Mereka menyebutnya perempuan api dari Bukit Menoreh.
Putri seorang punggawa sakti yang tumbuh bersama pedang dan dendam.
Saat kematian ayahnya menyeretnya ke dalam pusaran perang dan kesalahpahaman, Srikandi percaya kerajaan telah mengkhianati darah ayahnya.
Namun semakin jauh ia melangkah… semakin ia sadar bahwa luka manusia tak pernah sesederhana hitam dan putih.
Terlebih ketika hatinya justru jatuh pada lelaki yang tak mungkin ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
WASIAT KI ABDA
"Aku begini atas kemauan Ki Abda sendiri," ujar Prabu Laksa pelan tapi penuh keyakinan.
"Apa?" Sengko tentu terkejut mendengarnya.
"Benar Sengko ...," sahut Prabu lalu ia berjalan menuju jendela besar di sana. Sebagian kacanya sedikit retak akibat teriakan Sengko tadi.
"Lima hari sebelum berangkat perang. Ki Abda menemuiku, ia menemukan sesuatu yang mengancam kerajaan ini ...," lanjutnya mulai mengatakan suatu rahasia.
"Maaf Sri Baginda Raja. Apa kita tidak bisa bicara di lain tempat?" pinta Sengko hati-hati. Ia menatap sekelilingnya, ada abdi-abdi dalem dan para prajurit dan para panembahan istana.
"Aku menggunakan tenaga dalam Sengko. Jika mereka berusaha mencuri dengar. Mereka akan tuli selamanya," jawab Prabu Laksa tenang.
"Maaf sekali lagi Prabu. Tapi belajar dari mendiang Ki Abda. Kita tak bisa menyepelekan manusia. Mungkin nanti ia tuli, tapi sebelumnya?" Prabu Laksa terdiam, ia sadar kesalahannya.
"Kau benar Adipati, kalau begitu ikut aku!" ajaknya lalu melompat dengan ilmu meringankan tubuh.
Sengko terkejut, gerakan rajanya begitu cepat sampai ia tak sadar.
"Sengko cepat!" teriak Prabu Laksa.
"Baik Prabu!" Sengko pun melompat dan mengikuti kemana rajanya pergi.
Dua tubuh pria kekar melompat beberapa atap rumah warga, terkadang beberapa pucuk pohon. Di bawah sinar rembulan yang penuh, bayangan mereka seperti dua ekor musang yang mengincar ayam.
Prabu Laksa membawa Sengko ke sebuah tempat yang paling engga dituju semua orang. Bahkan para pendekar sakti sekalipun.
Tempat itu adalah ....
"Prabu ... Kita ke ...?" Sengko sedikit takut masuk ke hutan yang paling dalam dan paling curam tempatnya.
"Benar Adipati. Kita ke Gua Petapa Ijen!" jawab Prabu lalu ia berhenti di dua pilar batu yang menjulang tinggi.
Sengko ikut berhenti dan berdiri di sisi rajanya. Untuk pertama kalinya, ia melihat bagaimana Gua legenda yang didengar dari banyak pendekar.
"Prabu Gusti, pangapunten ... Kenapa kita ke sini?" tanya Sengko berbisik.
Ia menatap sekelilingnya, yang ia lihat hanya ribuan pohon waru bercampur pohon karet, jati, pinus dan beringin. Udara malam begitu dingin, bahkan kabut tebal menyelimuti.
Kaaaak! Kaaak! Kaaak! Suara burung malam membuat bulu kuduk Sengko meremang. Terlebih cahaya rembulan seperti enggan menerangi tempat mereka.
"Sengko, ini adalah gua tempat di mana Ki Abda bertapa dan mendapat ilmu kanuragan tertinggi, Godokan Gua Petapa Ijen!" ujar Prabu Laksa tenang.
Ia meraba salah satu pilar dan seperti merapal mantra, lalu berkata.
""Duh, penjaga alam Guwa Ijen. Kula, Laksa Anartepa Ireng, ngetok lawang gaib. Keparenga kula mlebet!"
Angin mendadak berhenti.
Kabut yang sejak tadi bergerak perlahan di antara pepohonan tiba-tiba diam membeku seperti kain putih raksasa yang digantung di udara.
Sengko refleks menahan napas. Jantungnya berdetak keras ketika kedua pilar batu menjulang itu perlahan mengeluarkan suara gemuruh pelan.
Grrrkkkkk ....
Tanah di bawah kaki mereka bergetar kecil. Lalu,
Cahaya hijau redup muncul dari sela-sela lumut yang menempel di pilar batu. Sengko mundur setengah langkah.
"Prabu ...," lirihnya tegang.
Namun Prabu Laksa tetap tenang. Tatapan matanya lurus ke depan, seakan sudah sangat mengenal tempat itu.
Kabut pekat di antara dua pilar mulai terbelah perlahan.
Muncullah jalan sempit berbatu yang sebelumnya tidak ada.
Udara dingin langsung menyeruak keluar dari dalam gua.
Bukan dingin biasa. Tetapi dingin yang membuat tulang terasa ngilu.
Sengko merasakan tenaga dalamnya seperti ditekan sesuatu.
"Ilmu pemusnah..." gumamnya pelan.
Prabu Laksa melangkah masuk lebih dulu.
"Jangan gunakan tenaga dalammu sembarangan. Tempat ini menyerap kekuatan hidup manusia," ujarnya tanpa menoleh.
Sengko langsung menurunkan aliran tenaga dalamnya. Mereka berjalan masuk melewati lorong batu yang gelap dan lembab.
Di dinding-dinding gua terdapat bekas guratan aneh seperti cakar raksasa.
Stalaktit dan stalagmit berlumut menjadi pemandangan utama di dalam Gua Petapa Ijen.
Tetesan air dari ujung-ujung batu kapur jatuh perlahan, menciptakan gema panjang yang membuat suasana terasa hidup sekaligus menyeramkan.
Tik... Tik... Tik...
Beberapa lumut hijau kebiruan memancarkan cahaya redup alami, membuat lorong gua tidak sepenuhnya gelap.
Kabut tipis menggantung rendah di permukaan tanah batu.
Udara di sana lembab, dingin dan berat untuk dihirup. Sengko berjalan perlahan di belakang Prabu Laksa. Matanya terus menyapu isi gua dengan waspada.
Di beberapa sisi dinding tampak guratan-guratan hitam seperti bekas ledakan tenaga dalam.
Ada pula batu-batu besar yang meleleh separuh, seolah pernah terkena panas luar biasa.
"Prabu ... tempat ini benar-benar bukan tempat manusia biasa," gumam Sengko pelan.
Prabu Laksa tidak langsung menjawab.
Tangannya menyentuh salah satu stalagmit besar yang permukaannya menghitam.
"Menurut cerita para leluhur," ujar sang Raja lirih. "Gua ini sudah ada sebelum Kerajaan Kali Ireng berdiri."
Lalu sampailah mereka di perut gua. Batu-batu berbentuk datar dan dua obor api abadi menyala menerangi tempat itu. Suasana yang dingin berangsur hangat, seluruh tekanan hilang seketika.
"Prabu?" Sengko merasakan perubahan itu.
Prabu Laksa tak menjawab, ia menyuruh Adipatinya duduk di salah satu batu datar.
"Ini ...,"Sengko mendaratkan bokongnya di batu itu. Rasa hangat langsung masuk melalui pori-porinya, terkejut. Ia melompat.
"Demi Sang hyang Widhi!"
"Tenanglah Sengko. Waktu kita tak banyak, jika kau terlalu banyak bergerak kau akan kehilangan semuanya!" protes Prabu Laksa yang melihat kelakuan Sengko yang sering terkejut.
"Maaf Baginda ... Hamba hanya belum terbiasa ...," jawab Sengko lalu kembali duduk dan memenangkan dirinya.
"Kata Ki Abda, tempat ini adalah ujian," ujar Prabu Laksa lirih, kini ia tau kenapa Gua Petapa Ijen susah ditaklukkan.
"Gusti Prabu?" Sengko tak mengerti.
"Ki Abda menaklukkan Gua ini hanya dalam satu hari. Di muka tadi, adalah sebuah adab jika mau masuk ke area yang belum kita tau. Kedua, jalan-jalan yang kita lalui adalah jalan kehidupan dan semua godaannya...."
"Tapi tadi ... Hamba tidak melihat apa-apa, Gusti," jawab Sengko.
"Itu bagus. Berarti memang kau tak punya niat apapun selain mengikutiku!" sahut Prabu Laksa tenang.
"Sekarang kau dengarkan apa yang Ki Abda wasiatkan. Bahkan beliau tau jika kau lah yang bisa aku percaya untuk mendengar cerita ini!" Sengko menatap rajanya.
"Hamba?" tanyanya tak percaya.
"Iya, dia tau jika hanya kau yang berani menuntut penjelasan suatu hari. Terlebih melihat bagaimana Srikandi terluka akibat kehilangan ayahnya," jawab Prabu tenang walau suaranya sedikit tercekat.
Gemuruh di dadanya sangat terasa ketika mengingat di malam Ki Abda datang melewati Ilmu sirep sukma. Satu ilmu langka yang bisa menghadirkan dirinya dalam mimpi seseorang.
"Beliau datang menggunakan Sirep sukma ... Ilmu yang hanya digunakan jika yakin dirinya akan mati ...."
"Gusti Prabu ...," Sengko menahan nafas.
"Satu malam di waktu sinar bulan sabit yang mengintip di sela daun jati. Itulah ilmu pamungkas itu bisa muncul. Ki Abda bertandang dan berkata ...."
"Wahai Rajaku, suatu hari aku akan gugur di medan perang menahan satu serangan yang membuat binasa seluruh kerajaan Kali Ireng! Berjanjilah padaku lima hal. Satu, jaga putriku, dua, sembunyikan kematianku, tiga, biarkan Srikandi bergerak dengan instingnya, Empat, biarkan Srikandi miskin dan lima bantu Srikandi ketika semuanya terbongkar!"
"Aku akan menahan panah beracun Rusak Raga!"
"Apa, Rusak Raga? Itu bukannya jadi ledakan dahsyat jika tak bisa dilebur?" seru Sengko tertahan.
"Benar Sengko. Tapi Imu Godokan Gua Petapa Ijen, mampu meluruhkan seluruh ledakan itu dan musnah. Sebagai gantinya, adalah nyawa Punggawa Abda Sedah Nirah!"
bersambung.
Uh ...
Next?
nyi padan serem akh
lanjut