NovelToon NovelToon
Pembalasan Anak Yang Kau Jual

Pembalasan Anak Yang Kau Jual

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Suami Tak Berguna / Trauma masa lalu
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sikumbang

Aini terpaku di ruang tamu kontrakannya yang kecil. Suara itu...suara Dimas yang sedang melakukan transaksi dengan seseorang telah menghancurkan seluruh hidupnya. Diusapnya perut yang sudah besar. Dia sudah hamil delapan bulan dan anak itu...!!! anak yang dia pertaruhkan dengan seluruh jiwa raganya.... kini...!!!! ayahnya sendiri sedang melakukan transaksi penjualan entah dengan siapa. Pandangan perempuan muda itu menggelap......!!!!
Aini meninggalkan rumah, suami...pergi dengan satu tujuan "Menyelamatkan sang Bayi". Menghadang hujan badai dan petir yang sambar menyambar. Ketika hidup mulai berpihak padanya, Aini dihadapkan lagi pada kenyataan...anak yang sudah dia besarkan bertemu Ayah kandungnya. Bisakah Aini meredam semua kebaikan yang sudah dia tanam tetap ada di dalam diri putra semata wayangnya itu??? Bagaimana akhir kisah yang menguras air mata ini? Ikuti saja di "Pembalasan Anak yang Kau Jual"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sikumbang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menikah Dibawah Tekanan

Malam itu, suasana di dalam rumah kayu sederhana itu terasa begitu hangat dan damai, jauh berbeda dari malam-malam sebelumnya yang penuh tangis dan kegelisahan.

Syafa duduk bersila di lantai, memeluk erat boneka beruang baru yang baru saja dibelikan Jaja tadi sore. Matanya berbinar-binar, sesekali berbisik pada bonekanya, menceritakan betapa bahagianya ia karena Paman Jaja sudah kembali.

Di sebelahnya, Satria duduk di pangkuan Jaja, tangannya yang kecil menunjuk-nunjuk gambar buah-buahan dan huruf-huruf di buku bergambar yang terbuka di depannya.

"Apel...." tunjuk Jaja.

"Aaa ...pil" Jawab Satria lucu.

Setiap kali Jaja menyebutkan nama buah atau huruf, Satria menirukannya dengan suara cadel dan gembira, membuat suasana makin riuh dengan tawa mereka.

Di sudut lain, dekat meja dapur, Aini sibuk menyiapkan keperluan dagangan nasi uduk untuk besok pagi.

Namun, ketenangan itu tiba-tiba terpecah oleh suara ketukan yang cukup keras di pintu depan.

Tok... tok... tok!

Ketukan itu tidak seperti biasanya. Bukan ketukan tetangga yang ramah, melainkan ketukan yang membawa hawa dingin. Aini berhenti mengupas bawang, mengelap tangannya di celemek, lalu berjalan membuka pintu dengan rasa penasaran.

Saat pintu terbuka, wajah Aini seketika berubah pucat.

Di sana berdiri Pak RW, Pak RT dan istrinya. mereka merupakan tokoh masyarakat. Wajah-wajah mereka tampak serius, tanpa senyum sedikit pun. Aini menelan ludah, menyilakan mereka masuk dengan rasa cemas yang mulai merayap.

"Selamat malam, Bu Aini. Maaf mengganggu malam-malam begini," sapa Pak RT singkat.

Jaja bangkit berdiri dari duduknya, memindahkan Satria ke samping Syafa, lalu menyambut kedatangan mereka dengan tenang dan sopan, meski di dalam hatinya ia sudah menduga apa yang akan terjadi.

Mereka duduk di kursi yang tersedia, sementara Aini dan Jaja berdiri di hadapan mereka. Aini menyilakan duduk dengan hati-hati, tangannya mulai dingin karena rasa takut yang tak tahu sebabnya.

Pak RT menarik napas panjang, menatap bergantian ke arah Aini dan Jaja, lalu memulai pembicaraan dengan nada yang berat dan langsung pada intinya.

"Begini, Bu Aini, Pak Jaja. Kami ke sini bukan tanpa alasan. Kami datang mewakili warga desa, mendengarkan apa yang menjadi pembicaraan dan perbincangan warga belakangan ini. Kalian berdua pasti sadar, kan? Kalian tinggal bersebelahan, akrab sekali, Pak Jaja sering ke sini,sering mengurus anak-anak Bu Aini... ya bahkan seperti malam ini, sudah larut malam masih di sini."

Pak RT berhenti sejenak, menatap lurus ke mata Aini yang mulai membesar penuh tanya.

"Kedekatan kalian itu sudah menjadi buah bibir warga. Bukan pembicaraan yang baik, Bu. Banyak yang beranggapan tidak pantas, tidak sopan, dan melanggar adat serta norma agama. Sebagai pengurus desa, kami tidak bisa membiarkan hal ini terus berlanjut. Kami harus menjaga nama baik desa ini, menjaga tata krama, dan menjaga pandangan orang luar terhadap kita."

Aini terdiam, mulutnya sedikit terbuka. Ia tidak menyangka kedatangan mereka untuk hal ini. Ia pikir warga tahu betul betapa baiknya Jaja, betapa tulusnya pertolongan laki-laki itu, betapa Jaja hanya menganggap mereka sebagai keluarga sendiri.

"Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, untuk menutup mulut orang-orang yang berbicara buruk, dan untuk menegakkan aturan yang benar... kami sudah berembuk dan memutuskan solusinya," lanjut Pak RT tegas, tanpa memberi kesempatan Aini atau Jaja untuk membela diri.

"Satu-satunya jalan yang benar, yang baik, dan yang memuliakan kalian berdua serta anak-anak... adalah pernikahan."

"Men... menikah?" Aini menyela dengan suara parau, kakinya terasa lemas.

"Tapi... Pak RT... kami..."

"Biarkan saya selesai dulu, Bu," potong Pak RT cepat, nada bicaranya makin tegas dan tak terbantahkan.

"Kalian harus menikah. Dan demi kebaikan bersama, demi tidak menimbulkan fitnah lebih lama lagi... pernikahan itu harus dilakukan malam ini juga. Sekarang!!!! Tidak perlu menunggu besok atau lusa."

Aini terkejut luar biasa. Matanya berkeliling menatap wajah-wajah di depannya, berharap ada yang tersenyum atau berkata ini hanya candaan. Tapi semuanya tampak serius..... sangat serius.

"Ka... bagaimana bisa, Pak? Begini saja...ah! mendadak sekali," kata Aini terbata-bata, rasa bingung dan kaget bercampur jadi satu.

"Saya... saya tidak siap. Kami belum membicarakan hal ini sama sekali. Dan anak-anak... lihat anak-anak masih ada di sini."

"Karena anak-anak ada di sini, demi menjaga perasaan anak-anak itulah kami mengatur semuanya," jawab Pak RT, cepat.

"Nanti acara pernikahannya tidak di sini, supaya tidak ramai dan tidak membuat anak-anak takut atau bingung. Nanti kalian ikut kami ke rumah saya. Di sana sudah kami siapkan segalanya....petugas, saksi, dan administrasinya. Bu Aini tidak perlu ikut duduk di acara, tidak perlu pakai baju khusus, tidak perlu ada pesta. Nanti Bu Aini hanya dipanggil sebentar saat tanda tangan berkas saja. Selesai tanda tangan, sah sudah kalian berdua. Pulang ke sini, hidup berkeluarga dengan benar, dan semua pembicaraan buruk warga akan hilang seketika."

"Itu tidak adil, Pak! Kami tidak bisa dipaksa begitu saja!" seru Aini mulai berani menolak, rasa takutnya berubah menjadi perlawanan.

"Perkawinan itu urusan hati, urusan seumur hidup. Tidak bisa dipaksa hanya karena omongan orang lain! Saya... saya tidak mau!"

Pak RT menghela napas kasar, wajahnya berubah menjadi dingin dan keras. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.

"Bu Aini, dengarkan saya baik-baik. Ini bukan lagi urusan mau atau tidak mau. Ini urusan aturan dan ketentraman desa. Kami sudah berusaha memberi jalan baik dan mulia lewat pernikahan ini. Tapi kalau kalian berdua menolak, kalau kalian masih keras kepala ingin hidup berdekatan dan akrab tanpa ikatan yang sah... maafkan kami, Bu. Kami tidak punya pilihan lain. Kalian terpaksa harus pergi dari desa ini malam ini juga."

Kata terakhir itu menghantam dada Aini seperti palu godam.

Darahnya serasa berhenti mengalir. Ingatannya kembali melayang ke masa lalu. Rasa takut itu kembali datang, lebih dahsyat dari sebelumnya. Ia teringat betapa sulitnya mencari tempat tinggal, betapa sulitnya memulai hidup baru, betapa anak-anaknya menderita saat itu.

Dan sekarang? Ke mana ia harus pergi membawa dua anak kecil? Ke mana ia harus mencari tempat aman seperti desa ini?

Aini menatap anak-anaknya yang masih duduk diam di pojok, menatap ibunya dengan wajah bingung dan takut. Ia tidak mau anak-anaknya merasakan hidup gelandangan lagi. Ia tidak mau anak-anaknya kehilangan tempat bermain, kehilangan teman, kehilangan kenyamanan yang sudah susah payah ia bangun.

Ia menoleh ke arah Jaja. Laki-laki itu sejak tadi hanya diam, berdiri tenang di sampingnya. Matanya menatap tajam dan tenang, bergantian menatap Pak RT dan Aini. Di matanya tidak terlihat rasa marah atau keberatan, menunggu keputusan Aini.

Tekanan itu terlalu berat. Di satu sisi ada keinginan hati, di sisi lain ada ancaman yang mengerikan. Aini sadar, kalau ia menolak, bukan hanya dirinya yang menderita, tapi Jaja juga akan ikut tersiksa, anak-anaknya akan ikut menderita.

Dengan berat hati, dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata, Aini akhirnya menundukkan kepalanya. Bahunya terguncang menahan isak tangis yang tertahan. Ia sadar, ia tidak punya pilihan lain. Demi anak-anak, demi ketenangan, demi tidak terulangnya masa lalu yang pahit... ia harus menyerah.

"Baiklah..." jawab Aini lirih, suaranya hampir tak terdengar namun cukup jelas untuk didengar semua orang.

"Saya... saya setuju. Saya ikut. Lakukan saja apa yang kalian mau. Asalkan... asalkan kami tidak disuruh pergi dari sini. Asalkan anak-anak saya aman dan tenang."

Pak RT tersenyum puas, mengangguk mantap.

"Bagus. Keputusan yang bijak dan tepat. Ayo, Pak Jaja, mari ikut kami ke rumah saya. Segera selesaikan urusan ini malam ini juga."

Jaja mengangguk pelan. Sebelum berjalan keluar, ia sempatkan menoleh ke arah Aini yang berdiri lemas di ambang pintu, matanya menatap wanita itu... tatapan yang sulit diartikan.

Aini melihat punggung Jaja yang menjauh. Ia merasa didesak, dipaksa, dan tidak punya kuasa. Tapi jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ada rasa damai......yang aneh.

"Apakah ini takdir? Apakah ini jalan Tuhan?" batinnya bergumam sambil menyeka air mata yang jatuh.

"Dipaksa menikah karena omongan orang...?"

Adakah yang lebih memalukan dari ini?

*****

1
Aya Ansyar
Terus semangat berkarya thor 👍🏻
Putri Sikumbang: Makasih selalu hadir Kak🙏
total 1 replies
Ariany Sudjana
makanya kamu jangan egois Arini, kamu menyesal kan ?
Ariany Sudjana
menyesal kan kamu Aini? kamu egois dan bodohnya kebangetan
Putri Sikumbang: 😭 iya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!