Zara Ayleen adalah perempuan religius dari keluarga sederhana yang percaya bahwa hidup selalu punya jalan lurus untuk tetap dijalani. Namun satu malam yang kelam menghancurkan keyakinannnya. Dalam keadaan yang tak pernah ia kehendaki, Zara menjadi korban dari kesalahan seorang lelaki yang bahkan tak kenal dengan baik—Arsyad Faizandra Wiratama pewaris perusahaan besar yang hidupnya penuh kendali, kekuasaan dan kesombongan. Kesalahan itu memaksa mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta. Bagi Arsyad pernikahannya dengan Zara merupakan bentuk tanggung jawab bukan perasaan. Bagi Zara, pernikahannya dengan Arsyad adalah ujian terberat dalam hidupnya. Dibawah satu atap, mereka hidup sebagai suami istri yang asing. Arsyad dingin dan berjarak, sementara Zara memendam luka dan berharap dalam diam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita Polos
Mataku melotot kala dua benda kenyal miliku menempel rapat dengan dadanya, jantungku berdebar karuan kala sorot matanya terarah pada mataku. Bahkan hangat hembusan nafasnya pun sangat terasa dihidungku.
Dalam hati aku merutuki diriku, ini sangat intim dan memalukan sekali. Aku memejamkan mata dan melepas pelukanku yang erat dengan perlahan.
“Jadi siapa yang suka mancing-mancing. Jangan jadikan ketakutanmu sebagai celah untuk memeluku. Bagaimana jika nafsuku naik?, kamu jangan menyalahkan aku, karena kamu duluan yang mancing. Ayleen.” Ucapnya sambil berbisik ditelingaku. Sontak tubuhku menegang, hawanya sangat mencekam. Ya Allah aku sangat malu sekali, kala area sesitifku menyentuh dadanya. Apa dia merasakan itu semua.
Pak Arsyad menghenyakan tubuhnya, kemudian dia berbaring melentangkan tubuhnya. Aku masih merutuki diriku. Bagaimana adegan memalukan itu terjadi, aku selalu kehilangan kontrol kala panik.
“Bisakah kamu diam!, saya ngantuk ingin tidur.” Hanya gerakan sedikit, ketika aku mengibas-ngibaskan tangan didepan wajah. Kenapa pria ini sensitif sekali.
Hening, hanya ada suara jarum jam yang berdetak beriringan dengan bunyi hujan yang turun. Suara seperti ini akan menenangkan dan bikin tidur nyenyak kalau siatuasinya mendukung bukan mencekam seperti ini, aku sangat tidak menyukai keadaan seperti ini.
Suara hembusan nafas teratur dan suara dengkuran halus, pak Arsyad sudah tenggelam dalam mimpinya. Hatiku mulai tenang sehingga bisa memejamkan mata dengan tenang. Tidak lupa membaca do’a supaya aku terhindar dari segala gangguan baik dari manusia maupun dari makhluk lain.
***
POV Arsyad
Pemandangan kala aku terbangun dipagi hari ini sangat berbeda, wanita kecil itu memeluku erat. Heran sekali kenapa wanita ini sangat menyukai pelukan.
Oh… shit… kenapa ini ikutan mengang, dan ini apa kenapa tangan kecil milik wanita itu menyentuh daerah terlarang, dan ini kenapa anaconda ku terbangun kala ditekan oleh tangan wanita kecil ini.
Sial, gabisa ini gabisa dibiarkan. Naluri hasrat seorang laki-laki pada wanita akan meningkat jika terus-terusan seperti ini. Aku laki-laki normal, tapi entah mengapa sentuhan tangan wanita ini cepat membuat nafsuku meningkat. Seperti kejadian tadi malam dua bola dunianya menempel sempurna didadaku dan hampir saja aku kehilangan kendali.
Apakah dia akan menjadi godaan terbesarku disini, dia sangat halal untuku, tapi karena kelalaiku aku telah membuat wanita kecil ini terluka yang membekas dihatinya. Dan aku tidak akan menyentuhnya lagi, selagi wanita itu tidak mengizinkan.
Matanya terpejam sempurna, wajahnya imut dengan dagu kecil yang bulat, bulu matanya yang lentik. Jika wanita ini pintar memoles diri mungkin kecantikannya akan semakin terlihat. Tapi wanita ini seperti tidak peduli dengan kecantikan yang dimilikinya, sebenarnya apa si tujuan hidupnya. Disaat banyak wanita diluar sana yang berlomba-lomba ingin menjadi cantik, wanita ini malah terlihat sangat sederhana dan natural sekali. Benar kata papa, wanita ini berbeda.
Aku mengangkat lengan wanita itu dengan perlahan. Aku harus segera pergi ke kamar mandi, dan akan segera melepaskan anaconda dari sangkarnya.
“Argh…” acakonda ku mengeluarkan laharnya, kejadian malam itu membekas dalam ingatanku. Ketika anaconda ku yang berusaha memasuki lorong yang masih sempit, Tubuhnya sungguh membuatku kalang kabut. Setiap inci tubuhnya sungguh masih terekam jelas dalam otaku.
Air shower mulai membasahi tubuhku dari bagian atas sampai bawah, berusaha meredekan nafsu yang masih bergejolak dalam diri ini. Mati aku jika harus satu kamar dengannya, dengan keadaan aku tidak akan menyentuhnya lagi secara paksa wanita itu.
Aku mulai membilas tubuhku dengan sabun, tidak lama aku didalam kamar mandi mungkin sekitar dua puluh menitan, setelah ritual yang aku lakukan.
Selesai.
Aku keluar dari kamar mandi, dengan memakai pakaian lengkap. Tidak mungkin aku memakai pakaian didalam kamar, itu akan membuat harga diriku turun jika wanita itu memergokiku.
Klik..
“Mas… kenapa lama banget si?” Wanita itu sudah bangun. Dan kini dia sedang berjinjit sambil menggerak-gerakan kakinya, seperti sedang menahan buang air kecil.
“Mas, kamu sakit perut ya, apa karena tadi malam kamu makan telur balado buatanku. Kalau gitu nanti aku buatkan obat buat diarenya. Soalnya tadi aku denger kamu mengerang-ngerang didalam kamar mandi seperti orang yang sedang kesakitan.”
Oh… shit. Wanita ini benar-benar polos sekali.
Aku menggosok-gosokan handuk kecil pada rambutku yang masih basah, menghiraukan wanita itu menatap aneh kepadaku.
“Ya, itu gara-gara tangan kamu.” Ucapku asal.
“Yaudah aku minta maap, nanti pas sarapan aku bikinin obat buat sakit perutnya.”
Wanita itu sudah keluar dari kamar mandi dengan keadaan wajah yang masih basah.
Sorot mata coklatnya mengarah pada benda yang sedang aku lipat, sejadah hitam miliku. Dia menatap itu dengan tatapan aneh.
“Saya juga ingat tuhan saya, walapun ibadah saya masih bolong-bolong.” Aku sangat tau apa yang berada dalam pikiran wanita itu.
Dia hanya mengangguk kemudian dia meraih alat ibadahnya kemudian melaksanakan shalat dengan khusyu.
***
“Mas… ini jamunya, biar diarenya cepet mampet.” Aku yang sedang duduk di sofa kamar, menoleh pada wanita itu. Ia membawa nampan berisi jamu berwarna hijau.
“Saya tidak sedang sakit perut Ayleen.” Aku meliriknya jengah, lalu kembali fokus lagi dengan layar diponsel.
“Loh… tadi katanya sakit perut gara-gara telor balado bikinan tangan aku.”
Polos benar-benar polos. “Bukan, saya gak sakit perut. Bawa lagi sana jamunya!”
“Ya terus tadi kenapa?”
“Kamu gaperlu tau, itu urusan pria dewasa. Anak kecil gausah tau.”
“Yaudah, tapi aku bukan anak kecil. Sarapan sudah siap.” Ucapnya sambil berlalu pergi.
*
*
Zara kasih izin lah Mas Arsyad nya, kasian banget kalau harus bermain solo dikamar mandi. Zar kamu udah halal kok buat mas Arsyad.
Jangan lupa like, komen dan vote ya readers. Kasih bintang lima juga. Dukungan kalian akan membuat aothor sangat senang
Love u Readers💗