Apa yang paling menyakitkan dari pengkhianatan?
Bukan saat musuh menusukmu dari belakang, tapi saat orang yang kau anggap saudara justru merebut duniamu.
Kinanti harus menelan kenyataan pahit bahwa suaminya, Arkan, telah menikahi sahabatnya sendiri yang bernama Alana, di belakang punggungnya. Kini, dengan kehadiran anak di rahim Alana, Kinanti dipaksa untuk berbagi segalanya.
Tapi, Kinanti bukan wanita yang akan diam saja. Jika mereka ingin berbagi, Kinanti akan memastikan mereka menyesali keputusan itu.
Kita simak kisah selanjutnya di Cerita Novel => Duri Dalam Pernikahan.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 13
Beberapa hari kemudian...
Dinding kontrakan itu sempit dan lembap, hanya beralaskan tikar pandan yang sudah mulai robek di bagian pinggirnya. Aroma minyak telon murahan bercampur dengan bau apak dari atap yang bocor.
Di sudut ruangan, Alana duduk meringkuk, matanya kosong menatap bayi kecil yang sedang menangis kehausan di dalam balutan kain lampin yang kusam.
Arkan berdiri mematung di ambang pintu. Pria yang baru saja kembali dengan gelar "Manajer Proyek Terbaik" itu merasa seperti orang asing di tengah kemelaratan ini. Jas mahalnya terasa sangat berat, seolah-olah beban emas yang ia pakai justru mengolok-olok penderitaan wanita di depannya.
"Alana... aku datang," suara Arkan serak, hampir tenggelam oleh suara tangis bayi.
Alana tidak menoleh. Rambutnya yang dulu selalu tertata rapi di salon ternama, kini lepek dan berantakan. "Untuk apa? Mau melihat betapa hebatnya Kinanti menghancurkanku? Atau mau memamerkan jam tangan barumu yang dibelikan oleh istrimu yang mulia itu?"
"Aku membawakan susu, popok, dan... sedikit uang," Arkan mencoba melangkah mendekat, namun Alana tiba-tiba bangkit dengan tenaga yang entah datang dari mana.
"Simpan uangmu, Arkan! Aku tidak butuh sisa-sisa belas kasihan dari budak Kinanti!" teriak Alana histris.
Ia meraih bayinya, mendekapnya dengan sangat erat seolah Arkan adalah predator yang akan mencuri nyawa anaknya.
Tepat saat itu, suara langkah kaki yang tenang dan berwibawa terdengar dari arah teras rumah. Pintu yang sudah rapuh itu terbuka lebar, dan sosok Kinanti muncul dengan keanggunan yang mengintimidasi.
Ia mengenakan setelan berwarna krem yang bersih, tampak sangat kontras dengan lantai semen yang berdebu.
"Biarkan dia bicara, Alana. Karena mungkin ini adalah kesempatan terakhirmu untuk tetap hidup," ujar Kinanti tenang.
Arkan tersentak. "Kin, kenapa kamu di sini?"
Kinanti tidak menjawab Arkan. Matanya tertuju pada bayi yang mulai membiru karena terus menangis.
"Bayi itu butuh perawatan medis. Nafasnya pendek, kulitnya kuning. Kamu tahu itu, kan, Alana? Kamu tidak punya uang untuk membawanya ke rumah sakit swasta. Bahkan untuk membayar bidan desa ini saja, kamu harus berutang."
Alana menggigit bibir bawahnya, air mata mulai mengalir deras. "Aku akan berusaha... aku akan mencari kerja."
"Kerja apa? Dengan kondisi mentalmu yang tidak stabil dan catatan kepolisian karena keributan di motel?" Kinanti melangkah maju, membuka tas tangannya yang seharga satu unit rumah di pinggiran kota. Ia mengeluarkan sebuah map biru.
"Aku punya tawaran. Kemanusiaan, seperti yang sering Arkan katakan," Kinanti meletakkan map itu di atas meja kayu yang goyang. "Aku akan menanggung seluruh biaya rumah sakit terbaik untuk bayi ini. Dia akan mendapatkan dokter spesialis, kamar VIP, dan masa depan yang terjamin. Dia akan menjadi ahli waris sah di bawah kendaliku."
Alana menatap map itu dengan curiga. "Syaratnya?"
Kinanti menatap mata Alana dengan tajam, tanpa ada setitik pun keraguan. "Serahkan hak asuh sepenuhnya kepadaku. Secara hukum, bayi ini akan menjadi anakku. Kamu harus menandatangani surat pelepasan hak ibu. Setelah itu, kamu harus pergi dari kota ini dan jangan pernah berani menampakkan wajahmu lagi di depan anak ini."
Ruangan itu seketika hening. Arkan terbelalak. "Kin! Itu terlalu kejam! Dia ibunya!"
"Ibu yang membiarkan anaknya mati karena ego?" potong Kinanti dingin. "Pilih, Alana. Biarkan dia tumbuh sebagai pangeran di rumahku, atau biarkan dia mati dalam kemelaratan bersamamu di sini. Jam terus berdetak. Nafas bayi itu semakin sesak."
Alana menatap bayinya, lalu menatap Kinanti. Ia melihat sebuah jurang yang dalam di depannya. Di satu sisi, ia sangat mencintai darah dagingnya. Di sisi lain, ia sadar bahwa cintanya saat ini adalah racun yang bisa membunuh anaknya sendiri.
"Kamu... kamu akan merawatnya dengan baik?" tanya Alana dengan suara yang nyaris hilang.
"Dia akan memiliki segalanya yang tidak bisa kamu berikan," jawab Kinanti. "Tapi dia tidak akan pernah tahu bahwa ibunya adalah seorang wanita yang pernah mencoba menghancurkan keluargaku."
Arkan hanya bisa tertunduk. Ia merasa sangat tidak berguna. Pria yang menganggap dirinya sukses di lapangan proyek itu kini hanya menjadi saksi bisu transaksi sebuah nyawa.
Alana meraih pulpen yang diletakkan Kinanti. Tangannya gemetar sehebat gempa bumi. Dengan isakan yang menyayat hati, ia menggoreskan tanda tangan di atas materai. Saat itu juga, dunianya benar-benar berakhir.
"Bawa dia," bisik Alana sambil menyerahkan bayinya yang lemas ke arah Kinanti.
Kinanti menerima bayi itu dengan canggung, ia bukan wanita yang hangat namun ia mendekapnya dengan posesif. Ia menoleh pada Arkan. "Panggil sopir. Bawa bayi ini ke Rumah Sakit Medika sekarang."
Arkan segera bergerak. Sebelum keluar, ia menoleh pada Alana yang kini jatuh terduduk di lantai, menangis tanpa suara. Namun, Arkan tidak berani berhenti. Ia harus mengikuti Kinanti, karena Kinanti adalah pemilik hidupnya sekarang.
Kinanti berjalan keluar dengan kepala tegak. Di dalam dekapannya, bayi itu adalah piala kemenangannya yang paling mutlak. Ia tidak hanya memenangkan harta dan suami, tapi ia baru saja merampas masa depan dari wanita yang paling ia benci.
Di belakangnya, rumah kontrakan itu kembali sunyi. Alana tinggal sendirian dalam kegelapan, menyadari bahwa penyesalan adalah neraka yang ia bangun sendiri, batu demi batu, sejak ia memutuskan untuk menggoda suami orang lain.
jng sampai pezina Dan pelakor menang. mereka hrs ttp di injak kinanti.
berarti yudha mendukung per selingkuh an dong, wah semoga ikut dpt karma km yudha.
nnti kl Arjuna sdh besar Dan tau semua bilang saja ibu kandung mu Alana wanita murahan, ngangkang ma laki orang jd pelakor yakin lah Arjuna akn malu krn anak hasil zina 🤣 alias anak haram 🤣
jelas kinanti dadi moster Wong koe selingkuh kr konco ne. Wong ra sadar diri.
mkne kondosikan burung mu itu arkan jng masuk Goa pelakor.
pingin Kaya Raya Dua istri.
Wes selingkuh tp gk ngroso Salah.
Arkan itu ingine hidup mewah dng Istri sah Dan pelakor e iuhhh mnjijikkan.
Dan Satu lagi pelakor Alana juga gk tobat mlh ingin balas dendam. aneh pelakor kalah kok sakit hati.
Arkan Dan Alana itu ciri ciri manusia gk punya hati, dah selengki tp merasa korban waktu di balas kinanti. tp pas bhgia gk ingat nyakiti hati kinanti.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.
apalagi Arkan gk bisa move on Dr Alana.