Area GxG ya~
******
Satu sekolah, beda kelas, tapi ributnya bisa tiap hari. Kara dan Narisa, dua anak SMA yang sepertinya lahir tanpa kemampuan berdamai.
Awalnya semua biasa saja. Sampai suatu hari... mereka menikah.
Iya. Menikah.
Kok bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Setelah perut kenyang dan dahaga teratasi, Harum yang pertama kali sadar waktu, "Udah mau habis istirahat. Mau masuk gak?"
Dua orang di depannya hanya mengangkat bahu.
" Sosiologi, anjir. Males banget, " keluh Narisa santai.
"Kelas kita geografi. Masuk gak?" tanya Harum pada Kara.
"Hm... masuk lah. Kelas sebelumnya gw udah bolos."
Narisa langsung mendelik. "Lah, lo berdua mau balik?"
"Lo mau lanjut di sini juga terserah," jawab Kara masa bodoh sambil berdiri.
"Gak setia kawan amat."
Kara melirik. "Emang kita teman?"
"Ya minimal partner in crime lah."
"kayak ngerti aja artinya."
Bugh.
Satu pukulan mendarat di punggung kara. Ia meringis.
"Kasar amat jadi cewek."
"Ya lo bales lah. Ayo aja gw mah."
"Nanti dibales, nangesss."
"Tipikal cewek ya, Ra," timpal Harum santai.
"Kayak lo bukan cewek aja," sembur Narisa.
Harum malah cengengesan. "Kita mah abang-abang."
Sampai di pagar belakang, pola mereka masih sama. Kara naik duluan, lalu menarik Narisa, Kali ini lebih rapi, tanpa adegan jatuh berjamaah, Sayangnya, baru beberapa langkah di lorong, mereka langsung berhenti.
Pak Kasim sudah berdiri di u jung, tangan di belakang, wajah penuh kemenangan. Ketiganya refleks mundur satu langkah, saling lirik, seperti mau cari celah kabur. Tapi suara Pak Kasim lebih dulu memotong.
"Satu langkah lagi kalian mundur, besok orang tua dipanggil."
~
Ruang Bk terasa terlalu rapi untuk ukuran mereka. Meja bersih. Kursi lurus. Udara dingin. Dan Bu Rahayu duduk dengan senyum tipis yang entah kenapa membuat tengkuk merinding.
"Silakan duduk,"
Tiga orang itu duduk dengan gaya masing- masing.
"Jadi kalian bolos lagi," ujar Bu Rahayu tenang.
Tidak ada yang menjawab.
"Menarik," lanjutnya. "Biasanya orang bolos karena ada masalah. Tapi kalian... rutin."
Harum menguap.
Narisa memainkan kuku tangannya.
Kara menatap dinding, seolah cat putih itu mendadak punya daya tarik.
"Apa pelajarannya terlalu sulit?" tanya Bu Rahayu.
Mereka masih diam,
"Atau gurunya tidak menyenangkan?"
"Gini, Bu," Kara akhirnya buka suara. "Kita bolosnya gak selalu bareng. Coba tanya dia duluan."
Narisa langsung menoleh. Tatapannya tajam, Pengkhianat. Tapi karena sudah ditunjuk, ia menghela napas kecil.
"Gimana ya, Bu." Narisa berpikir dua detik. "Namanya juga remaja. Masih proses pencarian jati diri."
Kara dan Harum hampir tertawa. Hampir.
"Kalian sudah bukan anak-anak," balas Bu Rahayu tenang. "Dan proses itu tidak termasuk melompati pagar belakang."
"Ya udah sih, Bu," kata Harum sambil menegakkan duduk. "Kita tanggung jawab kok, Langsung aja hukumannya."
"Hukuman?" alis Bu Rahayu terangkat sedikit.
"Biasanya kalian kabur sebelum sampai ke tahap ini." Bu Rahayu menatap mereka satu per satu. "Kali ini saya panggil orang tua kalian."
Ketiganya kompak memutar mata.
"Mending jangan, Bu," Narisa mengibaskan tangan santai. "Mama saya ke sini malah senang. Sekalian pamer tas baru,"
Kara mengangguk. "Ujung-ujungnya kita cuma dimarahin di rumah. Jadi muter doang."
Harum mengangkat tangan pelan, "Kalau boleh jujur, Bu... saya yang paling rugi. Bapak saya galak."
Bu Rahayu menyandarkan punggung.
"Jadi kalian ingin menyelesaikan sendiri?"
"Tukar tambah, Bu," kata Harum cepat. "Kami salah, kami tanggung."
Sunyi sebentar..
"Lagian, Bu, yang masuk ke sini juga keseringan kita- kita aja kan?" kata Kara santai, lalu menunjuk Narisa. "Paling sama tiga curut gengnya dia."
Narisa mengangguk, "Hari ini saya gak sempet ngajak mereka, Bu. Bisa penuh ini ruangan."
Harum langsung menimpali. "Harusnya Ibu udah bosen. Lepasin aja lah sekali-sekali."
Bu Rahayu tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap ketiganya beberapa detik.
"Luar biasa.," katanya akhirnya. "Kalian bahkan sudah sadar pola kalian sendiri." Tidak ada nada marah. Justru itu masalahnya.
"Saya akan ikuti keinginan kalian," lanjut Bu Rahayu. " Tulis 'saya tidak akan bolos lagi'. Sepuluh lembar Hvs bolak-balik."
Harum langsung menutup wajah.
"Hormat bendera tiga puluh menit."
Narisa mendelik. Mati gue.
"Bersihkan seluruh toilet lantai tiga."
Kara mendecak pelan, Sial.
"Dan karena kalian merasa ini rutinitas..."
Tiga-tiganya menegang.
"Kalau minggu ini kalian masuk ke ruangan ini lagi, hukuman langsung dua kali lipat. Tanpa diskusi."
Kali ini tidak ada yang menyahut.
"Kalian boleh keluar sekarang," lanjut Bu Rahayu
tenang. "Pak kasim sudah menunggu. "
Dengan langkah malas, ketiganya bangkit dan keluar dari ruangan. Pak kasim yang sejak tadi berjaga langsung mengambil alih.
"Ke lapangan, Hormat bendera. Sekarang."
Tidak ada bantahan, Mereka berjalan ke tengah lapangan dan mulai berdiri tegak. Baru dua menit.
"Oke, gw gak bisa kayak gini," keluh Narisa pelan. "Kulit mulus gw bisa gosong."
"Narisa! Tangan jangan turun!" teriak Pak Kasim dari teras.
Narisa mendecak pelan, "Itu orang minta disumpel ya,"
Harum ikut kesal. "Sumpel pake kaos kaki aja sekalian,"
"GW pura-pura pingsan deh," bisik Narisa, mulai merapat ke Harum yang lebih tinggi.
"Lah, enak banget," Harum melirik. "Lo ngapain?"
"Panas banget, gak kuat."
"ke Kara aja sana. Dia lebih tinggi."
"Ogah. Bau ketek."
Kara langsung menoleh. "Bagus banget bacot lo. Sini gw buktiin langsung."
"Najis. Harum mah wangi. Sesuai nama."
Harum langsung berdiri makin tegap. "Tenang, Nar. Gw lindungi lo. Jangankan matahari, mata buaya juga kucu izin dulu ke gw."
"Ih, Harum, ngeri gue kalau jatuh cinta."
"Centil amat," gerutu Kara. "Kayaknya pulang gw minta batalin aja."
Narisa langsung semangat. "Gw dukung. Gw mending sengsara daripada nikah sama lo."
"Apa lagi gw-"
"Narisa! Jangan berlindung di bayangan temannya!" teriak Pak Kasim lagi.
Narisa memutar mata, Lalu-
Bruk.
Dia jatuh dramatis.
"Lah, Pak! Pingsan ini!" teriak Harum, langsung ikut akting.
Pak Kasim berlari tergopoh-gopoh. Kara dan Harum sigap memapah.
"Biar kita aja, Pak. Berat ini," kata Kara serius.
Narisa hampir refleks menyahut, tapi ingat perannya.
Pak kasim langsung mengambil alih. "Saya saja. Kalian tetap di sini."
"Lah-" Harum pasrah.
"Saya antar ke UKS. Kalian jangan bergerak."
Begitu pak kasim mulai jalan, Narisa yang 'pingsan' diam-diam mengacungkan jari tengah ke arah mereka.
Kara mendecak. "Anak si Taslim emang."
Harum menghela napas. "Gw ikutan pingsan dah." Dia baru mau menjatuhkan badan, tapi Kara lebih dulu menimpali.
"Kalau lo jatoh, gak bakal ada yang angkat."
"Lo?"
"Gw tendang sampe UKS."
Harum langsung berdiri tegap. "Tai."
.
Sepuluh menit kemudian terasa seperti satu tahun. Di bawah matahari, mereka berdiri setengah hidup. Saat itulah seseorang datang setengah berlari.
Cantika, si junior yang nembak Kara. Rambut lurus panjang, wajah bersih, senyum manis yang tidak pada tempatnya.
"Dihukum ya, kak? Bandel sih," katanya sambil menyodorkan dua botol minuman dingin ke Kara.
Kara menerimanya, lalu langsung memberikan satu ke Harum.
"Kok tau kita di sini?" tanya Kara.
"Keliatan dari kelas aku. Aku udah izin ke Pak Kasim. Soalnya aku lihat kak Risa pingsan."
"Pinter banget kamu ngerayu si demit sekolah."
"Aku kan khawatir sama kakak,"
Kara terkekeh. "Yaudah, balik gih. Belajar lagi."
Cantika tersenyum senang. Apalagi Kara sempat mengusap kepalanya singkat. Begitu Cantika menjauh, Harum langsung menatap Kara.
"Lo pacaran sama dia?"
"Kagak."
"Terus itu apa?"
"Perhatian junior ke senior."
Harum mengernyit. "Bisa gitu-"
"Hei! Berdiri yang benar!"
Teriakan Pak kasim memotong. Kara dan Harum kembali tegap.
Harum mendengus pelan. "Awas aja itu orang. Gw pretelin motornya.
"Gw ikut."
Dan di hari yang panas itu, di bawah matahari yang tidak punya belas kasihan, dua manusia berdiri dengan penuh dendam... kepada satu orang yang bahkan tidak tahu motornya akan jadi korban.