NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Samudera

Pendekar Pedang Samudera

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Epik Petualangan / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Pewaris Pedang Samudera yang memilih berlayar ketimbang meneruskan jejak sang ayah. Lantas bagaimana cara dia untuk memanfaatkan pusaka legendaris itu dan mewujudkan perdamaian di Shenzhou jika dia sendiri adalah sampah yang dimanjakan ibu dan kakak perempuannya?

"Ibuku memberiku segalanya kecuali kebebasan. Kakakku memberiku perlindungan meski aku tidak memintanya. Sementara Ayahku memberiku mimpi yang membuatku terus berjalan meski semua orang berkata untuk berhenti. Aku adalah orang paling beruntung sekaligus paling terkekang di dunia."

Novel Xianxia baru dari Dana Brekker, bisa langsung baca aja. Tinggalkan like, vote, dan komentarnya kalau suka. Terima kasih!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 : YANG TERSISA DAN YANG BERSEMBUNYI

Macan kumbang pertama turun dari cabang pohon dengan terlalu percaya diri.

Akan tetapi Chen Mo tidak bergerak sampai makhluk buas itu sudah di pertengahan lompatannya dan tidak bisa mengubah arah. Satu langkah ke kiri, satu putaran bahu, dan cakar yang seharusnya mendarat di punggungnya hanya menemukan angin. Sementara tangannya menyentuh sisi leher binatang itu pada titik yang tepat, dan macan kumbang besar itu ambruk ke tanah dengan keras dan pingsan.

Macan kedua dan ketiga menyusul bersamaan dari kiri dan kanan, dan Chen Mo menunggu keduanya selama satu detik yang terasa sangat disengaja, kemudian melangkah maju ke tengah sehingga keduanya justru bertabrakan satu sama lain di tempat di mana tubuhnya tadi berada hingga akhirnya mereka lari ketakutan.

Selesai sudah pertunjukan itu, dan Chen Mo melanjutkan perjalanannya seperti tidak ada yang terjadi.

Zhao Feng yang menyaksikan semua itu dari jarak lima langkah di belakang dengan ekspresi orang yang baru menyaksikan seseorang memasak sarapan di tengah pertempuran.

"Dia persis seperti Panglima Qinghan," bisik Sun Li di sebelahnya. "Tapi versi yang lebih pendiam."

"Tingkat enam," kata Ma Chao tidak kalah pelan. "Aku mendengar informasi itu dari kru di gua semalam."

"Tingkat enam yang bergerak seperti itu." Zhao Feng menggeser tas di bahunya. "Tidak heran Panglima Qinghan mempercayainya."

Mereka berjalan beberapa langkah sebelum Sun Li menambahkan sesuatu yang sudah ada di pikirannya sejak kemarin. "Bocah kutu buku itu juga begitu kan, kemarin." Matanya bergerak ke arah punggung Haifeng yang berjalan di barisan depan. "Tingkat nol yang membelah ular raksasa dari kepala sampai ekor, dan pagi ini auranya terasa berbeda."

Zhao Feng memijat tengkuknya. "Bagaimanapun juga, darah Wei Changsong memang mengalir di sana sejak awal," katanya. "Darah macam itu tidak peduli angka tingkatan."

Sementara Ma Chao meraba saku tempat taring ular disimpannya dan tidak berkata apa-apa, tapi cara dia mengangguk cukup untuk menggambarkan posisinya.

Pantai itu terbuka dari balik pepohonan terakhir dengan pemandangan yang membutuhkan beberapa hitungan untuk dicerna sepenuhnya.

Kapal itu terdampar miring dengan sisi kanannya menempel di pasir, tiang utamanya patah di dua pertiga tinggi dan tersandar ke dek dengan sudut yang membuatnya terlihat seperti kapal yang sedang berusaha berdiri tapi tidak punya tenaga untuk menyelesaikannya. Beberapa bagian lambungnya retak, tapi retakannya tidak separah yang terlihat dari jauh. Layarnya masih ada, robek di beberapa tempat, tapi rangka-rangka kayunya utuh.

Kapal yang bisa diperbaiki dengan waktu yang tidak singkat, tapi bisa.

Yang tidak bisa diperbaiki adalah yang ada di sekitarnya.

Beberapa tubuh tergeletak di pasir dengan posisi yang menunjukkan bahwa mereka tidak sempat melakukan apa-apa sebelum jatuh. Beberapa lagi ditemukan di sisi dalam kapal ketika kru mulai memeriksa, sudah mati membiru dan tidak bergerak. Tidak semua dari mereka meninggal dengan cara yang terlihat seperti kecelakaan kapal. Ada yang lukanya terlalu teratur untuk disebut luka benturan atau akibat tenggelam.

Chen Mo pun segera berjongkok di samping salah satu mayat-mayat itu. Matanya memeriksa sisi lehernya dengan cara yang cermat dan tidak tergesa-gesa. "Bukan binatang," katanya kepada Qinghan yang berdiri di belakangnya. "Sudut lukanya terlalu presisi."

Lantas Qinghan memindai area sekitar kapal dengan tatapan yang tidak melewatkan satu pun detail. "Bajak laut. Atau penghuni pulau yang lebih terorganisir dari yang kita duga."

"Atau pengkhianatan dari dalam," kata Chen Mo, tanpa mengubah nada atau ekspresinya. "Beberapa luka ada di punggung."

Qinghan tidak menjawab langsung. Tapi rahangnya mengencang dengan cara yang jelas bagi siapa pun yang sudah lama mengenalnya.

Sedangkan di dalam kapal, kondisinya berbeda lagi dari luar.

Lorong-lorong utamanya masih bisa dilalui meskipun lantainya miring ke satu sisi dan setiap langkah perlu sedikit penyesuaian. Haifeng berjalan di depan dengan satu tangan di dinding kapal untuk keseimbangan, Tianbao di belakangnya, Hua Ling satu langkah di belakang Tianbao.

"Ada yang berubah dari dirimu," kata Tianbao, tiada angin tiada hujan.

Mendengar itu, Haifeng tidak berhenti berjalan. "Kata Kakakku tadi juga begitu."

"Bukan aura cultivator atau semacamnya. Lebih ke..." Tianbao mencari kata yang tepat. "Kau lebih berat. Bukan berat badannya. Berat orangnya."

"Itu pujian atau keluhan?"

"Aku belum tahu." Tianbao memiringkan kepalanya. "Mungkin kau bertambah tinggi. Atau tumbuh ekor."

Haifeng berhenti berjalan dan menoleh ke belakang dengan ekspresi yang tidak bisa memutuskan apakah mau serius atau tidak. "Tumbuh apa?"

Tianbao sudah tertawa bahkan sebelum menjawab. Bahkan Hua Ling yang ada di belakangnya menutup mulutnya dengan ujung jari, tapi bahunya ketara sekali bergoyang.

Mereka melanjutkan menelusuri lorong. Di beberapa tempat ada genangan air yang sudah mulai berbau karena tertutup rapat terlalu lama, dan Haifeng menghindar dari genangan terbesar dengan melangkah ke sisinya. Hua Ling, kendati tidak berkata apa-apa lebih banyak dari biasanya, tetap berjalan lebih dekat dari jarak yang diperlukan untuk navigasi di lorong selebar itu.

Sesuatu dari balik pintu di ujung lorong akhirnya membuat mereka semua berhenti.

Suara seperti napas yang tidak cukup tenaga untuk menjadi lebih dari itu. Dua suara dengan ritme yang berbeda.

Tianbao langsung ke pintu itu dan mendorongnya. Sayangnya pintu itu tidak bergerak, entah karena terkunci atau karena tekanan air dari sisi dalam yang menguncinya dari dalam. Lalu dia mencoba lagi dengan bahu, tapi hasilnya sama.

Sampai Haifeng menarik keluar Pedang Samudera.

Bilah biru gelap itu keluar dari sarungnya dan di sepanjang permukaannya ada riak air yang sangat tipis, berbeda dari kemarin yang lebih kuat, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa sesuatu sudah berubah dalam hubungan antara pedang dan yang memegangnya. Haifeng mengarahkan ujung bilah ke celah engsel pintu bagian bawah, mendorong ke atas dengan sudut yang dia perkirakan dari konstruksi pintu kapal yang sudah sering dia baca di buku, dan sesuatu di dalam engsel itu berbunyi.

Akhirnya pintu terbuka ke dalam. Air mengalir keluar membasahi kaki mereka sampai lutut.

Dan di dalam ruangan yang setengahnya masih terendam, berpegangan pada peti kayu yang mengapung, ada dua orang dengan wajah yang sudah hampir tidak bisa dibedakan dari orang yang masih sadar dan orang yang tidak.

Tianbao mengambil satu langkah ke dalam dan langsung berhenti. "Wang Bi? Liu Mao?"

Salah satu dari dua orang itu membuka satu matanya dengan susah payah. "Akhirnya," katanya dengan suara yang terdengar seperti habis disiram pasir. "Aku sudah bilang tadi pagi ada yang datang. Kau malah bilang pasti binatang buas."

"Tutup mulutmu dan minta tolong dulu baru berdebat," kata yang satu lagi dari balik peti kayu, juga dengan suara yang tidak jauh lebih baik.

Tianbao menoleh ke Haifeng dan Hua Ling dengan ekspresi campuran antara lega dan tidak tahu harus merespons bagaimana terhadap dua orang yang baru saja hampir mati tapi masih sempat beradu mulut.

Hingga malam pun tiba di area kapal dengan cepat.

Api unggun dinyalakan di pasir, jauh dari kapal yang sebagian kayunya masih bisa terbakar kalau tidak hati-hati. Beberapa kru senior mulai menebang pohon-pohon terdekat yang batangnya cukup lurus untuk dijadikan bahan perbaikan. Sebagian yang lain mengeluarkan peti-peti perbekalan yang masih bisa diselamatkan dari dalam kapal, menyusunnya di pasir dengan inventarisasi yang Paman Dao koordinasikan dengan cara yang cukup teratur untuk ukuran situasinya.

Total tujuh orang berhasil diselamatkan hari ini. Wang Bi dan Liu Mao yang paling parah kondisinya, tapi Tabib Senior Hua Yuan bilang keduanya tidak dalam bahaya kalau mendapat perawatan yang benar mulai malam ini.

Sementara Panglima Qinghan, Haifeng, Tianbao, dan kedua tabib mengurus korban di sisi api yang paling terang. Hua Yuan bergerak di antara yang terluka dengan tenang dan sangat sistematis, mengarahkan Hua Ling dan Haifeng untuk membantu di titik-titik yang membutuhkan tangan tambahan. Tianbao tugasnya mengangkat dan memindahkan orang tanpa banyak pertanyaan, dan untuk sekali ini dia melakukannya tanpa banyak komentar.

Seorang pelaut setengah baya yang lukanya sudah dibalut menceritakan apa yang dia ingat dengan suara yang masih tersendat-sendat. Ada serangan yang datang di malam setelah badai, ketika semua orang yang selamat sudah terlalu kelelahan untuk berjaga. Mereka tidak terlihat seperti bajak laut biasa. Gerakannya terlatih, senjatanya bukan senjata pelaut. Dan salah satu dari mereka memakai lencana yang tidak dia kenali, tapi ukirannya bukan ukiran Long Yuan.

Qinghan mendengarkan semuanya tanpa menginterupsi. Ketika pelaut itu selesai, dia hanya berkata kepada Chen Mo yang berdiri di dekatnya bahwa penjagaan malam ini harus dua lapis, dan bahwa tidak ada yang boleh bergerak sendirian di luar radius api.

Chen Mo segera pergi untuk mengatur.

Patroli malam itu dibagi menjadi dua kelompok. Chen Mo memimpin yang pertama dengan Zhao Feng dan dua kru senior. Sun Li dan Ma Chao masuk kelompok kedua. Bai Mei, atas permintaannya sendiri yang disampaikan dengan senyum yang sangat manis, bergabung dengan kelompok Chen Mo.

Alasannya adalah bahwa dia merasa lebih aman di dekat seseorang yang sudah terbukti kemampuannya. Sedangkan Chen Mo tidak berkeberatan secara verbal.

Dalam tugasnya berpatroli, Bai Mei berjalan dua langkah di belakang Chen Mo selama setengah jam pertama, mencoba memahami pola gerakan pria itu untuk menemukan momen yang tepat untuk menjauh tanpa diperhatikan. Chen Mo bergerak dengan pola yang tidak konsisten, kadang mempercepat, kadang berhenti sepenuhnya di titik-titik tertentu untuk mendengarkan, kadang mengambil jalur memutar yang tidak jelas alasannya.

Di suatu titik di dalam hutan yang cukup gelap untuk tidak terlihat dari arah mana pun, Bai Mei mengambil langkah ke kiri menuju jalur yang terlihat lebih pendek menuju posisi yang sudah dia rencanakan sejak tadi. Entah apa yang wanita itu rencanakan, tapi terlihat seperti dia sedang mencari tahu kelemahan Chen Mo.

Tapi ketika dia menoleh ke depan, Chen Mo tidak ada di sana.

Lantas Bai Mei berhenti untuk memandang ke kiri, ke kanan, ke belakang, ke jalur yang sudah dia lewati. Namun Hutan itu diam dengan cara yang tiba-tiba terasa jauh lebih luas dari tadi.

Sementara dari kejauhan, sangat samar, terdengar suara langkah patroli yang sudah bergerak ke arah yang berbeda dan semakin menjauh.

Bai Mei mengatupkan giginya. Mendecak pelan dan mulai berjalan kembali ke arah yang menurutnya adalah arah api unggun. Ia melangkah lebih cepat dari yang seharusnya dilakukan seseorang yang tidak mengenal jalur hutan ini di malam hari.

Alhasil tanah di bawah kakinya ambles tanpa peringatan.

Lapisan rumput dan dedaunan kering yang terlihat seperti permukaan biasa ternyata menutupi sesuatu yang jauh lebih dalam dari yang bisa diperkirakan oleh siapa pun yang melintas tanpa hati-hati. Kaki kanannya tembus ke bawah, lalu seluruh tubuhnya miring, dan sebelum tangannya sempat meraih apa pun yang bisa dijadikan pegangan, Bai Mei sudah jatuh ke dalam lubang yang tidak ada di peta mana pun karena memang tidak ada yang pernah repot-repot mencatatnya.

Suara tubuh rampingnya menghantam tanah di bawah cukup keras setelah membentur beberapa sisi.

Kini Bai Mei berbaring telentang di dasar lubang yang kedalamannya lebih dari sepuluh meter, menatap lubang sempit di atas kepalanya yang memperlihatkan sepotong langit malam dengan bintang-bintang yang terlihat sangat tidak peduli. Akar-akar pohon mencuat dari dinding tanah di sekelilingnya. Tidak ada pegangan yang bisa digunakan untuk naik tanpa bantuan dari atas.

“T-tolong...”

Sialnya lagi, suara patroli sudah tidak terdengar lagi.

tidak ada yang tahu dia ada di sini.

1
Ilham Akbar
Mantap thor, apalagi kalo cerita ini sampai finish💪👍
DanaBrekker: Terima kasih atas dukungannya 👍
total 1 replies
Ilham Akbar
Mampus lu,, dasar betina rakus🤭
DanaBrekker: /Smirk/
total 1 replies
GFR31
top 👍
DanaBrekker: terima kasih. sangat disarankan juga buat ikutin kisah Ji Zhen di novelku yang berjudul Lahirnya Kultivator Naga Keabadian 🙏
total 1 replies
DanaBrekker
Selamat datang di karya baru author semoga kalian suka.. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini. Bisa terus kasih dukungan demi kelanjutan karya-karya author, dan kalau tidak suka jangan dipaksa 🤭🙏🤣
DanaBrekker: semoga cocok 🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!