NovelToon NovelToon
Teratai Pedang Sembilan Kematian

Teratai Pedang Sembilan Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Lin Tian, seorang pemuda dari kasta terendah Sekte Awan Hijau, harus menelan kepahitan takdir saat Dantiannya dihancurkan tanpa ampun demi melindungi adik perempuan satu-satunya. Alih-alih mendapat keadilan, sang adik dirampas oleh petinggi sekte yang serakah, sementara Lin Tian dibuang ke tambang beracun di Lembah Kematian untuk membusuk sebagai manusia cacat.
​Namun, di kedalaman keputusasaan, Lin Tian menolak untuk menyerah pada nasib. Ketika langit menutup jalan kultivasi ortodoks baginya, ia memilih untuk membelah langit itu sendiri. Diasingkan bersama kerangka para pendekar masa lalu, ia menemukan Seni Pedang Sembilan Kematian—sebuah warisan kuno dan terlarang yang tidak membutuhkan Dantian.Tanpa lautan Qi, ia menjadikan daging dan tulangnya sebagai wadah pedang. Menempuh jalur yang dipenuhi siksaan berdarah dan rasa sakit yang melampaui batas manusia, Lin Tian perlahan menempa dirinya menjadi senjata paling mematikan di bawah langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Pengorbanan di Puncak Awan Hukuman

​Angin malam melolong di Puncak Awan Hukuman, membawa serta bau dingin yang janggal. Di pelataran puncak yang terbuat dari batu giok hitam, puluhan obor memancarkan api berwarna kebiruan, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menakutkan.

​Di tengah pelataran, terdapat sebuah altar bundar yang dikelilingi oleh formasi rune darah bersinar merah redup. Di atas altar itu, seorang gadis kecil berusia tiga belas tahun berbaring tak bergerak. Pakaian putihnya kontras dengan batu hitam altar. Kulitnya pucat pasi, napasnya sangat pelan, dan hawa dingin yang luar biasa terus-menerus memancar dari pori-porinya—inilah manifestasi dari Tubuh Roh Es yang sedang aktif secara paksa.

​Ia adalah Lin Xue. Air mata telah mengering di pipinya. Matanya terbuka menatap bulan purnama di atas sana, namun sorotnya kosong, penuh dengan keputusasaan. Obat pelumpuh meridian telah mengunci seluruh sarafnya, membuatnya tidak bisa berbicara apalagi melawan.

​Hanya satu hal yang terlintas di benak kecilnya: Kakak... maafkan Xue-er yang tidak bisa menunggumu...

​Di hadapan altar, berdiri Zhao Feng. Ia tidak mengenakan seragam sekte, melainkan jubah sutra panjang yang dibiarkan terbuka di bagian dada, memperlihatkan kulitnya yang memerah akibat energi Yang ekstrem yang meledak-ledak di dalam meridiannya. Matanya merah menyala penuh gairah dan keserakahan.

​Di sekeliling pelataran, berdiri delapan orang Tetua Sekte Awan Hijau—termasuk Tetua Agung yang telah "mengambil" Lin Xue sebagai muridnya. Mereka semua berada di tahap Pembangunan Pondasi Akhir, dan tugas mereka malam ini adalah menjaga formasi agar proses penyedotan energi berjalan lancar.

​"Waktu yang menguntungkan telah tiba, Tuan Muda Zhao," ucap Tetua Agung dengan nada hormat, yang terasa ganjil mengingat posisinya, namun wajar mengingat status ayah Zhao Feng sebagai Pemimpin Sekte yang sedang mengasingkan diri. "Bulan purnama di puncaknya. Energi Yin murni dari gadis ini telah dipaksa keluar sepenuhnya. Anda bisa mulai menyerapnya. Sayangnya... Su Ming belum kembali membawa Batu Darah Yin, proses ini mungkin akan sedikit menyakitkan."

​Zhao Feng mendengus arogan, menjilat bibirnya yang kering. "Su Ming si idiot itu pasti sibuk mengurus para budak di tambang. Aku tidak butuh batunya. Dantianku sudah mendidih! Dengan energi Roh Es ini, aku bukan hanya akan menerobos Pembangunan Pondasi, tapi langsung mencapai tahap Puncak dalam satu malam!"

​Zhao Feng melangkah naik ke altar. Hawa dingin dari tubuh Lin Xue sedikit meredakan panas di dadanya. Ia mengangkat tangannya, membentuk segel tangan yang rumit. Rune di sekitar altar bersinar terang benderang. Energi Yin murni berwarna putih kebiruan mulai tersedot secara perlahan dari dada Lin Xue, mengalir menembus udara, bersiap memasuki mulut Zhao Feng.

​Lin Xue menutup matanya, bersiap menjemput kematian saat energi intinya diserap habis.

​Namun, di saat aliran energi itu nyaris menyentuh bibir Zhao Feng, sebuah ledakan memekakkan telinga terdengar dari bawah pelataran puncak.

​DDUUUAAARRR!!!

​Pilar-pilar batu yang menyangga gerbang masuk Puncak Awan Hukuman hancur lebur. Serpihan batunya berterbangan layaknya hujan meteor kecil, menembus formasi pelindung halaman dengan paksa. Beberapa penjaga elit yang berjaga di gerbang terpental ke udara bagai boneka rusak, mendarat dengan bunyi debam mengerikan tak jauh dari altar.

​Semua orang di pelataran terkejut. Prosesi penyerapan Zhao Feng terputus secara paksa, membuatnya memuntahkan seteguk darah karena energi (Qi) yang berbalik (backlash).

​"Siapa yang berani merusak upacara penutupanku?!" raung Zhao Feng, menyeka darah dari mulutnya, matanya melotot liar mencari pelaku.

​Delapan Tetua seketika menghunuskan pedang spiritual mereka, aura Pembangunan Pondasi Akhir meledak ke udara, menekan hawa dingin malam.

​Dari balik kepulan debu gerbang yang hancur, sebuah siluet tunggal melangkah maju. Langkahnya tenang, stabil, dan setiap pijakannya menggetarkan pelataran giok hitam di bawah mereka.

​Saat debu tersibak oleh angin, cahaya bulan menerangi sosoknya. Jubah abu-abu kusam yang sobek di beberapa tempat. Kulit dengan kilau perunggu yang gelap. Dan sepasang mata yang lebih dingin dari Tubuh Roh Es milik Lin Xue.

​Mata Lin Xue yang setengah tertutup tiba-tiba melebar. Jantungnya yang nyaris berhenti seketika berdetak kencang. Ia mencoba bersuara, namun hanya rintihan pelan yang keluar. Kakak...?

​Di atas altar, Zhao Feng memicingkan matanya. Awalnya ia tidak mengenali pemuda berpenampilan kumal dan liar ini. Namun, saat tatapannya jatuh pada wajah yang familier itu, rahangnya ternganga tak percaya.

​"Lin... Tian?!" seru Zhao Feng, suaranya melengking karena terkejut. "Mustahil! Dantianmu sudah kuhancurkan sendiri! Kau seharusnya sudah membusuk di Lembah Kematian! Bagaimana kau bisa sampai di sini?!"

​Lin Tian tidak menjawab pertanyaan Zhao Feng. Pandangannya melesat mengabaikan delapan Tetua, langsung terkunci pada tubuh adiknya yang terbaring lemah di altar, serta formasi penyedot energi yang masih bersinar redup. Niat membunuh yang selama ini ia tekan kini meledak sepenuhnya, mengubah udara di pelataran itu menjadi seberat timah.

​"Zhao Feng," suara Lin Tian sangat pelan, nyaris seperti bisikan, namun anehnya bergema langsung di telinga semua orang yang hadir. "Aku sudah menjanjikan kematian yang pantas untukmu saat di tambang. Tapi melihat ini... kematian adalah hadiah yang terlalu ringan untukmu."

​"Sombong!" potong Tetua Agung, maju selangkah. Matanya menatap tajam ke arah Lin Tian. "Kau hanya seekor semut tanpa Dantian! Aku tidak tahu trik apa yang kau gunakan untuk melewati penjaga bawah, tapi masuk ke Puncak Awan Hukuman sendirian adalah keputusan terbodoh dalam hidupmu yang menyedihkan."

​Tetua Agung memberi isyarat tangan. Tiga dari delapan Tetua melesat maju bak kilat. Ketiganya mengayunkan pedang spiritual mereka, menciptakan jaring-jaring cahaya pedang yang mematikan, mengunci semua jalan keluar Lin Tian. Serangan gabungan tiga ahli Pembangunan Pondasi Akhir cukup untuk meratakan sebuah gunung kecil!

​"Cincang sampah ini jadi ribuan keping!" teriak Zhao Feng dari atas altar, matanya penuh kebencian.

​Lin Tian berdiri diam. Tepat ketika jaring cahaya pedang itu berjarak setengah meter dari tubuhnya, Lin Tian bergerak.

​Bukan sihir, melainkan murni kecepatan otot yang diledakkan dari batas Baja Pembelah Urat. Bagi mata manusia normal, Lin Tian seolah-olah menghilang dan digantikan oleh bayangan buram.

​TRANG! KRAK!

​Sebuah tangan perunggu menyusup menembus celah jaring pedang yang mustahil ditembus, dengan akurasi mengerikan. Jari-jari Lin Tian mencengkeram bilah salah satu pedang spiritual tingkat menengah dan meremasnya hingga patah seketika.

​Sebelum Tetua pemilik pedang itu bisa bereaksi, tinju kiri Lin Tian telah menghantam dadanya.

​DUMMM!

​Sebuah lubang seukuran kepalan tangan tembus dari dada hingga ke punggung Tetua tersebut, tanpa memercikkan darah setetes pun karena kekuatan hantamannya begitu cepat hingga menyegel pembuluh darah. Tetua itu mati seketika.

​Melihat rekan mereka tewas dalam satu pukulan, dua Tetua lainnya memucat. Mereka mencoba menarik pedang mereka mundur. Namun Lin Tian lebih cepat. Ia berputar di porosnya, melepaskan tendangan menyapu (sweep kick) yang menghantam pinggang kedua Tetua tersebut.

​KRAK! KRAK!

​Tulang belakang kedua Tetua itu patah menjadi dua. Tubuh mereka melayang seperti kain perca, menabrak dinding pelataran batu giok hingga hancur berkeping-keping.

​Tiga tarikan napas. Tiga ahli Pembangunan Pondasi Akhir, tulang punggung Sekte Awan Hijau, tewas seperti lalat yang ditepuk.

​Pelataran puncak itu tiba-tiba jatuh ke dalam keheningan yang mencekik. Lima Tetua yang tersisa dan Tetua Agung membeku di tempat, keringat dingin membasahi punggung mereka. Ini bukan kekuatan seorang kultivator. Ini adalah kekuatan binatang buas primordial yang menyamar dalam kulit manusia!

​"K-Kekuatan fisik murni menembus pertahanan aura Pembangunan Pondasi..." gumam Tetua Agung dengan bibir bergetar. "Monster... kau adalah monster!"

​Zhao Feng mundur beberapa langkah di atas altar, nyaris tersandung. Kesombongannya hancur berkeping-keping digantikan teror murni. "Tetua Agung! Bunuh dia! Gunakan Formasi Pembantai Awan! Jangan biarkan dia mendekat!"

​Tetua Agung menggigit lidahnya, memuntahkan darah esensinya sendiri ke arah pedang terbangnya. "Semua Tetua, serahkan nyawa kalian ke formasi! Segel iblis ini!"

​Lima Tetua yang tersisa dengan putus asa membakar darah esensi mereka, mengorbankan umur mereka untuk meledakkan energi spiritual hingga batas maksimal. Kelima pedang terbang mereka melesat ke udara, bergabung dengan pedang Tetua Agung, membentuk pedang cahaya raksasa sepanjang tiga puluh meter yang membawa tekanan mengerikan dari hukum langit tingkat rendah.

​Ini adalah kartu as Sekte Awan Hijau: Formasi Pembantai Awan.

​Udara di puncak gunung seolah membeku. Tekanan formasi itu begitu berat hingga pelataran giok hitam mulai retak.

​Lin Tian mendongak menatap pedang raksasa yang bersiap menebasnya. Ia perlahan mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke udara. Urat-urat perunggunya menonjol hebat, dan dari kedalaman sumsum tulangnya, energi tajam yang buas memancar keluar, bukan sebagai Qi, melainkan sebagai sebuah aura yang memotong angin.

​"Kalian mengandalkan formasi untuk menyedot nyawa yang lemah," suara Lin Tian terdengar berat dan mematikan. "Sementara aku, menghancurkan tubuhku sendiri untuk menempa satu serangan ini."

​Ia mengepalkan tangannya. Aura dari Seni Pedang Sembilan Kematian meledak.

​"Pedang Sembilan Kematian... Tebasan Fisik Murni: Baja Pemutus Langit!"

​Lin Tian mengayunkan tangannya lurus ke bawah, meninju udara kosong ke arah pedang cahaya raksasa tersebut. Tidak ada energi pedang yang keluar, hanya sebuah gelombang tekanan fisik luar biasa padat yang membelah ruang itu sendiri, membentuk sebuah garis vakum (hampa udara) yang melesat ke atas.

​ZZRRAAASH!

​Gelombang vakum itu bertabrakan dengan pedang cahaya raksasa formasi. Tidak ada ledakan. Hanya suara sobekan memekakkan telinga.

​Dalam sepersekian detik, formasi pedang kebanggaan sekte itu terbelah dua layaknya kertas basah yang disayat pisau tajam, sebelum akhirnya hancur menjadi serpihan cahaya spiritual yang tak berarti.

​"T-Tidaaaaak!!" jerit Tetua Agung saat formasi hancur. Keterkaitan spiritualnya terputus secara brutal. Ia dan kelima Tetua lainnya seketika memuntahkan darah hitam dalam jumlah besar, meridian mereka meledak dari dalam akibat pantulan balik formasi. Mereka tumbang ke tanah, kehilangan seluruh kultivasi dan nyawa mereka.

​Pelataran puncak kembali sunyi, hanya menyisakan deru angin malam.

​Di atas altar, Zhao Feng jatuh terduduk. Air kencing hangat membasahi jubah sutranya. Ia menatap selusin mayat Tetua paling kuat di sekte yang kini berserakan seperti sampah di sekeliling Lin Tian. Sekte Awan Hijau, hegemoni wilayah pinggiran, hancur hanya dalam belasan napas oleh manusia yang ia sebut sampah.

​Lin Tian melangkah menaiki anak tangga altar. Langkahnya pelan, tidak tergesa-gesa.

​Saat ia mencapai puncak altar, ia mengabaikan Zhao Feng yang gemetar ketakutan. Lin Tian berlutut di samping Lin Xue. Ia mengulurkan tangannya yang kasar, membelai rambut adiknya yang dingin karena es. Gelombang kehangatan murni mengalir dari tangannya, mencairkan sisa-sisa es dan mematahkan segel pelumpuh meridian di tubuh gadis kecil itu.

​Lin Xue membuka matanya sepenuhnya. Air mata mengalir deras dari sudut matanya, membasahi tangan kakaknya.

​"Kakak... kau hidup... kau benar-benar menjemputku..." isaknya lemah.

​Lin Tian tersenyum tipis, sebuah kelembutan langka yang kontras dengan lautan darah di belakangnya. "Sudah kubilang, tidak ada yang bisa membawamu pergi. Bahkan jika langit mencoba mengambilmu, aku akan membelahnya."

​Lin Tian mengangkat tubuh adiknya dengan hati-hati, memastikan gadis itu aman di pelukannya. Kemudian, ia memutar kepalanya pelan, menatap lurus ke arah Zhao Feng yang meringkuk di sudut altar.

​Senyum Lin Tian menghilang, digantikan oleh mata dewa kematian.

​"Sekarang... mari kita selesaikan hutang Dantianku."

1
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣💪💪💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪
yos helmi
😄😄😄🤣🤣🤣🤣💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣💪👍💪👍💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!