Ilyar Justina dijatuhi hukuman pengasingan setelah dituduh merencanakan pembunuhan terhadap ayahnya sendiri, Raja Tyraven. Ia dikirim ke Dakrossa—penjara paling kejam di Kekaisaran Eldrath, tempat para penjahat paling berbahaya dibuang. Semua orang yakin gadis lemah lembut yang bahkan tak bisa bertarung itu tak akan bertahan lama di sana.
Namun, tahun-tahun berlalu, dan Ilyar kembali. Bukan sebagai sosok yang sama, melainkan seseorang dengan aura dingin dan kegilaan yang mengendap di balik senyumnya. Di hadapan saudara-saudaranya yang dipenuhi kebencian, ia hanya tersenyum tipis. “Sepertinya kalian sangat senang dengan kepulanganku.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Seluruh penghuni istana melotot dan langsung memandang langit tak kala suara menggelegar dari genderang ditabuh sebanyak tiga kali. Tidak lama setelah gerbang istana dibuka dan para rakyat berbondong-bondong menyesaki alun-alun.
Ravena, Theron, pihak musuh, dan tanpa terkecuali mereka yang tidak berpihak pada kubu mana pun terkejut menyaksikan peristiwa mendadak hari ini.
Agor Thorn Valgard berdiri di balkon utama istana ditemani penasihat kerajaan dan ajudan. Mengenakan pakaian mulia dibalut jubah mewah, Agor berdiri di sana sambil berorasi penuh semangat meski tampak masih lemah.
Sepasang mata Ravena bergetar menyaksikannya. Setiap kalimat yang lolos dari mulut Agor membuat emosinya mendidih. Sementara, sejumlah mata-mata musuh dari luar Tyraven segera melesat untuk memberi laporan.
"Bagaimana bisa Anda tidak memberitahu saya terlebih dahulu jika sudah sadar. Saya sangat senang karena Anda akhirnya terbangun, tapi sekarang saya sangat sedih."
"Aku sengaja melakukannya karena ingin melihat reaksimu. Sesuai perkiraanku, kamu sangat bahagia, Permaisuri."
"Sialan! Apa maksud perkataannya? Sepertinya aku terlalu berpikir jauh, tidak mungkin dia tahu aku terlibat!"
Ravena bergumam gelisah mengingat akhir pembicaraan singkatnya dengan Agor kemarin. Dia tergesa-gesa menemui suaminya seraya berakting seperti seorang istri yang gembira karena akhirnya sang suami terbangun dari koma kemudian berlagak kecewa nan sedih karena merasa tidak dipercaya sehingga baru tahu Agor sudah lama sadar kemudian melakukan rencana besar secara terbuka.
"Aku tidak menduga orang-orang yang berani melakukan ini padaku telah menempatkan darah dagingku sebagai kambing hitam! Menuduhnya sebagai pengkhianat! Putriku... Ilyar Justina Valgard tidak bersalah!"
"Sidang Pembuktian akan digelar dan setelah itu kalian akan melihat bagaimana para pelaku menerima ganjaran atas pengkhianatannya!"
Hah?!
Sekarang emosinya makin meledak-ledak tatkala sebagian orasi Agor terlintas dalam kepalanya. Sidang pembuktian? Berarti Ilyar akan hadir setelah delapan tahun mendekam di Dakrossa.
"Memang apa yang akan terjadi jika anak tidak berguna itu kembali ke Tyraven?" Senyum remeh menghias bibir bergincu tebal Ravena.
Anak-anaknya, yakni Theron Castemar Valgard dan Anelle Valgard adalah keturunan Valgard paling unggul. Keduanya telah mencuri perhatian orang-orang berkuasa di Tyraven. Mereka telah diakui sebagai keturunan terkuat Valgard. Sedangkan, Ilyar yang bahkan tidak tahu cara bertarung dan hanya mengandalkan keberuntungan tidak akan mampu bertahan.
"Sudah delapan tahun berlalu, mari lihat semenyedihkan apa anak itu," kata Ravena penuh keangkuhan.
Sementara di waktu bersamaan, ledakan di lantai sebelas telah mengundang kepanikan Jaise dan Haimer. Asalnya dari ruang sembilan, di mana Vyr tersegel. Derap langkah dari para penjaga elit terdengar dari arah pintu, mereka baru saja tiba bersama sejumlah penyihir tingkat tinggi.
"Kami yakin telah memperkuat seluruh penjara terakhir kali kemari. Bagaimana bisa yang satu ini bermasalah?" kata si Penyihir Agung yang menerabas kerumunan di depannya bersama Solomon.
Mereka berdiri di depan pintu penjara Vyr yang bergetar. Mantra kuno di depan pintu menjadi kacau, bergerak tidak menentu dan cahayanya kian redup. Tanda-tanda itu menunjukkan apabila Vyr sedang berusaha membebaskan diri, dan tampaknya akan berhasil.
Krak... Krak
Suara retakan terdengar bersamaan jalur-jalur rengkah terbentuk di permukaan pintu batu penjara Vyr. Semuanya waspada dalam posisi siap menyerang dan ketika langit-langit lantai sebelas bergemuruh dan permukaan mereka berpijak bergetar hebat, saat itu pula pintu runtuh.
Ukh!
Gelombang energi dari ruang tahanan Vyr berembus kasar bersamaan kabut putih tipis yang lambat laun memudar dan menampakkan bayangan hitam besar rubah ekor sembilan yang duduk jauh di dalam ruangan bercahaya remang di sana.
Sembilan ekornya terlihat seperti kipas, terkibar dan agak berayun-ayun lembut. Terlihat indah, tapi aura mencekam membuat semua orang di sana menahan napas sembari memperkuat mentalitas mereka.
Penyihir agung segera menghentak tongkat sihir ke permukaan, menciptakan perlindungan tak kasat mata dibantu penyihir tingkat tinggi yang berdiri di balik punggungnya. Namun, itu tidak mampu bertahan lama.
"Sepertinya kalian butuh bantuan?"
Semua memutuskan atensi dari sosok Vyr, beralih ke arah Ilyar yang menerabas untuk berada di barisan paling depan.
Ilyar menatap Solomon, Jaise, dan Haimer secara berurutan lalu tersenyum penuh makna. Saat itu pula, ketiganya mengepalkan tangan jengkel.
Padahal jelas-jelas kemarin Ilyar mengatakan 'Ya, sudahlah' tapi ternyata gadis ini membuat ulah karena tidak dituruti.
"Jangan salah paham begitu. Aku tidak melakukan apa-apa terhadap segelnya," ungkap Ilyar saat tatapan kecurigaan mengarah penuh padanya.
Itu memang benar. Dia tidak melakukan apa-apa pada segelnya, melainkan pada Vyr. Selama empat tahun terakhir, dia berusaha menaklukkan hati hewan magis satu itu, memperlakukannya penuh kasih dan diam-diam memberi makanan berupa ener miliknya. Kemudian, kemarin dia mengatakan pada Vyr bahwa besok akan kembali ke istana karena sudah terbebas.
"Berusahalah lebih keras jika kamu mau ikut bersamaku, Vyr. Ener yang sering kuberi untuk mengenyangkanmu pasti bisa sedikit membantu karena itu kekuatan terpisah darimu. Manfaatkan kesempatan yang ada agar kita bisa pergi bersama dari sini."
Itulah kata-kata yang Ilyar bisikkan pada Vyr sehingga rubah tersebut bersikeras sejak semalam, mengerahkan seluruh kekuatan untuk menghancurkan segel. Dia tidak mau berada di Dakrossa tanpa Ilyar.
"Sepertinya Anda benar karena kami yakin segelnya terpasang tanpa masalah. Jika sudah begini, bagaimana kita bisa menghadapi monster itu? Dia telah membunuh dua penyihir agung dan sejumlah penyihir tingkat tinggi." Salah satu penyihir berkata, suara dan tubuhnya gemetar.
"Aku bisa menanganinya," kata Ilyar seraya terus melangkah dan berhenti tepat di garis pintu masuk ruang tahanan, di mana bayangan mengerikan Vyr terpampang jelas.
"Kalau begitu tunggu apa lagi?" tanya para penyihir.
Ilyar menyeringai seraya menatap Solomon, Jaise, dan Haimer dengan serius untuk kesekian kalinya. "Aku tidak mau melakukannya dengan cuma-cuma."
"Apa?"
Kali ini para penjaga ikut bersuara.
"Jika aku berhasil menanganinya, dia akan kubawa pergi sebagai Beaster-ku dan tidak seorang pun dari kalian mempermasalahkannya. Bagaimana?" Ilyar mengibaskan rambut merahnya yang tergerai seraya melirik Vyr dari ekor matanya.
"Menjadikan Vyr Beaster? Omong kosong macam apa yang Anda bicarakan? Makhluk itu membenci manusia. Tidak seorang pun bisa menaklukkannya bahkan putra mahkota kekaisaran nyaris putus tangannya saat mencoba menyentuh makhluk itu!"
Mendengar perkataan penyihir agung, tawa panjang lolos dari Ilyar. Cukup lama sampai dia menghentikan tawa karena perut menjadi agak keram.
"Kamu dengar kata mereka, Vyr?" Ilyar menoleh ke belakang dan tidak lama siluet Vyr dalam ruangan bergerak.
Hewan magis itu maju perlahan, semakin lama sosoknya terlihat sangat besar dan jelas. Pada akhirnya, mereka menahan napas tatkala rubah ekor sembilan berukuran raksasa sudah berdiri di balik punggung Ilyar, menatap mereka seperti kerikil yang berserakan pada jalanan.
"Jadi, apa sekarang kamu percaya omong kosongku?" tanya Ilyar seraya menelusupkan tangan pada kaki berbulu merah lebat Vyr. Dia jadi sangat kecil ketika Vyr dalam wujud raksasa begini.
"Sejak kapan kamu bisa menjinakkannya?" tanya Jaise.
Ilyar mendongak, memandangi Vyr.
"Menjinakkannya? Tidak. Aku tidak melakukannya karena kami saling menaklukkan satu sama lain.
Bukankah begitu, Vyr?"
Vyr mengangguk lalu mengangkat dagu, menunjukkan rasa bangga dan pemandangan semacam itu membuat semuanya membeku.
"Nah, apa keputusan kalian? Jika menolak, aku akan membiarkannya mengacau." Ilyar menatap semuanya.
Apalagi? Tentu saja tidak ada pilihan selain membiarkan Vyr menjadi Beaster Ilyar. Memang siapa lagi yang bisa mengendalikan hewan itu kemudian jika kembali dimasukkan ke penjara lalu suatu hari insiden semacam ini terulang, siapa yang akan bertanggung jawab?
Argh! Kepalaku!
Solomon menyentuh bagian belakang kepalanya. Alasan apa yang harus dia sampaikan ke kaisar tentang ini?
"Jangan berlebihan begitu. Jujur saja ini, kan, tidak ada apa-apanya dibanding Paman yang bersenang-senang atas penderitaanku selama mendekam di sini."
Tsk! Bocah ini selalu tahu dimana harus menyerangku!
Solomon menggerutu dalam hati lalu berkata pada Ilyar, memberinya peringatan. "Jika Beastermu membuat kekacauan, bertanggung jawablah sepenuhnya."
Senyum Ilyar mengembang. 'Beastermu' berarti Solomon telah mengizinkan dia memiliki Vyr.
"Tenang saja, Paman. Jika dia mengacau seperti dulu, aku yang akan turun tangan membunuhnya," ucap Ilyar sampai membuat semua orang di depannya melotot dan mengalihkan perhatian pada Vyr.Takut jika rubah itu tersinggung karena merasa terhina.
"Kamu setuju, kan, Vyr?" tanya Ilyar sembari menepuk-nepuknya.
Vyr mendengkus kemudian mengangguk membuat mereka benar-benar tidak paham hubungan macam apa yang terbentuk di antara keduanya.
"Jadi sekarang aku sudah boleh pergi, kan?" tanya Ilyar.
Solomon menyilangkan tangan depan dada. "Kamu harus menghadiri sidang pembuktian, setelah itu jika terbukti tidak bersalah barulah kamu dinyatakan bebas jadi sekarang kamu tidak boleh berkeliaran kecuali di sini."
"Ah, begitu rupanya. Sayang sekali, tahu gitu aku memprovokasi Vyr besok saja, "batin Ilyar agak kecewa.
"Ya, kalau begitu apa boleh buat. Jadilah imut, Vyr. Kita akan keluar dari sini besok jadi bersabarlah dalam pelukanku." Ilyar berdiri di bawah wajah besar Vyr dengan kedua tangan terjulur ke atas.
Vyr menatap cukup lama seiring tubuh lambat laun menyusut, menjadi rubah berekor satu berukuran normal.
Kiyaah!
Dia segera melompat dan berakhir dalam timangan Ilyar. Wujudnya jadi sangat menggemaskan membuat semuanya bernapas lega.
"Nah, masalahnya selesai, kan?" Ilyar melirik ke belakang diselingi senyum kemenangan.
Cekalan kuat pada tongkat sihir penyihir agung perlahan mengendur bersamaan perisai tak kasat mata yang sirna perlahan.
"Kuharap kegilaanmu cukup di Dakrossa saja," kata Solomon.
Ilyar mengangkat sebelah alis bersamaan sudut bibir sedikit tersungging, "Ayolah, Paman. Aku bahkan belum memulainya, tapi kamu sudah khawatir? Kegilaan sesungguhnya baru dimulai besok."
"Apa lagi yang coba kamu lakukan?"
Ilyar menahan senyum sambil mengusap puncak kepala Vyr lalu menjawab pertanyaan Solomon seiring bahu terangkat tak acuh.
"Entahlah."
Setelah berkata demikian, Ilyar pergi begitu saja sambil bersenandung kecil. Semua orang disana masih terpaku lalu penyihir agung geleng-geleng kepala sambil berkomentar, "Ckck... Dakrossa telah merusak kepribadiannya yang suci. Padahal anak itu penuh sopan santun."
Hah? Sudut bibir Solomon berkedut. "Jadi maksudmu aku memberinya pengaruh buruk?"
Penyihir agung mendelik pada Solomon diselingi senyum agak sarkas. "Entahlah, tapi cara bicara dan tingkahnya mirip seperti Anda. Kalau begitu, kami pamit undur diri karena masalahnya sudah selesai."
Para penyihir akhirnya meninggalkan lantai sebelas dan Solomon berdecak jengkel sambil melirik Jaise dan Haimer. "Para penyihir memang menyebalkan. Bukankah kalian juga berpikir demik -hah? Apa-apaan ekspresi kalian?!"
Alis Solomon menukik tajam tatkala tatapan Haimer dan Jaise persis para penyihir tadi.
"Hah, seharusnya kamu menyerahkan anak itu dari awal jadi kami bisa mengajarinya tanpa menghilangkan kepribadiannya yang hangat," kata Jaise sambil mengusap dada prihatin.
"Mari kita pergi juga, Haimer," ajak Jaise dan melewati Solomon begitu saja.
Solomon menggeram lalu menoleh secepat kilat pada pasukan penjaga elitnya, tapi mereka semua memalingkan wajah canggung. Yah, tidak ada yang lebih mengetahui kegilaan macam apa yang Solomon lakukan agar Ilyar menjadi sekuat itu.
Mereka adalah saksi bisu sejak lantai sepuluh menerapkan aturan baru. Mereka bahkan jadi korban di sana.
"S-sepertinya kami juga harus pergi," kata Komandan penjaga agak gugup.
"Ya, pergilah sebelum aku mengurung kalian di dalam sana!" jawab Solomon sambil mengarahkan telunjuk ke ruang tahanan Vyr yang telah kosong.
Para penjaga segera memasang tubuh tegap, membungkuk seperkian detik lalu melesat meninggalkan lantai sebelas. Membiarkan pemimpin mereka menggerutu sendirian.