"Tapi, aku tidak mencintai Papa," ucap Luna bergetar di depan pria yang seharusnya menjadi ayah mertuanya.
"Tidak masalah Luna, Papa yakin lambat laun kamu akan mencintai Papa."
Dikhianati Fauzan di hari pernikahan demi wanita lain membuat Luna hancur di hadapan semua tamu. Namun, saat dunianya runtuh, sang calon ayah mertua Mahendra justru mengulurkan tangan dan mengambil alih posisi mempelai pria. Mampukah pernikahan beda usia 25 vs 50 tahun ini menyembuhkan luka Luna, atau justru menjadi awal dari konflik baru yang lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Pintu Rolls-Royce Phantom itu tertutup dengan dentuman berat yang solid, seketika memutus segala hiruk-pikuk pesta dansa dari luar.
Suasana di dalam kabin belakang yang super mewah dan dilapisi kulit premium itu mendadak terasa begitu menyempit, pengap, dan mencekam oleh sirkulasi emosi yang meluap-luap di antara kedua insan di dalamnya.
Mahendra tidak bergerak dari posisinya. Dengan tatapan yang masih terkunci pada Luna, ia mengetuk kaca pembatas kemudi depan dan memberi perintah dingin melalui interkom.
"Keluar dari mobil. Kunci sistem dari kemudi depan, jangan ada yang mendekat sampai aku memberi perintah," titah Mahendra mutlak.
"Baik, Tuan Besar," sahut sang supir pribadi patuh, segera turun dan mengaktifkan sistem penguncian total dari luar.
Kini, Mahendra dan Luna benar-benar hanya berdua di dalam ruang kedap suara tersebut.
Luna langsung bergeser sejauh mungkin, bergerak mundur hingga tubuhnya merapat ke pintu mobil sisi lain.
Sepasang matanya yang berkaca-kaca menatap Mahendra dengan tatapan penuh amarah dan luka.
"Kenapa Mas Mahendra memperlakukan aku sekasar ini?! Apa salahku?!" tuntut Luna dengan suara yang bergetar hebat, menahan tangis yang siap pecah.
"Apa salahmu?!" Mahendra mengulang kalimat itu dengan tawa hambar yang terdengar mengerikan.
Pria paruh baya itu memajukan tubuh tegapnya, mengikis jarak hingga aura dominasinya mengurung Luna sepenuhnya.
"Aku yang seharusnya bertanya kepadamu, Luna! Kenapa kamu menolak uluran tanganku di depan semua orang? Kenapa kamu mempermalukanku dengan memilih berdansa dan menggenggam tangan pria lain?!"
"Dia pimpinan ku, Mas! Dan malam ini adalah acara profesional!" bela Luna dengan suara meninggi.
"Aku tidak peduli!" bentak Mahendra, memotong kalimat Luna dengan ego seorang Titan yang telah terluka parah.
Sepasang netranya menggelap, memancarkan kilat posesif yang membakar.
"Aku adalah suamimu! Suami sahmu, Luna! Aku tidak sudi, dan tidak akan pernah sudi melihat tangan pria lain bertumpu di pinggang rampingmu, menuntunmu di lantai dansa seolah-olah dia memilikimu! Sadarlah, Luna... kamu itu milikku! Milik Mahendra sepenuhnya, dan tidak ada satu pun laki-laki yang boleh menyentuhmu!"
Kata-kata dominan dan posesif dari Mahendra justru menjadi pematik bagi bom waktu yang sejak tadi dipendam Luna di dalam dadanya.
Air mata yang sejak di kamar mandi ia tahan, kini meluncur deras membasahi pipinya. Luna tertawa sarkas di sela tangisnya.
"Milikmu, Mas? Milikmu?!" cecar Luna dengan hati yang hancur berkeping-keping.
"Lalu bagaimana denganmu? Apakah kamu melupakan statusmu sebagai suamiku saat wanita itu datang dan langsung memeluk tubuhmu begitu intim di depan semua orang?!"
Mahendra seketika tertegun, rahang tegasnya sedikit melonggar.
"Aku mendengarnya sendiri, Mas! Aku mendengar dengan telingaku sendiri bagaimana dia bergelayut dan bilang, 'Aku merindukanmu, Sayang' kepadamu!" teriak Luna histeris, meluapkan seluruh rasa cemburu dan sakit hati yang membuat dadanya sesak.
"Kamu menyuruhku datang mengenakan gaun hitam, memakai topeng, dan menunggumu. Tapi apa yang aku dapat? Kamu malah membiarkan wanita lain menyentuhmu! Kamu sengaja menjadikanku pajangan di pesta itu sementara hatiku kamu injak-injak, Mas!"
Mendengar tuduhan beruntun yang sarat akan luka dalam dari istri kecilnya, Mahendra seketika terpaku.
Keterkejutan melonggarkan ketegangan tubuhnya, menyadari bahwa kemarahan Luna bersumber dari kesalahpahaman tentang Diana.
Menggunakan momen emas saat Mahendra tertegun dan Luna bergerak cepat dengan nekat. Jemari lentiknya meraba panel pintu mobil di sampingnya, lalu menekan tombol unlock darurat yang berada di bawah kompartemen rahasia.
Klik!
Sebelum Mahendra sempat tersadar dari syoknya, Luna langsung mendorong pintu Rolls-Royce itu hingga terbuka lebar.
Dengan gerakan kilat, ia keluar dari dalam mobil mewah tersebut, mengabaikan teriakan panggilan Mahendra yang menggelegar di belakangnya.
"Luna!! Kembali!!"
Luna tidak memedulikan seruan itu. Dengan gaun hitamnya yang menjuntai menghambat langkah, ia setengah berlari, membelah pelataran gedung yang sepi menuju ke arah tepi jalan utama untuk mencari taksi.
Air matanya terus mengalir deras, mengaburkan pandangannya.
Mahendra yang melihat istrinya kabur ke jalan raya langsung bergerak cepat untuk mengejar.
Ia keluar dari mobil dengan napas memburu. Namun, baru saja ia melangkah beberapa meter, efek sisa obat perangsang dosis ekstrem yang kemarin menyerang jantungnya—ditambah dengan hantaman emosi, amarah, dan kepanikan luar biasa malam ini—membuat tubuh kokoh sang Titan Bisnis mendadak kehilangan keseimbangan.
Dada Mahendra seketika terasa dihantam oleh godam tak kasat mata.
Rasa sakit yang teramat sangat menyengat jantungnya, membuat pasokan oksigennya terputus seketika.
Pandangannya berputar, menggelap, dan tubuh tegap laksana karang itu ambruk, pingsan tak sadarkan diri di atas aspal dingin pelataran gedung.
Bruk!
Mendengar suara dentuman tubuh yang terjatuh di belakangnya, Luna secara refleks menghentikan langkah larinya.
Ia menoleh ke belakang dengan sisa amarah yang masih membara. Namun, detik itu juga, jantung Luna seolah berhenti berdetak.
Ia melihat suaminya, pria yang beberapa detik lalu membentaknya dengan penuh dominasi, kini terkapar diam tak bergerak di atas aspal.
"MAS MAHENDRA!!"
Rasa cemburu, sakit hati, dan ego Luna menguap tak berbekas dalam sekejap mata, digantikan oleh rasa takut kehilangan yang teramat sangat.
Dengan histeris, Luna membalikkan tubuhnya, menyingkap gaun hitam panjangnya, dan berlari sekencang mungkin kembali menuju ke arah suaminya yang telah tak sadarkan diri.
"Mas Mahendra! Bangun, Mas! Aku mohon bangun...!" jerit Luna histeris.
Ia langsung berlutut di atas aspal dingin, menangkup wajah matang Mahendra yang kini terasa begitu dingin dengan rona yang kian memucat.
Air mata Luna tumpah ruah, menetes hangat di pipi suaminya. Rasa bersalah yang teramat sangat seketika meremukkan dadanya.
"Mas, bangun. Aku minta maaf! Aku tidak akan pergi lagi, Mas. Bangun, mas!!" ratap Luna sambil menggoyang-goyangkan bahu kokoh Mahendra yang tetap bergeming, terkunci dalam ketidaksadaran yang mengerikan.
Pak Dika yang rupanya menyusul keluar karena mengkhawatirkan Luna, seketika membelalak melihat sang Titan Bisnis terkapar di pelataran gedung.
Tanpa membuang waktu, Pak Dika langsung berlari kencang mendekati posisi mereka.
"Luna! Apa yang terjadi?!" tanya Pak Dika panik, namun ia segera menguasai keadaan.
"Supir! Supir Mahendra, cepat ke sini! Bantu saya!" teriak Pak Dika lantang ke arah supir pribadi Mahendra yang sedang berjaga tidak jauh dari sana.
Mendengar teriakan itu, sang supir pribadi langsung berlari panik, membuka kembali sistem pintu Rolls-Royce.
Dengan sigap, Pak Dika dan supir pribadi tersebut membahu, mengangkat tubuh kekar Mahendra yang terkulai lemas untuk dimasukkan ke dalam kabin belakang mobil mewah yang luas itu. Luna ikut masuk, langsung memangku kepala suaminya dengan tubuh yang gemetar hebat karena syok.
"Biar saya yang kemudikan! Kita harus bergerak cepat sebelum terlambat!" tegas Pak Dika.
Ia langsung melompat ke kursi kemudi depan, mengambil alih kendali dari supir pribadi Mahendra yang kini duduk di kursi penumpang depan untuk memandu jalan tercepat.
Vruuummm!
Mesin Rolls-Royce itu menderu keras. Pak Dika langsung menginjak pedal gas dalam-dalam, melajukan mobil mewah itu dengan kecepatan tinggi membelah jalanan malam Jakarta yang mulai lengang, menuju ke rumah sakit internasional terdekat demi menyelamatkan nyawa penguasa Dirgantara Holdings tersebut.
Ciiittt!
Dika menginjak pedal rem dengan kuat, menghentikan laju Rolls-Royce tepat di depan lobby unit gawat darurat (UGD) rumah sakit internasional Jakarta.
Belum sempat mobil berhenti sempurna, supir pribadi Mahendra sudah melompat keluar, berteriak lantang memanggil tim medis.
"Suster! Dokter! Tolong, Tuan Besar Mahendra pingsan!"
Dalam hitungan detik, beberapa perawat datang berlarian membawa brankar dorong.
Dika bersama supir pribadi dengan cekatan membantu memindahkan tubuh kekar Mahendra yang masih tak sadarkan diri dari kabin belakang.
Luna turun dengan langkah gontai, menggenggam erat tangan suaminya yang terasa dingin, mengiringi brankar yang didorong cepat masuk ke dalam ruang penanganan darurat.
"Mohon maaf, Ibu. Anda harus menunggu di luar demi kelancaran tindakan," tahan seorang perawat dengan sopan namun tegas, menutup pintu kaca buram UGD tepat di hadapan Luna.
Luna melangkah mundur, tubuhnya lemas hingga hampir luruh ke lantai jika Dika tidak segera menahan siku tangannya.
Gaun malam hitam milik Luna kini tampak kusut, sejalan dengan air mata yang terus merembes tanpa bisa dibendung.
"Tenang, Luna. Mahendra pria yang kuat. Dia pasti baik-baik saja," bisik Dika menenangkan, menuntun Luna untuk duduk di kursi tunggu koridor yang sunyi.
Di dalam ruang sterilisasi, tim dokter senior langsung bergerak cepat memasang alat pemantau detak jantung (bedside monitor) pada tubuh Mahendra.
Bunyi bip-bip yang lemah dan tidak beraturan langsung memenuhi ruangan, menegaskan bahwa kondisi sang Titan Bisnis sedang berada di ambang bahaya.
Tepat saat dokter spesialis jantung yang menangani Mahendra hendak mendiagnosis, sebuah notifikasi mendesak masuk ke dalam tablet medis terintegrasi miliknya. Itu adalah pesan darurat yang dikirimkan langsung oleh dokter spesialis dari rumah sakit Bandung—dokter yang merawat Mahendra secara rahasia malam sebelumnya.
Dokter Jakarta itu segera membaca pesan ringkas namun krusial tersebut dengan kening berkerut dalam:
"Dokter, mohon penanganan ekstra untuk pasien atas nama Mahendra Dirgantara. Kemarin malam, pasien mengalami serangan jantung akut akibat overdosis obat perangsang dosis ekstrem yang dipaksakan masuk ke sistem tubuhnya. Kondisi otot jantungnya masih sangat rentan dan dalam masa pemulihan kritis. Pasien tidak boleh mengalami syok, tekanan emosi, atau lonjakan amarah yang masif. Pasien membutuhkan ketenangan total, dan berdasarkan catatan psikologis medisnya semalam, ia hanya akan merespons stabilisasi jika didampingi oleh istrinya secara total tanpa jeda."
Membaca pesan itu, sang dokter langsung menoleh ke arah asistennya.
"Siapkan suntikan stabilizer dosis rendah, pantau grafik kardiovaskularnya secara berkala," perintahnya tegas.
Setelah memastikan kondisi Mahendra berangsur-angsur melewati fase kritis pertamanya berkat penanganan yang cepat, dokter tersebut melangkah keluar dari ruang UGD.
Mendengar pintu terbuka, Luna langsung berdiri dari duduknya dengan tatapan penuh harap dan cemas.
"Dokter, bagaimana kondisi suami saya?" tanya Luna dengan suara serak yang bergetar.
Dokter itu menghela napas panjang, menatap Luna dengan pandangan serius.
"Ibu adalah istri dari Tuan Mahendra?"
"Iya, Dok. Saya istrinya," sahut Luna cepat.
"Tuan Mahendra berhasil kita stabilkan, namun kondisinya saat ini sangat ringkih. Kemarin beliau sempat mengalami serangan jantung akibat efek zat kimia berbahaya di Bandung, dan benturan emosi hebat malam ini membuat jantungnya hampir kolaps kembali," jelas dokter itu tanpa tedeng aling-aling.
Dokter itu kemudian memegang papan medisnya, menatap Luna dengan penuh penekanan.
"Dokter yang menanganinya di Bandung baru saja mengirimkan riwayat medisnya. Saat ini, Tuan Mahendra membutuhkan ketenangan psikologis yang luar biasa. Beliau tidak boleh ditinggalkan sendirian. Ibu, sebagai istrinya, harus mendampingi beliau secara total. Kehadiran Ibu adalah obat penenang terbaik untuk menstabilkan detak jantungnya saat beliau terbangun nanti."
terimakasih thor dah double up 🙏❤️
bener" y si Kunti mil", beuh gertakkan doang ga kena, liat aja ntar klo Mahendra sehat ....abis kau.
kan sudah buang Azura anda faizan
biar duo Kunti, satu kuyang tdk meremehkan mu lagi