King Stone (27 tahun) bisa dengan mudah melupakan ratusan wanita yang pernah singgah di hidupnya selama menjadi playboy.
Namun, gadis di hadapannya ini adalah pengecualian mutlak.
Olivier Martinez merupakan cinta pertama sekaligus mantan kekasih King selama tiga tahun di masa high school—gadis yang dulu ia tinggalkan begitu saja demi ego remaja agar tidak terikat oleh seorang wanita di masa depan.
Kini, roda kehidupan berputar. Di dalam rumah sakit mewah miliknya sendiri, King sama sekali tidak memiliki kuasa atas Olivier.
Di hadapan sang mantan kekasih yang menatapnya penuh kebencian dan kini bersenjatakan sumpah medis sebagai dokter residen, King harus menghadapi kenyataan pahit. Ia sadar bahwa luka penyesalan di hatinya jauh lebih sulit disembuhkan daripada luka sayatan parah di perutnya.
Pertemuan tak terduga ini menjadi awal dari karma masa lalu yang siap menghancurkan keangkuhannya.
~~~~~
Happy reading 🦋🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#11
Langkah kaki Olivier Martinez terdengar konstan saat ia berjalan kembali menuju ruang istirahat dokter residen di lantai empat.
Setelah panggilan darurat di IGD yang
ternyata hanya berupa koordinasi penanganan pasien kecelakaan ringan selesai ia atasi, tubuhnya terasa begitu lelah.
Ditambah lagi dengan interaksinya bersama King Stone di taman dalam tadi, isi kepalanya seolah diperas habis-gila.
Namun, kedamaian yang ia harapkan saat mendorong pintu kayu ruang residen langsung menguap begitu saja.
Di dalam ruangan yang dilengkapi dengan beberapa kubikel kerja, sofa kulit panjang, dan mesin kopi otomatis itu, Evelyn Vance sudah berdiri bersandar di dekat meja utama.
Tangannya memegang sebuah cangkir keramik, sementara beberapa dokter residen muda lainnya tampak duduk canggung di kubikel masing-masing, tidak berani bersuara karena atmosfer ketegangan yang begitu pekat di udara.
Begitu pintu menutup di belakang Olivier, Evelyn menegakkan tubuhnya. Ia meletakkan cangkir kopinya ke atas meja dengan bunyi dentingan yang sengaja dikeraskan.
"Oh, lihat siapa yang baru saja kembali dari tugas mengawal sang pangeran kota," sindir Evelyn, matanya yang dilapisi riasan tebal menatap Olivier dari atas ke bawah dengan pandangan merendahkan.
Olivier mengembuskan napas pendek melalui hidung. Ia berjalan melewati Evelyn menuju loker pribadinya, mengabaikan sindiran tersebut seolah wanita itu hanya angin lalu. Ia membuka pintu loker, berniat meletakkan papan dokumen medis yang dipegangnya sejak pagi.
Melihat respons dingin dari Olivier, harga diri Evelyn sebagai putri investor terbesar kembali tersulut. Ia melangkah maju, berdiri tepat di samping loker Olivier, menghalangi gadis itu untuk menutup pintunya.
"Jangan berlagak tuli, Olivier. Kau pikir karena King Stone membelamu di koridor tadi, posisi sebagai dokter utama di ruangan ini otomatis jadi milikmu?" cetus Evelyn dengan nada suara yang meninggi, sengaja memancing perhatian semua orang di ruangan. "Mari kita bicara jujur di depan rekan-rekan yang lain. Siapa di antara kita yang sebenarnya punya kompetensi asli di sini?"
Olivier menghentikan gerakannya. Ia memegang pinggiran pintu loker dengan erat, lalu menoleh lambat menatap Evelyn. Wajahnya masih sedingin es, namun ada ketegasan yang mutlak di sepasang mata bulatnya.
"Jika Anda ingin membahas soal kompetensi kerja, Dokter Vance, kurasa tempatnya bukan di sini dan caranya bukan dengan berteriak seperti ini," jawab Olivier, suaranya tenang namun berwibawa, kontras dengan nada bicara Evelyn yang meledak-ledak.
"Kenapa? Kau takut karena semua orang akan tahu fakta yang sebenarnya?" Evelyn terkekeh sinis, matanya melotot tajam. "Kau itu baru kembali dari luar kota, Olivier. Pengalamanmu di rumah sakit ini belum ada apa-apanya dibandingkan denganku yang sudah bertahun-tahun menangani operasi besar di sini. Aku masuk ke rumah sakit ini dengan standar nilai tertinggi dan koneksi yang jelas. Sementara kau? Kau hanya seorang dokter residen yang kebetulan berada di tempat dan waktu yang pas saat King Stone sekarat di depan ruang darurat!"
Beberapa dokter residen di kubikel mulai saling berpandangan dengan cemas. Mereka tahu Evelyn sedang menggunakan kekuasaan ayahnya untuk menekan Olivier, namun mereka juga tahu Olivier bukanlah tipe orang yang mudah diintimidasi.
Olivier menutup pintu lokernya dengan satu sentakan pelan namun tegas.
BRAK!!. Bunyi itu membuat Evelyn sedikit tersentak mundur.
Olivier melangkah satu blok ke depan, menatap lurus ke dalam manik mata Evelyn dari jarak dekat. Ketakutan sama sekali tidak ada di dalam kamus hidup seorang Olivier Martinez setelah semua badai yang ia lalui sepuluh tahun ini.
"Anda salah besar, Evelyn," ucap Olivier dengan intonasi yang mengalir santai namun menekan, menggunakan nama depan wanita itu untuk meruntuhkan jarak formalitas mereka. "Kompetensi seorang dokter tidak diukur dari seberapa lama Anda mondar-mandir di koridor ini dengan jubah mahal Anda, atau seberapa besar saham yang ditanam oleh ayah Anda di gedung ini. Kompetensi diuji di atas meja operasi, saat nyawa seorang manusia berada di ujung tanduk dan tangan Anda tidak boleh gemetar sedikit pun."
Olivier maju satu langkah lagi, membuat Evelyn terpaksa mundur hingga pinggulnya membentur meja.
"Malam itu, saat King Stone masuk dengan luka tusukan yang hampir mengenai organ vitalnya, sayalah yang memimpin tim darurat," lanjut Olivier, kata-katanya mengalir lancar tanpa keraguan.
"Saya yang menghentikan pendarahan hebat di perutnya dalam hitungan menit, dan saya yang menjahit kembali jaringan ototnya yang robek dengan presisi. Di mana Anda saat situasi kritis itu terjadi, Dr. Evelyn? Oh, saya ingat. Anda sedang sibuk memilih gaun di butik pusat kota untuk menghadiri pesta malam, bukan?"
"Kau—!" Wajah Evelyn memerah padam karena menahan malu dan amarah yang luar biasa. Kalimat Olivier telak mengenai bagian paling sensitif dari egonya. "Kau hanya beruntung, Martinez! Jangan berlagak seolah kau adalah penyelamat tunggal di kota ini!"
"Ini bukan soal keberuntungan, ini soal kesiapan dan tanggung jawab," balas Olivier, suaranya naik satu oktav, memotong ucapan Evelyn dengan telak.
"Jadi, berhenti mempermasalahkan siapa yang lebih berkompeten hanya karena Anda merasa tersaingi atau karena Anda cemburu tidak bisa mendekati pasien VIP itu. Jika Anda merasa lebih hebat dari saya, buktikan itu di ruang operasi pada kasus darurat berikutnya, bukan dengan membuat drama murahan di ruang istirahat seperti ini."
Suasana di dalam ruangan mendadak menjadi sangat sunyi. Tidak ada satu pun dokter residen yang berani menarik napas dengan keras. Kata-kata Olivier begitu menohok, meruntuhkan seluruh keangkuhan Evelyn Vance dalam sekejap tanpa perlu menggunakan istilah-istilah rumit atau makian kasar.
Evelyn mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya berkaca-kaca karena kombinasi antara rasa marah dan malu yang teramat sangat. Ia menyambar cangkir keramiknya dari atas meja dengan gerakan kasar, lalu berjalan cepat menuju pintu keluar.
Sebelum membuka pintu, Evelyn berbalik sesaat, menatap Olivier dengan pandangan penuh kebencian. "Kau akan menyesali kata-kata ini, Olivier. Kau tidak tahu dengan siapa kau sedang berurusan di Chicago ini."
BRAK! Pintu ruang residen dibanting dengan keras oleh Evelyn, menyisakan gema yang perlahan memudar di dalam ruangan.
Olivier mengembuskan napas panjang setelah kepergian rivalnya itu. Ia memejamkan mata sejenak, menenangkan denyut jantungnya yang sempat terpacu akibat adu mulut tersebut.
Konflik seperti ini sebenarnya adalah hal terakhir yang ia inginkan, namun ia tahu jika ia diam saja, orang-orang seperti Evelyn akan terus menginjak-injak harga dirinya.
Salah seorang dokter residen muda, seorang pria berkacamata bernama Leo, perlahan bangkit dari kubikelnya dan berjalan mendekati Olivier dengan wajah kagum.
"Wah, Dokter Martinez... itu tadi benar-benar luar biasa," ucap Leo setengah berbisik sembari mengacungkan jempolnya. "Belum pernah ada yang berani berbicara setegas itu di depan Evelyn Vance. Dia biasanya selalu menggunakan nama ayahnya untuk mengatur jadwal operasi sesuka hati."
Olivier tersenyum tipis, sebuah senyuman lelah yang tulus. "Aku hanya mengatakan apa yang benar, Leo. Rumah sakit ini adalah tempat untuk menyembuhkan orang, bukan tempat untuk ajang pamer kekuasaan atau status sosial."
"Tapi Anda harus tetap berhati-hati, Dok," potong seorang perawat yang kebetulan baru masuk membawa tumpukan berkas. "Evelyn itu tipe orang yang pendendam. Apalagi ini menyangkut King Stone. Semua orang tahu Evelyn sudah lama terobsesi untuk bisa masuk ke dalam lingkaran keluarga Stone."
"Aku tidak peduli dengan apa yang dia inginkan atau siapa yang dia terobsesi," jawab Olivier santai sembari berjalan menuju dispenser untuk mengambil segelas air putih. "Fokusku hanyalah melakukan tugasku dengan baik sampai masa residensiku selesai. Setelah itu, aku akan pergi dari tempat ini."
Olivier meminum air putihnya dengan perlahan, menatap ke arah jendela besar ruang residen yang menampilkan pemandangan luar.
Pikirannya kembali melayang pada rumah, pada apartemen kecilnya di Lincoln Park tempat Nora Amelie berada.
Baginya, riak di rumah sakit ini hanyalah kerikil kecil. Namun, di dalam lubuk hatinya yang terdalam, sebuah firasat buruk mulai muncul; keterikatannya kembali dengan King Stone, ditambah dengan permusuhan dari orang-orang seperti Evelyn, tampaknya akan membuat jalannya di Chicago tidak akan pernah bisa mengalir sewajar biasanya lagi.
mudah2an si Nora tiap malem minta tidur sm emak bapaknya 🤣🤣🤣