Krystal, reinkarnasi Naga Es yang melupakan 98 kehidupan lamanya, tumbuh menjadi putri terbuang Kekaisaran Aethermoor. Dibuang ke Istana Aquamarine sejak usia tiga tahun oleh ibu yang dimanipulasi sihir, ia ditemani Mira dan dilindungi Eros—Dewa Nafsu yang menjadikannya calon istrinya. Kecantikannya memikat, namun hatinya rapuh akibat trauma penolakan. Ia membangun Proyek LadyBug untuk menghancurkan Ratu Seraphina dari dalam, merekrut para jenius terbuang sebagai senjata rahasia. Ketika Eros menolaknya demi kesucian, egonya hancur; ia nekat memeluk Hyal hingga batuk darah, menyadari racun berkat sang kakaklah yang menyiksanya. Kini di tanah Herkimer, Krystal bangkit—lebih dingin, lebih licik, dan bertekad menggulingkan takhta dengan tangannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noulmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Krystal berjalan menuju ruang perjamuan. Malam perjamuan yang akhirnya tiba, denting perak yang beradu dengan porselen seketika terhenti saat Krystal masuk memberi salam Kaisar Kekaisaran Suci dan semua tamu agung, lalu memberi salam pada Tuan Putri Theresa, namun ia sama sekali tidak menyapa keluarganya. Krystal menarik kursi dengan berisik.
Seraphina meletakkan garpunya. Matanya menatap tajam belahan gaun Krystal yang sangat berani. "Gaun apa yang kau pakai itu, Krystal?"
Krystal tersenyum tipis. "Oh, ini? Saya menyebutnya gaun 'Keadilan'. Terbuka dan tidak menyembunyikan apa pun. Bukankah Yang Mulia suka transparansi?"
"Jaga bicaramu!" gertak Mantan Kaisar Athanasius. "Semalam kau mencium Putra Bungsu Biov di depan umum! Apa kau sudah kehilangan akal?"
"Apakah Yang Mulia baru sadar saya memiliki 'akal' sekarang?" Krystal tertawa renyah namun hampa. "Saya pikir selama belasan tahun ini saya hanya pot bunga di pojok ruangan."
"Krystal, cukup," Felix memotong dengan suara gemetar. "Gelas semalam... itu berisi racun. Kau bisa mati!"
Krystal menoleh, menatap Felix dengan mata biru yang dingin. "Lalu kenapa, Kak? Oh, bukan, Yang Mulia Putra Mahkota? Bukankah itu tujuan bunga hiasan? Mati sebelum layu agar tetap dikenang cantik? Disaat saya diasingkan tanpa penjelasan, di mana kalian? Saat saya demam setiap purnama, di mana kalian?"
Pandangan Krystal beralih pada Hyal yang sejak tadi terdiam. "Dan kau, saudaraku tercinta. Apa aku begitu menjijikkan bagimu hingga kau tidak berani menatapku?"
Hyal mengangkat wajahnya. Matanya yang biru tampak bergetar, namun suaranya tetap datar. "Kau terlalu banyak bicara, Krystal. Duduk dan makanlah. Sedang ada tamu agung di sini, jaga sikapmu."
"Hahaha! Makan? sikap?" Krystal menendang kursinya hingga terguling. "Aku kenyang hanya dengan melihat kemunafikan kalian. Lagi pula, kekasihku jauh lebih hangat daripada ruangan dingin ini."
"Grand Duke Biov!" teriak Athanasius. "Kau membiarkan putramu seperti ini?!"
Grand Duke Biov meletakkan gelas anggurnya dengan sangat tenang. Ia menegakkan tubuhnya, memancarkan aura wibawa yang begitu menekan hingga mampu membungkam bisik-bisik para bangsawan di sekitarnya.
"Yang Mulia," jawab Grand Duke Biov dengan suara berat dan tegas yang menggema di seluruh ruangan. "Putraku, Eros, saya tugaskan untuk melindungi nyawa Putri Krystal dari ancaman bahaya, bukan untuk membungkam kebenaran yang keluar dari mulutnya. Jika seorang putri kekaisaran hampir mati karena racun di dalam istananya sendiri, maka fokus putraku untuk memastikan keselamatannya jauh lebih penting daripada sekadar menjaga tata krama di meja makan ini."
Keheningan yang mencekam setelah dentuman kursi Krystal terasa mencekik leher siapa pun yang berada di aula perjamuan. Aroma makanan mewah seketika menguap, digantikan ketegangan politik yang pekat.
Kaisar Kekaisaran Suci meletakkan cangkirnya dengan perlahan, memecah kesunyian. Pandangannya yang tajam beralih dari pintu tempat Krystal keluar, lalu tertuju langsung pada Ratu Seraphina.
"Ratu Seraphina," ucap Kaisar Kekaisaran Suci dengan nada datar yang penuh penekanan. "Saya datang ke sini untuk merayakan persatuan suci antara putra Anda dan putri saya, Theresa. Namun, mendengar ada percobaan pembunuhan dengan racun di dalam istana Anda sendiri... saya mulai mempertanyakan keamanan tempat ini untuk putri saya."
"Kaisar Suci, itu hanya kesalahpahaman anak muda—" Seraphina mencoba menyela, wajahnya yang semula merah padam kini memucat karena panik.
"Itu bukan kesalahpahaman!" Felix tiba-tiba memotong dengan suara gemetar, membuat seluruh meja kembali terkejut. Ia menatap gelas dengan mata yang berkaca-kaca karena rasa bersalah. "Gelas itu... gelas semalam memang ditujukan untukku. Krystal meminumnya demi menyelamatkanku, dan kita semua di sini malah mempermasalahkan tata kramanya?!"
"Felix! Jaga ucapanmu di depan tamu agung!" gertak Mantan Kaisar Athanasius, tangannya menggebrak meja hingga sendok-sendok perak berdenting.
Di sebelah Felix, Putri Theresa menatap calon suaminya dengan pandangan kosong. Ia bisa merasakan ada rahasia gelap dan dingin yang sengaja disembunyikan oleh keluarga kekaisaran ini dari dunia luar.
Sementara itu, Hyal tetap terdiam di kursinya. Matanya menatap lurus ke arah kursi Krystal yang terguling di lantai marmer. Tangannya di bawah meja mengepal begitu erat hingga jarinya memutih, menahan penyesalan yang terlambat datang.
"Kau terlalu banyak bicara, Felix. Tenangkan dirimu," gumam Hyal, namun suaranya sendiri terdengar parau. Ia marah pada ketidakberdayaan saudaranya, dan jauh lebih marah pada dirinya sendiri yang lagi-lagi hanya bisa diam saat Krystal terluka.
Para tamu bangsawan di ujung meja saling bertukar pandang dalam diam. Mereka bahkan tidak berani mengunyah makanan mereka, menyadari bahwa skandal malam ini jauh lebih besar daripada sekadar ciuman panas di aula dansa kemarin malam. Ini adalah awal dari runtuhnya wibawa sang Ratu.
Eros menatap Krystal dengan tatapan serius. Ia mengulurkan tangannya yang besar dan hangat. "Rys, izinkan aku memindai energimu sebentar. Berikan telapak tanganmu."
Krystal menurut tanpa ragu. Ia meletakkan telapak tangannya yang mungil di atas telapak tangan Eros. Pria itu memejamkan mata. Seberkas cahaya keperakan yang redup mengalir dari jemarinya, merayap masuk ke dalam aliran darah Krystal. Aliran sihir itu bergerak perlahan, mencari sumbatan atau anomali yang selama ini menyiksa tubuh sang putri.
Hanya dalam hitungan detik, mata Eros terbuka lebar. Rahangnya mengeras seketika, dan pendar perak di tangannya mendadak berubah menjadi merah pekat yang berbahaya.
"Ah, aku tahu apa yang membuatmu seperti ini," desis Eros, suaranya sangat rendah dan penuh ancaman. "Astraia. Sialan! Apa kulenyapkan saja ya?" ucap Eros geram, hingga peri-peri kecil di sekitar mereka terbang menjauh karena ketakutan merasakan lonjakan emosinya.
Krystal mengerutkan kening. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Eros. Baginya, nama itu terdengar asing. Namun, alih-alih merasa takut dengan kemarahan Eros, Krystal justru merasakan kelegaan yang luar biasa.
"Aku tidak tahu siapa itu Astraia," ujar Krystal pelan, menatap lekat mata pria di hadapannya. "Tapi terima kasih, Eros. Setiap kali berada di dekatmu, rasa sakit di tubuhku perlahan-lahan menghilang. Kau benar-benar obatku."
Sebelum Eros sempat membalas ucapannya, Krystal mencondongkan tubuhnya ke depan. Dengan gerakan cepat namun lembut, ia mengecup pipi Eros. Cup.
Seketika itu juga, kata-kata Eros tertelan kembali di tenggorokannya. Pria yang biasanya selalu tenang, ketus, dan tak tergoyahkan itu mendadak membeku di tempat. Semburat merah yang sangat jelas langsung menjalar dari pipi hingga ke ujung telinganya. Eros tersipu malu, menatap ke arah lain demi menyembunyikan wajahnya yang mendadak panas akibat tindakan spontan Krystal.
Krystal yang melihat reaksi menggemaskan dari Eros itu tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum geli. Rasa lelah dan ketegangan dari perjamuan terkutuk tadi malam seolah menguap begitu saja di dalam rumah kaca yang hangat ini.