Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.
Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.
Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10
Aroma pandan, melati, dan bumbu dapur yang pekat menguar dari arah belakang kediaman Abi Musthofa malam itu. Ruang tengah hingga halaman sudah dipenuhi sanak saudara yang baru berdatangan dari luar kota, berbaur dengan tetangga yang cekatan membungkus jajanan. Riuh rendah obrolan dan tawa menciptakan kehangatan khas malam sebelum hajatan besar.
Di dalam kamar, suasananya tidak kalah ramai. Jihan dan Adiba memutuskan menginap untuk menemani Syifa melewati malam terakhirnya sebagai seorang gadis lajang atau sering disebut 'malam midodareni' dalam adat Jawa.
"Ciee... yang sebentar lagi statusnya sold out!" ledek Jihan, menyenggol bahu Syifa yang sedang merapikan mukenanya di atas kasur.
Syifa hanya menyunggingkan senyum tipis, menyembunyikan gemuruh aneh di dadanya. "Apa sih, Jihan. Jangan mulai deh."
Adiba yang sedang melipat sajadah ikut tersenyum menggoda. "Gugup enggak, Syif, mau nikah sama Pak Fadhlan besok pagi?"
"Hmm... biasa aja," jawab Syifa ketus, berpura-pura sibuk merapikan seprai.
"Ah, yang bener?" Jihan mencondongkan badannya dengan mata berkedip-kedip jahil. "Besok selesai acara resepsi, ada malam pertama loh..."
Syifa menaikkan sebelah alisnya, mencoba terlihat tegar. "Terus kenapa?"
"Ya kamu bakal di-unboxing lah, woi, sama pak dosen!" Jihan seketika cekikikan, menepuk pundak Syifa dengan heboh.
"Bayangin, berduaan di kamar sama pak dosen yang selalu kamu bilang kulkas dua puluh pintu itu. Wah, kira-kira berubah jadi hangat enggak ya?"
"Jihan!" Wajah Syifa seketika merah padam hingga ke telinga. Ia melempar bantal kecil tepat ke wajah Jihan, yang disambut tawa terpingkal-pingkal oleh sahabatnya itu.
"Eh, tapi Syif," Adiba menimpali, kali ini nadanya sedikit lebih serius namun tetap lembut, "Nanti kalau sudah sah, kamu enggak boleh menolak ajakan suami untuk ibadah yang satu itu loh. Dosa besar."
"Hehe, iya Ustadzah Adiba... paham," cicit Syifa, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan karena tidak kuat menahan malu terus-menerus digoda. "Tapi tolong, jangan bahas itu sekarang, oke? Tensi darahku bisa naik sebelum akad."
Demi mengalihkan perhatian, Syifa meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Begitu layar menyala, ia tertegun. Ada tiga panggilan tidak terjawab dari satu nama: Pak Fadhlan.
"Kenapa malah telepon sih? Kan Ummi sudah bilang enggak boleh komunikasi dulu..." gumam Syifa lirih, melupakan keberadaan kedua sahabatnya.
"Siapa?" tanya Adiba dan Jihan serempak, mata mereka langsung berbinar penuh selidik.
Syifa tersentak, cepat-cepat membalikkan layar ponselnya ke kasur. "Enggak ada apa-apa, hehe."
"Pak dosen, ya?" tebak Jihan jeli, langsung menyenggol lengan Adiba. "Telepon balik, Syif! Mungkin beliau kangen berat. Secara, besok kan udah jadi milik kamu seutuhnya."
Syifa menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Menuruti saran Jihan sama saja dengan bunuh diri; ia pasti akan menjadi bahan ledekan semalaman suntuk.
...----------------...
Larut malam, rumah perlahan mulai tenang. Tamu dan tetangga sudah pulang, menyisakan kerabat dekat yang beristirahat. Jihan dan Adiba pun sudah pindah untuk tidur di kamar Tasya, adik Syifa.
Di kamarnya yang sunyi, Syifa duduk di tepi ranjang. Ia baru saja selesai membaca pesan singkat dari Fadhlan yang menanyakan mengapa teleponnya tidak diangkat. Belum sempat ia mengetik balasan, benda pipih di tangannya kembali bergetar kencang. Layarnya menampilkan nama pria itu lagi.
Merasa tidak enak hati jika harus mengabaikannya lagi, Syifa mengembuskan napas pelan lalu menggeser tombol hijau. Ia menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Assalamu'alaikum. Kenapa tidak diangkat telepon dari saya sejak sore?" Suara bariton Fadhlan mengudara di seberang sana, terdengar berat namun ada nada kecemasan yang halus.
"Wa'alaikumussalam. Maaf, Pak... di rumah sedang ramai banyak orang. Lagi pula, Ummi kan bilang kita tidak boleh komunikasi dulu sebelum akad," jawab Syifa pelan, suaranya berbisik agar tidak terdengar ke luar kamar.
Terdengar helaan napas pendek dari seberang. "Astaghfirullah. Maaf, saya lupa," jawab Fadhlan dengan nada yang melembut, kehilangan ketegasannya sebagai dosen di kampus.
"Ya sudah. Kalau begitu, saya tutup teleponnya ya, Pak?"
"Hm, tunggu!" sergah Fadhlan cepat. Suaranya mendadak tertahan. "Itu... saya—" Pria itu terdengar gugup, sesuatu yang sangat jarang terjadi.
Syifa mengernyitkan dahi. "Kenapa, Pak?"
"Ekhem. Tidak ada apa-apa," Fadhlan berdeham, mencoba menetralkan suaranya. "Hanya... ingin mengobrol sejenak. Saya kesepian di rumah. Di rumah Abi pasti sangat ramai, ya?"
Syifa terdiam. Kalimat "Saya kesepian" yang diucapkan Fadhlan entah kenapa terdengar begitu rapuh di telinganya. "Iya, Pak. Ramai sekali. Keluarga besar Kakek dari luar kota sudah datang semua."
Hening menjeda obrolan mereka selama beberapa saat. Syifa meremas ujung selimutnya. Kasihan juga mendengar dia kesepian di rumah sebesar itu sendirian... 'Apa Pak Fadhlan sedang merindukan orang tua dan kakeknya ya?' batin Syifa, sudut hatinya mendadak tersentuh.
"Halo?" suara Fadhlan memastikan karena Syifa terlalu lama diam.
"Hm, itu kalau Bapak sudah mengantuk, tidur saja," gurau Syifa, mencoba mencairkan atmosfer canggung di antara mereka.
"Tidak. Saya tidak bisa tidur," sahut Fadhlan. Nadanya mendadak turun beberapa oktav, menyiratkan kegetiran yang mendalam. "Saya... sedang rindu sekali dengan Abi, Ummi, juga Kakek Nizar. Kalau mereka masih ada di sini bersama saya... pasti rumah ini juga akan ramai seperti di situ. Mereka pasti akan sangat bahagia kalau tahu saya akan menikah besok pagi."
DEG.
Dada Syifa mendadak sesak. Tebakannya benar. Di balik sosoknya yang selalu terlihat tegap, dingin, dan mandiri sebagai pewaris tunggal Ganendra, Fadhlan hanyalah seorang anak yatim piatu yang merindukan pelukan hangat keluarganya di momen paling krusial dalam hidupnya.
Syifa menghembuskan nafas pelan, mencoba menyalurkan ketenangan lewat suaranya. "Ehmm...kalau kita sedang merindukan orang yang telah mendahului kita, jangan lupa untuk mengirimkan surat Al-Fatihah untuk beliau. Insya Allah, hati akan terasa sedikit lebih tenang. Ummi, Abi, dan Kakek Nizar... mereka semua Insyaa Allah sudah bahagia di sana melihat njenengan akan menikah besok, Pak."
Di seberang telepon, Fadhlan tertegun mendengar penuturan lembut Syifa. Kata 'njenengan' yang meluncur dari bibir gadis itu terasa begitu magis di hatinya.
"Menikah... dengan wanita yang saya cintai?" tanya Fadhlan lirih, nyaris seperti bisikan untuk dirinya sendiri, namun gema kalimat itu tertangkap jelas oleh indra pendengaran Syifa.
Jantung Syifa melewatkan satu detakan. 'Wanita yang dia cintai? Siapa? A-aku? Eh, jangan terlalu percaya diri, Syif! Kamu kan baru kenal dia dua minggu,' batin Syifa berperang dengan logikanya sendiri, sementara pipinya mendadak memanas.
Sadar suasananya menjadi terlalu intim, Fadhlan cepat-cepat berdeham dan mengalihkan pembicaraan. "Sebenarnya... saya merasa sedikit gugup untuk besok pagi. Kalau kamu bagaimana?"
"Sedikit, Pak. Makanya, ini sudah malam, baiknya Bapak istirahat lebih awal supaya besok tidak kesiangan," jawab Syifa formal.
"Iya, Dek. Kamu juga ya, supaya besok matanya tidak mengantuk," jawab Fadhlan spontan, tanpa sadar mengubah panggilan formalnya menjadi sebuah kata pendek yang manis: Dek.
"Hmm? Y-ya sudah, saya mau tidur. Bapak juga jangan lupa istirahat," ujar Syifa terbata, kegugupannya kini naik dua kali lipat akibat panggilan itu.
Tepat saat itu, suara ketukan pintu terdengar, disusul munculnya sosok Ummi Salwa di ambang pintu kamar. "Siapa yang telepon, Nduk? Sudah malam sekali. Kenapa kamu belum tidur?"
Syifa tersentak kaget, refleks menjauhkan ponsel dari telinganya. "Anu, Mi... ini, Nafisah yang telepon, nanya-nanya soal baju besok," jawab Syifa spontan, terpaksa berbohong.
Ummi Salwa menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum maklum. "Ya sudah, kalau sudah selesai ngobrolnya, segera tidur ya. Pengantin tidak boleh begadang."
"Nggih, Ummi."
Setelah Ummi Salwa menutup pintu, Syifa kembali menempelkan ponselnya ke telinga dengan perasaan dongkol. Di seberang sana, terdengar suara kekehan pelan yang tertahan dari Fadhlan. Pria itu jelas mendengar seluruh percakapan Syifa dengan ibunya.
"Besok saya adukan ke Ummi kalau kamu sudah berbohong malam ini," ledek Fadhlan jahil.
Syifa mendengus kesal. "Hmm, mengadu saja sana ke Ummi. Paling bukan cuma saya yang dimarahi, tapi Bapak juga bakal kena marah."
Fadhlan kembali terkekeh, suara tawa yang terdengar begitu tulus dan hangat. "Ya sudah, saya tutup teleponnya. Jangan begadang, Syifa."
"Saya tidak hobi begadang. Mungkin yang hobi begadang itu Anda, Pak Fadhlan Ganendra."
"Ya, baiklah. Saya tidak akan begadang untuk malam ini. Wassalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam warahmatullah..."
Panggilan terputus. Syifa menatap layar ponselnya yang menggelap dengan perasaan campur aduk. Obrolan mereka memang masih terasa begitu canggung, dibatasi oleh sekat-sekat formalitas dosen dan mahasiswi. Syifa selalu bingung harus mencari topik apa lagi agar suasana mencair.
Namun bagi Fadhlan, obrolan singkat itu sudah lebih dari cukup untuk menenangkan debaran dadanya yang menggila menyambut hari esok. Di dalam kamar kerjanya yang sepi, Fadhlan menatap foto masa kecilnya. Ada rasa rindu yang membuncah. Ia sudah sangat ingin mengatakan kepada Syifa betapa ia merindukannya, ingin mengajaknya bersenda gurau tanpa sekat, dan menghabiskan waktu bersama seperti saat Syifa masih kecil dulu sebelum takdir merenggut ingatan gadis itu.
...----------------...
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba.
Ruang tamu hingga halaman luas kediaman Abi Musthofa telah disulap bak aula gedung mewah dengan dekorasi bertema white and lilac. Untaian bunga melati segar menggantung di beberapa sudut, menyebarkan aroma semerbak khas pernikahan yang sakral. Berbagai menu hidangan lezat sudah tertata rapi, siap menyambut para tamu undangan.
Di dalam kamar pengantin pengantin, Syifa duduk terpaku di depan cermin besar. Prosesi rias baru saja selesai. Syifa tampak begitu memukau dalam balutan gaun pengantin muslimah putih simple namun sangat elegan. Hijab syar'inya yang menutup dada dihiasi ronce melati yang menjuntai anggun, lengkap dengan mahkota kecil berkilau di atas kepalanya. Siapa pun yang melihatnya pasti akan berdecak kagum atas pesona alaminya yang keluar hari ini.
"Ya Allah, Syifa... ih, cantik banget! Masya Allah tabarakallah!" Jihan yang sejak tadi mendampingi langsung heboh, menutup mulutnya tak percaya.
"Beda banget ya, Kak Adiba... seperti bukan Kak Syifa," imbuh Tasya, adik perempuan Syifa, ikut memuji dengan mata berbinar.
Syifa hanya tersenyum malu, menatap pantulan dirinya di cermin yang terasa asing. Di dalam dadanya, jantungnya berdegup begitu kencang hingga tangannya mendadak dingin.
Adiba melangkah mendekat, lalu menggenggam lembut tangan Syifa yang terasa sekaku es. "Tenang, Syif... tarik napas dalam-dalam. Perbanyak baca sholawat dan istighfar di dalam hati ya, biar gugupnya hilang."
Syifa mengangguk pelan, mencoba meyakinkan para sahabatnya melalui tatapan mata bahwa ia baik-baik saja, walau sebenarnya ia merasa ingin pingsan saat itu juga.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka, menampilkan sosok Kakek Ali yang berjalan perlahan dengan tongkatnya. Begitu melihat cucu perempuannya yang sudah anggun berpakaian pengantin, langkah kaki Kakek Ali terhenti. Matanya seketika berkaca-kaca.
"Kakek..." sapa Syifa, langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri sang kakek dengan senyum tulus.
"Masya Allah... cantiknya cucu Kakek," ucap Kakek Ali, suaranya bergetar menahan haru yang membuncah. Beliau mengusap lembut puncak kepala Syifa yang tertutup jilbab. "Terima kasih ya, Nak. Kamu memang anak yang baik. Terima kasih sudah mau mewujudkan keinginan terakhir Kakek dan mendiang Kakek Nizar." Setitik air mata akhirnya lolos membasahi pipi keriputnya.
Melihat kakeknya menangis, pertahanan Syifa runtuh. Ia melangkah maju, memeluk tubuh ringkih Kakek Ali dengan erat, menumpahkan rasa haru yang menjalar di dadanya. "Kakek jangan bicara begitu. Syifa bahagia kok melakukannya. Yang terpenting sekarang Kakek harus selalu sehat, ya?"
Kakek Ali melepaskan pelukannya perlahan, lalu menatap lekat kedua netra cucunya. "Iya, Nduk. Nanti... kalaupun Kakek sudah tidak ada umur lagi di dunia ini, Kakek minta satu hal sama kamu. Jangan sampai kamu berpisah dengan Nak Fadhlan, ya? Dia sangat menyayangimu, Nak. Tolong, jangan pernah berpisah dengannya... Kakek tidak ingin memisahkan kalian berdua lagi."
Syifa tertegun di tempatnya. Dahinya berkerut tipis. 'Memisahkan kita berdua lagi? Maksud Kakek apa? Kan kami baru saling kenal dua minggu yang lalu karena perjodohan ini?' Pertanyaan itu berputar-putar di dalam benak Syifa, memicu rasa heran yang mendalam. Namun, melihat kondisi kakeknya yang emosional, Syifa memilih menepis egonya.
"Ehmm... Kakek. Insya Allah tidak, Kek. Syifa dan Mas Fadhlan akan selalu ingat semua pesan Kakek," jawab Syifa, mencoba menenangkan sambil tersenyum manis. "Kakek jangan sedih lagi ah, nanti riasan Syifa luntur karena ikut nangis, hehe."
Reyhani, adik laki-laki Syifa yang berdiri tegap mendampingi Kakek di belakang, akhirnya bersuara demi mencairkan suasana. "Ayo, Kek... kita tunggu di luar saja. Sebentar lagi rombongan pengantin pria sampai. Kita langsung bersiap ikut ke masjid untuk menyaksikan akad nikah Kak Fadhlan dan Kak Syifa."
Kakek Ali mengangguk, lalu berjalan perlahan keluar ruangan dituntun oleh Raihan.
...----------------...
Tak berselang lama setelah Kakek Ali keluar, deru suara mesin mobil yang bertenaga besar terdengar berhenti tepat di depan pintu gerbang utama. Beberapa mobil mewah berjejer rapi, memecah keheningan jalanan di depan rumah Syifa.
Di barisan paling depan, sebuah mobil Lamborghini Urus hitam metalik milik Fadhlan tampak mendominasi. Aidan keluar dari pintu kemudi dengan setelan jas rapi, sementara dari kursi penumpang, Fadhlan melangkah turun. Pria itu tampak begitu gagah, berwibawa, dan sangat tampan dalam balutan setelan jas pengantin putih bersih. Di belakangnya, Paman Romi dan Haikal ikut turun mendampingi sebagai wali.
Sementara itu, di mobil belakang, Tante Silvi, Tante Sarah, dan Nafisah tampak turun dibantu oleh Salim dan Alwi yang membawa seserahan baki-baki hiasan yang mewah.
Jihan yang penasaran setengah mati sejak tadi sudah menempelkan wajahnya di kaca jendela teras, mengintip dengan mata berbinar-binar. Ia langsung berbalik dan berbisik heboh pada Adiba.
"Betul kan, Diba! Pak dosen itu emang bukan orang biasa!" bisik Jihan berapi-api. "Lihat tuh, rombongannya aja pakai mobil milyaran semua! Meleleh gue lihat ketampanan Pak Fadhlan hari ini."
Adiba langsung menarik lengan baju Jihan menjauh dari jendela sambil menggelengkan kepala. "Ssttt... Jihan, jangan kepo begitu. Nanti terdengar sama rombongan keluarga di luar, kan malu-maluin. Yuk, mending kita masuk lagi, temenin Syifa di dalam. Waktunya akad sudah tiba."
...----------------...
Pagi itu, matahari bersinar begitu cerah, seolah ikut merestui hajat besar yang tengah berlangsung. Dari pelataran masjid, Fadhlan melangkah turun dari mobil Lamborghini Urus-nya. Sosoknya tampak begitu gagah dan memukau dalam balutan setelan jas pengantin putih bersih, dan peci senada yang membingkai wajah tegasnya.
Di bawah tatapan kagum dari seluruh kerabat dan tetangga yang memadati area masjid, Fadhlan berjalan dengan langkah mantap. Ia didampingi oleh Paman Romi, Aidan, Haikal, Salim, dan Alwi yang berjalan beriringan di belakangnya, membentuk barisan groomsmen yang berwibawa.
Tepat pukul 09.00 pagi, atmosfer di dalam masjid seketika berubah menjadi sunyi dan sakral. Fadhlan duduk bersila di depan meja akad, berhadapan langsung dengan Abi Musthofa yang bertindak sebagai wali nikah. Di samping mereka, saksi-saksi dan para pemuka agama telah siap.
Abi Musthofa menarik napas dalam, menatap lekat pemuda di hadapannya, putra dari sahabat dekatnya, Fadhil Ganendra. Dengan tangan yang saling menjabat erat, Abi Musthofa memulai kalimat yang akan mengubah takdir dua insan tersebut.
"Bismillahirrahmanirrahim... Ya Muhammad Fadhlan Ganendra bin Fadhil Ganendra."
"Na'am Abi, saya," jawab Fadhlan. Suaranya terdengar bariton, tenang, namun sarat akan ketegasan yang mutlak.
"Ankahtuka wazawwajtuka makhtubataka binti Asyifa Humaira alal mahri wahid bilyun rupiah haalan."
(Aku nikahkan engkau, dan aku kawinkan engkau dengan pinanganmu, putriku Asyifa Humaira dengan mahar satu miliar rupiah dibayar tunai).
Tanpa ada jeda sedetik pun, dengan satu tarikan napas yang mantap, Fadhlan mengikrarkan janji sucinya.
"Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahri madzkur haalan."
(Saya terima nikah dan kawinnya dengan mahar yang telah disebutkan).
Gema kata "Sah" bergaung di dalam masjid, disusul seruan hamdalah serempak.
......................
Sementara itu, di ruang tamu rumah Abi Musthofa, suara Fadhlan yang meluncur tegas melalui pengeras suara masjid terdengar begitu jernih. Detik itu juga, pertahanan Syifa runtuh. Air matanya merembes membasahi pipi. Diapit oleh Ummi Salwa, Jihan, Adiba, dan Ummi Fatima tubuh Syifa bergetar hebat. Ia meremas kuat jemari Ummi Salwa. Perasaannya campur aduk tak karuan, ada rasa sesak yang aneh, haru yang membuncah, sekaligus kesadaran penuh bahwa sejak detik ini, seluruh hidupnya telah berpindah ke dalam genggaman pria bernama Fadhlan.
Di sudut masjid, Kakek Ali mengusap matanya yang basah dengan saputangan. "Alhamdulillah... Ya Allah, semoga Engkau menjadikan rumah tangga mereka sakinah, mawaddah, warahmah," bisiknya penuh rasa syukur.
Kakek Ali kemudian menatap langit-langit masjid, bermonolog dalam keheningan batinnya. 'Cucumu baru saja melakukan ijab kabul, Zar. Apa kamu bahagia di sana? Sekarang mereka telah dipersatukan dalam janji suci pernikahan. Mereka sudah resmi menjadi suami istri, seperti keinginan terakhirmu.'
Setelah Ustadz Taufiq memimpin do'a pernikahan yang diaminkan dengan khusyuk oleh seluruh yang hadir di sana, Fadhlan bergeser untuk menyalami Abi Musthofa, Kakek Ali, Paman Romi, Paman Andi serta sanak saudara yang lain. Kini, saatnya momen yang paling mendebarkan, mengantar sang mempelai pria menemui belahan jiwanya untuk pertama kali sebagai mahram.
...****************...