NovelToon NovelToon
PELET LAKNAT

PELET LAKNAT

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Kutukan / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: HERMAWAN 505

kisah pemuda yang terobsesi cinta
memutuskan untuk mengambil jalan lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua nasib satu kutukan

BAB 13

Dua Nasib Satu Kutukan

Tiga bulan telah berlalu sejak hari di mana Indra membawa Mira bertamu ke rumah Agus. Setelah kunjungan pertama yang penuh keanehan itu, Indra dan Mira sebenarnya sering datang berkunjung. Namun, setiap kali mereka datang, kondisi Mira selalu terlihat semakin memburuk—wajahnya makin lama makin menyerupai mayat hidup. Kulitnya makin pucat kebiruan, gerakannya makin kaku dan lambat, serta bau amis yang dibawanya makin pekat dan sulit ditahan.

Hingga akhirnya, selama tiga bulan terakhir ini mereka tiba-tiba menghilang dan tak pernah muncul lagi. Hal itu membuat hati Agus terusik, rasa khawatir makin memuncak, dan firasat buruknya bergejolak hebat. Tanpa bisa diam lebih lama, siang itu ia memberanikan diri mendatangi kontrakan tempat Indra tinggal.

Begitu sampai di depan pintu, bulu kuduk Agus langsung berdiri meremang. Rumah itu tertutup rapat, terlihat kotor dan berdebu, seolah tak pernah tersentuh sapu selama berbulan-bulan. Dari celah jendela dan lubang ventilasi, berembus bau busuk yang sangat tajam—campuran antara aroma bangkai yang membusuk dan tanah kuburan yang lembap.

Tok... Tok... Tok...

Agus mengetuk pintu berkali-kali, namun tak ada jawaban sama sekali. Keheningan yang mencekam itu mendadak pecah saat sayup-sayup terdengar suara rintihan lemah dari dalam rumah. Mendengar itu, kekhawatiran Agus makin menjadi-jadi, tak lagi berpikir panjang, ia langsung mendobrak pintu itu sekuat tenaga.

BRAAK!

Udara pengap dan panas langsung menyambar hidungnya begitu pintu terbuka lebar. Bau busuk yang semula samar dari luar, kini terasa begitu menusuk hingga membuat perutnya seketika mual dan ingin muntah.

Dan betapa terkejutnya ia saat melihat sosok sahabatnya terkapar lemah di tengah ruangan, hanya mengenakan celana dalam.

Indra yang dulu selalu tampil rapi, wangi, dan penuh percaya diri, kini berubah menjadi sosok yang kurus kering tinggal tulang terbalut kulit. Matanya cekung ke dalam, merah menyala dengan lingkaran hitam tebal di bawahnya, memancarkan sorot kegilaan yang menakutkan. Kulitnya pucat kusam, dan rambutnya dibiarkan panjang kusut masai tak terurus.

"Indra!" seru Agus kaget, segera berlari mendekat dan berlutut di samping tubuh sahabatnya. "Kamu kenapa, Dra? Kok bisa jadi begini?!"

Sosok yang terbaring itu perlahan mencoba mengangkat kepalanya dengan susah payah. Bibirnya pecah-pecah, bergetar mencoba membentuk kata-kata, namun yang keluar hanya suara serak parau—persis seperti orang yang sudah berhari-hari tak menelan setetes air pun.

"To... tolong aku, Gus... Se... selamatkan aku..."

Sedikit darah memercik dari bibirnya yang pecah saat ia memaksa berbicara. Air mata Indra menetes perlahan, membasahi pipinya yang kempot dan penuh debu. Tangannya yang kurus kering gemetar hebat, berusaha mencengkeram lengan baju Agus dengan sisa tenaga yang masih tersisa.

Seketika bulu kuduk Agus berdiri. Cengkeraman tangan itu terasa sedingin es. "Maksudmu apa, Dra?! Selamatkan bagaimana? Apa yang sebenarnya terjadi?!" tanya Agus tergesa-gesa, hatinya makin sesak melihat keadaan sahabatnya.

Beberapa kali Agus bertanya kembali, namun Indra hanya diam menatap kosong. Tak ada jawaban selain desisan napasnya yang makin berat dan pendek, sementara matanya terus melotot menatap langit-langit seolah melihat sesuatu yang mengerikan yang tak bisa dilihat oleh Agus.

Agus terdiam sejenak, mencoba menenangkan pikirannya yang kacau. "Ini pasti ada kaitannya dengan semua hal yang dia lakukan di hutan waktu itu," batinnya bergumam yakin. "Aku harus menghentikan semua ini, aku harus menyelamatkannya."

Namun, seketika niat baik itu runtuh begitu saja. Ia sama sekali tidak tahu dari mana harus memulai atau bagaimana caranya memutuskan nasib buruk yang menimpa Indra.

"Lah, gimana caranya? Terus aku harus ke mana dan minta tolong sama siapa?" tanyanya dalam hati. Kepalanya mendadak terasa pening berputar, seolah ruangan di sekitarnya makin menyempit menekan dadanya.

Tak punya pilihan lain, tangan Agus gemetar merogoh saku pakaiannya dan mencari nomor Mira di kontak ponsel. Tanpa menunda lebih lama, ia langsung menekan tombol panggil dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya.

Tut... Tut... Tut...

Setiap nada tunggu yang berbunyi justru membuat jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.

"Ayo dong, Mir... angkat... tolong angkat," bisik Agus lirih. Ia mulai berjalan bolak-balik, tangannya terus meremas ujung kaosnya dengan gelisah.

Klik. Sambungan terhubung.

"Halo, ini siapa ya?"

Suara di seberang sana terdengar asing, bernada datar dan sedikit dingin. Mata Agus langsung berbinar lega, rasa cemas sedikit berkurang.

"Halo! Ini aku, Agus, Mir!" sahutnya setengah berseru karena senang sambungannya terhubung. Rasa semangat mendadak menyuntikkan energi baru ke tubuhnya.

Hening sejenak menyelimuti percakapan itu, sebelum suara itu kembali terdengar—kali ini disertai helaan napas yang panjang dan berat.

"Oh... Agus. Maaf ya, Nak, Miranya lagi enggak bisa diganggu. Ada perlu apa ya?"

Senyum di wajah Agus langsung luntur seketika. Jantungnya mencelos jatuh ke dasar perut. Suara itu jelas bukan suara Mira.

"Oh... gitu ya? Maaf, ini... ini saya bicara dengan siapanya Mira ya?" tanyanya, mendadak merasa kikuk dan salah tingkah.

"Ini dengan Ibunya Mira, Nak."

Agus menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokannya. Rasa sungkan bercampur panik makin bergolak di dadanya. Namun, mengingat keadaan Indra yang terbaring lemah tak berdaya di depannya, ia tak punya jalan lain untuk mundur.

"Ah, iya, Tante. Maaf banget mengganggu waktunya," suara Agus sedikit bergetar, namun ia berusaha menahan diri agar tetap terdengar sopan. "Tapi... kalau boleh, saya benar-benar harus bicara dengan Mira, Tante. Ini penting banget dan mendesak. Tolong Tante... sebentar saja."

Di seberang telepon, terdengar helaan napas panjang yang terdengar begitu lelah dan berat dari Ibunya Mira. Suasana mendadak berubah menjadi mencekam.

"Bukannya Tante enggak mau mengizinkan atau melarang, Nak Agus," ujar Ibunya Mira, suaranya terdengar parau, lemah, seolah sedang menahan kesedihan yang tak terkira. "Tapi Mira memang benar-benar tidak bisa diajak bicara sekarang. Sudah beberapa minggu ini kelakuannya makin aneh. Ia tak mau bicara, tak mau makan, dan badannya terasa lemas dingin terus-menerus."

DEG!

Jantung Agus rasanya seperti berhenti berdetak seketika. Bulu kuduknya meremang hebat. Otaknya langsung berputar cepat mencoba mencerna kenyataan itu. Beberapa minggu? Berarti kondisi Mira sudah separah ini sejak lama, sama persis seperti Indra.

Agus melirik kembali ke arah tubuh Indra yang terbujur kaku di atas karpet. Kenyataan ini telak menghantam kesadarannya—mereka berdua mengalami nasib yang sama persis.

"Maksud Tante... Mira sakit parah?" tanya Agus kembali. Suaranya tercekat di tenggorokan, gemetar menahan rasa tak percaya yang menjalar ke sekujur tubuhnya.

"Iya, Nak Agus. Makanya maaf ya, Mira belum bisa diganggu dulu saat ini."

"Kok... bisa sama persis kayak Indra ya..." bisik Agus teramat lirih.

Kalimat itu lolos begitu saja dari bibirnya tanpa bisa ia cegah.

Mendengar nama Indra disebut, suasana di seberang telepon mendadak senyap seketika. Sontak, nada bicara Ibu Mira berubah drastis—menjadi tegang, tajam, dan penuh tuntutan.

"Maksud kamu apa, Nak? Indra... teman Mira? Kamu tahu sesuatu tentang Indra?!" tanya Ibu Mira bertubi-tubi dengan suara meninggi, terdengar sangat kaget sekaligus panik luar biasa.

Agus langsung membelalakkan mata. Ia merutuki kebodohannya sendiri yang refleks keceplosan. Jantungnya berpacu liar, bingung harus menjawab apa karena posisinya sekarang justru sedang berada di rumah Indra yang kondisinya mengenaskan.

"O-oh... maaf, Tante! Bukan begitu, maksud saya... saya cuma asal bicara sembarangan tadi," kilah Agus cepat-cepat, mencoba tertawa kecil walau terdengar sangat garing dan dipaksakan. Ia menyeka keringat dingin yang mulai bercucuran deras di dahinya.

Agus berusaha mengalihkan pembicaraan sebelum ketahuan. "Tapi... kok Tante bisa tahu dan kenal sama Indra?"

Hening.

Di seberang telepon, hanya terdengar suara napas Ibu Mira yang mendadak memburu dan pendek, menyisakan tanya besar yang menggantung berat di udara. Agus sampai menahan napasnya sendiri, menunggu respons dengan dada yang terasa bergemuruh tak karuan.

"Maaf... Nak, Tante enggak bisa beri tahu semuanya lewat telepon," suara Ibu Mira terdengar bergetar hebat, ada nada mendesak yang tertahan di sana. "Kamu... kamu temannya Indra kan? Atau saudaranya?"

"Oh... aku temannya Indra, Tante. Dan juga temannya putri Tante, Mira," jawab Agus jujur, meski keraguan sempat melintas di benaknya.

Belum sempat Agus menyelesaikan kalimatnya untuk menjelaskan lebih lanjut, Ibu Mira langsung memotong dengan cepat, seolah tak sabar menunggu lebih lama lagi.

"Kalau gitu, kamu bisa kan sekarang ke sini? Datang ke rumah Tante sekarang juga!"

Agus tertegun sejenak. Ia menatap tubuh Indra yang masih tak bergerak diam di atas karpet ruang tengah, lalu kembali fokus ke ponselnya.

"I-iya, bisa Tante. Tapi... ada apa ya Tante, kalau boleh saya tahu sebelumnya?"

"Sudah, kamu ke sini saja dulu. Nanti Tante ceritakan semuanya secara lengkap di sini. Kamu tahu rumah Tante kan?" Nada suara Ibu Mira terdengar begitu memohon, sekaligus penuh misteri yang membuat bulu kuduk meremang.

"I-iya, tahu Tante. Ya sudah, kalau begitu saya berangkat ke sana sekarang... sekalian mau menjenguk Mira."

BERSAMBUNG

1
HERMAWAN 505
jadi kebahagian indra itu di singkat, jatuhnya indra bahagia cuma 3 bulan bersama Mira, kalau sakitnya karena ilmu pelet yang di pakai, kini berbalik menggerogoti tubuhnya sendiri. begitu kaka.👍
makasih atas koreksinya, ini sangat membantu buat kedepannya.🙏
Mega Arum
semoga karya kedepanya lbh bagus lg y Thor...
HERMAWAN 505: gimana pendapatmu tentang novel pertama saya? dan bagai mana perasaan kamu saat membaca novel pelet laknat ini?
total 2 replies
Mega Arum
msh tanda.tanya kak...knp.Indra bs tau2 sakit, blm juga ada bahagianya dg Mira.. ceritanya monoton tntg pertempuran dg dukun
Mega Arum
dr awal krg jelas..dr mana Indra tau keberadaan paranormal di tengah hutan itu, dan skt hati berlebihan sprti apa sbrnya Indra
HERMAWAN 505: makasih Mega Arum sudah mengikuti alur cerita saya sampai sejauh ini.
total 1 replies
Mega Arum
kasihaan Aguuus 😀
ÑIÇÃ
di tunggu lanjutannya💪
Wulandari Ayuningtyas
halo kak
mampir y ke novelku 😁
HERMAWAN 505: makasih sudah berkunjung ke novelku
total 1 replies
Aswad Us
kerennn👍
Raihan
di tunggu lajutan nya bang
HERMAWAN 505: makasih atas kunjungannya.
total 1 replies
Raihan
kak mampir juga la di novel ku 😄
Aswad Us
👍👍
Aswad Us
di tunggu bab berikutnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!