Di dunia modern di mana kultivasi berjalan beriringan dengan teknologi, Chen Mo adalah siswa jenius dengan nilai teori sempurna yang bermimpi menjadi kultivator hebat.
Namun, kenyataan pahit menghantam di hari kelulusan saat Upacara Kebangkitan menunjukkan bahwa dia hanya memiliki Bakat Rank F—level terendah yang dicap sebagai "sampah".
Kekecewaannya bertambah ketika teman masa kecilnya, Su Mengqi, yang membangkitkan Bakat Rank S, langsung memutuskannya demi mengejar masa depan bersama para elit.
Meskipun diremehkan oleh semua orang dan masuk ke Akademi Naga Bintang yang bergengsi hanya karena jalur akademis, Chen Mo tidak putus asa, terutama setelah dia secara tak terduga membangkitkan "Sistem Check-in".
Melalui sistem ini, dia mendapatkan hadiah tak terbatas mulai dari pil langka, teknik kuno, hingga uang tunai hanya dengan melakukan check-in di berbagai lokasi akademi.
Diam-diam, di balik tembok akademi yang penuh cemoohan, Chen Mo mulai menumpuk kekuatan dan kekayaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Matahari pagi bersinar terik menyinari gerbang utama Akademi Naga Bintang.
Suasana yang biasanya tenang kini berubah menjadi sangat riuh dan tegang.
Ratusan murid dari berbagai tingkatan kelas berkumpul membentuk lingkaran besar di alun-alun depan gerbang.
Mereka semua berbisik-bisik sambil menunjuk ke arah jalan setapak yang mengarah ke Hutan Kabut Hitam.
Di barisan paling depan, Guru Zhao berdiri dengan wajah merah padam penuh amarah.
Di sampingnya, Lin Feng duduk di atas kursi roda medis dengan perban yang membalut badannya.
Su Mengqi berdiri menunduk di sebelah kursi roda itu, tangannya saling meremas dengan gelisah.
"Itu dia! Pengkhianat sampah itu akhirnya berani menampakkan wajahnya!" teriak Lin Feng memecah keributan.
Tangan Lin Feng yang gemetar menunjuk lurus ke arah gerbang besi raksasa.
Chen Mo berjalan keluar dari bayangan pepohonan dengan langkah yang sangat santai.
Wang Bo mengekor rapat di belakangnya, memanggul tas ransel kulit yang terlihat sangat penuh.
Wajah Wang Bo langsung pucat pasi melihat ratusan pasang mata menatap mereka dengan penuh permusuhan.
"Pasukan kedisiplinan, tangkap murid pemberontak itu sekarang juga!" perintah Guru Zhao dengan suara menggelegar.
Empat orang penjaga berbadan kekar berseragam hitam langsung berlari maju dengan senjata terhunus.
Mereka berniat untuk membanting tubuh Chen Mo ke tanah dan memborgolnya seperti seorang penjahat.
Chen Mo menghentikan langkahnya dan menatap keempat penjaga itu dengan pandangan malas.
"Aku bisa berjalan sendiri, jangan sentuh seragamku dengan tangan kotor kalian," ucap Chen Mo datar.
Seketika, secercah Niat Membunuh Darah Besi menguar tipis dari sorot matanya.
Syuuut!
Keempat penjaga kekar itu tiba-tiba membeku di tempat, kaki mereka seolah terpaku ke tanah.
Mereka merasakan hawa dingin yang mengerikan merayap naik ke tulang punggung mereka.
Chen Mo berjalan melewati para penjaga yang mematung itu dengan tenang, menuju ke tengah alun-alun.
"Apa-apaan kalian ini? Cepat borgol anak itu!" bentak Guru Zhao marah melihat anak buahnya diam saja.
"Tidak perlu repot-repot, Guru Zhao," potong Chen Mo sebelum para penjaga itu sadar dari rasa takut mereka.
"Aku baru saja kembali dari ujian praktik yang kau berikan, lalu kenapa aku disambut seperti seorang buronan?"
Pertanyaan santai Chen Mo membuat emosi Lin Feng langsung meledak.
"Kau masih berani bertanya, dasar sampah busuk?!" teriak Lin Feng dari atas kursi rodanya.
"Kau memukulku dari belakang saat aku sedang kelelahan bertarung melawan monster semalaman!"
"Kau mencuri semua perbekalan kami, merampas hasil buruan kami, dan kabur begitu saja!"
Tuduhan Lin Feng yang menggebu-gebu itu langsung mengundang sorakan cemooh dari para murid elit yang menonton.
Mereka semua melontarkan hinaan dan makian kasar ke arah Chen Mo dan Wang Bo.
Wang Bo gemetar hebat, kakinya nyaris tidak bisa menopang tubuh kurusnya lagi.
"Itu tidak benar! Saudara Chen yang menyelamatkan nyawa kalian dari monster itu!" bantah Wang Bo dengan suara bergetar.
Murid kurus itu mencoba membela pahlawannya, meski suaranya tenggelam oleh sorakan massa.
Lin Feng tertawa keras dengan nada yang sangat meremehkan dan menyebalkan.
"Menyelamatkan nyawa kami? Seorang Rank F menyelamatkan Rank A dan Rank S?" ejek Lin Feng.
"Logika bodoh macam apa itu? Semua orang di akademi ini tahu bahwa kalian berdua hanyalah beban!"
Guru Zhao menganggukkan kepalanya dengan puas, merasa kemenangan sudah berada di tangannya.
"Chen Mo, kejahatanmu sudah sangat jelas dan tidak bisa diampuni lagi," ucap Guru Zhao tegas.
"Bahkan Nona Su Mengqi sendiri telah bersaksi atas tindakan pengecutmu di dalam hutan."
Mendengar nama Su Mengqi disebut, Chen Mo menolehkan kepalanya menatap gadis cantik tersebut.
Su Mengqi masih menundukkan kepalanya dalam-dalam, tidak berani menatap mata Chen Mo sedikit pun.
"Oh? Benarkah begitu, Su Mengqi?" tanya Chen Mo dengan nada pelan namun sangat menusuk.
"Apakah mulut emasmu itu benar-benar mengatakan bahwa aku mencuri barang kalian dan lari meninggalkan kalian?"
Bahu Su Mengqi tersentak pelan, bibir bawahnya digigit kuat-kuat hingga nyaris berdarah.
Gadis itu dihadapkan pada pilihan terakhir untuk mempertahankan sisa-sisa hati nuraninya.
Namun, tatapan memuja dari ratusan murid elit di sekelilingnya membuat ego Su Mengqi kembali menang.
"Ya. Semua yang dikatakan Lin Feng adalah kebenaran," jawab Su Mengqi dengan suara parau.
Gadis itu akhirnya mengangkat wajahnya, menatap Chen Mo dengan ekspresi sedingin es.
"Kau adalah seorang pengecut yang memanfaatkan keadaan, Chen Mo. Aku sangat kecewa padamu."
Kalimat itu diucapkan dengan lancar, seolah Su Mengqi sudah meyakinkan dirinya sendiri bahwa kebohongan itu adalah nyata.
Chen Mo menatap wajah cantik yang dulunya sangat familiar itu selama beberapa detik.
Tidak ada kemarahan, tidak ada kekecewaan, dan tidak ada kesedihan di mata pemuda itu.
Hanya ada kekosongan absolut, seolah Su Mengqi tidak lebih dari sekadar kotoran debu di matanya.
"Begitu ya. Aku mengerti sekarang," batin Chen Mo sambil tersenyum tipis.
"Kalian para elit memang sangat berbakat dalam menyusun naskah drama murahan."
"Lancang! Masih berani mengelak di hadapan bukti yang sudah jelas?!" bentak Guru Zhao.
"Serahkan tas hasil curianmu itu dan bersiaplah untuk dikeluarkan secara tidak hormat!"
Chen Mo menguap pelan, merasa bosan dengan segala omong kosong ini.
"Bukti? Kalian menuntut bukti dariku?" tanya Chen Mo retoris.
Dia memberi isyarat tangan kepada Wang Bo untuk maju ke depannya.
"Wang Bo, buka tas ranselmu dan tunjukkan pada para bangsawan ini apa yang kita curi semalaman."
Wang Bo menelan ludah, tangannya yang gemetar perlahan membuka ritsleting tas ransel kulitnya.
Bruk!
Wang Bo menumpahkan seluruh isi tas itu ke atas lantai batu alun-alun dengan sekali sentakan.
Seketika, aroma herbal murni yang sangat pekat menyebar ke seluruh penjuru gerbang akademi.
Puluhan akar Ginseng Tulang Besi dan Daun Darah Merah berserakan memancarkan cahaya redup.
Mata semua orang di alun-alun itu langsung melebar sempurna, napas mereka seolah terhenti.
"Itu herbal tingkat menengah! Harganya ratusan ribu koin bintang!" teriak seorang murid senior.
"Bagaimana mungkin dua murid kelas dasar bisa menemukan herbal sebanyak itu tanpa mati di zona luar?!"
Guru Zhao ternganga lebar, kata-kata umpatannya tertahan di tenggorokan.
Lin Feng menggertakkan giginya menahan panik yang mulai menjalar di dadanya yang masih sakit.
"Itu pasti herbal yang dia temukan secara kebetulan saat lari ketakutan dari kami!" elak Lin Feng cepat.
"Itu tidak membuktikan bahwa dia tidak mencuri hasil buruan monster milikku semalam!"