Pulang dari rumah sakit sehabis melahirkan, Alena di kejutkan sebuah Lingerie Merah yang tergeletak di atas ranjang adiknya. Alena terkejut bukan tanpa alasan. Sementara Tiyas - adiknya itu masih lajang. Lalu, Tiyas gunakan untuk apa pakaian vulgar itu.
Setelah Alena menyelidiki, ternyata Lingerie itu Tiyas gunakan untuk memuaskan....????
Tak hanya hati Alena yang hancur. Masa depan putranya juga ikut terpatah. Di tengah himpitan masalah ekonomi, datanglah sosok Juragan cukup matang bernama~Danu Albiru. Pria berusia 38 tahun itu tidak hanya menawarkan pernikahan KONTRAK. Tapi membantu Alena bangkit, menjamin masa depan putranya.
Akankah Alena tetap mempertahankan pernikahannya dengan Dewantara? Ataukan bersedia cerai, dan memilih tawaran menggiurkan Juragan Danu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Di rumah, begitu Alena tiba ia di sambut dengan tangisan Delan yang memekik kencang. Bayi beberapa hari itu tampak rewel, di kasih Dot pun tak mau. Bik Laras yang menggendongnya sampai kualahan.
"Bik, ada apa?" Alena baru masuk.
"Nggak tahu, Non... Nggak biasanya Den Delan kaya gini. Biasanya sih mau aja minum di Dot." Bik Laras masih terus berusaha menimang dan menyanyikan senandung lembut.
Alena mendekat. Menyentuh dahi Delan, tapi putranya itu sama sekali tidak panas atau pun demam. Badan Dewan suhunya normal.
"Coba biar saya susu'in aja, Bik...."
Bik Laras melepas selendang batik itu, lalu meletakan Delan dalam dekapan Ibunya. Sembari di bawa Alena duduk hendak menyusui, Delan kembali menggeliat, tangisanya pecah.
Oekkk... Oekkk....
"Ya Allah, Delan... Kamu kenapa sayang? Apa ada yang sakit di badanmu? Tolong jangan buat Ibu tambah cemas...." rintih Alena menahan tangis.
Sebagai Ibu muda, apalagi tanpa adanya orang tua sebagai penopang yang membantu dalam mengAsihi, Alena sungguh bagaikan badut, apalagi setelah kelahiran Delan, sosok suami yang seharusnya mendampingi dirinya, kini malah semakin menjauh, entah pergi kemana.
Mbok Minah masuk. "Non... Sepertinya Den Delan kangen sama Ayahnya deh. Juragan semenjak putranya pulang, tak pernah sekali pun menimang putranya."
Alena bergeming. Dan memang benar. Semenjak kepulangannya dari rumah sakit, seolah suaminya itu sibuk sendiri dengan dunia kerjanya. Banyak sekali perubahan Dewan setelah kelahiran putranya.
"Sayang... Delan kangen ya sama Ayah? Delan ingin di gendong, ya?" tanpa Alena sadari, air matanya menetes. Dadanya terasa penuh dan sesak.
Di luar, sebuah mobil tiba di halaman. Bukan Dewan, namun Fauzan lah yang datang. Setelah dari seminar di Hotel, pria itu langsung ke rumah, niat pertamanya memastikan Kakaknya di rumah atau tidak.
Namun disaat kakinya menginjak ambang pintu, semua niat awalnya sirna. Tangisan sang keponakan membuat dadanya berdesir miris.
"Apa yang terjadi sama Delan?"
Suara Fauzan di ambang kamar Alena membuat semua orang itu menoleh. Terutama Mbok Minah. "Nggak demam, Den! Tapi rewel aja sejak tadi. Simbok kasihan sama Non Alena. Dia sampai kuwalahan."
Entah dorongan dari mana, Fauzan menawarkan diri untuk berganti menimang sang keponakan. Hal itu mebuat Mbok Minah dan Bik Laras bergemuruh.
"Coba biarkan ikut saya, Lena! Mungkin Delan lagi kangen sama Mas Dewan," Fauzan sudah duduk, dan Alena mulai memindahkan putranya dengan hati-hati.
Meskipun agak sedikit ngeri, karena Delan masih sangat kecil, tapi sebagai Paman'nya, ia merasa tak tega hanya tinggal diam dan menatap saja.
"Eh, keponakan Paman... Delan jangan nangis lagi, ya... Kasian sama Ibu."
Fauzan mulai menyingkir menuju jendela. Pria itu mengayunkan sang kepokan dengan ritme cukup pelan. Tak hanya di ayunkan, Fauzan juga menyanyikan lagu sebisanya. Suara lembutnya membuat Delan sepertinya tertarik.
Tangisan Delan berangsur reda. Isakannya berubah lagi menjadi dengkuran halus yang membuat Alena merasa lega sekaligus bahagia.
"Ya Allah, Delan... Kamu beneran kangen sama Ayah kamu, sayang! Mas Dewan benar-benar keterlaluan. Pergi dari pagi, jam segini pun masih belum pulang," geram batin Alena.
Mbok Minah mendekat. Di usap lah bahu sang Majikan. "Non yang sabar. Jangan terlalu fikiran! Non itu menyusui. Ibu menyusui harus berpikir yang senang-senang saja."
Alena menjawabnya dengan senyum pasrah. Senyum yang menyakitkan. Dan semua itu tak lepas dari pandangan Fauzan.
"Mas Dewan kemana, Len?" celetuknya sambil mendekat.
"Saya juga nggak tahu. Pamitnya sejak pagi ke Pabrik. Tapi setelah saya mengirim makan siang, para pekerja bilangnya Mas Dewan nggak ada datang sejak pagi. Padahal, sejak Delan pulang Mas Dewan belum pernah sekali pun menggendong putranya."
Suara Alena tiada gairah. Nadanya menyirat rasa putus asa. Dan hal itu membuat Fauzan menatap penuh Iba. Entah ada di mana Kakaknya saat ini?
"Tiyas? Dia juga pergi?"
Tiba-tiba saja pertanyaan itu lolos dari mulut Fauzan. Dan reflek saja membuat Alena tersadar. Ia sampai menatap kedua pelayannya.
"Apa Tiyas sudah pulang, Mbok?"
"Belum, Non!" jawab Mbok Minah apa adanya.
Fauzan menimpali, "Lena... Ada yang ingin saya bicarakan sama kamu mengenai Adikmu. Sebentar, saya tidurkan Delan dulu."
Akhirnya, setelah drama cukup membuat tarikan napas panjang, Bayi mungil itu terlelap. Di sana sudah di jaga Bik Laras. Mbok Minah keluar melanjutkan kembali aktivitasnya.
Dan saat ini, Fauzan dan Alena sudah duduk di ruang tengah. Fauzan mulai menceritakan semua hal yang dirinya lihat tadi pada saat di Hotel.
"Apa??? Mas Fauzan yakin? Bener itu adik saya?"
"Demi Allah, Lena... Saya nggak bohong! Tapi... Entah sama siapa, saya nggak begitu paham sama pria itu," mengingat pun rasanya tak bisa. Sebab pria tadi langsung di ajak Tiyas melenggang pergi. Yang Fauzan ingat, hanya kemeja si Pria.
Di saat rasa gundah bercampur cemas menusuk hati Alena, disaat itu pula suara derap langkah seseorang menggema dari luar.
Dewantara baru pulang. Ia cukup menyipitkan mata melihat adiknya duduk bersebrangan dengan sang Istri.
"Fauzan? Kamu ada disini?"
Alena bangkit, Fauzan juga ikut bangkit. Entah ini kebetulan atau apa, tapi demi apapun, kemeja yang tadi Fauzan lihat, sama persis dengan kemeja yang Kakaknya kini kenakan.
"Mas, kamu dari mana saja seharian ini?" Alena menatap Dewan penuh rasa kecewa.
"Alena... Tadi saya 'kan sudah bilang, kalau saya ke Pabrik. Terus juga ikut kirim barang-"
Alena menegakan wajahnya dengan sorot mata kuat. "Kamu jangan bohongi saya lagi, Mas! Siang tadi saya sudah ke Pabrik, tapi Mas Dewan nggak ada disana! Dan lagi... Sejak pagi nggak ada barang masuk kata para pekerja!"
Dewan merasa terpojokan. Ia tercekat, menelan saliva saja kesusahan. Alasan apalagi yang harus ia berikan kepada sang Istri.
Dari luar, tiba-tiba Tiyas juga baru pulang. Mungkin hanya berselang 5 menit saja.
Deg!
Langkahnya menggantung kala mendapati Ipar Kakaknya ada di situ juga. Wajah Tiyas memaling sejenak, bingung apa yang harus ia jelaskan pada Fauzan nantinya.
"Gawat, Fauzan ada disana. Pokoknya aku nggak boleh gelisah. Aku harus bersikap tenang, agar Mbak Lena juga nggak curiga," puas bergumam dalam batinya, Tiyas melanjutkan jalannya lagi.
Alena maju, menghadang langkah Adiknya penuh guratan amarah.
"Darimana saja kamu, Tiyas? Pergi dari pagi, pulang hampir petang juga. Mbak nggak yakin kamu hanya mengantarkan pakaian haram itu?!" Tatapan itu sangat mengintimidasi.
Tiyas kelimbungan. Wajahnya berusaha tenang namun tak bisa. Wanita berusia 22 tahun itu memaksakan senyum, lalu menggapai lengan Kakaknya.
"Mbak... Tadi aku sekalian di ajak makan siang sama temen aku, itu-"
emang mulutnya lemes banget
maka kamu harus melepaskan alena
aku bingung mau komen apa tentang Fauzan ini🤔🤔
jangan kecewakan perempuan lain,,
jika dihatimu masih ada Alena
maka buang jauh jauh yaa