NovelToon NovelToon
Dikejar Cinta Pak Guru (Dipaksa Menikah Dengan Orang Mati Season 2)

Dikejar Cinta Pak Guru (Dipaksa Menikah Dengan Orang Mati Season 2)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Fantasi / Iblis
Popularitas:787
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

Vince adalah seorang guru sekaligus pemilik saham terbesar di SMA Taruna. Awalnya ia mau untuk menjadi kepala sekolah, namun setelah kedatangan murid dengan paras yang begitu mirip dengan cinta pertamanya.
Vince mengurungkan niatnya untuk menjadi kepala sekolah.
Ternyata muridnya itu adalah anak kandung dari cinta pertamanya yang bernama Naura, Naura di paksa menikah dengan vampir.
Murid Vince yang menjadi cinta pertamanya adalah Maura, Maura tidak tahu jika dia bukanlah anak kandung dari Stela.
Maura adalah anak dari raja vampir Liam, Lian dan juga Naura.
Lian maupun Liam dulu sangat mencintai Naura, namun Naura meninggal dunia setelah beberapa hari melahirkan bayi Maura.
Naura meninggal dengan cara mengenaskan dengan menjadi tawanan raja vampir.
Lian sendiri menikah dengan Stela, namun detik detik meninggalnya Naura. Lian mengatakan hal yang menyakitkan Stela, membuat Stela menaruh dendam kesumat bahkan kebencian pada Maura, apalagi wajah Maura itu sama persis dengan ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15.

Sementara itu, di tempat parkiran yang ada di area rumah sakit.

"Astaga, Vince, jangan menarik-narikku seperti ini! Lagian sekarang kan kita sudah berada di luar ruangan! Kenapa kamu masih menarikku?" gerutu Daniel dengan raut wajah yang terlihat menyebalkan.

"Apakah dia tidak tahu seberapa merasa jijiknya aku?" Tanpa menyahut, Vince terlihat langsung melepaskan tangannya dari sahabatnya. Lalu dengan wajah jijik, ia terlihat menggosok-gosokan tangannya yang habis memegang tangan sahabatnya itu ke baju.

"Astaga, apaan sih! Jijik lo," tegur Daniel dengan wajah kecewa. Dia mulai merasa kesal dengan perlakuan Vince, "dasar! Lo sendiri yang main pegang pegang tangan gue, tapi lo yang merasa jijik sendiri!" gumam Daniel dalam hati.

"Gak," sahut Vince singkat. Lalu berjalan lebih cepat, ia tidak mau berjalan beriringan dengan Daniel.

"Lah, kenapa malah ninggalin gue?" tanya Daniel dengan wajah kesal, tak habis pikir dengan perlakuan sahabatnya.

"Gue itu laki-laki normal, Daniel. Gue gak mau orang-orang mengira kalau kita itu melenceng. Hanya gara-gara terlalu dekat," sahut Vince santai.

Daniel merasa frustasi dengan perkataan Vince, seakan-akan kedekatan mereka adalah hal yang salah.

"Astaga, kita kan emang normal. Gue juga pernah punya anak kali dengan mantan istri gue. Astaga, Vince, kenapa pikiran lo itu dangkal sekali!" bentak Daniel, tak tahan lagi dengan penilaian yang sangat berlebihan dari sahabatnya itu.

"Iya ... Iya ... Maaf," sahut Vince singkat, ia terlihat mengambil kunci mobil dari dalam tas kecilnya.

"Sudah 15 tahun kita hidup menjomblo bersama, jangan bilang kalau lo tiba tiba takut orang orang berpikir melenceng terutama Maura," tebak Daniel sembari terus menatap sahabatnya yang sedang sibuk mencari kunci.

Namun Vince memilih acuh, dan tetap mencari kunci mobilnya.

"Nyari kunci aja lama banget sih!" gerutu Daniel sesekali menguap.

"Mendingan lo itu masuk ke dalam mobil lo dulu! Dari pada lo itu ribut dari tadi," ujar Vince dengan nada kesal.

"Gue kesini naik taksi, hehe," jawab Daniel dengan wajah tidak enak sembari menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.

"Memangnya di mana mobil lo?" tanya Vince tanpa menoleh.

"Hehehe, mobil gue di sita sama nyokap bokap. Gue ikut numpang di mobil lo, ya," pinta Daniel dengan wajah memelas.

"Idih, jangan bilang lo itu juga mau ikutan numpang tidur di apartemen gue," tebak Vince dengan raut wajah mulai kesal.

Lagi lagi Daniel hanya bisa nyengir. "Lo kan tahu, kalau nyokap bokap gue itu marah sama gue karena sampai sekarang gue masih jomblo. Gue belum boleh pulang ke rumah kalau gak bawa wanita untuk di jadiin calon istri. Masak gue harus di tidur di sofa SMA Taruna lagi, gak lah. Badan gue sakit semua. Gue nginep di apartemen lo ya," pinta Daniel dengan ekspresi wajah menjijikkan sembari terus mendekatkan wajahnya ke arah Vince.

"Gak usah dekat dekat," kata Vince berusaha menjauhkan wajah Daniel.

"Boleh ya gue tidur di apartemen lo? Lagian salah satu kamar lo kan nganggur, lo tau sendiri buat investasi di SMA Taruna. Gue sampai jual mobil, apartemen dan saham gue. Plis lah Vince! Gue kan gak sekaya lo." Daniel berusaha membujuk Vince.

"Iya iya bawel," sahut Vince ketus. "Eh kuncinya kok gak ada, apa ketinggalan di atas meja di ruang inap maura, ya?"

"Ya bisa saja ketinggalan! Sudah lebih dari 15 menit lo itu sibuk ngotak atik tas lo."

"Ya udah gue kesana dulu buat ambil kunci gue," kata Vince tanpa menunggu jawaban Daniel. Ia pun terlihat langsung berlari meninggalkan sahabatnya itu begitu saja.

"Cepet banget larinya!" gerutu Daniel dengan suara pelan.

****

Vince yang sudah sampai di depan ruangan Maura, ingin mengetuk pintu. Namun ia tiba tiba mengurungkan niatnya.

Walaupun pintu ruangan inap Maura terbuka sedikit, belum tertutup sempurna.

Namun, sebagai bentuk kesopanan, Vince tetap harus mengetuk pintu dulu sebelum memasuki ruangan seseorang.

Vince memilih untuk mendengarkan Lian dan juga Stela yang sedang berdebat.

"Mah, masak kita mau tinggalin Maura sendirian di rumah sakit," ujar Lian bingung.

"Biarin dia itu di rumah sakit sendirian! Lagian malam itu memang waktunya orang tidur, dia gak akan sadar kalau dia itu sendirian di rumah sakit. Orang tidurnya aja mirip sama kerbau, nyatanya setiap malam aku kunciin di kamar mandi bisa tidur pulas," jelas Stela dengan nada kesal.

"Tapi, kalau malam malam Maura itu bangun."

"Ya biarin saja! Dasar anak gak berguna nyusahin!"

"Kalau begitu, Mamah pulang saja. Aku akan tetap di sini menjaga putriku!"

"Kalau ayah tetap ingin tinggal di sini, jangan salahkan aku kalau aku sampai membocorkan semuanya!" Ancam Stela.

Hembusan nafas kasar tampak keluar dari rongga hidung Lian. Nafasnya nampak tercekat, sekarang ia berada dalam pilihan yang sulit.

"Ya udah ayok kita pulang," sahut Lian, ia terlihat pasrah sembari mengemasi barang barangnya dan memasukkannya ke dalam tas.

Vince tertegun, seraya bergumam. "Apakah Maura anaknya mendiang Naura?" tebak Vince. Ia terlihat menjauh dari ruangan Maura, takut Lian dan Stela tahu.

Vince memilih untuk bersembunyi.

"Apakah malam ini? Aku harus

menemani Maura?" tanya Vince dalam hatinya, sembari menunggu Lian dan Stela benar benar pergi meninggalkan ruang inap Maura.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!