Ini bukan kisah cinta yang indah dan damai, melainkan hubungan yang dibangun di atas kekuasaan, ketakutan, dan hasrat yang membara namun membinasakan.
Disclaimer: ini cerita pendek
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lusi rohmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEBENARAN YANG TERUNGKAP
Suasana masih dipenuhi asap dan debu, tapi hati semua orang yang ada di tempat itu terasa selegit leganya. Raka masih terbaring di antara puing-puing, napasnya terengah-engah dan tubuhnya penuh dengan luka serta memar, tapi nyawanya masih ada, dan itu yang paling penting.
Orang-orang yang masih sehat segera bergerak mendekat, membantu mengangkat dan membawanya ke tempat yang lebih aman. Alana tidak pernah melepaskan genggamannya di tangan Raka, berjalan di sampingnya tanpa mau beranjak sedikit pun. Matanya yang sembab karena menangis tak pernah lepas memandangi wajah orang itu, seolah takut kalau ia memalingkan muka saja, orang itu akan hilang begitu saja.
Sesampainya di ruangan yang aman, dokter dan orang-orang yang paham tentang pengobatan segera bergerak merawat luka-lukanya. Wajah Raka pucat pasi, matanya seringkali terpejam karena rasa sakit yang teramat sangat, tapi tangannya tetap menggenggam tangan Alana erat-erat, seolah itu adalah satu-satunya hal yang membuatnya tetap sadar dan bertahan.
Sementara itu, di tempat kejadian, orang-orang yang bertugas memeriksa sisa-sisa puing dan bekas-bekas pertempuran menemukan sesuatu yang tidak disangka-sangka. Di antara barang-barang yang berceceran, ada berkas-berkas dan catatan-catatan milik kelompok penyerang itu, yang ternyata memuat banyak informasi penting—tentang rencana mereka, siapa saja yang terlibat, dan juga hal-hal yang selama ini tersembunyi dan tidak diketahui orang lain.
Berkas-berkas itu segera dibawa dan diserahkan kepada Gubernur William dan Raka, saat keadaan mereka sudah mulai agak membaik.
Raka duduk bersandar di tempat tidur, gerakannya masih terbatas dan terasa sakit, tapi tatapannya tetap tajam seperti biasanya. Ia membuka dan membaca lembaran demi lembaran itu dengan saksama, dan seiring ia membaca, raut wajahnya makin lama makin berubah—dari yang tadinya tenang, menjadi terkejut, lalu penuh amarah, dan akhirnya dipenuhi rasa tidak percaya.
Gubernur William yang duduk di sampingnya juga membaca berkas yang sama, dan reaksinya tidak jauh berbeda. Wajahnya yang biasanya selalu terlihat tegas dan terkendali, kini terlihat pucat dan penuh keterkejutan.
“Apa ini artinya?” tanya Raka akhirnya, suaranya terdengar parau dan berat.
“Selama ini kita semua sudah ditipu, bahkan sejak bertahun-tahun yang lalu?”
Gubernur William menggeleng pelan, matanya masih tertuju pada tulisan-tulisan di hadapannya. “Aku juga tidak menyangka... aku sama sekali tidak menyangka hal seperti ini terjadi. Selama ini aku pikir aku tahu segalanya, tapi ternyata aku hanya berjalan di atas jalur yang sudah dibuat oleh orang lain untukku.”
Alana yang ada di dekat mereka, melihat kegelisahan dan keterkejutan yang terlihat jelas dari wajah keduanya.
Ia mendekat dan bertanya dengan nada khawatir, “Ada apa? Apa yang tertulis di sana? Apa ada hal yang buruk lagi yang akan terjadi?”
Raka menoleh dan menatapnya, lalu memberi isyarat agar ia mendekat. “Ada banyak hal yang kita tidak ketahui, Alana. Hal-hal yang mengubah segalanya, hal-hal yang membuat semua kejadian selama ini menjadi berbeda sama sekali dari apa yang kita kira sebelumnya.”
Ia lalu mulai menceritakan apa yang ia baca dari berkas-berkas itu, perlahan dan jelas.
Selama ini, mereka mengira bahwa perselisihan dan permusuhan antara Raka dan orang-orang di masa lalu, termasuk juga ayah Alana, adalah hal yang terjadi begitu saja, karena perbedaan kepentingan dan kekuasaan. Tapi ternyata, semuanya itu direncanakan dan diatur oleh sekelompok orang yang jauh lebih berkuasa dan tersembunyi, orang-orang yang berada di puncak kekuasaan, yang selama ini selalu terlihat bersih dan baik di mata masyarakat.
Dahulu, keluarga Raka memiliki sesuatu yang sangat berharga dan penting—bukan hanya berupa harta atau tanah, tapi juga bukti-bukti tertulis yang menunjukkan bahwa orang-orang berkuasa itu telah melakukan berbagai kesalahan dan kejahatan untuk memperoleh kedudukan dan kekayaan mereka. Karena takut rahasia itu terungkap, mereka berusaha menghancurkan keluarga Raka, mengambil apa yang mereka miliki, dan membuang Raka yang masih muda agar ia mati di tempat yang sepi dan tidak ada yang tahu.
Tapi itu belum semuanya. Mereka juga sengaja membuat kesalahpahaman antara keluarga Raka dan orang-orang yang bekerja di pemerintahan saat itu, termasuk juga ayah Alana. Mereka menyebarkan berita-berita bohong, memanipulasi keadaan, sehingga keduanya saling bermusuhan dan saling ingin menjatuhkan satu sama lain. Dengan begitu, mereka tidak akan punya waktu untuk memikirkan hal lain, dan rahasia besar itu akan tetap tersembunyi selamanya.
Dan Marco, serta kelompok orang yang baru saja menyerang mereka itu? Mereka hanyalah alat belaka. Orang-orang yang sebenarnya berada di balik semua ini, yang menggerakkan semua peristiwa dari jauh, adalah orang-orang yang selama ini dianggap sebagai panutan, orang-orang yang selalu dipuji dan dihormati oleh seluruh penduduk kota ini.
“Jadi selama ini aku... aku melakukan semuanya ini karena aku diatur oleh mereka?” kata Raka dengan suara yang terasa hampa.
“Aku membenci orang yang sebenarnya tidak pantas aku benci, aku berperang dengan orang yang sebenarnya adalah korban sama sepertiku... dan semua itu hanya karena keinginan orang-orang yang mau melindungi kepentingan mereka sendiri?”
Ia menundukkan kepalanya, rasanya semua keyakinan yang ia bangun selama bertahun-tahun ini seolah runtuh begitu saja. Semua yang ia perjuangkan, semua rasa sakit dan kebencian yang ia rasakan selama ini, ternyata semuanya didasari oleh kebohongan belaka.
Rasanya begitu menyakitkan, mengetahui bahwa seluruh hidupnya selama ini hanyalah bagian dari rencana orang lain, bahwa ia tidak pernah menjadi pengatur jalannya hidupnya sendiri.
Gubernur William juga terlihat sangat terpukul. Selama ini ia merasa ia berbuat benar, merasa ia bertindak demi kebaikan dan ketertiban. Tapi ternyata, ia juga hanya dimanfaatkan, hanya dijadikan alat untuk menutupi kejahatan orang-orang yang sebenarnya bersalah.
“Selama ini aku merasa aku adalah orang yang adil, orang yang berjuang untuk kebenaran,” katanya dengan suara yang parau.
“Tapi ternyata aku juga sama saja. Aku juga ikut serta dalam menutupi kejahatan, meski aku tidak menyadarinya. Aku telah menghakimi orang yang sebenarnya tidak bersalah, aku telah melakukan hal-hal yang seharusnya tidak aku lakukan... dan aku tidak tahu apa-apa sama sekali.”
Alana menatap keduanya, hatinya terasa sakit melihat keadaan mereka. Ia berjalan mendekat dan memegang tangan mereka masing-masing.
“Dengarkan aku,” katanya dengan suara yang lembut tapi tegas.
“Apa yang sudah terjadi tidak bisa diubah lagi, dan kesalahan yang sudah dilakukan juga tidak bisa dihapuskan begitu saja. Tapi ingatlah satu hal... apa yang kalian rasakan, apa yang kalian lakukan selama ini, itu tetap nyata. Perasaan sakit yang kalian rasakan, perjuangan yang kalian lakukan, itu semua benar adanya. Kalian tidak bersalah, karena kalian juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan lagi.
“Dan sekarang, karena kita sudah tahu kebenarannya, kita punya kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Kita punya kesempatan untuk membongkar semuanya, untuk memastikan bahwa keadilan benar-benar ditegakkan, bukan keadilan yang dibuat-buat oleh orang-orang yang berkuasa itu. Kita tidak sendirian lagi sekarang, kita sudah bersatu, dan kita punya bukti-bukti yang cukup untuk mengungkap semuanya.”
Kata-kata Alana itu seolah menjadi sinar terang di tengah kegelapan yang menyelimuti hati mereka. Raka mengangkat kepalanya, dan tatapannya yang tadinya kosong perlahan-lahan kembali bersinar. Ia menatap gadis di hadapannya ini, dan ia sadar lagi—selama ini ia merasa hidupnya sudah hancur, tapi ternyata ada hal terindah yang ia dapatkan dari semua ini, yaitu gadis yang ada di hadapannya ini.
“Kau benar,” ujarnya perlahan.
“Kau benar sekali. Selama ini aku merasa semuanya sia-sia, tapi tidak. Karena dari semua ini, aku bertemu denganmu, aku mengenal dirimu. Dan itu adalah hal terindah yang pernah aku miliki, sesuatu yang tidak bisa diatur atau diambil oleh orang lain apa pun itu.”
Ia lalu menoleh ke arah Gubernur William, dan untuk pertama kalinya, tatapannya tidak lagi penuh permusuhan atau kewaspadaan. Ia menatapnya sebagai orang yang sama-sama terluka, sama-sama menjadi korban dari kebohongan yang sama.
“Kau dengar itu juga, kan?” tanyanya.
“Selama ini kita saling bermusuhan, saling ingin menjatuhkan. Tapi sekarang kita tahu, kita sebenarnya ada di pihak yang sama. Kita sama-sama tertipu, sama-sama dijadikan alat. Dan sekarang, kita punya kesempatan untuk membalas semuanya, dengan cara yang benar.”
Gubernur William mengangguk perlahan, dan ada semangat baru yang muncul di wajahnya. “Kau benar. Kita tidak akan membiarkan mereka terus hidup tenang, sementara kita semua menderita karena perbuatan mereka. Kita akan buka semua rahasia itu, kita akan pastikan bahwa mereka menerima apa yang seharusnya mereka terima.”
“Tapi kita harus berhati-hati,” tambah Raka dengan nada serius.
“Orang-orang ini tidak sembarangan. Mereka punya kekuasaan yang besar, punya banyak orang yang bekerja untuk mereka, dan mereka akan melakukan apa saja supaya rahasia mereka tidak terungkap. Kita tidak bisa bertindak sembarangan, kalau tidak kita yang akan hancur terlebih dahulu.”
“Kita tahu itu,” jawab Gubernur William.
“Dan kita sudah punya semua yang kita butuhkan sekarang. Bukti-bukti ini cukup kuat untuk menjatuhkan mereka, dan kita juga punya orang-orang yang percaya dan mau membantu kita. Selama kita bersatu, tidak ada yang tidak bisa kita hadapi.”
Tapi di saat mereka sedang merencanakan langkah selanjutnya, seseorang datang bergegas ke dalam ruangan. Wajahnya terlihat panik dan pucat, napasnya terengah-engah seolah ia berlari dari tempat yang jauh.
“Ada apa?” tanya Raka segera.
“Ada kabar apa lagi?”
Orang itu menundukkan kepalanya, suaranya bergetar saat berbicara. “Tuan... kami baru saja mendapatkan kabar. Ternyata ada salah satu dari orang-orang yang bekerja untuk kelompok itu yang berhasil lolos dari pengepungan kami. Dan kami mendapat kabar... ia sudah pergi menuju tempat orang-orang yang menjadi pemimpin sebenarnya itu. Artinya... mereka sudah tahu bahwa rahasia mereka sudah terbongkar.”
Berita itu membuat suasana di ruangan itu seketika menjadi tegang kembali. Raka dan Gubernur William saling bertukar pandangan, dan mereka sama-sama tahu apa artinya ini. Waktu yang mereka miliki makin sempit saja. Orang-orang itu pasti akan segera bertindak, dan kali ini mereka tidak akan ragu-ragu lagi. Mereka akan melakukan apa saja, bahkan hal yang paling kejam sekalipun, untuk memastikan bahwa semuanya tetap tersembunyi.
“Mereka pasti akan berusaha menghancurkan kita, sebelum kita bisa menghancurkan mereka,” ujar Raka dengan suara yang berat.
“Mereka tidak akan membiarkan kita hidup, karena selama kita masih ada, rahasia mereka akan selalu terancam.” lanjutnya.
“Dan mereka akan berusaha mengambil atau menghancurkan bukti-bukti yang kita miliki,” tambah Gubernur William.
“Tanpa bukti itu, kita tidak akan bisa berbuat apa-apa.”
“Kalau begitu, kita tidak punya waktu lagi untuk menunggu,” ujar Raka tegas.
“Kita harus bertindak secepatnya, sebelum mereka mendahului kita. Tapi ini akan menjadi pertarungan yang paling berbahaya dari semuanya. Kita tidak hanya berhadapan dengan orang-orang yang berani melakukan apa saja, tapi juga dengan kekuasaan dan pengaruh yang sangat besar.”
Ia menatap Alana, dan tatapannya penuh dengan rasa khawatir sekaligus tekad yang kuat. “Dan untuk itu, aku harus memastikan keselamatanmu lebih dulu. Kalau sampai ada apa-apa denganmu, aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri.”
Alana menggeleng cepat, wajahnya terlihat tegas dan tidak mau mengalah. “Tidak. Kali ini aku tidak akan pergi ke tempat yang aman dan hanya menunggu saja. Aku mau ikut serta, aku mau berjuang bersama kalian. Aku sudah bilang, aku juga bagian dari ini, dan aku tidak mau hanya diam saja sementara orang-orang yang aku sayangi berjuang dan menghadapi bahaya.”
“Tapi ini terlalu berbahaya, Alana. Lebih berbahaya dari apa pun yang pernah kita hadapi sebelumnya,” ujar Raka nadanya terdengar memohon.
“Aku tidak sanggup kalau ada hal buruk yang terjadi padamu.”
“Dan aku juga tidak sanggup kalau aku hanya berdiri di pinggir dan melihat kalian berjuang sendirian,” jawab Alana dengan suara yang tegas.
“Kau bilang kita akan hadapi semuanya bersama-sama, kan? Kalau begitu, aku juga harus ada di sana. Aku tidak akan menjadi beban buat kalian, aku bisa membantu sebisaku. Tolong, Raka... izinkan aku ikut serta.”
Raka menatapnya lama, dan ia tahu betul betapa kuatnya keinginan gadis ini. Ia juga tahu, ia tidak akan bisa melarangnya selamanya, dan ia juga tidak mau melarangnya. Karena seperti yang dikatakannya, mereka akan menghadapi semuanya bersama-sama.
Ia akhirnya mengangguk perlahan. “Baiklah. Kalau itu yang kau inginkan, maka kau ikut serta. Tapi kau harus berjanji padaku, kau akan selalu berhati-hati, dan kau akan mendengarkan apa yang aku katakan. Demi dirimu sendiri, dan juga demi aku.”
Alana tersenyum lega, lalu mengangguk dengan semangat. “Aku berjanji. Aku akan berusaha sebaik-baiknya.”
><><><><
Sementara itu, di tempat yang jauh dan tersembunyi, orang-orang yang menjadi dalang dari segala kejadian ini sudah mendengar kabar itu. Wajah-wajah mereka yang tadinya selalu tenang dan penuh percaya diri, kini berubah menjadi marah dan penuh kekhawatiran. Mereka tahu, kalau bukti-bukti itu benar-benar terungkap, maka semuanya akan berakhir untuk mereka. Kekuasaan, harta, kedudukan, bahkan nyawa mereka sekalipun, semuanya akan hilang begitu saja.
“Kita tidak bisa membiarkan hal ini terjadi,” ucap salah seorang dari mereka, suaranya berat dan penuh amarah.
“Kita sudah membangun semuanya dengan susah payah selama bertahun-tahun, dan kita tidak akan membiarkan orang-orang itu menghancurkannya begitu saja.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya yang lain.
“Mereka sudah bersatu, dan mereka punya bukti yang cukup kuat untuk menjatuhkan kita. Kita tidak bisa menghadapi mereka dengan cara yang biasa saja lagi.”
“Kalau begitu... kita harus melakukan cara yang terakhir,” ujar orang pertama itu, matanya menyala-nyala karena kejam dan keserakahan.
“Kita akan pastikan bahwa mereka tidak pernah sempat membuka mulut, dan bukti-bukti itu lenyap dari muka bumi ini. Tidak peduli apa yang harus kita korbankan, tidak peduli berapa banyak nyawa yang harus melayang. Kita harus memastikan bahwa kita tetap menang, dan mereka kalah dan hancur selamanya.”
Keputusan itu sudah diambil. Dan kini, kedua belah pihak sama-sama bersiap-siap, sama-sama menunggu saat yang tepat untuk bertindak. Pertarungan yang akan datang ini bukan lagi pertarungan antara orang-orang yang bermusuhan, tapi pertarungan antara kebenaran dan kebohongan, antara keadilan dan keserakahan. Dan nasib semua orang, serta masa depan seluruh kota ini, akan ditentukan dalam pertarungan ini.
Tidak ada yang bisa memastikan apa yang akan terjadi, siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah. Tapi satu hal yang pasti—apa pun hasilnya, tidak ada yang akan sama lagi seperti sebelumnya. Segalanya akan berubah, dan tidak ada jalan untuk kembali ke masa lalu.