Mona Gradies, wanita 26 tahun yang ceria, blak-blakan, dan sedikit ceroboh, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah bekerja di Aditama Group—perusahaan milik Wira Aditama, seorang CEO berusia 30 tahun yang dikenal dingin, tegas, berwibawa, dan gila kerja.
Di balik sikapnya yang tampak sempurna, Wira menyimpan dunia yang penuh kontrol, aturan, dan jarak dari siapa pun. Namun Mona hadir seperti gangguan yang tidak bisa ia atur—berisik, ceroboh, tapi jujur dan hangat.
Awalnya hanya kesalahan kecil dan perdebatan sepele di kantor. Tapi semakin lama, batas profesional dan perasaan mulai kabur.
Hingga satu peristiwa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 - Pacar CEO
Bab 34 — Pacar CEO
Mona tidak bisa tidur. Sudah hampir jam dua pagi, tapi ia masih berguling di atas kasur sambil menutupi wajah dengan bantal. Karena setiap kali memejamkan mata... suara Wira Aditama kembali terngiang di kepalanya.
"Selamat malam, pacarku."
Dan setiap mengingatnya… jantung Mona langsung tidak aman lagi.
“Ya Tuhan…”
Ia membalik badan lagi sambil menatap langit-langit kamar. Pacar. Ia sekarang pacar Wira Aditama. CEO galak, perfeksionis dan ditakuti satu kantor. Dan entah bagaimana…pria itu sekarang menjadi miliknya. Pikiran itu terlalu tidak masuk akal sampai Mona sendiri sulit mempercayainya.
*******
Paginya, Mona bangun dengan mata panda. Ia bahkan hampir salah memakai sepatu karena pikirannya masih kacau.
Di perjalanan menuju kantor, ia terus mengingat satu hal penting— hari ini ia harus bersikap normal.
Normal, biasa saja. Tidak gugup, tidak salah tingkah dan tidak tersenyum sendiri seperti orang aneh. Namun semua niat itu langsung runtuh begitu ia masuk lobby kantor.
Karena Wira sedang berdiri di sana. Lengkap dengan setelan hitam rapi dan aura dingin khasnya. Beberapa staf langsung membungkuk hormat saat pria itu lewat. Dan Mona refleks ikut menunduk.
“Pagi, Pak.”
Wira berhenti tepat di depannya. Tatapannya turun pelan ke wajah Mona. Lalu…
“Susah tidur?”
Deg
Mona langsung panik.
“Hah?!”
“Kamu kelihatan ngantuk.”
“B-Biasa aja kok.”
Wira menyipitkan mata tipis. Dan sebelum Mona sempat kabur—
“Karena kepikiran aku?”
Mona langsung tersedak udara sendiri.
“PAK!”
Beberapa staf langsung menoleh bingung. Sementara Wira terlihat sangat tenang.
Pria itu lalu berjalan melewati Mona sambil berkata pelan, “Masuk setelah bikin kopi.”
Dan Mona hanya bisa membeku di tempat dengan wajah merah total. Begitu Mona masuk ke ruang CEO membawa kopi— Wira sedang membaca dokumen seperti biasa.
Ekspresinya dingin. Fokus. Profesional. Seolah pria yang menggoda dirinya tadi pagi adalah orang lain.
Mona meletakkan kopi di meja cepat-cepat.
“Silakan, Pak.”
Namun saat ia hendak mundur— “Tunggu.”
Deg
Mona langsung tegang lagi. Wira meletakkan dokumen perlahan lalu menatapnya.
“Kemari.”
“Kenapa?”
“Kamu masih canggung.”
“Ya iyalah!”
Wira menahan senyum kecil. Dan Mona mulai sadar sesuatu yang berbahaya— pria ini sekarang menikmati melihat dirinya gugup.
“Saya masih belum terbiasa,” gumam Mona pelan.
“Dengan apa?”
“…Dengan kita.”
Tatapan Wira perlahan melembut. Lalu tanpa peringatan— pria itu menarik tangan Mona pelan hingga berdiri lebih dekat dengannya.
“Pak Wira!”
“Pintu terkunci.”
“Itu bukan poinnya!”
Wira tertawa kecil. Dan Mona benar-benar ingin menyerah saja sekarang.
“Kamu menyesal?” tanya Wira tiba-tiba.
Mona langsung terdiam.
“Hah?”
“Jadi pacarku.”
Tatapan pria itu serius sekarang. Membuat dada Mona langsung menghangat. Ia perlahan menggeleng.
“Enggak.”
“Yakin?”
“Iya.”
Lalu Mona tersenyum kecil malu.
“Walaupun jantung saya jadi nggak sehat.”
Wira akhirnya benar-benar tersenyum dan Mona kembali merasa pria ini terlalu tampan untuk kebaikan mentalnya. Namun suasana hangat itu terganggu saat ponsel kantor berbunyi.
Mona buru-buru menjauh lalu mengangkat telepon.
“Iya, ruang direktur utama.”
Beberapa detik kemudian wajah Mona berubah bingung.
“Sekarang?”
Wira langsung memperhatikan.
“Ada apa?”
Mona menutup speaker pelan.
“Pak Reza datang.”
Ekspresi Wira langsung datar.
“Suruh masuk.”
Deg
Entah kenapa Mona mendadak merasa gugup.
Tak lama kemudian, Reza Mahendra masuk dengan senyum santai seperti biasa, namun langkah pria itu sedikit melambat saat melihat Mona dan Wira berdiri terlalu dekat. Tatapannya langsung berubah curiga.
“Oke…” gumamnya pelan. “Aku merasa melewatkan sesuatu.”
Mona langsung panik.
“Enggak kok!”
“Bohong banget.”
Reza menatap Wira. Sementara Wira terlihat santai luar biasa dan itu justru berbahaya.
“Kalian…” Reza menunjuk bergantian. “Jangan bilang—”
“Aku pacarnya.”
Bruk
Map di tangan Mona langsung jatuh.
“PAK WIRA!”
Sementara Reza membeku total. Ruangan langsung sunyi beberapa detik. Lalu—
“HAH?!”
Teriakan Reza hampir membuat Mona ingin menghilang dari bumi.
“Aku tahu!” seru Reza sambil menunjuk Wira. “Aku tahu tatapanmu ke Mona nggak normal!”
“Reza!” Mona sudah mau mati malu.
“Gila…” Reza masih terlihat syok. “CEO berhati batu akhirnya jatuh cinta juga.”
Wira bersandar santai di kursinya.
“Aku tidak pernah bilang aku berhati batu.”
“Kau lebih parah dari batu.”
Mona menutupi wajahnya sendiri. Ini benar-benar mimpi buruk.
“Jadi sejak kapan?” tanya Reza penasaran.
“Baru resmi semalam,” jawab Wira tenang.
Dan Mona sekali lagi ingin pingsan, kenapa pria ini bisa bicara setenang itu?!
Reza langsung tertawa keras.
“Wah parah. Satu kantor bakal heboh kalau tahu.”
“Karena itu jangan bocor dulu,” ujar Mona cepat.
Reza langsung menatapnya dengan ekspresi jahil.
“Hmm… tergantung.”
“Reza!”
“Oke, oke.”
Pria itu akhirnya duduk sambil masih menahan tawa.
“Tapi serius, aku nggak nyangka.”
Tatapannya lalu berubah lebih lembut ke Mona.
“Jaga dia baik-baik ya.”
Deg
Mona berkedip kecil.
“Hah?”
Reza menghela napas dramatis sambil menunjuk Wira.
“Dia ini susah banget dibaca. Dingin. Kerja melulu. Kadang nyebelin.”
“Hey.”
“Tapi kalau sudah serius sama seseorang…” lanjut Reza, “dia bakal gila.”
Wajah Mona langsung memanas lagi. Karena ia mulai menyadari itu juga.
Tak lama kemudian Reza pergi setelah urusan bisnis selesai. Namun sebelum keluar, pria itu sempat berbisik pelan pada Mona,
“Kalau dia macam-macam, lapor aku.”
“Reza.”
“Bercanda.”
Namun senyumnya hangat. Dan Mona sadar— Reza benar-benar peduli pada Wira.
Setelah pintu tertutup, ruangan kembali sunyi. Mona langsung menghela napas panjang.
“Saya capek…”
“Kenapa?”
“Karena hidup saya berubah drastis dalam semalam.”
Wira berdiri lalu berjalan mendekatinya.
“Kamu tidak suka?”
Mona menatap pria itu beberapa detik. Lalu tersenyum kecil.
“Belum terbiasa aja.”
Wira mengangguk pelan. Namun beberapa detik kemudian—
“Mona.”
“Iya?”
“Ada hal lain yang harus kamu biasakan.”
“Hah?”
Tatapan Wira berubah sedikit jahil.
“Mulai sekarang kamu harus menerima kalau aku akan lebih sering dekat denganmu.”
Deg
Mona langsung mundur satu langkah refleks.
“Pak Wira, kita masih di kantor.”
“Aku tahu.”
“Tolong ingat image Bapak.”
“Aku sudah terlalu lama menjaga image.” Kalimat itu membuat Mona terdiam.
Dan sebelum ia sempat membalas— Wira tiba-tiba menariknya pelan mendekat.
“M-Mau apa?”
Pria itu menunduk sedikit ke arah wajah Mona. Sangat dekat sekarang.
“Mengganggu pacarku sebentar.”
Jantung Mona benar-benar hampir copot. Dan tepat saat wajah mereka tinggal beberapa senti—
Tok... Tok...
“Pak, dokumen—”
Pintu terbuka dan sekretaris divisi lain langsung membeku di tempat.
Mona refleks mendorong dada Wira lalu mundur cepat dengan wajah merah total. Sementara Wira menghela napas kecil penuh gangguan. Dan untuk pertama kalinya… ada orang lain yang melihat dengan jelas bahwa hubungan mereka memang sudah berbeda.