Davika Ovwua Mwohan adalah siswi kelas 3 SMA yang tidak hanya berpenampilan memikat layaknya boneka hidup dengan tubuh *gitar spanyol* yang seksi, tetapi juga memiliki kepribadian paling random dan kocak di antara teman-temannya. Di balik tingkah ajaibnya, Davika adalah koki andalan rumah yang jago menyulap segala jenis masakan mulai dari jajanan pasar hingga kuliner barat menjadi hidangan favorit keluarga, teman, hingga tetangga.
Keseharian Davika dipenuhi dinamika hubungan persaudaraan yang seru dan penuh warna. Ia terlibat hubungan ala "Tom and Jerry" dengan kakak pertamanya, Mas Gara, pria cuek dan berotot yang selalu bersedia menjadi ATM berjalan demi menuruti hobi makan dan tingkah acak Davika. Sementara itu, Mbak Nara, kakak keduanya yang cantik dan manis, turut melengkapi kehangatan dan keseruan lika-liku kehidupan masa muda Davika di dalam keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan di Balik Dinding Kaca
Restoran hotel bintang lima itu mengusung tema Modern Luxury dengan dominasi palet warna slate dan emas yang berkelas. Alunan musik jazz bertempo lambat mengalir samar dari pengeras suara yang tersembunyi di langit-langit, mencoba menciptakan atmosfer ketenangan yang semu. Namun, bagi Nara, keheningan di ruangan ber-AC dingin ini jauh lebih mencekam daripada gemuruh kemacetan jalanan di luar sana.
Gus Muhammad Zayyad Al-Ghifari tidak bergeming saat langkah sepatu Bapak Handoko dan sandal berhak rendah milik Nara mendekat. Lelaki berusia 27 tahun itu tengah menatap lurus ke luar dinding kaca raksasa yang menampilkan pemandangan metropolitan dari lantai dua puluh. Di balik kemeja hitam formal yang membalut tubuh kekar dan berototnya, aura kepemimpinan seorang CEO sekaligus wibawa putra mahkota pesantren besar melekat begitu pekat. Wajah tampannya yang luar biasa tampak pahatan simetris yang kaku, dingin, dan tanpa senyuman.
Begitu siluet Bapak Handoko tertangkap oleh pantulan kaca, Zayyad langsung berdiri. Ia memutar tubuhnya, lalu membungkuk hormat dengan tingkat kemiringan yang sangat takzim, sebuah gestur penghormatan mutlak kepada orang yang lebih tua, khas didikan dunia pesantren.
"Assalamu'alaikum, Pak Handoko. Mbak Nara," sapa Zayyad. Suara baritonnya yang berat terdengar stabil, tidak menampakkan keterkejutan sedikit pun atas kehadiran sang kepala keluarga yang tidak ada dalam agenda surelnya.
"Wa'alaikumussalam, Gus," jawab Bapak Handoko dengan nada suara yang tenang namun sarat wibawa seorang ayah. Bapak menggeser kursi untuk Nara sebelum akhirnya duduk di hadapan lelaki muda tersebut.
Nara duduk dengan punggung tegak, merapikan kerudung panjangnya yang menutup dada dengan gerakan anggun. Mata sawo matangnya menatap lurus ke dalam manik mata hitam kelam milik Zayyad, mencari retakan emosi di balik topeng sedingin es itu. Namun, Zayyad tetaplah Zayyad; ia menguasai meja perundingan ini seperti ia menguasai ruang rapat direksi perusahaan logistiknya.
Seorang pramusaji datang dengan langkah tanpa suara, meletakkan menu hidangan pembuka, lalu mundur setelah Zayyad memberikan isyarat tangan yang efisien.
"Saya berterima kasih karena Bapak berkenan hadir mendampingi Nara," Zayyad membuka percakapan, tangannya yang kekar bertumpu di atas meja kaca, memperlihatkan jam tangan pintar taktis yang kontras dengan kemewahan restoran. "Sebab, apa yang akan saya sampaikan setelah ini memang memerlukan kehadiran Bapak sebagai kepala keluarga."
"Terkait draf perjanjian pranikah itu, Gus?" potong Nara langsung, memotong basa-basi dengan ketegasan seorang dosen yang terbiasa mempertahankan argumentasi ilmiah. "Apakah menghapus profesi saya sebagai dosen adalah bentuk 'kemaslahatan' yang Gus maksud dalam surel tadi?"
Mendengar konfrontasi langsung dari calon istrinya, Zayyad tidak mengelak. Ia justru menopang dagunya, menatap Nara dengan pandangan yang sulit diartikan. "Jika draf itu murni dari saya, Nara, saya tidak akan meminta kamu berhenti mengajar. Saya seorang pengusaha, saya tahu nilai dari sebuah intelektual. Tapi draf itu... keluar dari ruang rapat dewan pengasuh Al-Anwar atas rekomendasi sepupu saya, Kamil."
Bapak Handoko yang sejak tadi diam, mendadak menegang. Kerutan di dahi sang sopir taksi daring itu kian mendalam. "Kamil? Anak dari Kiai Mansyur?"
"Benar, Pak," Zayyad mengangguk, rahangnya yang tegas mengetat. "Kamil sedang berusaha mengambil alih kendali yayasan pendidikan putri di pesantren. Dia tahu Nara adalah lulusan terbaik dengan integritas tinggi yang tidak bisa disuap. Jika Nara masuk ke dalam sistem Al-Anwar dengan status masih aktif di universitas negeri, Kamil akan menggunakan celah itu untuk menuduh keluarga kami membawa paham luar yang tidak selaras dengan tradisi pesantren."
Nara tertegun. Jantungnya berdegup lebih kencang saat menyadari bahwa draf pernikahan yang membuatnya tidak bisa tidur sejak subuh tadi ternyata hanyalah bidak catur dalam perebutan kekuasaan internal sebuah institusi raksasa.
"Jadi..." Nara berbisik, suaranya sedikit bergetar, "Gus membiarkan draf itu lolos hanya untuk melindungi posisi keluarga Gus?"
"Saya membiarkannya lolos untuk memetakan siapa saja yang berdiri di belakang Kamil, Nara," sahut Zayyad dingin, tanpa ada nada penyesalan. "Itulah alasan mengapa tadi siang saya mendatangi sekolah Davika."
Mendengar nama putri bungsunya disebut, Bapak Handoko langsung memajukan tubuhnya. "Apa hubungannya dengan Davika, Zayyad? Jangan libatkan anak kecil dalam urusan ini."
"Davika tidak sengaja diikuti oleh orang-orang Kamil sejak tiga hari lalu, Pak," ungkap Zayyad, membuat suasana di meja itu mendadak membeku seolah AC ruangan diturunkan hingga titik terendah. "Mereka mencari titik lemah keluarga Pak Handoko. Mereka tahu tentang... masa lalu Bapak dengan Abah Kyai dua puluh tahun lalu di Jombang. Mereka ingin menggunakan dokumen lama itu untuk membatalkan pernikahan ini secara sepihak dan mempermalukan Abah Kyai di depan publik."
Nara menatap bapaknya dengan pandangan tidak percaya, sementara Bapak Handoko hanya bisa mengembuskan napas panjang, wajah lelahnya tampak pasrah sekaligus siap menghadapi badai yang selama ini ia hindari.
Di luar dinding kaca, di seberang jalan raya yang padat, sebuah mobil sedan hitam mewah yang sama dengan yang mengintai sekolah Davika tampak terparkir diam di bawah temaram lampu jalan. Dan di dalam kabin sedan itu, seseorang sedang mengarahkan lensa kamera panjang, membidik tepat ke arah meja tempat Zayyad, Nara, dan Bapak Handoko sedang duduk terjebak dalam labirin konspirasi yang kian menegangkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara ketegangan di restoran hotel bintang lima itu nyaris membekukan udara, suasana di rumah keluarga Mwohan justru dipenuhi dengan aroma yang sangat kontras. Di dapur yang sempit dan ber-AC alami dari angin malam yang berembus lewat ventilasi, Davika sedang berdiri di depan kompor gas dua tungku. Rambut bergelombangnya kini diikat asal-asalan ke atas, menampilkan lehernya yang jenjang. Celemek kain bermotif bunga-bunga membungkus tubuh mungilnya yang padat, melindunginya dari cipratan minyak.
Tangan kanan Davika memegang sendok sayur kayu besar, mengaduk kuah soto daging yang bergolak hebat di dalam panci stainless steel. Kunyit tua, serai yang dimemarkan, serta daun jeruk purut yang disobek tipis berputar-putar di antara potongan daging sengkel yang mulai mengempuk. Wangi rempah tradisional yang pekat, gurih, dan sedikit manis menguar memenuhi seluruh ruangan, bahkan hingga ke teras depan rumah.
"Ibu, coba cicipi ini sedikit. Kurang garam atau kurang kasih sayang?" tanya Davika dengan nada random andalannya, menyodorkan ujung sendok yang berisi sedikit kuah ke arah Ibu Rahayu.
Ibu Rahayu yang sedang duduk di dekat meja makan, baru saja selesai merapikan beberapa pot tanaman hidroponik kecilnya, tersenyum hangat. Beliau mendekat dan mengecap kuah tersebut. Matanya berbinar. "Pas, Vik. Kaldu sengkelnya keluar sekali. Kamu ini kalau urusan dapur memang genius, persis seperti nenekmu dulu."
"Hehehe, siapa dulu dong koki paling badai se - kecamatan," sahut Davika bangga sembari memamerkan bibir yang mengerucut jenaka.
Namun, kegembiraan instan itu tidak bertahan lama di wajah bak boneka hidup miliknya. Begitu ia mematikan api kompor, bayangan pria berhelm hitam yang memegang kamera di parkiran pasar swalayan tadi sore kembali melintas di benaknya. Davika bersandar pada tepian meja dapur, matanya yang berwarna green-gray langka menatap kosong ke arah deretan stoples bumbu.
"Ibu..." panggil Davika, nadanya merendah, kehilangan keceriaan sejenak. "Bapak dulu waktu muda... sebenarnya kerja apa sih, Bu? Sebelum jadi sopir taksi online?"
Ibu Rahayu yang sedang menyiapkan mangkuk-mangkuk porselen mendadak menghentikan gerakannya. Bahunya tampak sedikit menegang, sebuah reaksi mikro yang tidak luput dari pengamatan tajam Davika. Namun, dengan cepat Ibu menguasai diri, mengulas senyum sabar yang biasa ia gunakan sebagai penengah di rumah.
"Kenapa tiba-tiba tanya begitu, Vik? Bapakmu ya kerja keras apa saja yang halal sejak dulu untuk membiayai kuliah Mbak Nara dan sekolahmu," jawab Ibu lembut, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Enggak apa-apa, Bu. Cuma penasaran saja," gumam Davika. Ia tahu Ibu sedang menyembunyikan sesuatu. Sifatnya yang ceriwis sengaja ia tahan; ia tidak ingin menambah beban pikiran ibunya yang malam ini juga pasti sedang mencemaskan hasil pertemuan Mbak Nara di hotel.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kembali ke restoran mewah berpalet slate dan emas. Atmosfer di meja sudut lantai dua puluh itu kian mencekam setelah pengakuan dingin dari Gus Muhammad Zayyad Al-Ghifari.
Nara merasakan jemarinya mendingin di balik meja. Pernikahan yang ia bayangkan sebagai ibadah dan penyatuan dua hati, kini mendadak tampak seperti sebuah papan catur politik yang rumit. Matanya yang tegas menatap tajam ke arah CEO muda di hadapannya.
"Jadi, Gus... Anda memanfaatkan saya dan keluarga saya sebagai umpan untuk memancing sepupu Anda, Kamil?" tanya Nara, intonasi suaranya yang anggun kini bergetar oleh rasa kecewa yang mendalam. "Anda membiarkan kehormatan saya sebagai seorang dosen dipertanyakan di depan dewan pengasuh hanya untuk memetakan musuh bisnis Anda?"
Gus Zayyad tidak berkedip. Di balik kemeja hitam formalnya, tubuh kekarnya tampak sekaku patung batu. Wajah tampannya yang dingin sama sekali tidak menunjukkan penyesalan, namun ada kilatan intensitas yang berbeda di matanya saat menatap Nara.
"Saya tidak memanfaatkanmu, Nara. Saya sedang melindungi apa yang akan menjadi milik saya," sahut Zayyad dengan suara bariton yang berat dan penuh penekanan. "Jika saya menolak draf itu sejak awal secara terang-terangan, Kamil akan tahu bahwa rencana rahasianya telah bocor. Dia akan mencari cara lain yang lebih kotor, yang mungkin akan langsung membahayakan keselamatan Davika atau ibumu di rumah."
"Cukup, Zayyad," potong Bapak Handoko. Suara sang sopir taksi daring itu tidak tinggi, namun getaran otoritas seorang ayah membuat Zayyad menghentikan kalimatnya. Bapak Handoko menatap lurus ke dalam mata putra mahkota Al-Anwar tersebut. Tangan Bapak yang kasar bertumpu di atas meja. "Dua puluh tahun lalu, saya meninggalkan Jombang dan melepaskan seluruh hak saya di lingkungan pesantren karena saya tidak ingin anak-anak saya tumbuh di dalam lingkungan yang penuh dengan tusukan dari belakang seperti ini."
Zayyad terdiam, menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat atas teguran Bapak Handoko.
"Kamil mengira dia memegang kartu as karena tahu sejarah masa lalu saya dengan Abah Kiai," lanjut Bapak Handoko, garis-garis penuaan di wajahnya tampak makin tegas di bawah lampu kristal restoran. "Dia pikir dia bisa mengancam pernikahan ini. Tapi dia lupa... saya tidak pernah takut kehilangan nama baik. Yang saya takuti adalah jika anak saya, Nara, harus hidup dengan pria yang menganggap pernikahan sebagai bagian dari strategi korporat."
Nara memandang bapaknya dengan rasa haru yang membuncah. Di tengah kemewahan yang mengintimidasi ini, ketegasan bapaknya adalah jangkar yang menahannya agar tidak goyah.
Tepat pada saat itu, ponsel pintar taktis di pergelangan tangan Gus Zayyad bergetar dua kali. Zayyad melirik layarnya. Sebuah pesan enkripsi masuk dari tim keamanannya yang berada di area parkir bawah. Matanya yang tadinya dingin mendadak menajam, memancarkan aura bahaya yang pekat. Zayyad berdiri dari kursinya, membuat tubuh tingginya kembali mendominasi meja tersebut. Ia menatap Bapak Handoko dan Nara secara bergantian.
"Orang-orang Kamil baru saja bergerak menuju area parkir hotel ini. Mereka membawa dokumen asli dari masa lalu yang ingin mereka ekspos malam ini juga ke media digital untuk menciptakan skandal," ujar Zayyad, nadanya berakselerasi menjadi menegangkan. "Pak Handoko, Mbak Nara... kita harus keluar dari restoran ini sekarang lewat jalur evakuasi staf. Permainan ini... sudah bukan lagi sekadar tentang draf perjanjian pranikah ".
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Restoran yang semula dipenuhi alunan jazz bertempo lambat itu mendadak terasa seperti ruang interogasi yang kedap udara. Kata-kata Gus Zayyad barusan menggantung di udara, bergesekan dengan desis AC sentral yang kian menusuk tulang. Nara tidak sempat mempertanyakan lagi moralitas di balik strategi pria di hadapannya; ketegasan dalam intonasi bariton Zayyad terlalu nyata untuk dianggap sebagai bualan korporat.
"Ikuti saya. Jangan menengok ke belakang," perintah Zayyad pendek.
Tubuh tegapnya berbalik dengan presisi seorang komandan. Di balik kemeja hitam formal yang membungkus otot-otot terlatihnya, ia bergerak gesit membelah sekat-sekat restoran bertema Modern Luxury tersebut. Ia tidak mengarah ke lobi utama yang berlampu kristal megah, melainkan menuju sebuah pintu kayu ganda berpelat besi yang bertuliskan Staff Only di dekat area dapur bersih.
Bapak Handoko menggenggam erat pergelangan tangan Nara. Telapak tangan sang kepala keluarga yang kasar dan sering memegang kemudi taksi itu kini terasa dingin, namun genggamannya memberikan kepastian mutlak yang menahan lutut Nara agar tidak lemas. Nara merapatkan kerudung panjangnya, membiarkan gamis khimar abu-abu gelapnya berkibar tipis seiring langkah kakinya yang dipaksa bergerak cepat beriringan dengan langkah tegap bapaknya.
Begitu melewati pintu besi, atmosfer mewah hotel bintang lima itu lenyap seketika. Mereka kini berada di koridor beton interior yang sempit, dengan dinding abu-abu monokrom polos dan deretan pipa gas serta kabel-kabel utilitas yang berselubung baja di langit-langit. Aroma parfum kayu cendana mahal milik Zayyad kini berbaur dengan bau pembersih lantai kimia dan uap panas dari mesin pencuci piring otomatis.
"Zayyad, ke mana kita akan pergi?" tanya Bapak Handoko, suaranya menggema rendah di koridor beton yang sepi. "Mobil saya di tangan petugas valet depan."
"Jangan gunakan mobil Bapak. Plat nomor MPV putih Bapak sudah dicatat oleh anak buah Kamil sejak sore tadi," sahut Zayyad tanpa menoleh, langkah kakinya tetap konstan dan lebar. "Kita keluar lewat pintu bongkar muat logistik di rubanah dua. Di sana ada mobil operasional perusahaan saya yang tidak terdaftar atas nama pesantren."
Nara mencoba menyeimbangkan langkahnya. Pikirannya berputar hebat. Sebagai seorang dosen muda yang terbiasa hidup dalam keteraturan akademis dan ruang kelas yang damai, situasi ini terasa begitu absurd dan serealistis mimpi buruk. Mata-mata? Dokumen masa lalu? Konspirasi pesantren? Mengapa semua hal yang terdengar seperti plot drama televisi ini harus terjadi pada keluarganya yang sederhana.
Tiba-tiba, langkah Gus Zayyad terhenti di persimpangan koridor menuju lift barang. Ia mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat mutlak agar Bapak Handoko dan Nara merapat ke dinding beton.
Dari arah depan, terdengar suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa dari beberapa orang, berbaur dengan suara berat yang berbicara lewat walkie-talkie dengan intonasi rendah.
"Mereka sudah masuk ke area lift staf," bisik Zayyad, rahang tegasnya mengeras hingga gumpalan otot di pipinya terlihat jelas. Ia meraba saku bagian dalam kemejanya, memastikan sesuatu di sana. Aura dingin dari wajah tampannya kini berubah menjadi kesiapan penuh untuk melakukan konfrontasi fisik jika diperlukan.
Zayyad menatap Nara, tatapan hitam kelamnya mengunci manik mata dosen muda itu dengan intensitas yang menegangkan. "Nara, dengarkan saya. Apa pun yang mereka katakan atau tunjukkan tentang bapakmu setelah ini... itu adalah kebenaran yang diputarbalikkan. Tetap berdiri di belakang saya."
Sebelum Nara sempat mencerna kalimat penuh teka-teki itu, dua orang pria berjaket kulit hitam dengan postur tegap muncul dari balik tikungan koridor. Salah satu dari mereka memegang sebuah map kulit tebal berwarna cokelat tua—dokumen masa lalu yang siap meledakkan ketenangan keluarga Mwohan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, bermil-mil jauhnya dari pusaran konflik hotel mewah, Davika sedang menata mangkuk-mangkuk porselen di atas meja makan rumahnya yang sederhana. Soto daging kuah santan kuning yang kaya rempah telah tersaji rapi, menebarkan wangi gurih yang luar biasa menggugah selera ke seluruh penjuru ruangan.
Namun, Davika tidak bisa tenang. Sifat random dan humorisnya benar-benar lumpuh malam ini. Jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit. Bapak dan Mbak Nara belum juga memberikan kabar.
Jemari mungil Davika mengetuk-ngetuk permukaan ponselnya yang retak. Tiba-tiba, ponselnya kembali bergetar. Bukan panggilan dari Nara, melainkan sebuah pesan gambar dari nomor misterius yang mengiriminya aksara Korea tadi siang.
Davika membuka pesan tersebut. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat foto yang tertera di layar. Itu adalah foto real-time Mbak Nara dan Bapak Handoko yang sedang berdiri merapat di dinding koridor beton sempit, dikawal oleh Gus Zayyad. Di sudut bawah foto tersebut, ada sebaris tulisan pendek dalam bahasa Korea yang membuat mata green-gray milik Davika melebar sempurna penuh horor:
“시작됐다. 네 가족의 nomor urut sudah keluar.” (Sudah dimulai. Nomor urut keluargamu sudah keluar.)
selalu bilangnya kitab😄😄😄