NovelToon NovelToon
Archive Zero

Archive Zero

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Action / Tamat
Popularitas:291
Nilai: 5
Nama Author: sena himura

Di dunia tempat takdir manusia tercatat dalam sebuah Arsip, seorang pemuda terbangun tanpa data apa pun tentang dirinya.
Saat rahasia dunia mulai terbuka, ia menjadi satu-satunya orang yang tidak seharusnya ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 — Pertarungan Pewaris dan Penjaga

Archive Zero

Bab 8 — Pertarungan Pewaris dan Penjaga

Cahaya emas memenuhi seluruh ruangan, begitu terang hingga seolah waktu berhenti bergerak. Suara ribuan orang yang berbicara serentak masih bergema, membuat udara di tempat itu bergetar hebat hingga debu-debu halus beterbangan dari celah-celah batu langit-langit.

Makhluk penjaga itu melangkah maju satu langkah berat. Tanah berguncang seolah ditimpa beban gunung. Ribuan kepingan cahaya di tubuhnya berputar lebih cepat, membentuk puluhan bilah tajam yang mengarah ke segala penjuru, siap menebas apa pun yang menghalangi.

"Kai, cari celah di pertahanannya!" seru Ren, matanya tak lepas dari gerakan makhluk raksasa itu. Cahaya ungu di tangannya kini menjalar hingga ke lengan, membentuk pola rumit yang berdenyut seirama dengan detak jantungnya.

"Sudah kuterka begitu!" balas Kai cepat. Ia sudah berlari ke samping, jari-jarinya bergerak liar di atas papan ketik di pergelangan tangan. Layar kecil di lengannya memancarkan sinar pemindai berwarna biru, menyorot terus ke arah tubuh makhluk yang tersusun dari cahaya itu. "Tapi dia bukan mesin biasa, Ren! Dia murni energi murni zaman dulu! Serangan fisik mungkin tidak akan mempan!"

Di sisi lain, Anya sudah bersiap. Napasnya berubah menjadi uap putih tebal, dan dari telapak tangannya, uap dingin berubah menjadi es yang tumbuh cepat, membentuk dua bilah pedang panjang berkilau tajam.

"Kalau dia energi, berarti dia punya wujud materi saat menyerang," ucap Anya tegas. Mata merahnya menyala tajam, fokus penuh pada pergerakan bilah-bilah cahaya di depan sana. "Saat dia menyentuh sesuatu... dia menjadi nyata. Di saat itulah aku bisa membekukannya."

Belum sempat mereka menyelesaikan rencana, makhluk itu bergerak.

Dengan kecepatan yang tak sebanding dengan ukuran tubuhnya yang raksasa, ia melesat maju. Bilah-bilah cahaya itu menghunjam ke bawah ke arah tempat mereka berdiri sedetik yang lalu.

DUAR!!

Tanah pecah berkeping-keping, gelombang kejut menyapu seluruh ruangan, melempar Kai yang berada paling pinggir hingga terpental menabrak dinding batu.

"Kai!" teriak Ren.

"Aku baik-baik saja! Fokus saja!" balas Kai sambil bangkit lagi, meski wajahnya memerah menahan sakit. Tangan kanannya yang memegang alat pemindai sedikit bergetar, tapi ia tidak berhenti bekerja.

Ren melompat ke samping, menghindari hujaman cahaya berikutnya. Ia menyadari serangan makhluk itu bukan sekadar tebasan biasa. Setiap bilah cahaya yang mencium tanah, meninggalkan bekas hangus dan suara bisikan-bisikan samar di telinga. Bisikan-bisikan itu berisi keraguan, ketakutan, dan keputusasaan — segala emosi buruk yang pernah dirasakan para pewaris sebelum dirinya yang gagal melewati ujian ini.

"Kau akan gagal sama seperti kami..."

"Dunia ini sudah hancur, kau tidak bisa menyelamatkannya..."

"Serahkan saja... kembalilah menjadi kosong..."

Ren menggelengkan kepala keras-keras, berusaha mengusir suara-suara itu. Keringat dingin menetes di pelipisnya. "Jangan dengarkan! Itu cuma tipuan!" teriaknya pada diri sendiri dan kawan-kawannya.

Namun Anya yang sedang berlari mendekat terlihat tersiksa. Langkahnya melambat, wajahnya berkerut kesakitan seolah mendengar suara-suara itu lebih keras dari yang lain. Kekuatan es di tangannya mulai meleleh, uap dinginnya berkurang drastis.

"Suara itu... aku mengenalinya..." gumam Anya pelan, matanya sedikit kosong. "Itu suara orang-orang yang mati saat perang besar... suara mereka terperangkap di dalam energi ini..."

Makhluk itu mengangkat tangannya lagi, kali ini menyerang Anya yang seolah lumpuh karena mendengar bisikan masa lalu. Bilah cahaya itu menghunjam cepat ke bawah.

"Anya!"

Ren melesat secepat kilat. Tanpa pikir panjang, ia menjatuhkan diri, mendorong Anya menjauh tepat saat cahaya itu menghantam tanah di sebelah mereka. Tanah di sekitarnya meleleh menjadi kaca panas karena suhu serangan yang luar biasa.

Ren bangkit berdiri, berdiri di depan Anya, melindunginya. Cahaya ungu di tangannya menyala sangat terang, begitu kuat hingga membuat bayangan mereka bergetar di dinding.

"Berhenti!" bentak Ren. Suaranya bergema, menyaingi suara ribuan orang makhluk itu. "Aku tidak peduli apa yang terjadi seribu tahun lalu! Aku tidak peduli penderitaan siapa pun di masa lalu! Aku ada di sini untuk mengubahnya! Bukan untuk mendengarkan keluhan kalian!"

Saat kata-kata itu meluncur keluar, cahaya ungu dari tangan Ren meledak keluar, menyebar seperti ombak yang menghantam seluruh ruangan.

Seketika itu juga, bisikan-bisikan itu terhenti. Cahaya emas makhluk penjaga itu berkedip, tersentak seolah mendapat pukulan telak. Energi yang tadinya liar dan tak terkontrol, seketika menjadi bingung, tak menentu arahnya.

Di sisi lain, Kai bersorak gembira. "Itu dia! Ren! Kekuatanmu bisa mempengaruhi struktur energinya! Kau bisa mengacaukannya sama seperti saat kau mengacaukan sistem di kota!"

Kai menunjuk layarnya yang kini penuh dengan grafik berantakan.

"Polanya hancur! Dia kehilangan keseimbangan karena energimu bertabrakan langsung! Anya, sekarang! Bekukan intinya!"

Anya, yang sudah pulih dari keterkejutan, mengangguk mantap. Matanya merah kembali tajam. Ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, dan kali ini, bukan lagi sekadar pedang es, melainkan badai salju raksasa yang keluar dari tubuhnya. Udara di ruangan itu berubah drastis menjadi beku, hingga uap air di udara langsung menjadi butiran-butiran kristal yang berkilau.

"DIAM DI TEMPAT!" teriak Anya.

Angin dingin menderu kencang, menyambar seluruh tubuh makhluk penjaga itu. Lapisan es tebal merambat cepat dari kaki ke atas, mengunci pergerakan ribuan kepingan cahaya itu. Makhluk itu meraung, suara ribuan orang itu berubah menjadi jeritan bingung dan marah, tapi semakin ia bergerak, semakin kuat es itu mengikatnya.

"Ren! Sekarang! Hancurkan simbol di tengah dahinya! Itu intinya!" teriak Kai sambil terus mengetik, memancarkan gelombang gangguan data sekuat tenaga dari alat di tangannya.

Ren mengumpulkan seluruh energinya di tangan kiri. Cahaya ungu itu menjadi padat, berubah bentuk menjadi tombak panjang yang berkilau, sama persis seperti pola di tangannya. Ia menatap makhluk raksasa itu yang kini tertahan sepenuhnya oleh es buatan Anya, simbol ungu di dahinya berkedip-kedip lemah, seolah berjuang tetap hidup.

"Maaf," bisik Ren. "Aku tahu kau bukan musuh. Kau hanya penjaga yang melakukan tugasmu. Tapi aku harus lewat. Aku harus tahu kebenaran."

Ren berlari, melompat tinggi ke udara, melampaui kepingan-kepingan cahaya yang mencoba bergerak meski dibekukan, dan dengan sekuat tenaga ia menghunjamkan tombak cahaya ungu itu tepat ke tengah simbol di dahi makhluk itu.

SRRIIIING!!

Suara nyaring menyakitkan telinga terdengar, seperti kaca raksasa yang pecah.

Cahaya emas meledak ke segala arah, begitu terang hingga mereka bertiga harus menutup mata. Gelombang energi mendorong mereka mundur hingga menabrak dinding ruangan.

Hening.

Perlahan-lahan, cahaya itu meredup.

Ren membuka matanya perlahan, napasnya tersengal berat, tubuhnya terasa lemas luar biasa seolah semua tenaga hidupnya tersedot habis. Ia bangkit berdiri dengan susah payah, menatap ke tengah ruangan.

Makhluk raksasa itu sudah hilang. Tidak ada lagi wujudnya, tidak ada lagi suara ribuan orang. Yang tersisa hanyalah butiran-butiran cahaya emas halus yang melayang pelan di udara, seperti debu bintang yang indah dan damai.

Dan di tempat makhluk itu berdiri tadi... pintu gerbang raksasa itu kini terbuka perlahan.

Besi-besi berat itu bergeser ke samping dengan suara berat dan panjang, menampakkan apa yang ada di baliknya.

Di sana, terdapat sebuah lorong pendek yang di ujungnya ada sebuah ruangan bundar yang indah, bersih, dan penuh cahaya putih lembut. Di tengah ruangan itu, ada sebuah meja batu besar. Dan di atas meja itu... tergeletak sebuah benda yang membuat napas Ren tertahan.

Sebuah kotak kecil terbuat dari kristal bening, berukir pola ungu yang sangat familiar.

"Kita... berhasil..." gumam Kai, jatuh duduk ke lantai sambil tersenyum lebar meski napasnya tersengal. "Kita melewati ujian itu..."

Anya berjalan mendekati Ren, wajahnya masih sedikit pucat tapi matanya bersinar lega. Ia menatap ke arah gerbang yang terbuka itu.

"Penjaga itu bukan ingin membunuhmu, Ren," ucap Anya pelan. "Dia hanya ingin memastikan kau memiliki tekad yang cukup kuat. Bahwa kau bukan sekadar pembawa kunci, tapi kau adalah seseorang yang berani menanggung beban masa lalu itu."

Ren mengangguk pelan. Ia berjalan perlahan mendekati gerbang yang terbuka itu, menatap benda di atas meja batu di sana. Cahaya ungu di tangannya kini berdenyut cepat, sangat antusias, seolah merindukan benda itu.

Sesampainya di depan meja batu itu, Ren melihat ada tulisan ukiran di sisi meja tersebut, ditulis dengan huruf kuno yang entah bagaimana bisa ia baca dan pahami maknanya.

"Di sini tersimpan Ingatan yang Terkunci.

Hanya dia yang disebut Nol yang boleh membukanya.

Karena di dalamnya... tersimpan jawaban atas satu pertanyaan besar:

Apakah dunia ini diciptakan untuk kebahagiaan... atau hanya untuk penahanan?"

Ren mengulurkan tangannya perlahan ke arah kotak kristal itu. Jari-jarinya menyentuh permukaannya yang dingin dan halus.

Seketika itu juga, kotak itu terbuka sendiri.

Dan cahaya yang jauh lebih terang, jauh lebih dahsyat dari semua yang mereka lihat sebelumnya, menyembur keluar, menelan seluruh ruangan, menelan seluruh pandangan Ren.

Di tengah cahaya itu, gambar-gambar berputar cepat di kepalanya. Ia melihat wajah-wajah orang, melihat pembangunan Menara Zenith, melihat penciptaan sistem Archive, dan melihat sosok yang sangat mirip dengannya — sosok pendiri terakhir, orang yang membagi kunci itu menjadi dua bagian seribu tahun lalu.

Dan di dalam ingatan itu, Ren akhirnya mendengar kebenaran yang paling berat dari semuanya... kebenaran yang membuat seluruh pandangannya tentang Elarion runtuh seketika.

Bersambung...

1
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
sena himura
siap
sena himura
ok,
Uday
semangat mas, alur ceritanya bagus.

jangan lupa berkunjung ke novelku mas judulnya "Ovrien"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!