Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.
Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.
Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10
Kamar Adiba terasa senyap setelah gema adzan Isya berlalu. Di rumahnya sendiri, Fadhlan mengembuskan napas berat, merebahkan tubuh tegapnya di atas ranjang king size. Pikirannya tidak tenang setelah berbincang lama, via telepon dengan Ummi Salwa dan Abi Musthofa. Mengetahui Syifa menginap di rumah Adiba dengan kondisi emosi tak stabil membuatnya didera rasa bersalah.
Fadhlan meraih ponselnya di atas nakas, mengetik sebuah pesan singkat dengan jemari yang mendadak kaku.
[Fadhlan] : "Assalamu'alaikum. Sedang di mana?"
Di seberang sana, ponsel Syifa yang diletakkan di atas karpet bergetar. Layarnya menyala, menampilkan nama kontak yang membuat dada Syifa sesak. Jihan yang melihat pesan itu langsung menyambar ponsel tersebut dengan mata menyala. Tanpa meminta izin, dia menekan tombol panggilan dan mengaktifkan loudspeaker.
"Halo, assalamu'alaikum?" Suara berat Fadhlan menyapa, ada nada lega yang terselip.
"Wa'alaikumussalam. Maaf ya, Pak Fadhlan yang terhormat. Maaf kalau saya lancang." Suara Jihan menggelegar, ketus tanpa saringan.
"Saya Jihan Salsabila. Malam ini, saya bukan sedang berbicara sebagai mahasiswi kepada dosennya, tapi sebagai seorang sahabat kepada seorang pria!"
"Jihan... pelankan suaramu, nanti Abi dengar dari bawah!" Adiba panik, menyenggol lengan Jihan dan berbisik.
Jihan mengabaikan Adiba, dan lanjut mengomel "Anda sudah membuat sahabat terbaik saya menangis semalaman! Oh, bukan cuma itu, dia sampai tidak selera makan, matanya sembab, bibirnya pucat! Jadi tolong, jangan hubungi Syifa atau kirim pesan dulu. Syifa merasa sudah dibohongi!"
Hening sejenak di seberang telepon, lalu Fadhlan menjawab dengan suara datar yang tak terbaca "Di mana Syifa?"
"Syifa sedang mencari calon suami baru yang nggak hobi rahasia-rahasiaan!" Gertak Jihan telak.
Fadhlan suaranya naik satu oktaf, memberi penekanan dingin "Saya tanya sekali lagi. Di mana Syifa?"
Mendengar ketegasan Fadhlan yang mulai tersulut amarah dosennya, Syifa tidak bisa tinggal diam. Dia menarik ponsel itu dari genggaman Jihan, menempelkannya ke telinga dengan napas yang tertahan.
"Maaf sebelumnya, Pak. Tapi di mana saya berada, itu sudah tidak penting lagi untuk Anda." ketus Syifa.
"Penting! Karena saya calon suami kamu." Tekan Fadhlan pada kata 'calon suami', terdengar posesif mutlak.
"Anda masih bisa mengatakan itu setelah bertemu seseorang kemarin? Mungkin sebaiknya Anda selesaikan dulu permasalahan dengan masa lalu Anda, Pak. Supaya ketika Anda berniat memulai hidup dengan orang baru, tidak ada lagi hal yang menghantui perasaan Anda." Jelas Syifa, suaranya bergetar hebat menahan tangis namun nadanya sedingin es.
"Syif, sabar... atur napasmu." Adiba mengusap lembut punggung Syifa.
Jihan di sampingnya melongo, lalu memberikan tepuk tangan tanpa suara, kagum melihat Syifa yang biasanya penurut bisa seberani itu mendepak ego sang dosen killer. Di seberang telepon, Fadhlan justru tertegun.
"Kamu melihatnya? Lalu... apa yang membuat kamu begitu yakin kalau wanita itu adalah masa lalu saya, hm?" Suara Fadhlan mendadak melembut, ada nada geli yang tersembunyi.
"Ya, saya melihat Anda dengan wanita itu di depan panti asuhan. Tersenyum sehangat itu dengan lawan jenis, kalau bukan karena ada sesuatu yang spesial, lalu apa? Setahu saya, Anda tidak punya kakak atau adik kandung perempuan!"
Di kamarnya, sudut bibir Fadhlan menyunggingkan senyuman lebar. Rasa gusarnya menguap, digantikan perasaan hangat yang menggelitik dadanya.
"Apa sekarang... kamu sedang cemburu? Atau jangan-jangan, kamu sudah mulai jatuh cinta dengan calon suamimu ini, hm?" Goda Fadhlan dengan nada rendah yang lembut.
Seketika wajah Syifa memerah padam hingga ke leher. Sadar bahwa Jihan dan Adiba ikut menyimak karena jarak mereka dekat, Syifa langsung mematikan mode loudspeaker dengan panik. Jihan dan Adiba yang sempat mendengar kata-kata terakhir Fadhlan langsung saling pandang dengan mulut menganga, syok melihat sisi lain dosen killer mereka yang ternyata bisa menggoda dengan begitu lihai.
"Se-sesungguhnya... tidak ada cinta yang pasti sebelum akad nikah terucap, Pak!" Suaranya mencicit, menahan malu yang luar biasa.
"Ya, saya tahu. Lantas saya ingin bertanya, apa definisi cinta menurut kamu?"
Syifa menarik napas dalam, mencoba menguasai diri "Berbicara tentang cinta, artinya berbicara tentang sesuatu yang tidak akan pernah habis untuk dibahas. Cinta tidak akan bisa diungkapkan hanya dengan kata-kata. Cinta hanya bisa dipraktikkan agar bisa diketahui dan dirasakan. Cinta tidaklah ditulis di atas kertas, karena kertas dapat terhapus oleh waktu. Dan tidak pula terukir di atas batu, karena batu dapat pecah. Cinta distigmatisasi di dalam hati, dan tetap abadi selamanya."
Terdengar ketukan jemari Fadhlan di meja nakas, terkesan dengan jawaban calon istrinya "Menarik. Pemikiran yang indah dari Kitab Fihi Ma Fihi karya Imam Jalaluddin Rumi. Besok saya akan ke rumah, menyelesaikan kesalahpahaman ini. Sudah larut malam, jangan lupa istirahat. Assalamu'alaikum."
"Tunggu, hmm... Wa'alaikumussalam."
Sambungan terputus. Syifa perlahan menurunkan ponselnya, dadanya naik turun menguras napas. Detik berikutnya, air matanya kembali menetes. Adiba langsung menghambur memeluk sahabatnya itu dengan erat.
"Aku tidak mau Kakek tahu masalah ini, Diba... Aku takut membuat kakek kecewa atau kepikiran."
"Sabar ya, Syif... Kamu kuat. Perjodohan itu memang awalnya tidak pernah mudah untuk diterima, penuh dengan ujian prasangka."
Jihan ikut memeluk mereka berdua dari belakang "Kita akan selalu ada untukmu, Syifa. Pokoknya apa pun yang terjadi, kita hadapi bareng-bareng."
...----------------...
Keesokan harinya, karena tidak ada jadwal kuliah, ketiga sahabat itu memantapkan niat untuk pergi ke panti asuhan tempat Fadhlan berkunjung kemarin. Menggunakan transportasi online, mereka tiba di sebuah bangunan panti yang sederhana namun terawat rapi.
Mereka disambut hangat oleh seorang wanita yang seumuran dengan Tante Silvi. Mereka dipersilahkan duduk di ruang tamu yang sejuk.
"Mohon maaf kalau kedatangan kami mendadak dan mengganggu waktu Ibu. Perkenalkan, nama saya Syifa, dan ini sahabat-sahabat saya, Adiba dan Jihan." Syifa mengenalkan diri.
"Tidak, Nak. Tidak sama sekali, panti ini selalu terbuka untuk siapa saja. Oh iya Nak Syifa, panggil saja Ibu Sarah. Ngomong-ngomong, ada yang bisa Ibu bantu?"
"Em... begini, Bu Sarah. Saya mau bertanya, apakah Ibu kenal dengan pria di foto ini?" Syifa menyodorkan layar ponselnya yang menampilkan foto Fadhlan mengenakan kemeja formal.
Seketika tersenyum ramah, matanya berbinar "Ah, iya! Ibu sangat, sangat mengenalnya. Nak Fadhlan itu bagian dari panti asuhan ini."
Tiba-tiba, seorang wanita muda berjalan dari arah dapur menuju ruang tamu. Langkahnya anggun, membawa nampan berisikan cangkir teh dan beberapa piring jajanan ringan. Syifa menahan napas. Jantungnya berdegup kencang. Wanita itu... tidak salah lagi, adalah wanita yang kemarin berjalan beriringan sambil tersenyum manis di samping Fadhlan.
"Silahkan diminum, Kak." Ucap wanita itu dengan senyuman tulus yang teramat ramah, lalu mengambil posisi duduk di samping Bu Sarah.
Menyadari pandangan Syifa dan teman-temannya yang tertuju pada putrinya "Oh ya, perkenalkan, ini putri Ibu. Namanya Nafisah."
Mengulas senyum yang dipaksakan, menyenggol kaki Adiba di bawah meja "Masya Allah... namanya cantik ya, Bu."
Sekilas, bayangan kedekatan Nafisah dan Fadhlan kemarin kembali menari-nari di benak Syifa, memercikkan rasa nyeri yang asing di dadanya. 'Kuatkan hati hamba, Ya Rabb...' batin Syifa mencoba menenangkan diri, jemarinya meremas tas di bawah meja.
"Ayo, silakan diminum, Nak. Jangan sungkan."
Adiba melirik Syifa yang mendadak linglung dan terdiam "Iya, Bu, terima kasih banyak."
...****************...