NovelToon NovelToon
Undefined: The Guardian Dog

Undefined: The Guardian Dog

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Mafia / Romansa
Popularitas:981
Nilai: 5
Nama Author: hrarou

🌶️ WARNING!!🌶️

Mengandungi ***** ****** yang mungkin tidak sesuai untuk semua pembaca.
.
.
.
Dalam dunia gelap yang dipenuhi darah, senjata, dan pengkhianatan, Seravina dikenal sebagai wanita sempurna yang tidak pernah gagal.

Cantik. Elegan. Mematikan.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah anggunnya, tersembunyi monster dingin yang tidak ragu membunuh siapa pun yang membuatnya jijik.

Hingga suatu malam, pencarian anjing baru membawanya ke arena pertarungan underground.

Dan di sanalah dia bertemu Viktor—pria yang bertarung bukan demi uang atau kemenangan, tetapi demi merasakan sesuatu yang bahkan tidak dia pahami.

Satu kehilangan diri karena trauma.

Satu lagi hidup tanpa pernah benar-benar memilikinya.

Ketika dua manusia yang sama-sama rusak dipertemukan, siapa yang akan hancur lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hidup Binatang Buas

Langkah Seravina tidak terdengar saat ia menuruni tangga marmer, hanya gesekan halus jubah sutra hitamnya yang menyapu lantai.

Ia berhenti di anak tangga terakhir, melipat tangan di depan dada sambil menatap lurus ke arah tiga pria asing yang berdiri kaku di tengah ruangan. Mereka bertubuh besar dan berjas rapi.

Di sofa, Ivan tampak sibuk dengan barisan kode di laptopnya, sementara Nikolai duduk santai sambil membersihkan laras senjatanya.

Seravina hanya diam, menatap ketiga pria itu dengan tatapan kosong yang justru jauh lebih mengintimidasi daripada sebuah bentakan.

"Apa-apaan ini?" tanya Seravina. Suaranya rendah, halus, namun mengandung ancaman yang tajam seperti silet.

Ivan hanya melirik sekilas dari balik layar laptopnya. "Hadiah dari Mikhail."

Seravina melangkah mendekat, berjalan pelan memutari ketiga pria itu. Ia berhenti tepat di depan salah satu dari mereka, menatap pria yang kepalanya jauh lebih tinggi darinya itu dengan senyum tipis yang tidak mencapai mata.

"Siapa mereka?" tanya Seravina lagi, kali ini suaranya hampir menyerupai bisikan. "Kenapa ada barang rongsokan di tengah lobi?"

Nikolai mendongak, menyeringai tipis melihat ekspresi adiknya. "Itu anjing barumu, Sera."

Mendengar itu, Seravina memejamkan matanya sejenak, mengambil napas panjang yang tenang. Saat ia membuka mata, binar kegilaan yang dingin terpancar di sana. Ia merogoh saku jubahnya, mengeluarkan sebuah pisau lipat kecil yang selalu ia bawa, dan memainkannya dengan lincah di sela jarinya.

"Aku sudah bilang dengan jelas kemarin malam," ucap Seravina, nadanya tetap datar namun sangat menusuk. "Aku mau pria monster tadi malam. Bukan tiga ekor kerbau patuh yang bahkan bau darahnya saja tidak tercium."

Ia mendekatkan ujung pisaunya ke dagu salah satu pengawal baru itu, menekannya sedikit hingga setitik darah muncul di kulit pria tersebut. Pengawal itu tetap mematung, namun matanya menunjukkan kilat ketakutan.

"Singkirkan mereka dalam lima menit," perintah Seravina tanpa menoleh ke arah kakak-kakaknya.

Ivan menghentikan jemarinya di atas keyboard. Ia tahu kalau Seravina sudah bicara setenang itu, dia sedang tidak bermain-main. "Mikhail tidak ada di sini untuk kau ajak debat. Dia sedang mengurus bisnis di balai kota."

"Aku tidak butuh Mikhail untuk memutuskan apa yang menjadi milikku," jawab Seravina tenang. Ia melirik Nikolai dengan tatapan mematikan. "Nikolai, buang sampah-sampah ini. Aku akan mencari anjingku sendiri."

Suara ketukan sepatu kulit yang teratur dan berat terdengar dari arah lorong utama, memotong suasana tegang yang melingkupi ruang tengah. Belum sempat Nikolai bangkit dari duduknya, sesosok tubuh jangkung sudah muncul di ambang pintu.

Mikhail melangkah masuk dengan tenang, aura kepemimpinannya yang dingin dan mutlak seketika mendominasi seluruh ruangan. Jasnya rapi, wajahnya datar tanpa ekspresi, seolah ia baru saja kembali dari rapat resmi, bukan dari urusan berdarah politik bawah tanah.

Langkah Seravina terhenti. Ia tidak berbalik, namun ujung jarinya yang memegang pisau kecil itu bergerak lebih lambat, membiarkan logam dingin itu berputar di sela-sela jari lentiknya.

"Singkirkan mereka dalam lima menit, kau bilang?" suara Mikhail terdengar rendah dan jelas, menyambar kalimat terakhir Seravina seolah ia sudah berdiri di sana sejak tadi mendengarkan segalanya. Ia berhenti tepat di belakang barisan ketiga pengawal itu, menatap tajam ke arah adik tirinya.

Nikolai langsung duduk tegak, senyum menyeringainya lenyap seketika. Ivan pun menutup penutup laptopnya perlahan, bersiap menyaksikan pertikaian yang sudah bisa diprediksi.

Seravina perlahan memutar tubuhnya. Wajahnya masih menampakkan senyum tipis yang sama—tenang, namun matanya berkilat dingin tanpa ada rasa takut sedikit pun saat berhadapan dengan abang sulungnya.

"Kau kembali lebih cepat dari yang kuduga, Mikhail," ucap Seravina lembut, nadanya halus namun penuh penantang. Ia menunjuk ke arah ketiga pria berjas di depannya dengan ujung pisau yang masih berputar. "Jadi... kau yang mengirimkan sampah-sampah ini ke sini?"

Mikhail tidak menjawab langsung. Ia berjalan melewati para pengawal itu seolah mereka hanyalah perabot rumah, lalu berhenti hanya berjarak satu langkah dari Seravina. Tinggi badannya yang menjulang membuatnya harus menunduk sedikit untuk menatap wajah adiknya.

"Mereka adalah anjing terbaik yang ada saat ini dan tidak memiliki masa lalu yang berantakan," jawab Mikhail dengan nada datar dan penuh perhitungan. "Aku memilihkan mereka untukmu karena aku tahu apa yang kau inginkan kemarin malam. Dan jawabannya tetap tidak, Seravina. Pria pilihanmu itu bukan untukmu."

Seravina terkekeh pelan, suara tawanya ringan namun membuat bulu kuduk meremang. Ia memasukkan kembali pisau lipat itu ke dalam saku jubahnya, lalu menatap lurus ke manik mata abu-abu kakaknya.

"Siapa yang memberimu hak untuk memutuskan apa yang pantas dan tidak pantas untukku?" tanyanya pelan, hampir berbisik, namun penekanan setiap katanya begitu tajam. "Aku tidak butuh anjing yang patuh dan membosankan seperti mereka."

Ia melirik sekilas ke arah Ivan dan Nikolai sebelum kembali menatap Mikhail dengan sorot mata yang gelap dan penuh obsesi.

"Aku mau pria itu. Dia yang kucari. Dan kau tahu sebaik apa aku dalam mendapatkan apa yang kuinginkan... dengan cara apa pun," ucap Seravina dingin. Ancaman itu tidak terucap dengan marah, melainkan dengan kepastian yang mengerikan.

Mikhail menyipitkan matanya, rasa protektifnya kini bercampur kecurigaan yang makin dalam. Ia tahu betul sifat adiknya—saat Seravina bicara setenang ini, itu tandanya ia sudah bertekad untuk menghancurkan apa saja yang menghalanginya.

"Viktor Volkov adalah binatang buas, Seravina. Dia tidak punya hati, tidak punya rasa setia, dan satu-satunya hal yang dia pahami hanyalah rasa sakit," ucap Mikhail tegas. "Dan binatang seperti itu tidak akan pernah kulepaskan di dekatmu."

Seravina memiringkan kepalanya sedikit, menatap Mikhail dengan pandangan yang seolah sedang membedah isi kepala abang sulungnya itu. Ia tertawa kecil, suara yang terdengar merdu namun sangat menghina.

"Binatang buas?" ulang Seravina pelan, jemarinya kini berpindah memainkan kerah jas Mikhail yang sangat rapi. "Lucu sekali mendengar itu keluar dari mulutmu."

Ia melirik ke arah Ivan yang masih memegang laptopnya, lalu ke arah Nikolai. Tatapannya kembali mengunci mata Mikhail dengan sorot yang tajam dan dingin.

"Memangnya kalian apa?" bisik Seravina, nadanya tetap tenang namun penuh racun. "Kalian sendiri juga tidak punya hati. Kalian hidup di antara darah dan kekuasaan, bernapas di dalam kegelapan, dan saling memangsa satu sama lain hanya untuk tetap berada di atas. Bukankah kita semua adalah binatang buas di rumah ini?"

Seravina melepaskan kerah jas Mikhail dan menepuk-nepuknya pelan, seolah sedang membersihkan debu yang tak terlihat.

"Bedanya, dia adalah binatang yang jujur," lanjutnya dengan senyum tipis yang mematikan. "Dia tidak berpura-pura memakai jas mahal dan bicara soal protokol pengamanan seperti anjing-anjing dungu ini. Sementara kalian... kalian hanyalah monster yang bersembunyi di balik nama besar Zharvok."

Ia melangkah mundur, memberikan jarak namun atmosfer di sekelilingnya tetap terasa berat.

"Jangan bicara soal moral atau keamanan padaku. Itu tidak cocok untukmu. Jika kau bisa memelihara serigala-serigala di sekitarmu, maka aku pun berhak memiliki monsterku sendiri."

Suasana di lobi itu seketika menjadi hening total. Ivan dan Nikolai hanya bisa terdiam, menyadari bahwa Seravina baru saja menelanjangi sifat asli mereka semua tanpa rasa takut sedikit pun.

......................

Cahaya matahari pagi yang pucat menembus kaca jendela yang retak dan berdebu, menyinari sebuah ruangan sempit yang lebih mirip sel penjara daripada tempat tinggal. Di atas kasur tipis tanpa dipan yang terletak langsung di lantai beton, Viktor membuka matanya.

Tidak ada gerak refleks kaget atau kantuk yang tertinggal. Matanya langsung terbuka lebar, jernih, dan kosong—seperti mesin yang baru saja dinyalakan.

Ia bangkit duduk, membiarkan selimut tipisnya merosot, memperlihatkan tubuhnya yang penuh guratan luka parut. Viktor tidak segera berdiri; ia terdiam selama beberapa menit, menatap lurus ke tembok yang catnya sudah mengelupas.

Viktor berdiri, kakinya yang telanjang menyentuh lantai semen yang dingin. Ruangan itu hampir tidak ada isinya. Sebuah lemari kecil yang pintunya miring, tumpukan handwrap bekas di sudut, dan sebuah meja kayu rapuh. Di atas meja itu, terdapat tumpukan uang tunai hasil kemenangannya di arena—puluhan ribu rubel yang hanya dibiarkan tergeletak begitu saja.

Meski punya cukup uang untuk pindah ke kondominium mewah, Viktor memilih tetap di sini. Uang itu hanya alat untuk bertahan hidup, bukan untuk dinikmati.

Ia berjalan menuju dapur kecil yang hanya seluas dua meter persegi. Ia membuka kulkas tua yang bergetar bising, mengeluarkan sebungkus daging wagyu impor berkualitas tinggi dan sebotol air mineral mahal. Ini adalah satu-satunya anomali dalam hidupnya: Viktor hanya mengonsumsi makanan dan minuman dengan kualitas terbaik. Bukan karena dia penikmat kuliner, tapi karena tubuhnya adalah mesin, dan mesin membutuhkan bahan bakar terbaik agar tidak rusak saat di ring.

Tanpa bumbu yang rumit, ia hanya memanggang daging itu sebentar di atas teflon, lalu memakannya dalam diam sambil berdiri. Matanya menatap ke luar jendela, ke arah gedung-gedung tinggi di pusat kota yang berkilauan.

Setelah selesai, ia melakukan rutinitasnya tanpa cela: seratus push-up, seratus sit-up, dan peregangan otot yang ekstrem hingga persendiannya berbunyi krak. Setiap rasa sakit yang menjalar di ototnya ia terima dengan tenang, seolah rasa sakit itu adalah teman lama yang menyapanya setiap pagi.

Ia kemudian mengganti pakaiannya dengan hoodie hitam dan sweatpants yang sama seperti kemarin. Sebelum keluar, ia menyambar beberapa lembar uang dari meja—hanya secukupnya untuk membeli persediaan makanan lagi—dan membiarkan sisanya tetap berserakan.

Viktor menutup pintu apartemennya yang berderit, menguncinya, dan melangkah menuruni tangga darurat yang berbau besi karat.

Viktor menuruni anak tangga terakhir yang berderit, hendak melangkah keluar dari bangunan tua yang lembap itu. Namun, langkahnya tertahan sejenak saat melihat sesosok wanita tua—pemilik kamar di lantai bawah—sedang menyapu teras depannya yang sempit.

Nenek itu menghentikan kegiatannya, lalu mendongak. Begitu melihat wajah Viktor di balik tudung hoodie-nya, sebuah senyum ramah yang tulus merekah di wajahnya yang keriput.

"Selamat pagi, anak muda tampan," sapa nenek itu dengan suara lembut yang terdengar kontras dengan kebisingan jalanan di luar.

Viktor berhenti, namun ia tidak membalas senyuman itu. Wajahnya tetap datar, kaku seperti patung lilin. Ia hanya menatap nenek itu selama satu detik—sebuah tatapan yang bagi orang lain mungkin terasa dingin, namun bagi nenek itu, ini adalah rutinitas yang biasa.

"Kau berangkat pagi-pagi sekali lagi?" tanya nenek itu sopan, tidak terganggu oleh kebuntuan ekspresi pria di depannya. "Jaga dirimu baik-baik di luar sana. Orang setampan kau harus selalu pulang dalam keadaan utuh."

Viktor tidak menjawab. Baginya, pujian tampan atau perhatian kecil seperti itu hanyalah suara latar yang tidak memiliki arti dalam sistem pertahanan hidupnya. Ia tidak mengerti mengapa seseorang bersikap baik tanpa ada imbalan yang jelas.

Namun, alih-alih mengabaikannya secara kasar, Viktor memberikan satu anggukan kepala yang sangat tipis—hampir tak kentara—sebelum melanjutkan langkahnya melewati nenek tersebut.

"Anak yang aneh, tapi hatinya tidak jahat," gumam nenek itu sambil menatap punggung lebar Viktor yang menjauh dan menghilang di balik kerumunan orang yang mulai memadati trotoar.

Viktor berjalan menyusuri gang sempit, menyatu dengan bayang-bayang gedung tua.

Ia tidak sadar bahwa di balik kemiskinan dan kesunyian hidupnya, ada sesuatu tentang dirinya yang menarik perhatian orang—entah itu kasih sayang seorang nenek tua, atau obsesi gelap seorang putri mafia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!