Kemuning selalu tahu hidupnya murah di mata keluarga sendiri. Sejak kedua orang tuanya meninggal, ia hanya dianggap beban—dipaksa menjadi pembantu di rumah bibinya, tidur di lantai dingin, dan menahan sakit demi membesarkan adik kecilnya seorang diri.
Suatu malam, bibinya menyerahkan Kemuning kepada seorang tuan tanah untuk melunasi hutang judi. Tanpa persetujuan. Tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira nasib Kemuning selesai saat mobil hitam itu membawanya pergi dari desa. Tapi mereka salah, karena pria yang menunggunya di kota jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan; dingin, kaya, tampan, dan memandang Kemuning seolah gadis desa itu adalah miliknya.
Kemuning membenci cara pria itu mendekat terlalu dekat, cara tatapannya selalu membuat napasnya kacau… dan cara tubuhnya gemetar setiap kali pria itu menyentuhnya hanya untuk hal-hal kecil yang seharusnya biasa saja.
Namun yang paling menakutkan bukanlah ketertarikan itu.
Melainkan rahasia besar tentang alasan Kemuning sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lada Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 - Jangan Lepas Tanganku
Hujan masih turun tipis di luar mansion Mahendra ketika layar monitor keamanan di ruang kontrol mulai berkedip tidak normal satu per satu. Cahaya putih dari CCTV yang biasanya stabil mendadak berubah gelap, meninggalkan bayangan hitam di layar besar. Kemuning yang berdiri di dekat meja langsung menegang saat suasana mendadak terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.
Arkana yang tadi masih menatap layar dengan tenang perlahan berubah ekspresi. Rahangnya mengeras. Tatapan matanya menjadi gelap dan tajam dalam hitungan detik. Aura pria itu langsung berubah menekan, membuat bahkan para pengawal yang berjaga ikut diam tanpa berani bicara sembarangan.
Kemuning refleks memegang ujung cardigan tipisnya sendiri. Jantungnya mulai berdetak terlalu cepat. Untuk pertama kalinya sejak mendengar tentang orang-orang yang mencari darah Bagaskara, dirinya benar-benar merasa ancaman itu nyata. Bukan sekadar cerita menakutkan dari Miranti atau bayangan buruk di kepalanya sendiri.
Suara petir menyambar dari luar mansion. Lorong-lorong besar rumah itu mendadak terasa asing dan menyeramkan. Mansion Mahendra yang selama ini terasa seperti tempat paling aman untuknya dan Agam tiba-tiba berubah seperti labirin dingin yang membuat napas Kemuning terasa sesak perlahan.
Arkana bergerak lebih dulu tanpa berpikir panjang. Tangan pria itu langsung menarik pergelangan Kemuning lalu membawanya berdiri di belakang tubuhnya. Gerakan itu terlalu refleks, terlalu alami, seolah melindungi Kemuning sudah menjadi naluri yang bahkan tidak disadari Arkana sendiri.
“Jangan jauh dariku.”
Suara rendah Arkana terdengar begitu dingin tetapi juga menenangkan di saat bersamaan. Kemuning langsung mengangguk gugup. Anehnya, saat jemari pria itu menggenggam tangannya erat, rasa takut di dada Kemuning sedikit berkurang meski situasi di sekeliling mereka semakin mencekam.
Arkana segera menghubungi Reno sambil tetap berdiri di depan Kemuning. Nada suara pria itu berubah sangat tenang, tetapi justru itulah yang membuat suasana semakin menyeramkan. Kemuning baru sadar sisi Arkana sebagai pewaris Mahendra benar-benar berbeda ketika pria itu sedang marah atau waspada.
“Cari sumber gangguannya. Tutup seluruh akses gerbang sekarang.”
Nada datar Arkana terdengar mematikan. Bahkan pelayan yang lewat di lorong langsung menunduk gugup. Kemuning diam-diam menatap punggung tinggi pria itu dengan jantung yang masih berdebar kacau. Dirinya merasa sangat kecil tetapi juga sangat aman di belakang Arkana.
Tidak lama kemudian, Reno datang bersama beberapa pengawal tambahan. Wajah pria itu terlihat serius saat melihat hampir seluruh layar CCTV mansion berubah gelap. Namun yang paling membuat Reno diam sesaat justru posisi Arkana dan Kemuning sekarang.
Kemuning berdiri sangat dekat di belakang Arkana. Sedangkan Arkana tanpa sadar terus menjaga posisi tubuhnya seolah menghalangi ancaman apa pun mendekati gadis itu. Reno belum pernah melihat tuannya seprotektif ini terhadap siapa pun sebelumnya.
“Ada mobil asing berhenti cukup lama di luar gerbang sebelum sistem mati, Tuan.”
Kalimat Reno membuat wajah Kemuning langsung pucat. Tangannya refleks mencengkeram lengan Arkana tanpa sadar, sedangkan pria itu justru terlihat semakin dingin mendengar laporan tersebut.
Petir lain menyambar keras. Dari kamar sebelah, suara tangisan kecil Agam tiba-tiba terdengar memecah suasana. Kemuning langsung panik dan buru-buru hendak berlari keluar ruangan. Namun Arkana lebih dulu menggenggam tangannya lebih erat.
“Aku ikut.”
Hanya dua kata sederhana, tetapi suara rendah itu terasa sangat melindungi. Kemuning langsung menoleh padanya sesaat sebelum akhirnya mengangguk kecil. Jantungnya kembali kacau karena pria itu selalu bergerak bersamanya sekarang, seolah Arkana tidak mau melepaskannya sedetik pun.
Mereka masuk ke kamar Agam yang remang dan sedikit berantakan. Anak kecil itu menangis sambil duduk di atas ranjang dengan mata merah karena ketakutan. Begitu melihat Kemuning, Agam langsung memeluk kakaknya erat hingga tubuh kecilnya gemetar.
Kemuning buru-buru memeluk balik adiknya sambil mengusap rambut Agam berkali-kali. Meski dirinya sendiri ketakutan, gadis itu terus berusaha tersenyum agar Agam tenang. Arkana berdiri tidak jauh dari ranjang sambil memperhatikan keduanya terlalu lama.
Arkana sadar ada rasa takut kehilangan yang mulai tumbuh di dalam dirinya sendiri. Dan perasaan itu jauh lebih berbahaya dibanding ancaman bisnis atau musuh keluarga Mahendra mana pun.
Karena terlalu panik, Kemuning tidak sadar jemarinya terus menggenggam bagian depan kemeja Arkana saat pria itu berdiri dekat di sisi ranjang. Arkana perlahan menunduk memperhatikan tangan kecil itu yang mencengkeram dirinya begitu erat.
Kemuning baru sadar beberapa detik kemudian. Wajahnya langsung memanas malu. Namun sebelum sempat melepaskan tangan, Arkana justru bergerak sedikit lebih dekat. Aroma parfum maskulin bercampur hujan malam langsung memenuhi indera Kemuning.
“Tenang.”
Suara rendah Arkana terdengar dekat sekali di atas kepalanya. Napas Kemuning langsung kacau. Bahkan dalam keadaan takut seperti ini, dirinya masih terlalu sadar pada keberadaan pria itu di dekatnya.
Beberapa menit kemudian, sistem keamanan mansion akhirnya kembali normal sedikit demi sedikit. Namun Reno kembali datang dengan wajah jauh lebih serius dari sebelumnya. Di tangannya terdapat sebuah amplop cokelat besar tanpa nama.
“Ada yang meninggalkan ini di gerbang.”
Suasana kamar langsung berubah sunyi. Arkana mengambil amplop tersebut lalu membukanya perlahan. Kemuning yang berdiri di dekatnya langsung membeku saat melihat isi amplop itu jatuh ke atas meja kecil.
Foto lama. Foto seorang pria dan wanita yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Namun entah kenapa, wajah pria di foto itu terasa sangat familiar baginya.
Kemuning langsung mengambil foto tersebut dengan tangan gemetar. Air matanya jatuh tanpa sadar saat melihat senyum wanita di samping pria itu. Hatinya terasa aneh. Seolah ada sesuatu dalam dirinya yang mengenali mereka meski pikirannya tidak mampu memahami.
Di balik foto itu terdapat simbol hitam aneh dan tulisan kasar berwarna merah Darah Bagaskara harus dibersihkan.
Tubuh Kemuning langsung melemas. Napasnya memburu. Selama hidupnya, dirinya tidak pernah merasa hidupnya penuh kebohongan seperti sekarang. Semua tentang orang tuanya mendadak terasa misterius dan menyeramkan.
Arkana langsung mengambil amplop itu dari tangan Kemuning sebelum gadis tersebut semakin panik. Tatapan pria itu berubah sangat gelap saat membaca tulisan di balik foto. Aura dingin Arkana langsung memenuhi ruangan hingga bahkan Reno ikut menahan napas.
Kemuning melihat Arkana benar-benar tampak seperti seseorang yang siap menghancurkan siapa pun demi melindungi dirinya.
Di sisi lain lorong mansion, Ratih memperhatikan semuanya dalam diam. Wanita itu mulai menyadari satu hal yang paling ia takutkan. Ancaman terhadap Kemuning ternyata nyata. Dan justru karena itulah Arkana tidak akan pernah mau melepaskan gadis itu lagi.
Mahardika segera memerintahkan penyelidikan tentang Bagaskara dilakukan diam-diam malam itu juga. Namun semakin mereka mencari, semakin sedikit jejak yang tersisa. Seolah seseorang sengaja menghapus seluruh masa lalu keluarga Kemuning bertahun-tahun lalu.
Karena situasi dianggap tidak aman, Mahardika akhirnya mengambil keputusan baru. Kemuning dan Agam harus tinggal sementara di area private lantai atas bersama Arkana sampai semuanya jelas.
Kemuning langsung gugup mendengar keputusan tersebut. Namun Arkana justru terlihat terlalu tenang menerimanya. Bahkan pria itu tanpa banyak bicara langsung membawa sendiri beberapa barang Agam ke kamarnya. Detail kecil itu membuat dada Kemuning terasa hangat sekaligus sakit. Arkana benar-benar mulai memperlakukan mereka seperti bagian dari hidupnya.
Malam semakin larut ketika Agam akhirnya tertidur di tengah ranjang besar karena kelelahan dan ketakutan. Kemuning duduk di sisi ranjang sambil memeluk dirinya sendiri. Kepalanya penuh pikiran buruk.
Bagaimana jika dirinya benar-benar membawa bahaya untuk keluarga Mahendra? Bagaimana jika semua orang terluka karena dirinya?
Kemuning akhirnya pelan-pelan bangkit dari sisi ranjang, berniat pindah ke sofa agar tidak terlalu dekat dengan Arkana malam ini. Namun baru beberapa langkah, pergelangan tangannya tiba-tiba ditahan.
Kemuning langsung menoleh.
Arkana duduk di tepi ranjang dengan jemari hangat yang menggenggam tangannya erat. Tatapan pria itu terlihat gelap tetapi jauh lebih lembut dibanding biasanya. Cahaya lampu remang membuat wajah Arkana tampak terlalu dekat dan terlalu menenangkan.
“Jangan lepas tanganku malam ini.” Suara rendah itu terdengar possessive sekaligus sangat emosional.
Kemuning langsung membeku karena benar-benar sadar satu hal yang menakutkan. Ia mungkin sudah tidak akan sanggup pergi dari Arkana Mahendra lagi.