NovelToon NovelToon
The Broken Lens

The Broken Lens

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:272
Nilai: 5
Nama Author: Vian's

Sinopsis: The Broken Lens

Bagi Savya, bidikan kamera analog dan kedamaian di Thalassa Coffee adalah pelarian terbaik dari masa lalu. Namun, dunianya yang tenang mendadak retak saat Katya kembali hadir—membawa intimidasi dan ancaman yang siap menghancurkan sisa hidupnya.

Di tengah kepungan panik yang nyaris membuat Savya runtuh, Valerius datang mengintervensi. Pria misterius itu hadir sebagai perisai yang tak tergoyahkan, siap pasang badan dan menjadi fokus baru yang menyatukan kembali kepingan hidup Savya.

Saat masa lalu menolak pergi, mampukah Savya bertahan? Ataukah lensa kehidupannya akan hancur sepenuhnya sebelum Valerius sempat mendekapnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vian's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7: Benang merah yang terputus

Karya Vian's

Satu bulan telah berlalu sejak aroma kopi dan suara bariton Valerius memenuhi sudut kedai. Pria itu menghilang tanpa jejak, meninggalkan Savya dengan tumpukan pertanyaan dan secarik kertas lama yang kini warnanya mulai memudar. Untuk menenangkan diri, Savya memutuskan mengunjungi pameran foto di galeri kota—berharap sunyi di sana bisa memulihkan energinya.

Di antara kerumunan, ia melihat sosok yang sangat ia kenali—dan sangat ingin ia hindari. Katya.

Savya tertegun sejenak, tubuhnya kaku saat kenangan pahit itu mencoba menyeruak kembali. Mengingat sifatnya yang selalu butuh waktu tenang untuk mengelola emosi, insting pertamanya adalah berbalik arah. Ia tidak siap untuk konfrontasi hari ini. Savya menundukkan kepala, mencoba memutar langkah dengan tenang agar tidak menarik perhatian.

Namun, ia terlambat. "Mau lari ke mana, Savya?" Sebuah suara dingin memotong langkahnya tepat sebelum ia sempat menjauh.

Katya berdiri kokoh, menghalangi jalan Savya dengan tatapan yang penuh kebencian. "Kau pikir dengan menghindar, semua bayang-bayang itu akan hilang?"

Savya terdiam sejenak, menatap Katya dengan raut wajah yang lebih menunjukkan kelelahan emosional daripada kemarahan. Ia menghela napas panjang, mencoba menjaga suaranya agar tetap stabil di tengah kerumunan pameran.

"Masih belum puas melihat dunia dari balik lensa, sampai-sampai kau pikir kau bisa menghilang begitu saja setelah apa yang terjadi?" lanjut Katya dengan nada yang penuh dengan kebencian yang sudah mendarah daging.

"Padahal satu nyawa sudah melayang hanya agar kau bisa tetap berdiri di sini hari ini," suara Katya terdengar bergetar oleh amarah yang tertahan bertahun-tahun.

Savya menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri di tengah situasi yang mendadak terasa menyesakkan. Ia menyadari bahwa pelariannya harus berakhir di sini. Dengan perlahan, ia mengangkat wajahnya, menatap Katya dengan mata jernih yang mencoba tetap tenang meski badai emosi sedang menghantamnya.

Savya menghela napas panjang, mencoba menjaga suaranya agar tetap stabil di tengah kerumunan pameran.

"Aku tidak sedang lari, Katya. Aku hanya tidak ingin ribut dan membuat masalah yang tidak ada habisnya," ucap Savya dengan nada yang sangat tenang, namun tersirat ketegasan di dalamnya. "Kita sudah melewati bertahun-tahun dengan kemarahan ini, dan apa hasilnya? Tidak ada yang berubah, tidak ada yang kembali."

Katya tertawa sinis, merasa jawaban Savya hanyalah alasan untuk melarikan diri dari rasa bersalah. "Masalah ini tidak akan pernah habis karena kau adalah penyebabnya! Kau bisa bicara soal ketenangan karena bukan kau yang kehilangan segalanya hari itu!"

Savya menatap mata Katya dengan jernih, enggan terpancing emosi yang meluap-luap. "Bertengkar di sini tidak akan membuat hatimu lebih tenang, begitu juga denganku. Aku memilih diam bukan karena aku tidak punya pembelaan, tapi karena aku tahu kata-kata tidak akan pernah cukup untuk seseorang yang memang tidak ingin mengerti. Aku hanya ingin hidup dengan tenang, tanpa harus terus-menerus menggali luka yang seharusnya sudah kita biarkan mengering."

Savya memberikan sedikit jeda, memberikan penekanan pada kalimat terakhirnya sebelum ia benar-benar memutuskan untuk pergi.

"Jika kau ingin terus memelihara api ini, silakan. Tapi jangan harapkan aku untuk terus menjadi bahan bakarnya."

Savya menatap foto di depannya dengan tenang. "Dunia tidak pernah berhenti berputar hanya karena kita berhenti melihatnya, Katya."

Katya melangkah mendekat, suaranya kini merendah namun penuh penekanan. "Kau selalu pandai bersilat lidah. Sama seperti saat itu. Kau berdiri di sana, dengan benda itu di tanganmu, sementara seseorang memberikan segalanya agar kau tetap bisa menarik napas hari ini."

Savya memejamkan mata sejenak. Ingatan tentang suara keras, tanah yang tidak stabil, dan tatapan terakhir seseorang melintas secepat kilat, namun ia segera menepisnya. Ia membalikkan badan, menatap Katya dengan mata jernih yang tidak menunjukkan ketakutan.

"Kau membenciku karena itu cara termudah bagimu untuk tetap waras, bukan?" ucap Savya tenang. "Kau terus menudingku atas sebuah 'pilihan' yang bahkan aku sendiri tidak punya kesempatan untuk menolaknya. Berhenti bertingkah seolah kau tahu apa yang dia rasakan di detik terakhirnya."

"Dia melakukannya karena kau ceroboh!" desis Katya.

"Dan dia melakukannya karena dia ingin, Katya," balas Savya telak, membuat Katya terdiam seketika. "Berhenti menggunakan namanya untuk menghakimiku hanya karena kau tidak bisa menerima kenyataan bahwa kau tidak pernah menjadi bagian dari alasan di balik pilihannya hari itu."

Savya merapikan tasnya dan berjalan pergi tanpa memberikan kesempatan bagi Katya untuk membalas. Ia tahu, di balik kepintarannya merangkai kata, ada luka yang masih basah yang ia sembunyikan rapat-rapat—luka yang menjadi alasan mengapa ia lebih suka menyendiri dan mencari ketenangan di tengah bisingnya dunia.

Wajah Katya memerah, napasnya memburu saat ia melihat ketenangan di mata Savya. Ia merasa terhina karena argumennya seolah memantul pada tembok yang tak terlihat. Sebelum Savya sempat melangkah lebih jauh, Katya kembali menyerang dengan kalimat yang lebih tajam, kali ini tanpa saringan sama sekali.

"Kau pikir dengan membangun kedai kecil dan bersembunyi di balik buku-buku itu, noda di tanganmu akan hilang? Kau hanya pengecut yang mencoba membeli kedamaian dengan cara melupakan orang yang sudah mengorbankan segalanya untukmu! Kau tidak pantas bahagia, Savya. Tidak setelah apa yang kau lakukan!" teriak Katya, suaranya kini menarik perhatian beberapa pengunjung pameran.

Savya menghentikan langkahnya sejenak. Bahunya sempat menegang, namun ia tidak berbalik. Ia tidak lagi membalas dengan rangkaian kata cerdas atau pembelaan diri. Ia tersadar bahwa berbicara dengan seseorang yang menutup mata terhadap kebenaran hanya akan menguras energi yang selama ini ia kumpulkan dengan susah payah.

Bagi Savya, ketenangan adalah kebutuhan, dan berdebat lebih lama dengan Katya hanya akan merusak jiwanya sendiri. Ia memilih diam. Sebuah keheningan yang jauh lebih menyakitkan bagi Katya daripada makian balik.

Dengan langkah yang tetap anggun namun tegas, Savya mulai melangkah pergi. Ia meninggalkan Katya yang masih berdiri mematung di tengah pameran, terengah-engah dengan emosi yang meledak namun tidak menemukan sasaran. Savya terus berjalan menuju pintu keluar, membiarkan kebisingan amarah Katya tertinggal di belakang, sementara ia kembali masuk ke dalam dunianya yang sunyi—dunia di mana ia tetap memikul beban masa lalu, namun menolak untuk hancur karenanya.

Di tengah keramaian pameran yang perlahan kembali normal, Katya masih berdiri mematung. Matanya menatap tajam ke arah pintu keluar, tempat sosok Savya baru saja menghilang. Napasnya masih memburu, namun amarah yang meledak-ledak tadi kini perlahan mendingin, berganti menjadi sebuah tekad yang jauh lebih gelap dan tenang.

Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya memutih. Katya merasa tidak adil jika Savya bisa berjalan pergi dengan kepala tegak dan kembali ke kedai kecilnya yang damai, sementara dirinya harus terus terjebak dalam ruang hampa yang ditinggalkan oleh pria itu.

"Kau pikir kau bisa melarikan diri ke dalam duniamu yang sunyi, Savya?" gumam Katya sangat pelan, hampir menyerupai bisikan angin yang dingin.

Sebuah seringai tipis yang getir muncul di wajahnya. Katya tidak akan membiarkan Savya mendapatkan apa yang paling ia inginkan: ketenangan. Jika Savya membangun tembok sunyi untuk melindungi dirinya, maka Katya akan menjadi kebisingan yang terus menghantam tembok itu sampai runtuh. Ia akan memastikan bahwa setiap kali Savya mencoba memulihkan diri atau mencari kedamaian dalam buku-bukunya, bayang-bayang masa lalu akan selalu hadir untuk merusaknya.

Baginya, pameran hari ini hanyalah permulaan. Katya bersumpah dalam hati bahwa ia akan terus muncul di sela-sela kehidupan Savya, menjadi pengingat abadi atas apa yang telah hilang, dan memastikan bahwa hidup "sahabat" lamanya itu tidak akan pernah benar-benar tenang lagi.

..."Story by Vian's."...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!