakhir.
Pemimpin Gagak Hitam mendengus dingin. "Dasar wanita keras kepala. Bunuh dia sebelum dia menghancurkan petanya!"
Dua anak buah Gagak Hitam melesat maju, golok besar berlapis racun merah di tangan mereka siap memenggal kepala Mu Qingyi.
Gadis itu memejamkan mata, meneteskan air mata putus asa.
Namun, sebelum golok itu menyentuh lehernya, embusan angin malam tiba-tiba terasa jauh lebih dingin. Udara di sekeliling mereka mendadak seberat besi.
WUSH!
Sesosok bayangan abu-abu meluncur turun dari atas pohon raksasa tanpa suara. Kecepatannya jauh melampaui logika manusia.
CRAAAK!
Salah satu anak buah Gagak Hitam yang sedang melompat tiba-tiba terhenti di udara. Mata pria itu melotot ngeri saat melihat sebuah tangan perunggu menembus dadanya dari belakang, mencengkeram jantungnya yang masih berdetak, lalu meremukkannya menjadi bubur daging.
Tubuh pria itu jatuh berdebam ke tanah berbatu. Di belakangnya, berdiri Lin Tian dengan wajah tanpa ekspresi, darah musuh menetes dari jari-jari tangan kirinya.
Kejadian itu begitu cepat hingga Mu Qingyi dan dua orang Gagak Hitam yang tersisa terpaku di tempat.
"S-Siapa kau?!" teriak anak buah yang tersisa, panik melihat rekannya tewas dalam satu kedipan mata tanpa ada fluktuasi Qi sedikit pun. "Beraninya kau mencampuri urusan Sekte Gagak—"
Sebelum pria itu menyelesaikan kalimatnya, Lin Tian bergerak. Ia tidak peduli dengan omong kosong. Tangan kirinya memungut pedang patah miliknya yang tadi ia jatuhkan saat mendarat. Ia melangkah maju hanya dalam satu tarikan napas, mendekati pria tersebut.
Pria Gagak Hitam itu mengayunkan golok beracunnya dengan liar. Lin Tian tidak menghindar, melainkan menangkisnya dengan pedang patah.
TRANG!
Bilah golok spiritual itu patah terbelah dua saat berbenturan dengan pedang patah Lin Tian yang dilapisi tenaga fisik Baja Pembelah Urat. Lin Tian memutar pergelangan tangannya, menggorok leher pria itu dengan sisa bilah pedangnya yang tumpul namun digerakkan dengan kekuatan luar biasa. Darah menyembur ke udara, dan mayat kedua tumbang.
Melihat dua anak buah elitnya dibantai seolah mereka adalah anak ayam, pemimpin Gagak Hitam mundur beberapa langkah. Keringat dingin sebesar biji jagung menetes dari pelipisnya.
Ia seorang ahli Pembangunan Pondasi Awal, namun ia sama sekali tidak bisa merasakan energi spiritual dari pemuda berbaju compang-camping ini. Lengan kanan pemuda itu bahkan berlumuran darah dan tampak patah. Tapi kecepatan dan kekuatan brutalnya adalah sesuatu yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya.
"S-Sobat! Kita tidak punya dendam!" Pemimpin Gagak Hitam mengangkat tangannya gugup. "Jika kau menginginkan wanita ini, ambil saja! Peta itu juga bisa kita bagi dua! Tidak perlu—"
"Aku tidak suka berbagi," potong Lin Tian dengan suara yang setajam es.
"Kau mencari mati!" Pemimpin Gagak Hitam itu tiba-tiba mengubah ekspresinya. Ia menghentakkan kakinya ke tanah, meledakkan seluruh Qi beracunnya. Sihir Gagak Berdarah: Tangan Cakar Merah!
Kabut merah pekat berbentuk cakar raksasa melesat dari tangan pria itu, mengarah langsung ke dada Lin Tian. Racun itu cukup kuat untuk melelehkan batu karang.
Lin Tian tidak mundur. Ia mengambil posisi kuda-kuda, mengabaikan cakar beracun itu, dan menarik tangan kirinya ke belakang. Energi Niat Pedang murni yang buas mengalir dari sumsum tulangnya ke ujung pedang patah di genggamannya.
"Tembus."
Lin Tian melemparkan pedang patah itu dengan seluruh kekuatan fisik kirinya layaknya melempar lembing tombak.
ZWWWOOOOSH!
Pedang patah itu membelah udara, memecahkan penghalang suara. Gaya dorongnya begitu dahsyat hingga menciptakan pusaran angin kecil yang dengan mudah merobek dan menyibak cakar kabut beracun milik Pemimpin Gagak Hitam seolah kabut itu hanyalah asap rokok.
"Tidaaakkk—!"
JLEB!
Pedang patah tumpul itu menghunjam tepat di dada Pemimpin Gagak Hitam, menembus tulang rusuknya, menghancurkan jantung dan Dantiannya sekaligus. Kekuatan lemparan itu tak berhenti di situ; tubuh pria itu terseret ke belakang sejauh sepuluh meter sebelum akhirnya tertancap kuat di batang pohon raksasa, mati dengan mata terbuka lebar dalam kengerian.
Hutan kembali sunyi. Hanya tersisa deru napas Mu Qingyi yang tersengal-sengal.
Gadis itu terduduk lemas di tanah. Pikirannya kosong. Pemuda di depannya ini membunuh kultivator Pembangunan Pondasi dengan melempar pedang patah menggunakan tangan kirinya? Tanpa menggunakan sihir satupun?!
Lin Tian melangkah mengabaikan Mu Qingyi yang gemetar. Ia berjalan menuju mayat Pemimpin Gagak Hitam yang tertancap di pohon. Ia mencabut pedang patahnya dengan kasar, lalu menjarah kantong penyimpanan (storage pouch) dari pinggang mayat tersebut.
Setelah memastikan tidak ada ancaman lain, pandangan Lin Tian akhirnya beralih pada Mu Qingyi.
Mu Qingyi menelan ludah. Ia mencoba merangkak mundur. Pemuda berjubah lusuh ini memiliki aura membunuh yang jauh lebih pekat dan murni daripada para pembunuh Gagak Hitam.
"T-Terima kasih telah menyelamatkanku, Pendekar," ucap Mu Qingyi dengan suara bergetar, memegang bahunya yang berdarah. "Aku adalah murid Paviliun Angin Musim Gugur. Jika kau mau membantuku keluar dari hutan ini, paviliunku akan memberikan imbalan batu spiritual yang..."
"Di mana petanya?" potong Lin Tian dingin. Matanya menatap lurus menembus Mu Qingyi.
Mu Qingyi membeku. "P-Peta apa? Aku tidak—"
Lin Tian melangkah mendekat. Ujung pedang patahnya yang masih meneteskan darah menunjuk tepat ke dahi gadis itu.
"Jangan menguji kesabaranku," bisik Lin Tian pelan, tapi ancamannya terasa sangat nyata. "Sekte Gagak Hitam mati bukan karena aku ingin menyelamatkanmu. Mereka mati karena mereka terlalu berisik di dekat tempat istirahatku. Serahkan petanya, atau aku akan mengambilnya sendiri dari mayatmu."
Mu Qingyi gemetar hebat. Ia menatap mata hitam kelam Lin Tian dan menyadari bahwa pemuda ini sama sekali tidak main-main. Ia tidak memiliki belas kasihan. Kebaikan tidak ada di matanya, yang ada hanya ambisi mematikan.
Dengan tangan gemetar, Mu Qingyi merogoh saku jubah bagian dalamnya. Ia mengeluarkan sebuah gulungan perkamen kulit binatang buas yang memancarkan pendaran cahaya kuning pudar dan melemparkannya ke tanah di depan Lin Tian.
"Itu... itu peta sekaligus kunci formasi masuk ke Alam Rahasia Lembah Musim Gugur," isaknya tertahan karena racun di tubuhnya semakin parah. "Ambillah. Tapi kumohon... Alam Rahasia itu akan terbuka tiga hari lagi. Tanpa perlindungan Qi, racun miasma di lembah itu akan membunuhmu."
Lin Tian memungut gulungan itu dengan tangan kirinya. Ia merasakan riak energi kuno dari peta tersebut. Tujuannya tercapai.
Ia berbalik, bersiap pergi menembus bayangan hutan, kembali ke gua tempat Lin Xue dan Lin Chen menunggunya.
"T-Tunggu!" panggil Mu Qingyi putus asa, batuk mengeluarkan darah kehitaman. "Kau... kau akan meninggalkanku begitu saja di sini? Racun ini akan membunuhku dalam beberapa jam! Paling tidak... tolong beri aku penawar dari kantong Gagak Hitam itu!"
Lin Tian menghentikan langkahnya sejenak. Ia tidak menoleh.
"Di dunia yang kejam ini, bertahan hidup adalah tanggung jawabmu sendiri," ucap Lin Tian datar. Ia menjentikkan jarinya ke belakang, melemparkan sebuah botol porselen kecil—yang ia ambil dari kantong Pemimpin Gagak Hitam—hingga mendarat tepat di pangkuan Mu Qingyi.
"Ini penawarnya. Sebagai bayaran karena kau menyerahkan peta itu tanpa memaksaku membunuhmu."
Sebelum Mu Qingyi sempat mengucapkan sepatah kata pun, siluet Lin Tian sudah menghilang di balik kabut malam Hutan Belantara Selatan, meninggalkannya sendirian dalam keheningan yang mencekam, seolah iblis pedang baru saja melewatinya.