NovelToon NovelToon
Pita Hitam Kala Senja

Pita Hitam Kala Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Persahabatan / Trauma masa lalu
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: Shourizzz BP

Semua sudah berakhir. Aku yang sulit dalam bergaul, pasti akan mudah dilupakan oleh orang – orang. Tidak dekat dengan siapapun, mau itu teman atau bahkan keluarga, pasti membuat kematianku sama seperti angin yang berlalu. Tidak dikenang oleh siapapun. Hanya kesendirianan yang tersisa. Akhir yang pantas bagi orang sepertiku. Seharusnya begitu, tapi …,
Kenapa aku bisa merasakan tetesan air mata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shourizzz BP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KHAYALAN SEORANG PENYENDIRI

Nama. Sebuah pemberian yang diberikan oleh orang tua pada anaknya. Nama dibuat sebagai penanda atau identitas seseorang agar berbeda dengan orang lain. Nama dibuat seindah mungkin, berharap kebaikan dari setiap panggilan. Nama adalah perwujudan dari keinginan dan harapan. Setiap orang, tentu mengharapkan nama melekat pada dirinya. Berharap namanya akan selalu diingat meski ajal menjemput. Nama menciptakan sebuah ingatan yang tertanam pada diri orang lain, sehingga nama bukan lagi sekedar identitas, melainkan simbol keberadaan manusia pernah tercipta. Tanpa nama, manusia tidak akan bisa diingat oleh siapapun.

Lalu, bagaimana jika nama dihilangkan dari ingatan manusia? Apakah keberadaannya akan dianggap sebuah kenyataan? Mungkin. Mungkin tidak. Nama dan ingatan memiliki hubungan yang begitu erat. Setiap mengingat seseorang, hal pertama yang mungkin teringat adalah nama. Nama dan ingatan berjalan secara selaras, keduanya tidak bisa dipisahkan dalam pikiran manusia. Jika nama bisa diingat, maka semua kenangan akan terjaga. Jika nama dilupakan, mungkin semua ingatan akan menghilang. Nama dibuat agar manusia bisa dikenang. Tanpa nama, tidak ada kenyataan baginya.

Pertanyaan pertama:

“Jika sebelum mati diberi satu kesempatan untuk memohon, apa permintaan yang akan diminta?”

Berharap namanya akan dikenang? Berharap kematian tidak pernah terjadi? Atau, berharap dihidupkan kembali? Tidak. Bukan permohonan seperti itu yang kuharapkan. Jika diberi kesempatan untuk memohon apapun, aku menginginkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuatku berpikir, “terimakasih sudah dilahirkan.” Aku berharap bisa bernilai. Keinginanku tidak akan berubah mau bagaimanapun. Meski tidak ada hidup yang tersisa untukku, meski tidak ada seorang pun yang mengingatku, selama aku bernilai dalam kehidupan orang lain, harapanku sudah terwujud. Aku bersyukur bisa dilahirkan.

Nilai seseorang tidak hanya diukur berdasarkan moralitas atau intelektual, apalagi penampilan. Nilai manusia lebih dari sekedar angka dan huruf, seseorang bisa dianggap bernilai jika memiliki sebuah dampak. Terlepas dari baik dan buruk, dampak yang ditimbulkan seseorang pasti akan menciptakan sebuah nilai pada orang lain. Sudut pandang itulah yang membuat seseorang bisa bernilai. Misalkan saja pahlawan perang. Mungkin hanya satu atau beberapa orang yang namanya diingat, padahal ada begitu banyak pejuang yang membela negerinya, tidak semua dikenang, banyak nama – nama yang terlupakan. Meski begitu, dampak yang mereka buat, bisa dirasakan sekarang. Mau orang yang ternama atau tidak, mereka semua adalah pejuang yang bernilai dan memiliki dampak pada sebuah negeri. Itu juga berlaku sebaliknya. Penjajah juga memiliki nilai dalam dirinya. Meski bukan dalam hal baik, mereka juga memiliki dampak yang besar bagi sebuah negara. Mau baik atau buruk, seseorang bisa dianggap bernilai jika memiliki dampak pada orang lain.

Pertanyaan kedua:

“Apa ada resiko dari sebuah permohonan?”

Pengorbanan. Setiap harapan yang ingin diwujudkan, tentu perlu yang namanya pengorbanan. Harapan tidak akan bisa terwujud jika seseorang tidak mampu mengorbankan sesuatu. Harapan adalah hasil dari pengorbanan. Sebesar apa seseorang mengorbankan sesuatu, sebesar itu pula hasil yang dia dapatkan. Meski terkadang banyak yang beranggapan kalau pengorbanan tidak sebanding dengan yang diharapkan, itu artinya pengorbanan yang diberikan masih kurang. Ekspektasi yang diharapkan dengan pengorbanan yang dilakukan tidak seimbang. Usaha saja tidak cukup untuk mewujudkan impian yang tinggi. Orang – orang berharap dapat menikmati segelas susu, hanya dengan usaha menuangkan air ke dalam gelas. Mereka lupa, untuk menikmati segelas susu, perlu tangan untuk mengangkat gelas tersebut, lupa kalau perlu mulut untuk menerimanya, serta lupa kalau perlu indra perasa untuk menikmatinya. Pengorbanan bukan hanya soal materi, bukan pula hanya soal usaha, pengorbanan lebih luas dari dua hal itu. Merelakan pun merupakan sebuah pengorbanan.

Lalu, pengorbanan apa yang setara dengan permohonanku? Pengorbanan yang setara dengan permohonanku adalah kenangan. Mengulang kembali kehidupan sebelum mati, bukanlah sesuatu yang kuinginkan. Aku tidak pernah berharap untuk memperbaiki apa yang sudah kulewati. Justru, pengulangan yang terjadi padaku adalah harga yang harus kubayar untuk mendapatkan sesuatu yang kuharapkan.

Kehidupan diatur untuk seimbang, diatur juga agar berpasang - pasangan, baik dan buruk, sakit dan sehat, hidup dan mati, serta kenangan dan ketidakadaan. Jika manusia kekurangan kebaikan, maka dia akan dianggap buruk. Paramater menjadi penting dalam konsep kehidupan. Aku yang hidup tanpa banyak kenangan indah, diberi kesempatan untuk memilikinya. Aku bisa merasakan berbagai emosi dari setiap kejadian yang ada. Aku bisa merasakan senang, sedih, marah, itu semua adalah bentuk dari keseimbangan. Harga yang harus kubayar telah terpenuhi dengan adanya kumpulan emosi tersebut. Pengulangan adalah harga yang harus kuberikan.

Pertanyaan terakhir:

“Apakah ada penyesalan setelah memilih sebuah permohonan?

Jawaban:

“Iya, pasti ada.”

Manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik – baiknya, tapi manusia bukanlah makhluk sempurna. Manusia tidak akan tau apa yang terjadi setelah pilihan dibuat. Manusia hanya bisa bahagia jika memilih pilihan yang tepat dan menyesal jika memilih pilihan yang salah. Tapi, bagaimana cara manusia mengetahui pilihan yang dibuat adalah pilihan yang tepat? Tidak ada referensi untuk hal tersebut. Manusia hanya bisa melihat secara subjektif. Menganggap sesuatu yang menguntungkan sebagai pilihan yang terbaik. Padahal, sesuatu yang merugikan sekalipun, belum tentu merupakan pilihan yang terburuk. Pilihan yang terbaik dan terburuk adalah ketidakpastian.

Untungnya, kehidupan bukan hanya soal yang terbaik dan terburuk. Hidup adalah soal memilih. Tidak masalah jika pilihan yang dibuat salah. Tidak masalah jika harus menyesal. Hal terpenting dari sebuah pilihan adalah penyesalan. Penyesalan akan selalu berdampingan dengan sebuah pilihan. Tidak ada manusia yang tau soal pilihan yang benar. Tapi, semua orang tau kalau pilihan salah akan menghasilkan penyesalan. Maka dari itu, tidak masalah jika harus menyesal. Penyesalan adalah salah satu cara untuk belajar. Pengalaman dihasilkan dari penyesalan. Tapi, orang yang sudah mati tidak bisa belajar dari penyelasan, itu hanya berlaku untuk orang yang masih hidup. Harus ada orang lain yang membantu. Harus ada orang lain yang membuat pilihan berbeda. Itu sebabnya aku perlu kalian. Kalian yang akan memutuskan, apakah pilihan yang kubuat akan berguna atau tidak. Dengan begitu, bukankah artinya aku memiliki dampak untuk orang lain? Jika benar, artinya permohonanku sudah terwujud.

Tertanda ...,

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!