NovelToon NovelToon
Wajah Kedua Seorang MAFIA

Wajah Kedua Seorang MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:760
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Aurelia Vanzara, sosok yang dulu ditakuti sebagai Crimson Queen, memilih menghilang dari dunia gelap setelah kehilangan satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hatinya.
Kematian orang terkasih itu bukan hanya merenggut kebahagiaannya, tetapi juga menghancurkan alasan Aurelia untuk terus memegang kekuasaan.
Dengan identitas baru sebagai wanita biasa, ia mencoba menjalani hidup sederhana. Bekerja, tersenyum, dan berpura-pura bahwa masa lalunya tak pernah ada.
Namun, dunia tidak pernah benar-benar melepaskan miliknya.
Ketika sebuah keadaan mengancam satu-satunya kehidupan damai yang ia miliki sekarang, Aurelia dipaksa memilih: tetap menjadi wanita lemah yang mencoba melupakan segalanya, atau kembali menjadi ratu kejam yang pernah menguasai dunia bawah tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16- Toko bunga

Tidak lama setelah itu Bara akhirnya pamit pulang. Tidak ada satupun di antara Alena juga Max yang melarangnya hingga Bara langsung pergi begitu saja.

Satu hari...

dua hari...

tiga hari...

Bara tidak nampak datang lagi ke toko bunga Alena. Merasa jika itu lebih baik, Alena pun tidak terlalu menghiraukan. Lagi pula ia tidak ingin merepotkan siapapun lagi.

Namun berbeda dengan Max yang selalu muncul tiba-tiba tanpa permisi seperti toko itulah tempat dirinya tinggal.

"Tumben beberapa hari ini dia gak nongol," celetuk Max namun tidak di respon oleh Alena yang hanya fokus melayani pelanggan.

Tidak mendapat balasan, Max pun lalu mendekat. "Sepertinya aku akan lebih sibuk karena dia tidak datang," lanjut Max.

"Terima kasih... Selamat siang...," ucap Alena pada pelanggan yang baru saja membeli bunganya.

Alena kemudian beralih menatap Max dengan serius. "Max, lebih baik kau juga berhenti sering kemari. Aku tidak ingin berhutang Budi pada siapapun."

Seolah tidak mendengar seruan Alena, Max hanya berjalan lurus menuju bunga yang baru mekar di arah kirinya lalu berpura-pura sibuk.

"Max, aku sedang bicara denganmu," seru Alena lagi sambil mendekat.

Akhirnya Max berbalik dan menatap Alena. "Apa aku semengganggu itu?," tanya Max serius.

Alena mengedipkan matanya saat melihat sorot mata Max yang mengandung arti. Ia lalu berpaling dan menatap ke sembarang arah.

"Benar, kau sangat menggangguku Max. Aku terbiasa sendiri. Oleh karena itu, aku merasa terganggu jika ada orang lain."

Dalam beberapa saat Alena tetap dalam posisi itu. Namun yang membuatnya heran adalah, respon Max yang tidak seperti biasa. Harusnya dia langsung menjawab apapun itu. Tapi kali ini dia hanya diam.

"Kenapa dia diam saja?," batin Alena.

Merasa penasaran, Alena pun berbalik. Namun, ternyata Max sudah tidak ada di belakangnya. "Apa?."

Ia memutar pandangannya mencari keberadaan Max namun pria itu tidak nampak sama sekali.

"Apa dia sudah pergi?," gumam Alena yang lalu kembali duduk di meja kerjanya dan sibuk kembali melayani pelanggan.

(Kemanakah Max pergi?)

Ternyata yang terjadi adalah, Max tiba-tiba saja pergi ketika Alena sedang bicara. Ia terburu-buru karena perutnya terasa sakit dan ingin ke toilet. Owalah Max 😅😅😅 jadi gak denger omongannya Alena tuh 🤭

____

_______

Seperti halnya Bara, setelah pertemuan tempo hari Max tidak datang lagi ke toko Alena. Entah karena Max mendengar perkataan Alena, tapi mana mungkin Max menyerah begitu saja.

Lanjut saja ke cerita Alena.

Ketidak hadiran dua laki-laki yang biasanya muncul kapan saja, sempat membuat Alena merasa heran. Ternyata semanjur itu perkataannya, pikirnya.

Namun, hal yang tidak di duga kini datang. Ketika Alena sedang sibuk membenahi tokonya, tiba-tiba sekelompok orang datang dan langsung mengklaim jika toko bunga Alena itu miliknya.

Pagi itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada suara pintu yang dibuka dengan sembarangan. Tidak ada keluhan Max yang berisik. Dan tidak ada langkah tenang Bara yang tiba-tiba sudah berdiri di sudut ruangan.

Kini yang ada hanya Alena dan suara lembut gunting yang memotong batang bunga.

Ia berdiri di balik meja sambil merapikan rangkaian bunga dengan perlahan lalu melirik pintu dengan sekilas yang nampak kosong.

Sudah beberapa hari berlalu Max tidak datang, Bara juga menghilang. Alena menghela napasnya lalu bergumam, “Semanjur itu ya kata-kataku waktu itu…”

Ia tersenyum tipis, meski dalam hatinya tak bisa di pungkiri kesepian itu terasa juga. Namun ia segera menggelengkan kepalanya. “Bagus, Jadi lebih tenang," gumamnya.

Ia lalu kembali fokus bekerja. Menata bunga, membersihkan meja, mengatur ulang etalase.

Hingga...

kring!

Pintu toko terbuka dan Alena pun langsung menoleh. “Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?” sapanya ramah.

Namun yang masuk bukan pelanggan biasa, melainkan tiga orang pria yang berpakaian rapi dengan tatapan mereka yang nampak dingin.

Alena sedikit mengernyit lalu bertanya, “Maaf… Anda mau memesan bunga atau—”

“Tidak," potong salah seorang pria berjas hitam yang lalu melangkah maju dengan memegang sebuah map tebal di tangannya, “Tentu saja, aku ingin toko ini segera dibereskan hari ini juga,” katanya datar.

Alena terdiam sejenak. Lalu menegakkan tubuhnya. “Apa maksud Anda?” tanyanya.

Pria itu membuka map tersebut dan menarik beberapa lembar dokumen.

“Artinya sederhana,” jawabnya. “Tempat ini sudah bukan milik Anda.”

Alena mengernyit dan menyipitkan matanya. “Maaf?” suaranya mulai tegas. “Ini toko saya. Kenapa harus dibereskan?”

Pria itu menatapnya tanpa ekspresi dan menjawab, “Ya, mungkin sebelumnya milik Nona,” katanya santai. “Tapi sekarang… sudah jadi milikku.”

“Tidak mungkin,” tegas Alena. “Anda salah tempat.”

Pria itu tersenyum tipis.

“Kalau begitu… lihat ini.”

Ia kemudian menyodorkan dokumen itu. Alena menatap kertas kertas di depannya itu dan merasa ragu. Namun akhirnya ia mengambilnya dan mulai membaca baris demi baris.

Nama.

Alamat.

Nomor sertifikat.

Tanda tangan.

Dan...

wajahnya langsung berubah.

“Itu… Itu berkas saya…”

Melihat ekspresi Alena, pria itu pun menyilangkan tangannya.

“Betul,” jawabnya. “Dan sekarang semuanya sudah berpindah tangan.”

“Tidak mungkin!” suara Alena meninggi. “Saya tidak pernah menjualnya!”

“Berkas ini mengatakan sebaliknya.”

“Ini palsu!”

Pria itu menggeleng seraya tersenyum sinis.

“Silakan periksa sendiri ke notaris kalau tidak percaya.”

Alena mundur satu langkah.

“Bagaimana bisa…” gumamnya.

Tanpa menunda lama ia langsung berbalik lalu melangkah cepat menuju ruang kecil di belakang toko dan membuka loker.

Klik.

Pintu loker pun terbuka. Alena langsung merogoh ke dalam sana, mencari map yang selama ini ia simpan dengan rapi namun ternyata kosong.

“Tidak… tidak mungkin…”

Merasa tidak percaya, ia pun mengacak isi loker. Satu per satu barang dikeluarkan, namun tetap saja tidak ada.

Semua berkas pentingnya hilang.

“Siapa…?” bisiknya.

Ia kemudian kembali ke depan toko dengan langkah yang sedikit goyah.

“Berkas saya…” suaranya pelan. “Hilang.”

Para pria di depannya itu tidak terlihat terkejut. Justru mereka tersenyum tipis. “Ya tentu saja,” katanya. “Kalau tidak, bagaimana proses jual beli bisa terjadi?”

Alena mengangkat wajahnya dan menatap mereka dengan tajam. “Siapa yang melakukan ini?” tanyanya.

Namun pria itu hanya mengangkat bahu. “Itu bukan urusan saya.”

“Ini penipuan! Saya tidak pernah menandatangani apa pun!” tegas Alena.

“Semua tanda tangan sudah lengkap,” jawab pria itu santai. “Sangat sah.”

“Ini tidak masuk akal…” tolak Alena seraya mengepalkan tangannya.

“Masuk akal atau tidak,” potong pria itu, “hari ini toko ini harus kosong.”

Dua pria di belakangnya kini mulai bergerak dan melihat-lihat isi toko seolah bersiap mengambil alih.

“Jangan sentuh apa pun!” teriak Alena.

Mereka pun langsung berhenti namun hanya menatap pria berjas itu.

Kemudian pria itu melangkah mendekati Alena. “Jangan mempersulit, Saya masih memberi waktu sampai sore.”

Alena menatap pria di depannya dengan penuh emosi, yang bahkan sebenarnya dia bukan apa-apa baginya.

“Ini hidup saya…” bisik Alena. Namun pria itu hanya tersenyum dingin dan menjawab dengan yakin.

“Sekarang bukan lagi.”

Lalu ia berbalik dan melangkah keluar diikuti dua orang lainnya.

kring!

Pintu pun tertutup hingga suasana menjadi sunyi.

Kini, Alena berdiri di tengah toko. Matanya menyapu setiap sudut. Setiap bunga. Setiap meja. Tempat yang ia bangun dari nol dengan tangannya sendiri. Dan kini direnggut begitu saja oleh orang yang belum dia ketahui.

Keterkejutan yang tiba-tiba datang itu membuat kakinya terasa lemas. Ia pun perlahan duduk di kursi lalu tangannya menutupi wajah.

“Kenapa…?”

Bersambung...

1
𝐀⃝🥀Weny
keren kau Max👍🏻
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya dapat restu juga dari camer🤭 hati² kamu Sofia jangan sampai kamu membangunkan singa yang sedang tidur😁
𝐀⃝🥀Weny
dobel up thor
Aurora: siap... di usahakan ya.../Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!