Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.
Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.
Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.
Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.
Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Jaga Ning Shafiya
Kamar itu kembali sunyi.
Shafiya menutup pintu perlahan.
Seolah memastikan tidak ada suara dari luar yang ikut masuk bersamanya.
Namun tetap saja--lantunan suara adzan tadi masih tertinggal. Di ingatannya.
Ia melangkah ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Gerakannya teratur seperti biasa.
Seperti yang selalu ia lakukan.
Namun kali ini, tidak sepenuhnya sama.
Ada sesuatu yang ikut terbawa.
Suara itu.
Shafiya menarik napas pelan. Mengusap wajahnya dengan handuk suci. Ia kemudian melangkah tenang ke sisi tempat sajadah disimpan. Mengambilnya. Membentangkannya dengan rapi. Mukennah ia kenakan. Namun sebelum takbir, suara itu kembali terbawa.
Lantunan suara adzan. Dan wajahnya juga.
Shafiya diam. Menahan napas sejenak. Berdoa. Meminta pada sang penguasa hati.
Takbir. Ia pun melakukan sholat itu dengan berusaha menjaga hati tetap di tempatnya.
Gerakan demi gerakan ia jalani.
Tertib.
Khusyuk--seperti yang ia usahakan.
Namun di antara ayat-ayat yang ia baca, wajah itu kembali menyusul di ingatannya.
Shafiya diam sejenak. Memperlambat gerakan. Sekadar usahanya untuk tetap di tempat yang seharusnya.
Hingga salam terakhir terucap.
“Assalamu’alaikum warahmatullah.”
Shafiya diam beberapa detik. Tangannya masih di atas paha. Pandangan lurus ke depan.
Seperti belum benar-benar selesai.
Baru kemudian ia menunduk.
Tangannya terangkat.
Berdoa. Cukup lama.
Lebih lama dari biasanya.
Tidak ada kata yang terdengar.
Namun satu hal terasa jelas--ia sedang menahan sesuatu… agar tidak melangkah ke arah yang ia hindari sejak tadi.
Perlahan, tangannya turun.
Shafiya menarik napas panjang.
ruangan itu benar-benar kembali tenang.
Tanpa suara lain. Tanpa bayangan yang mengganggu. Hanya dirinya.
Dan keputusan yang telah ia ambil.
Beberapa saat kemudian, Shafiya sudah berdiri di depan kamar tamu. Menanti Sagara untuk sama-sama menemui abinya.
Namun yang terdengar dari kamar yang pintunya sedikit terkuak itu adalah suara Agam dan Sagara yang sedang briefing. Shafiya menahan niatnya untuk mengetuk. Ia memilih menanti beberapa saat.
Di dalam kamar tamu itu.
Sagara duduk di kursi kayu yang sederhana. Tidak mewah. Tidak seperti ruang kerja yang biasa ia tempati. Namun posisinya tetap sama.
Tegak. Terjaga.
Di depannya, Agam membuka laptop.
Beberapa berkas sudah tersusun rapi di meja.
“Update operasional pabrik Jawa Timur sudah masuk,” ujar Agam.
Nada suaranya rendah. Terukur. Sadar kalau tempat sekarang bukan sepenuhnya untuk mereka.
“Kebakaran kemarin disebabkan korsleting di panel utama. Tim teknis sudah mulai investigasi lanjutan.”
Sagara tidak langsung menjawab. Ia masih seperti tengah memikir sesuatu. Sesaat.
“Kerugian?” Dan fokusnya kembali dengan cepat.
“Estimasi awal masuk di angka delapan miliar. Tapi masih bisa bertambah, tergantung hasil audit lanjutan.”
Sagara mengangguk tipis.
“Asuransi?”
“Masih dalam proses klaim. Tapi ada kemungkinan dispute di bagian kelalaian.”
“Pastikan tidak ada celah.”
“Siap.”
Tidak ada basa-basi.
Tidak ada jeda yang tidak perlu.
“Tim operasional?” tanya Sagara lagi. Tidak panjang.
“Sudah ku arahkan untuk shifting sementara. Produksi dialihkan ke pabrik kedua.”
Sagara mengangguk.
“Jaga timeline.”
“Baik.”
Agam kemudian mengganti halaman.
“Untuk meeting dengan pihak Singapura--sudah reschedule ke besok. Mereka minta konfirmasi ulang proposal revisi.”
“Kirimi aku draft-nya malam ini.”
“Sudah ku siapkan.”
Sagara akhirnya mengambil berkas itu.
Namun belum dibuka.
“Intinya.”
Agam langsung paham. Bos besar kurang suka membaca sendiri. Seringnya ia diberitahukan.
“Kita tetap di posisi tawar. Mereka yang butuh percepatan distribusi.”
Sagara mengangguk.
“Jangan turunkan angka.”
“Siap.”
Briefing mereka malam itu berjalan cepat.
Padat. Seolah dunia di luar sana--tidak pernah benar-benar ia tinggalkan.
Dan di tempat yang tenang seperti ini--Sagara tetap menjadi dirinya yang sama. Tidak berubah.
Hanya… berpindah lokasi.
Percakapan-percakapan mereka itu sebagian masuk dalam pendengaran Shafiya. Dan ia tahu, itu bukan jenis pembicaraan yang bisa diganggu. Karenanya ia mengambil langkah untuk menemui kiai Fakih lebih dulu.
Ternyata di ruang utama. Kiai solih dan nyai Hamidah sedang berpamitan untuk meninggalkan kediaman itu. Tak hanya mereka bertiga. Ada satu orang lagi di sana. Satu orang yang sebenarnya memang datang bersama-sama. Gus Ilzam.
"Bibi pamit, Nak." Nyai Hamidah mendekat pada Shafiya yang sempat berdiri tertegun di ambang pintu.
"Semoga kesehatan abimu, lekas membaik." Beliau diam sejenak. Menatap Shafiya dengan senyum hangat. "Dan kamu juga... semoga kehidupanmu senantiasa dilimpahi kebaikan."
Shafiya menunduk. "Amin." Suaranya lirih terdengar. Saat ia mendongak. Ada kilatan air bening yang membayang di kedua pelupuk matanya. "Terima kasih, Bibi."
"Bibi masih boleh peluk putri bibi?"
Dan tawaran nyai Hamidah itu membuat satu titik bening jatuh di wajah Shafiya. Ia hanya mengangguk. Tanpa bisa berkata apa-apa.
Nyai Hamidah memeluknya. Mengusap lembut kepala yang tertutup hijab itu. Tidak terlalu erat, tapi hangat. Dan itu yang selalu membuat jiwa Shafiya damai. Seakan dalam pelukan ibu kandungnya sendiri. Hal itu pula yang menjadi salah satu sumber suka cita Shafiya saat ditahbiskan sebagai calon istri gus Ilzam.
Bahwa ia tak hanya akan mendapatkan ibu mertua, tapi juga ibunya sendiri yang sudah lama tiada.
Sayang. Takdir berkehendak lain.
Pundak Shafiya bergetar. Menahan isak yang hampir tak bisa ditahan.
“Semua kejadian itu adalah takdir-Nya, Nak.”
Nyai Hamidah melepas pelukan.
Jemarinya menghapus air mata di pipi Shafiya dengan lembut.
“Mari… kita sama-sama belajar menerima dengan lapang. Belajar ikhlas.”
Ia berhenti sejenak.
Seolah menguatkan dirinya sendiri… sebelum melanjutkan.
“Bukan hanya kamu.”
Senyumnya tetap ada.
Meski matanya mulai berkaca.
“Bibi. Paman. Dan… Ilzam. Kami semua… sedang belajar menerima takdir ini dengan hati yang lapang.”
Shafiya tidak mampu menjawab.
Air matanya jatuh lagi. Lebih tenang.
Namun lebih dalam.
Nyai Hamidah kembali memeluknya.
Dan pada saat itulah--Sagara berdiri di ambang pintu.
Ia tidak masuk.
Hanya melihat. Membaca apa yang terjadi.
Tanpa bertanya. Tanpa ikut serta.
Beberapa detik kemudian lalu ia berbalik.
“Mas.”
Suara Kyai Sholih menahannya.
Sagara berhenti. Menoleh.
“Saya kembali sebentar lagi.”
Nada itu tetap datar. Terukur.
Dan ia tetap memilih mundur.
Seolah menyadari--ruang itu belum menjadi bagiannya.
“Tunggu sebentar, Mas.”
Kyai Sholih melangkah mendekat.
“Sekalian berpamitan.”
Langkah Sagara terhenti sepenuhnya kali ini.
Di dalam ruangan--Kyai Fakih yang sejak tadi diam, akhirnya mengangkat pandangannya.
“Sudah mau pulang?” Suaranya tenang.
Namun cukup untuk menghentikan semua gerak.
“Iya, Kiai.”
Kyai Sholih menunduk hormat.
“Kami mohon pamit.”
Nyai Hamidah melepas pelukannya dari Shafiya.
Mengusap sisa air mata di pipinya sekali lagi. “Jaga diri baik-baik, Nak.”
Shafiya mengangguk.
Pelan.
Sementara itu--di sudut ruangan. Ilzam berdiri. Tidak mendekat. Tidak menepi. Hanya melihat.
Dan untuk sesaat--tatapan itu bertemu dengan Shafiya.
Singkat.
Namun cukup…
untuk menghidupkan kembali sesuatu
yang sejak tadi berusaha mereka tenangkan.
Tapi tidak lama. Ilzam segera memutus semuanya. Ia maju ke kiai Fakih.
"Paman, saya mohon pamit." Ia menunduk. Mencium punggung tangan kiai Fakih dengan hormat. Setelahnya ia bangkit.
Menatap ayah dan ibunya.
"Abi, Umi. Saya tunggu di mobil."
Tidak ada jeda. Ia berbalik.
Melangkah tegak menuju pintu.
Tidak sekali pun menoleh pada Shafiya.
Namun tepat saat melewati Sagara--langkahnya terhenti. Satu detik.
“Mas.”
Baru kemudian ia menatap.
“Jaga Ning Shafiya.”
Kalimat itu sederhana.
Namun maknanya tidak ringan.
Sagara menatap balik.
“Dia istri saya.”
Kalimat itu singkat. Namun maknanya cukup dalam.
Ilzam mengangguk.
Tidak ada balasan lain.
Ia kembali melangkah.
Dan kali ini--benar-benar pergi.
Melihat semua itu, Shafiya tidak bergerak.
Hanya jemarinya yang perlahan saling mengunci.
Tatapannya sempat terangkat.
Namun segera ia turunkan kembali.
Seperti memilih… untuk tidak mengikuti sesuatu yang baru saja lewat di hadapannya.
Ia menarik napas pelan.
Lalu diam.
Eeeeee Panassss sagara awas lo cemburu 🤣
Ayok mas Agam pelet trus ning cantik
Masih bnyak yg nunggu jandanya😍
Semoga Sagara & Ning Shafiya sukses menaklukan retensi dari 20 bab sampai 100 bab, aamiin.
Semangat & semoga sukses, Ning Najwa ♥️
Semoga update nya lebih sering