Demi menyelamatkan perusahaan keluarga dari kebangkrutan dan membiayai pengobatan adiknya yang kritis, Mireya terpaksa menjual kesuciannya. Ia menandatangani kontrak satu tahun untuk menjadi ibu pengganti bagi Calix David—seorang miliarder tampan berusia 35 tahun yang terkenal kejam dan sedingin es.
Pernikahan rahasia digelar, dan Mireya dikurung di mansion mewah dengan aturan ketat. Calix memperingatkannya: "Hubungan kita hanya sebatas rahim dan uang. Jangan pernah jatuh cinta kepadaku."
Namun, kepolosan Mireya perlahan mulai menggoyahkan hati sang Tuan Tsundere. Di tengah intrik konglomerat dan rahasia kelam mansion, akankah Mireya pergi setelah melahirkan sang ahli waris, atau justru berhasil memiliki hati Calix sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Keputusan Dingin Mireya
"Tolong jangan bawa-bawa namaku untuk mengemis harta, Ma. Bukankah dari awal kalian sendiri yang bilang kalau tugasku di sini hanya untuk melahirkan anak Tuan Calix?"
Suara Mireya yang mendadak terdengar dari balik pilar lobi membuat histeria di ruang tamu utama seketika terhenti. Fiona yang sedang menangis tersedu-sedu langsung menoleh dengan mata terbelalak, sementara Ardan yang masih bersimpuh di lantai marmer perlahan mendongak, menatap putrinya dengan tatapan penuh harap yang menjijikkan.
"Reya! Anakku! Kamu lihat apa yang dilakukan suamimu pada perusahaan Papa?!" jerit Fiona, langsung bangkit berdiri dan hendak berlari menghampiri Mireya. "Dia menarik semua saham! Dia mau memiskinkan kita, Reya! Tolong bicara pada Calix, suruh dia hentikan semua ini!"
Mireya tidak bergeming di tempatnya. Tangannya yang mendekap kantong berisi kanvas, cat lukis, dan benang sulam mengencang. Wajahnya begitu datar, sedingin es, tanpa ada riak emosi sedikit pun melihat penderitaan orang tua kandungnya.
"Reya, Papa mohon, Nak..." Ardan ikut merangkak mendekat, wajah paruh bayanya tampak pias dan dipenuhi peluh ketakutan. "Kalau David Group tidak mengembalikan modal itu sebelum besok sore, seluruh aset kita akan disita bank. Kita akan jadi gelandangan, Reya! Kamu tega melihat Papa dan Mamamu menderita?"
Calix yang sejak tadi berdiri mematung hanya bersedekap dada. Netra elangnya beralih dari Ardan, kini mengunci sepenuhnya pada sosok Mireya. Ada rasa penasaran yang bergejolak di dada Calix, ingin melihat apakah pertahanan gadis desa itu akan runtuh lagi oleh air mata palsu kedua orang tuanya.
Namun, Mireya justru memalingkan wajahnya dari Ardan dan Fiona. Pandangannya kosong, menembus dinding kemewahan mansion yang terasa mencekam.
"Saat Nenek diturunkan ke liang lahat kemarin... tanahnya sangat dingin, Pa, Ma," ucap Mireya, suaranya pelan namun sanggup membungkam seluruh ruangan. "Gerimis turun, dan aku berdiri sendirian menimbun makam wanita yang membesarkanku. Di mana kalian saat itu? Apa kalian memikirkan rasa menderita yang aku rasakan?"
Fiona tergagap, wajahnya memerah karena malu di depan para pelayan dan pengawal Calix yang berjaga. "Reya, kan... kan Papa dan Mama sibuk mengurus administrasi rumah sakit Aiden di kota! Kamu harus paham kondisi bisnis—"
"Cukup, Ma," potong Mireya tegas. Ia melempar pandangan dingin yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. "Aku tidak ingin masuk ke dalam urusan ini. Aku tidak ingin ikut campur. Apa pun yang dilakukan Tuan Calix pada perusahaan Papa, itu murni urusan bisnis kalian dengan investor. Aku... bukan lagi bagian dari keluarga Pradipta."
Tanpa menunggu balasan atau jeritan histeris dari ibunya lagi, Mireya berbalik. Ia menyerahkan kantong-kantong belanjaannya kepada Bi Ani yang berdiri cemas di dekat pilar.
"Bi, tolong simpan ini di kamar," bisik Mireya lirih, sebelum melangkah cepat menaiki anak tangga melingkar, mengabaikan teriakan Fiona yang terus memanggil namanya dengan penuh makian di bawah sana.
"Mireya! Anak durhaka kamu, ya! Reya—!"
"Doni, seret mereka keluar sekarang juga," perintah Calix datar, memutus suara melengking Fiona dengan aura mematikan yang membuat pasang suami istri itu seketika terbungkam ketakutan saat para pengawal berbadan kekar mulai melangkah maju.
Mireya menutup pintu kamar utama dengan rapat. Suara-suara bising dari lantai bawah perlahan memudar, digantikan oleh keheningan yang menyesakkan dada. Rasa kecewa, benci, dan terluka yang teramat dalam kembali bergolak di dalam dirinya. Orang tuanya benar-benar tidak berhati, bahkan di saat posisi mereka terdesak seperti ini, yang mereka tanyakan hanyalah angka-angka miliar, bukan kabarnya setelah kehilangan Nenek.
Dengan langkah gontai, Mireya berjalan menuju kamar mandi luas yang berlapis marmer putih. Ia menyalakan keran air hangat, membiarkan bathtub berukuran besar itu terisi penuh.
Mireya menanggalkan pakaian kasualnya satu per satu dengan gerakan lambat, lalu melangkah masuk ke dalam air hangat yang mengepulkan uap tipis. Ia menenggelamkan seluruh tubuhnya hingga sebatas leher, menekuk kedua lututnya, dan menyandarkan kepalanya di tepi bathtub.
Mireya memejamkan mata rapat-rapat. Air hangat itu menyentuh kulitnya yang masih menyisakan sisa rasa kaku dan linu, namun rasa sakit fisik itu sama sekali tidak sebanding dengan hancurnya hati Mireya atas perlakuan Ardan dan Fiona. Di dalam keheningan kamar mandi yang tertutup rapat, air mata Mireya kembali mengalir tanpa suara, menyatu dengan air hangat yang merendam keputusasaannya pada arti sebuah keluarga.
Hampir empat puluh lima menit Mireya mengunci diri di dalam sana, membiarkan jemari tangannya mulai memucat dan keriput karena terlalu lama berendam. Ia hanya ingin membersihkan diri dari segala kotoran emosi yang dibawa oleh orang tuanya hari ini.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan tegas pada pintu kayu tebal kamar mandi mengejutkan Mireya dari lamunannya.
"Mireya. Keluar sekarang," suara bariton Calix terdengar dari balik pintu, bernada rendah namun sarat akan otoritas yang tidak bisa dibantah. "Kamu sudah terlalu lama di dalam. Dokter Januar sudah menunggu di kamar untuk melakukan pemeriksaan fisik pertamamu."
Mireya tidak bergerak dari posisinya. Ia hanya menatap pintu kaca buram itu dengan pandangan hambar. "Biarkan dokter itu menunggu, Calix. Atau suruh dia pulang saja. Aku sedang tidak ingin diperiksa."
"Aku tidak sedang memberikanmu pilihan, Mireya," sahut Calix, ketukan pintunya kini terdengar lebih keras dan menuntut. "Buka pintunya, atau aku akan mendobrak pintu ini seperti yang kulakukan di desamu tadi pagi."
Mendengar ancaman itu, Mireya mengembuskan napas panjang yang terasa berat. Ia tahu betul Calix tidak pernah main-main dengan ucapannya. Dengan enggan, Mireya bangkit dari bathtub, mengeringkan tubuhnya dengan handuk putih tebal, lalu mengenakan jubah mandi satin yang tertutup rapat.
Klek.
Mireya memutar kunci dan membuka pintu kamar mandi. Begitu pintu terbuka, sosok tegap Calix sudah berdiri di depannya dengan setelan kemeja yang kancing atasnya sudah terbuka, menampilkan rahang tegas yang mengatup rapat. Pria itu langsung menelisik wajah pucat Mireya yang masih basah, serta rambut hitamnya yang digulung asal-asalan.
"Kenapa lama sekali?" tanya Calix, nadanya sedikit melunak saat mendapati mata Mireya yang memerah karena habis menangis di dalam air.
"Aku hanya ingin membersihkan diri dari sisa-sisa kotoran yang dibawa orang tuaku di bawah tadi," jawab Mireya jujur dengan nada getir sembari melangkah melewati Calix menuju area tempat tidur.
Calix membalikkan tubuhnya, mengikuti langkah kaki Mireya dari belakang. "Aku sudah mengusir mereka. Dan saham perusahaan papamu sudah hancur total sore ini. Mereka tidak akan pernah bisa mengusikmu lagi."
Mireya menghentikan langkahnya di dekat ranjang, berbalik menatap Calix dengan tatapan hampa. "Lalu apa aku harus berterima kasih padamu karena sudah menghancurkan mereka, Tuan Calix? Apa itu membuat posisi kontrak rahimku di rumah ini menjadi lebih terhormat?"
Calix mengernyitkan dahi, melangkah maju hingga jarak di antara mereka mengikis, memancarkan aura menekan yang biasa ia gunakan. "Aku melakukannya karena mereka pantas mendapatkannya, Mireya. Bukan untuk mendapatkan ucapan terima kasih darimu."
"Baguslah," bisik Mireya lirih, lalu duduk di tepi ranjang besar itu, menatap Dokter Januar yang tampak canggung berdiri di sudut ruangan bersama Bi Ani yang memegang nampan berisi obat-obatan. "Sekarang, panggil doktermu. Lakukan apa pun yang perlu kalian lakukan pada tubuh ini agar proses penanaman benih yang kamu agungkan itu cepat selesai."
Calix menatap kepasrahan Mireya yang begitu dingin dengan dada yang kembali terasa berdenyut nyeri. Rasa cemburu semalam kini berganti menjadi rasa sesak yang tak kasat mata di ulu hatinya, melihat bagaimana gadis desa yang ceria itu kini telah berubah sepenuhnya menjadi sosok yang mati rasa di bawah kendalinya.
semangat terus ya Thor...