Ini kisah lanjutan #LuckyDaisy yang bercerita keluarga Buwono setelah kelahiran Kenzie. Bagaimana dokter Lucky dan istrinya dokter Daisy menikmati kehidupan rumah tangganya bersama dengan pebinor nya, Winston. Belum kasus dengan divisi kasus dingin termasuk dokter Lucky masih saja takut dengan tim arwahngers. Kemungkinan sampai kehamilan Elina dan kelahirannya yang penuh warna.
Generasi ke 8 klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Babysitter
Gita datang ke rumah dokter Lucky pada keesokan harinya, di hari Sabtu. Wanita itu melihat rumah keluarga Buwono dengan perasaan kagum. Dia sudah beberapa kali datang ke rumah Alsaki Baskara untuk acara open house lebaran, Ryuga Giandra juga acara yang sama namun mewahnya rumah mereka berbeda dengan rumah di hadapannya.
Tidak mewah tapi terlihat sangat cantik dan artistik yang simple. Nuansa Jepang sangat terlihat dan Gita sangat suka. Seorang wanita sebayanya melihat Gita yang tampak celingukan.
"Cari siapa Bu?" tanyanya.
"Eh, maaf mbak. Saya Gita, dan sudah mendapatkan izin dari Bu Daisy," jawab Gita. "Saya babysitter mas Kenzie."
"Oh, babysitter mas Kenzie. Bu Daisy sudah kasih ijin? Eh, tapi mbak Gita sudah masuk ke komplek ini pasti udah dapat ijin ya? Saya Pum. ART di sini."
Kedua wanita itu saling bersalaman. Pum pun mengajak Gita masuk ke rumah. Mereka melihat dokter Lucky sedang menggendong Kenzie yang rewel.
Dokter Lucky dan Kenzie
"Lho, siapa itu Pum?" tanya dokter Lucky.
"Ini pak Dokter. Ini mbak Gita yang akan jadi babysitter mas Kenzie," jawab Pum.
"Oh gitu. Sayang, ini yang jadi babysitter Kenzie sudah datang," panggil dokter Lucky ke Daisy yang sedang membuat sarapan Kenzie di dapur.
"Selamat pagi pak Dokter," sapa Gita.
"Pagi. Sebentar ya. Aku bawa Kenzie ke kamar dulu." Dokter Lucky berjalan ke kamar Kenzie karena merasa popoknya basah.
Daisy tersenyum ke arah Gita yang masih berdiri di ruang tengah bersama Pum.
"Hari ini mbak Gita menghapalkan kebiasaan dan aturan di rumah ya. Termasuk cara mengasuh Kenzie. Mbak Pum nanti juga akan membantu," ucap Daisy lembut. "Saya tidak minta macam-macam, jangan menyalahgunakan kepercayaan saya dan pak Lucky."
Gita mengangguk. Dia sudah tahu jika Daisy adalah putri Mafioso dan keponakan Aizen Akihiro. Siapapun tahu, Aizen dikenal sangat ketat aturannya dan tidak ada ampun buat pengkhianat. Apalagi keluarga ini bagian dari Mafioso Italia.
"Iya Bu Daisy. Saya paham."
"Sekarang rutinitas Kenzie."
***
Di kamar bayi, dokter Lucky dengan telaten mengganti popok Kenzie. Putranya tampak senang karena sudah mendapatkan popok yang bersih. Harum bedak bayi membuat dokter Lucky gemas dengan putranya yang comel.
"Ya ampun Kenz ... meskipun kamu lebih mirip Mama kamu tapi Papa tetap yakin. Kamu akan menjadi penerus papa menjadi seorang Klanis!" senyum dokter Lucky.
"Pa ... Pa ... jie ... agu," Kenzie mengoceh tidak jelas.
"Apa? Kenzie mau dengerin lagu?" tanya dokter Lucky. "Gerimis ya? Soalnya ini mau gerimis."
Tak lama mengalun lagu Gerimis milik KLa Project di kamar Kenzie dengan lembut. Dokter Lucky ikut bernyanyi tapi malah membuat Kenzie menangis.
"Apa? Kamu sebal suara papa? Kamu lebih memilih suara Opa Katon Bagaskara? Tega sekali kamu Kenz!" rengek dokter Lucky mendrama.
"Ya Allah mas. Kok ribut sama anak sendiri?" kekeh Daisy menatap gemas dengan dua pria kesayangannya meskipun beda fisik dan usia.
"Jeng Daisy ... Kenzie memilih mendengar suara Katon Bagaskara dibandingkan Papanya yang comel ini!" adu dokter Lucky dengan manyun.
Kenzie pun tidak ketinggalan ikut protes. Dokter Lucky menoleh ke putranya. Keduanya saling adu mulut dengan kacau.
Daisy menggelengkan kepalanya gemas. "Ya Allah mas ...."
***
"Bu Daisy dan pak Dokter itu baik mbak Gita. Kalau pernah kerja di PRC Hospital, pasti tahu kan bagaimana karakter keluarga besar Pratomo. Mereka baik dan percaya bahwa semua orang itu baik tapi jika ada yang melanggar kepercayaan, langsung di cut off!" ujar Pum sambil memperlihatkan kamar yang akan dipakai Gita menginap nanti usai resign dari PRC Hospital.
"Iya mbak Pum. Aku juga dengar mereka sangat dekat dengan orang Polda," ucap Gita.
"Oh timnya pak Dean? Memang. Percaya sama aku. Selama tidak aneh-aneh, kita akan banyak berkahnya. Aku sebelumnya kerja di rumah pak Remy Giandra terus Bu Daisy butuh asisten rumah tangga, aku menawarkan diri karena art di rumah Giandra sudah kebanyakan. Ternyata aku lebih senang disini," jawab Pum. "Hanya saja aku kalau akhir pekan, ke rumah anak dan cucuku."
"Aku sudah sendirian, Mbak Pum. Jadi aku mau kerja yang tidak se hectic di rumah sakit," senyum Gita.
"Kalau begitu, aturan utama lainnya disini, jangan ember baik ke keluarga, tetangga ataupun sosial media. Jika ada yang tidak suka, lebih baik utarakan langsung ke Bu Daisy. Jangan diumbar."
Gita mengangguk. "Iya mbak Pum."
***
Suara ponsel dokter Lucky berbunyi dan wajahnya tampak sebal karena itu telepon dari rumah sakit. Padahal hari ini dia sudah berencana hendak mengajak Daisy dan Kenzie jalan-jalan.
"Siapa mas?" tanya Daisy.
"Rumah sakit." Dokter Lucky mengangkat teleponnya dan wajahnya langsung serius. "Dokter Lucky."
Daisy tersenyum. Namanya juga dokter IGD sekaligus dokter bedah.
"Sayang, aku ke rumah sakit dulu ya. Ada korban kecelakaan banyak," pamit dokter Lucky.
"Iya. Hati-hati ya mas."
"Nanti aku bawain martabak ya pulangnya. Acara ke mall, pending besok ya?" Dokter Lucky mencium bibir Daisy lembut lalu mencium kepala putranya. "Dah Kenzie."
Daisy dan Kenzie melambaikan tangan ke dokter Lucky yang segera berganti pakaian. Pum dan Gita melihat pria itu bergegas pergi.
***
RS Bhayangkara Jakarta
Lampu IGD Rumah Sakit Bhayangkara menyala terang. Suara monitor berdetak cepat, perawat berlarian, dan aroma antiseptik memenuhi udara.
“Tekanan darah turun! 80 per 50!” teriak seorang perawat.
Dokter Lucky langsung sigap. “Pasang infus kedua, cepat! Kita nggak punya banyak waktu.”
Di sampingnya, Dokter Rahmat memeriksa luka korban lain yang tak kalah parah. “Dok Lucky, yang ini ada cedera kepala. Aku tangani di sini. Kamu fokus yang perempuan itu!”
Dokter Lucky mengangguk cepat. “Siap!”
Seorang wanita muda dengan luka di pelipis dan lengan terbaring di ranjang IGD. Matanya setengah terbuka, napasnya berat. Dokter Lucky mendekat, mencoba menenangkan.
“Bu, dengar saya. Anda aman sekarang. Saya dokter Lucky.”
Wanita itu berkedip pelan … lalu tiba-tiba matanya membesar. “Mas…?” suaranya lirih tapi jelas.
Dokter Lucky berhenti sejenak. “Maaf?”
Wanita itu langsung meraih tangan Lucky dengan sisa tenaga. “Mas! Ini aku … istrimu!”
IGD yang tadinya penuh fokus mendadak hening lalu ....
“Hah?!” Beberapa perawat spontan menoleh. Suster Lia menatap judes ke dokter kesayangannya. Urusan Susana belum kelar, eh ada lagi cewek ngaku-ngaku!
Dokter Rahmat bahkan sempat berhenti sejenak, menoleh dengan alis terangkat tinggi. “Dokyer Lucky … kamu kenal korban?”
Dokter Lucky langsung panik. “ASTAGA, NGGAK! Aku tidak kenal korban! Sumpah!”
Wanita itu makin dramatis, menggenggam tangan Dokter Lucky lebih erat. “Mas tega banget … masa nggak kenal aku? Kita kan baru nikah bulan lalu …”
Dokter Lucky mendelik. "Dengar ya Bu. Saya sudah menikah tapi tidak sama anda!"
Seorang perawat berbisik ke temannya, “Ini sinetron pindah ke IGD ya?”
Dokter Rahmat mendekat sambil tetap profesional, tapi sudut bibirnya hampir naik. “Bu, coba tenang dulu ya. Anda ingat nama Anda siapa?”
Wanita itu menatap dokter Rahmat sekilas, lalu kembali ke dokter Lucky. “Mas, kamu kok berubah? Apa kamu amnesia?”
Dokter Lucky hampir mau pingsan, tapi menahan diri. “Bu, saya bukan suami Anda. Fokus dulu ya, kita obati lukanya.”
“Tega …” wanita itu pura-pura terisak. “Baru juga sebulan nikah, udah dilupain …”
Suster Lia tak tahan, menutup mulut menahan tawa. "Dok, kalau dok Daisy tahu ...."
Dokter Lucky menyambar cepat mata Suster Lia. "Jangan macam-macam, Suster Liliput!"
Dokter Rahmat akhirnya berdeham, mencoba mengembalikan situasi. “Oke, cukup dramanya. Dokter Lucky, lanjut tindakan. Kemungkinan pasien mengalami disorientasi akibat benturan.”
Dokter Lucky langsung mengangguk cepat, seperti menemukan jalan keluar dari mimpi buruk. “Iya! Betul! Disorientasi! Terima kasih, Dok!”
Namun wanita itu masih belum menyerah. “Mas, nanti pulang jangan lupa jemput aku ya …”
Dokter Lucky menatap langit-langit sejenak. “Ya Tuhan… ini ujian apa lagi…”
Dokter Rahmat menepuk bahu Lucky pelan. “Sabar. Setidaknya ini kasus yang normal pada korban kecelakaan. Bisa jadi akibat benturan jadi seperti ini. Setidaknya korban bilang kamu suami bukan bapaknya."
“Dok, jangan nambah-nambahin!” Dokter Lucky hampir menangis.
IGD kembali sibuk, tapi bisik-bisik kecil mulai terdengar di antara perawat.
“Dokter Lucky ternyata laku juga ya …”
“Eh tapi kalau Dok Daisy dengar, gimana ya …” Suster Lia melihat ke arah rekannya.
“Bisa gegeran kacau," ujar Suster Mini.
Sementara itu, dokter Lucky tetap fokus merawat pasien, meski setiap beberapa detik, wanita itu masih memanggilnya, “Mas…”
Dan Dokter Rahmat? Dia hanya menggeleng sambil tersenyum tipis.
“IGD… selalu penuh kejutan," gumamnya geli.
***
Yuhuuuu up Siang Yaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
hikksss.....
kasihan banget flint, padahal dia nggak tau apa-apa
ayahnya itu ampun deh...
ibunya juga kurang aware😓😓😓
lgian,spa jg yg bkln sbar kl ktmu orng ga wrs ky gt....bgus bgt idenya dok gabut yg mau bkin dia gatal2,biar kapok....
yang dikhawatirkan sama kan.... pispot🤣🤣🤣🤣