Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sap 1
“Nadia, suami kamu selingkuh.” Sindi ngomong serius dari seberang telepon.
Nadia cuma mendecak kesal. “Sindi, berhenti ngomong yang aneh-aneh. Rumah tangga aku baik-baik aja.”
Tanpa pikir panjang, Nadia langsung memblokir nomor Sindi. Jemarinya bergerak cepat di layar ponsel, seolah pengin mengakhiri obrolan yang bikin dadanya nggak nyaman.
“Mana mungkin suami aku selingkuh.”
Walaupun rumah tangganya lagi nggak baik-baik aja, dia nggak mau kasih ruang buat orang lain ikut campur urusan rumah tangganya.
Nadia melihat jam dinding yang udah menunjukkan pukul 9 malam, tapi Raka belum juga pulang.
Dia melangkah ke teras. Gerimis turun tipis, membasahi halaman rumah yang kelihatan sepi.
“Kenapa beberapa hari ini Mas Raka pulang malam terus?” bisiknya.
Dia masuk lagi ke dalam rumah dan mengecek kamar Nanda.
Anak kecil itu tidur dengan posisi melintang. Bantal dan guling berserakan ke mana-mana.
Senyum tipis muncul di bibir Nadia.
Pelan-pelan dia membetulkan posisi tidur Nanda, lalu menarik selimut sampai menutupi dada anak itu.
Jari-jari Nadia menyentuh rambut Nanda dengan lembut.
Selalu ada rasa hangat yang muncul setiap kali melihat wajah polos itu. Hatinya yang dari tadi gelisah perlahan terasa lebih tenang.
Terdengar suara batuk dari kamar ibu mertuanya.
Nadia langsung menuju dapur, mengambil segelas air hangat dan obat.
“Lama banget sih.” ucap Yuni, ibu mertuanya.
“Maaf, Bu. Tadi Nanda belum saya selimuti,” jawab Nadia tenang.
“Udah, sini.” Yuni mengambil obat dari tangan Nadia dengan wajah masam.
“Percuma aku minum obat kalau kamu nggak kunjung hamil,” kata Yuni sinis.
Kalimat itu udah berkali-kali Nadia dengar, tapi tetap aja rasanya nyakitin. Bahunya sedikit menegang. Dia menunduk sebentar buat menyembunyikan luka yang kembali tergores.
“Kata dokter saya normal dan subur, Bu.”
“Kalau subur harusnya kamu udah hamil.”
“Mungkin memang belum rezekinya, Bu.”
“Rezeki terus yang disalahin. Usaha yang bener. Kamu udah 30 tahun tapi belum punya anak. Aku juga sekarang sakit-sakitan terus. Sebelum aku mati, aku cuma pengin memastikan Raka udah punya anak.”
Nadia menggigit bagian dalam bibirnya. Dadanya terasa sesak mendengar ucapan itu.
“Mas Raka juga nggak mau diperiksa, Bu, buat program hamil.”
“Jadi kamu nuduh Raka yang bermasalah? Kalau Raka bermasalah, nggak mungkin dia punya...”
Yuni langsung menghentikan ucapannya.
Alis Nadia langsung berkerut. Dia mengangkat kepala dan menatap Yuni lekat-lekat.
“Nggak mungkin apa, Bu?” tanya Nadia.
Yuni nggak menjawab. Dia mengambil obat lalu memasukkannya ke mulut dengan gerakan terburu-buru.
“Sana pergi,” usir Yuni.
“Ibu jangan main ponsel terlalu malam. Harus jaga kesehatan.”
“Berisik,” dengus Yuni.
Nadia menarik napas sebentar, lalu mengembuskannya pelan. Dia memilih diam.
Nadia keluar dari kamar Yuni. Dia sudah mengingatkan. Kalau orang yang diingatkan nggak terima, mau gimana lagi?
Nadia duduk di teras sambil menunggu suaminya pulang.
Nadia melihat ponselnya. Dia udah mengetik pesan.
{Mas kapan pulang?}
Tapi belum juga dikirim.
Jempolnya menggantung di atas tombol kirim. Akhir-akhir ini, hal kecil kayak gitu aja udah bisa memancing emosi Raka.
Setelah cukup lama, rasa khawatir akhirnya mengalahkan rasa takut.
Nadia mengirim pesan itu.
Tapi pesannya cuma centang satu.
Perasaan nggak enak mulai merayap di dadanya.
Nadia menelepon Raka, tapi ponselnya nggak aktif.
“Setidaknya kalau nggak pulang kasih kabar, Mas,” gumam Nadia.
Dia memeluk kedua lengannya sendiri saat angin malam yang dingin menyentuh kulitnya.
Dia melangkah ke teras. Gerimis masih turun pelan.
“Kayaknya memang nggak pulang.”
Nadia kembali berdiri di teras.
“Lebih baik aku istirahat aja.”
Nadia melangkah masuk ke dalam rumah. Tapi baru dua langkah, terdengar suara mobil dari luar.
Kepalanya langsung menoleh ke arah gerbang.
Nadia mengambil payung lalu buru-buru menuju gerbang buat membukakan pintu.
Rasa cemas yang dari tadi menekan dadanya langsung mengendur. Dia merasa lega karena akhirnya suaminya pulang.
Mobil Raka masuk ke garasi.
“Kenapa belum tidur?” tanya Raka.
“Nunggu Mas.”
Raka menatap malas.
“Kalau udah lewat jam 9 malam nggak usah ditungguin, Nadia. Kamu istirahat aja. Kamu harus jaga kesehatan, Nad.”
Hati Nadia terasa hangat. Sudut bibirnya terangkat pelan. Kekhawatiran yang dari tadi memenuhi pikirannya sedikit demi sedikit mulai mencair.
“Ya, Mas. Aku cuma khawatir,” jawab Nadia pelan sambil menatap Raka yang baru saja masuk dengan wajah terlihat lelah.
Raka berjalan masuk lalu duduk di kursi ruang tamu. Wajahnya terlihat capek setelah seharian bekerja di luar rumah.
Nadia langsung berjongkok di depan Raka dan pelan-pelan membantu melepaskan sepatu yang masih dipakai suaminya itu.
“Nanda udah tidur?” tanya Raka sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi dan memejamkan mata beberapa saat.
“Udah, Mas. Dari tadi tidurnya juga pulas banget,” jawab Nadia sambil merapikan posisi sepatu Raka di dekat rak.
“Terima kasih, Nad,” ucap Raka pelan sambil menatap istrinya yang masih duduk di dekat kakinya.
Sekali lagi hati Nadia terasa hangat mendengar ucapan sederhana itu keluar dari mulut suaminya yang belakangan sering berubah sikap.
“Terima kasih juga udah jagain Nanda selama ini,” lanjut Raka sambil mengusap wajahnya yang terlihat kelelahan.
Mata Nadia mulai berkaca-kaca tipis. Perhatian kecil seperti itu selalu berhasil bikin dia bertahan sampai sekarang.
Ah, demi Nanda, Nadia merasa hatinya yang tadi sempat gelisah perlahan kembali terasa lebih ringan dan bahagia.
Kecurigaan Sindi tadi rasanya benar-benar salah dan nggak masuk akal kalau dipikir lagi oleh Nadia.
Raka berdiri dari kursinya lalu berjalan masuk ke dalam rumah sambil melonggarkan kerah kemeja yang dipakainya.
“Mas, kenapa akhir-akhir ini pulang malam terus?” tanya Nadia pelan sambil jemarinya saling bertaut di depan perut.
Dia berusaha terdengar biasa aja walaupun sebenarnya rasa penasaran dan khawatir terus mengganggu pikirannya sejak tadi.
“Aku kerja, Nad. Aku kerja buat masa depan kamu sama Nanda,” jawab Raka singkat tanpa menoleh ke arah Nadia.
“Kenapa hampir setiap hari lembur terus sih, Mas? Memangnya kerjaannya lagi banyak banget ya?” tanya Nadia lagi dengan hati-hati.
Kali ini Raka langsung menoleh dan menatap tajam ke arah Nadia. Rahangnya mengeras dan sorot matanya membuat Nadia menunduk.
“Kenapa kamu ngomongnya kayak lagi ngintrogasi aku?” tanya Raka dengan nada yang mulai terdengar kesal.
“Maaf, Mas. Aku cuma khawatir aja sama Mas,” jawab Nadia pelan sambil menundukkan kepalanya.
“Aku capek, Nadia. Pulang kerja bukannya ditanya udah makan atau belum, malah ditanyain macam-macam kayak begini.”
Wajah Raka langsung berubah masam. Dia mengembuskan napas kasar lalu berjalan menuju kamar Nanda tanpa menoleh lagi.
Nadia cuma berdiri diam di tempatnya. Bibirnya sedikit terbuka, tapi nggak ada satu kata pun yang keluar.
Raka masuk ke kamar Nanda dan melihat anak itu sedang tertidur pulas dengan wajah yang kelihatan sangat tenang.
Wajah Raka yang tadi dingin langsung berubah lembut dan ceria saat melihat Nanda tidur dengan sangat nyenyak.
Sudut bibirnya terangkat pelan lalu dia membungkuk dan mengecup dahi Nanda dengan penuh rasa sayang.
Nadia yang berdiri di ambang pintu cuma menundukkan kepalanya pelan sambil melihat pemandangan itu tanpa bersuara.
“Orang selembut itu mana mungkin selingkuh,” bisik Nadia pelan sambil memandangi Raka dari kejauhan.
Rasa bersalah langsung muncul di dalam hatinya. Dadanya terasa sesak karena tadi sempat mencurigai suaminya sendiri.
Raka keluar dari kamar Nanda lalu berjalan menuju kamar tanpa mengatakan apa pun lagi kepada Nadia.
“Mas mau makan dulu atau mandi dulu?” tanya Nadia sambil mengikuti langkah suaminya dari belakang.
Raka nggak menjawab sedikit pun. Dia masuk ke kamar lalu mengganti kemejanya dengan kemeja yang baru.
“Mas, baju tidur udah aku siapin di tempat tidur,” ucap Nadia pelan sambil berdiri di dekat lemari.
Tapi Raka malah mengambil botol parfum lalu menyemprotkannya ke leher dan pergelangan tangannya beberapa kali.
Kening Nadia langsung berkerut melihat tingkah suaminya yang terasa aneh dan berbeda dari biasanya malam itu.
“Mas mau ke mana lagi?” tanya Nadia pelan sambil menatap Raka yang sedang merapikan bajunya.
“Meeting,” jawab Raka singkat sambil mengambil kunci mobil yang ada di atas meja kecil.
“Jam segini?” tanya Nadia lagi dengan wajah yang mulai dipenuhi rasa heran dan khawatir.
Tatapan Raka kembali berubah tajam. Wajahnya terlihat nggak suka mendengar pertanyaan yang keluar dari Nadia.
“Aku manajer operasional, Nadia. Kerjaku nggak kenal waktu,” jawab Raka dengan nada dingin.
“Besok aja, Mas,” ucap Nadia pelan sambil menatap wajah suaminya dengan penuh harapan.
“Nadia!” bentak Raka keras. “Diam dan jangan ikut campur. Kamu nggak tahu apa-apa.”
Suara bentakan itu bikin bahu Nadia sedikit bergetar dan tangannya refleks menggenggam jemarinya sendiri dengan kuat.
Raka langsung berjalan keluar dari kamar tanpa memperhatikan wajah Nadia yang terlihat kaget dan sedih.
“Mas, makan dulu,” ucap Nadia cepat sambil mencoba menahan langkah suaminya yang terus berjalan.
“Malas,” jawab Raka singkat tanpa menghentikan langkahnya sedikit pun.
“Kenapa?” tanya Nadia lagi dengan suara pelan yang terdengar semakin lemah.
“Karena kamu bawel,” jawab Raka sambil menatap Nadia dengan wajah kesal.
“Tapi aku udah masak makanan kesukaan Mas dari tadi,” ucap Nadia dengan suara yang mulai bergetar.
“Buang aja,” jawab Raka tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Kalimat itu terasa menghantam dada Nadia begitu keras sampai membuat napasnya terasa tercekat mendadak.
Tenggorokannya terasa kering dan dia bahkan nggak sanggup mengatakan apa pun setelah mendengar ucapan itu.
.
melawan itu perlu demi kewarasan..kesehatan mental biar g jadi orang yg lemah ...aq paling benci kli melihat orang diam kli di singgung di kata katai mkinya klo mertua yg ngatai..langsung q lawan..g ada istilah mertua julid hatus di hormati..yg ada harus dihindari biar sehat jiwa raga
selamat berkarya Thor ditunggu cerita seru selanjutnya....tetap semangat Thor 💪💪