NovelToon NovelToon
INVINCIBLE DIVINE EMPEROR NINE HEAVENS HAREM

INVINCIBLE DIVINE EMPEROR NINE HEAVENS HAREM

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Harem / Kultivasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Noxalisz

Di dunia kultivasi yang luas, Xiao Chen adalah anomali—diturunkan dari langit dengan ketampanan dan kekuatan absolut tanpa batas. Dibesarkan di Hutan Sunyi oleh Qing Yan, ia tumbuh tanpa memahami asal-usulnya. Saat berusia 15 tahun, ia memulai perjalanan menjelajahi dunia, mengungkap misteri dirinya, menghadapi berbagai faksi, serta membangun hubungan dengan wanita dan kekuatan yang mengguncang tiga alam.

bonus langsung 10 episode pertama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noxalisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kota Kayangan Awan

Wei Zhen menatap pemuda di depannya dengan saksama.

Permintaan Xiao Chen sederhana—mengunjungi sekteku, belajar tentang dunia. Tapi tidak ada yang sederhana dari situasi ini. Seorang pemuda misterius muncul dari retakan ruang, memiliki ketampanan yang tidak wajar, dan mengaku tidak ingat asal-usulnya. Membawanya ke Sekte Awan Kelabu bisa menjadi berkah... atau malapetaka.

"Tetua," suara Feng Mo memecah keheningan. Murid laki-laki itu menatap Wei Zhen dengan ekspresi khawatir. "Apakah bijaksana membawa orang asing ke sekte?"

Wei Zhen tidak langsung menjawab. Dia kembali menatap Xiao Chen. Pemuda itu hanya berdiri dengan sabar, tangannya tergenggam longgar di depan tubuh. Tidak ada ketegangan dalam posturnya. Tidak ada kegelisahan karena penantian. Hanya ketenangan yang aneh untuk seseorang yang baru saja muncul dari celah di ruang dan waktu.

"Kau ingin belajar," kata Wei Zhen akhirnya. "Tapi kau tidak ingat apa pun tentang dunia ini. Bagaimana aku bisa percaya bahwa kau tidak memiliki niat tersembunyi?"

Itu pertanyaan yang adil. Wei Ling dan Feng Mo menahan napas.

Xiao Chen mengangguk pelan. "Itu pertanyaan yang masuk akal. Tapi aku tidak punya cara untuk membuktikannya selain dengan mengatakan yang sejujurnya: aku tidak ingat. Dan satu-satunya hal yang kuinginkan saat ini adalah memahami di mana aku berada dan apa yang terjadi di dunia ini." Dia menatap Wei Zhen dengan mata ungu keemasan yang tenang. "Jika membawaku ke sektemu terlalu berbahaya, aku mengerti. Aku akan mencari tempat lain."

Jawaban itu membuat Wei Zhen terdiam.

Bukan jawaban yang diharapkannya. Jika pemuda ini memiliki niat jahat, dia pasti akan memaksa, atau setidaknya mencoba membujuk dengan lebih agresif. Tapi dia tidak melakukan itu. Dia hanya... menerima kemungkinan penolakan dengan tenang.

"Tetua," Wei Ling tiba-tiba bersuara. Suaranya masih sedikit gemetar, tapi dia berusaha keras untuk terdengar normal. "Dia... dia tidak terlihat berbahaya."

Feng Mo melirik Wei Ling dengan alis terangkat. "Kau hanya mengatakan itu karena—"

"Aku mengatakan itu karena itu yang kurasakan!" potong Wei Ling cepat, pipinya semakin merah. "Dia tidak memiliki aura permusuhan!"

Sebelum Feng Mo bisa membalas, Xiao Chen tertawa kecil. Suara tawa itu ringan dan hangat, seperti angin musim semi. "Terima kasih telah membelaku," katanya pada Wei Ling. "Tapi temanmu juga benar untuk berhati-hati."

Wei Ling membeku. Xiao Chen berbicara padanya. Menatapnya. Tersenyum padanya. Otaknya seakan berhenti bekerja selama beberapa detik yang terasa sangat panjang.

Wei Zhen menghela napas. "Baiklah. Aku akan membawamu ke kota terlebih dahulu. Jika kau tidak keberatan, aku ingin memeriksa sesuatu sebelum memutuskan apakah kau bisa mengunjungi sekte kami."

"Tentu saja. Aku tidak keberatan."

"Kalau begitu, ikutlah."

Perjalanan dari Bukit Batu Patah ke Kota Kayangan Awan memakan waktu sekitar setengah jam dengan terbang rendah.

Wei Zhen memimpin di depan, jubah abu-abunya berkibar. Feng Mo terbang di sampingnya. Dan di belakang—Wei Ling terbang di samping Xiao Chen.

Atau lebih tepatnya, dia mencoba terbang di samping Xiao Chen. Pada kenyataannya, dia terbang sedikit di belakang, terlalu gugup untuk berada sejajar, tapi terlalu penasaran untuk menjauh.

Xiao Chen terbang tanpa alat bantu. Tidak ada pedang terbang. Tidak ada artefak. Tidak ada teknik. Dia hanya... melayang, seolah gravitasi adalah saran yang bisa dia tolak kapan saja.

"Kau bisa terbang," komentar Wei Zhen, menoleh sedikit. "Tapi kau bilang tidak tahu apa itu kultivasi?"

"Aku tidak yakin apa yang kulakukan ini disebut kultivasi atau bukan," jawab Xiao Chen. "Aku hanya... ingin terbang. Lalu aku terbang."

Feng Mo hampir kehilangan keseimbangan. "Kau... kau hanya ingin terbang dan kau bisa terbang? Tanpa teknik? Tanpa akumulasi Qi selama bertahun-tahun?"

"Apakah itu tidak normal?"

Feng Mo membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ekspresinya seperti seseorang yang baru saja ditanya apakah air itu basah.

"Tidak," katanya akhirnya. "Itu tidak normal sama sekali. Untuk terbang tanpa alat bantu, seorang kultivator harus mencapai setidaknya Tahap Pendirian Fondasi tingkat 5 ke atas. Dan itu pun membutuhkan teknik khusus yang biasanya hanya diajarkan di sekte-sekte besar."

Xiao Chen mengangguk, seolah baru saja belajar sesuatu yang menarik. "Jadi, untuk terbang, orang-orang harus mencapai tingkat tertentu dulu?"

"Ya."

"Dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tingkat itu?"

Feng Mo menelan ludah. "Aku sudah berkultivasi selama dua belas tahun. Aku baru mencapai Tahap Pemurnian Qi tingkat 9. Untuk mencapai Pendirian Fondasi... mungkin butuh sepuluh sampai dua puluh tahun lagi. Itu pun jika aku berhasil—risiko kegagalannya tiga puluh persen."

"Hm." Xiao Chen menatap ke depan, matanya sedikit menyipit. "Menarik."

Dia tidak mengatakan apa-apa lagi, tapi Feng Mo bisa melihat ada sesuatu yang berputar di balik mata ungu keemasan itu. Bukan kebingungan—lebih seperti seseorang yang sedang menyusun kepingan-kepingan puzzle.

Kota Kayangan Awan muncul di depan mereka.

Kota itu tidak besar. Dikelilingi tembok batu setinggi lima meter yang sudah berlumut di beberapa bagian, kota ini dihuni oleh sekitar dua ribu penduduk—kebanyakan kultivator tingkat rendah, pedagang, dan keluarga-keluarga yang telah tinggal di sana selama beberapa generasi. Di pusat kota, beberapa bangunan bertingkat dua menjulang, yang tertinggi adalah paviliun Sekte Awan Kelabu dengan atap genting biru yang kusam dimakan usia.

Lampu-lampu minyak dan lentera spiritual menyala di sepanjang jalan utama. Meski sudah lewat tengah malam, beberapa orang masih terlihat di jalan—kebanyakan kultivator yang baru selesai melakukan misi malam atau penjaga yang berpatroli.

Ketika Wei Zhen dan rombongannya mendarat di gerbang kota, seorang penjaga tua berjubah hijau mendekat. "Tetua Wei! Apa yang terjadi? Kami merasakan getaran dari arah bukit—"

"Aku akan menjelaskannya nanti," potong Wei Zhen. "Untuk sekarang, tidak ada bahaya."

Penjaga itu mengangguk, lalu matanya beralih ke sosok di belakang Wei Zhen. Dan dia terpaku.

Xiao Chen melangkah masuk melalui gerbang, rambut putihnya yang panjang berkibar pelan, mata ungu keemasannya memantulkan cahaya lentera. Beberapa penjaga lain yang sedang duduk di pos jaga langsung berdiri. Satu orang bahkan menjatuhkan cangkir tehnya.

"Siapa... siapa itu?" bisik salah satu penjaga.

Wei Zhen menghela napas. Dia sudah menduga ini akan terjadi. "Seorang tamu. Jangan ganggu dia."

Mereka berjalan menyusuri jalan utama kota. Dan di setiap langkah, reaksi yang sama terjadi.

Seorang pedagang yang sedang menutup tokonya menjatuhkan kunci-kuncinya. Dua kultivator perempuan yang sedang berjalan pulang berhenti dan menatap, mulut mereka terbuka. Seorang anak kecil menarik-narik lengan ibunya dan berbisik terlalu keras, "Ibu! Ibu! Rambutnya putih! Matanya ungu! Dia pangeran kah?"

Xiao Chen memperhatikan semua ini dengan ekspresi tenang, tapi sudut bibirnya sedikit melengkung. Dia menikmati efek yang ditimbulkannya—bukan dengan kesombongan, tapi dengan kehangatan, seperti seseorang yang senang melihat reaksi orang lain.

"Kota ini kecil," katanya pada Wei Ling, yang masih berjalan di sampingnya. "Tapi terasa... hidup."

Wei Ling butuh beberapa detik untuk menyadari bahwa dia diajak bicara. "Ah—ya! Ya. Kota Kayangan Awan memang kecil. Kebanyakan penduduknya adalah kultivator Tahap Pemurnian Qi. Hanya sedikit yang mencapai Pendirian Fondasi." Dia menelan ludah. "Tapi kami... kami nyaman di sini. Tidak banyak konflik."

"Kultivator Tahap Pemurnian Qi," ulang Xiao Chen. "Berapa tingkat yang dimiliki tahap itu?"

"Semua tahap memiliki sembilan tingkat," jawab Wei Ling, bersemangat karena akhirnya bisa membantu. "Pemurnian Qi adalah tahap pertama dalam kultivasi. Ada sembilan tahap di Alam Fana—Pemurnian Qi, Pendirian Fondasi, Pembentukan Inti, Jiwa Baru Lahir, Transformasi Dewa, Kekosongan Ilahi, Integrasi Tubuh-Jiwa, Maharaja Fana, dan Setengah Dewa."

Xiao Chen mendengarkan dengan penuh perhatian. "Dan apa yang terjadi setelah Setengah Dewa?"

"Setelah itu... Alam Immortal." Suara Wei Ling berubah menjadi kagum. "Tapi itu hanya legenda bagi kami. Bahkan kultivator terkuat di Benua Tengah hanya mencapai Tahap Maharaja Fana. Tidak ada yang berhasil naik ke Alam Immortal dalam lima puluh ribu tahun terakhir."

"Hm."

Sekali lagi, hanya "hm." Tapi kali ini, Wei Ling merasa ada sesuatu yang berkilat di mata Xiao Chen. Sesuatu yang membuatnya bertanya-tanya apakah pemuda ini memikirkan hal yang sama sekali berbeda dari orang normal.

Mereka tiba di Paviliun Sekte Awan Kelabu.

Paviliun itu adalah bangunan kayu bertingkat dua dengan halaman depan yang cukup luas. Sebuah papan nama tergantung di gerbang, bertuliskan kaligrafi kuno: "Awan Kelabu." Di halaman, beberapa murid sedang berlatih jurus pedang di bawah cahaya lentera, gerakan mereka serempak dan berirama.

Salah satu murid—seorang perempuan berusia sekitar sembilan belas tahun dengan rambut hitam pendek dan jubah abu-abu yang sedikit longgar—menghentikan latihannya saat melihat kedatangan mereka. "Tetua! Kau kembali!"

Wei Zhen mengangguk. "Lan Yue, kumpulkan semua murid di aula utama. Aku akan membuat pengumuman."

Lan Yue mengangguk, tapi matanya sudah beralih ke Xiao Chen. Dan seperti semua orang sebelumnya, dia terpaku. Pedang latihannya hampir terlepas dari genggaman.

"Siapa..."

"Nanti," potong Wei Zhen. "Kumpulkan murid-murid."

Lan Yue menelan ludah, memaksakan diri untuk mengalihkan pandangannya. "Baik, Tetua." Dia berbalik dan berlari ke dalam, meski kepalanya menoleh sekali lagi sebelum menghilang di balik pintu.

Xiao Chen tersenyum tipis. "Murid-muridmu tampaknya disiplin."

"Mereka mencoba," jawab Wei Zhen datar. Dia menuntun Xiao Chen ke ruang tamu di lantai pertama paviliun—sebuah ruangan sederhana dengan meja kayu, beberapa bantal duduk, dan rak-rak berisi gulungan teknik tingkat rendah. "Silakan duduk."

Xiao Chen duduk dengan gerakan yang mengalir. Wei Ling duduk di seberangnya tanpa diminta. Feng Mo tetap berdiri di dekat pintu.

"Sebelum aku mengizinkanmu bergabung atau bahkan tinggal di sini," Wei Zhen memulai, "aku ingin tahu satu hal." Dia menatap Xiao Chen dengan tajam. "Kau mengatakan bahwa kau tidak ingat asal-usulmu. Tapi kau ingat namamu. Apa lagi yang kau ingat?"

Xiao Chen merenung sejenak. Tangannya merogoh ke dalam jubahnya dan mengeluarkan selembar kain emas.

Kain itu langsung menarik perhatian mereka. Pola-pola formasi yang terpahat di atasnya berkilau dengan cahaya redup, bentuknya rumit dan asing, seolah ditulis dalam bahasa yang bahkan tidak dikenal di Alam Fana.

"Aku ingat ini," kata Xiao Chen. "Ini satu-satunya benda yang kumiliki saat aku muncul. Aku tidak tahu apa artinya, tapi... aku merasa ini penting."

Wei Zhen menatap kain itu dengan saksama. Sebagai Tetua sekte kecil, dia telah melihat banyak formasi dalam hidupnya—Formasi Fana tingkat Menengah, bahkan beberapa Tingkat Tinggi saat dia berkunjung ke kota besar. Tapi ini... ini berbeda. Pola-pola itu bergerak. Bukan karena ilusi, tapi karena energi di dalamnya benar-benar hidup.

"Aku tidak bisa membacanya," akunya. "Ini di luar pengetahuanku."

Xiao Chen menyimpan kembali kain itu. "Aku juga tidak bisa membacanya. Tapi itu tidak masalah untuk sekarang." Dia menatap Wei Zhen. "Aku tidak berharap kau mempercayaiku begitu saja, Tetua Wei. Yang kuminta hanyalah kesempatan untuk belajar."

"Belajar apa?"

"Segalanya. Bagaimana dunia ini bekerja. Apa itu kultivasi. Siapa yang berkuasa. Di mana tempat-tempat berbahaya dan di mana tempat-tempat yang aman." Dia tersenyum. "Kau tidak perlu menerimaku sebagai murid. Aku hanya butuh... informasi."

Wei Zhen mengusap dagunya. "Kau tidak ingin bergabung dengan sekte kami?"

"Aku tidak keberatan bergabung. Tapi bukankah itu keputusan yang harus diambil setelah kau mengenalku lebih baik?"

Jawaban itu, sekali lagi, bukan jawaban yang Wei Zhen harapkan. Kebanyakan orang yang memiliki kekuatan sebesar Xiao Chen—dan Wei Zhen yakin pemuda ini memiliki kekuatan yang jauh melampaui penampilannya—akan memaksa, atau setidaknya menuntut. Tapi Xiao Chen tidak melakukan itu. Dia sabar, sopan, dan sepenuhnya rasional.

Wei Zhen menarik napas panjang. "Baiklah. Kau boleh tinggal di sini sebagai tamu. Aku akan meminta seseorang untuk menunjukkan tempatmu besok pagi. Dan setelah itu... kita lihat saja nanti."

"Terima kasih, Tetua Wei." Xiao Chen membungkuk sedikit—sikap hormat yang tulus.

Malam semakin larut. Wei Ling dipanggil oleh ayahnya, meninggalkan Feng Mo untuk mengantar Xiao Chen ke kamar tamu di lantai dua.

Kamar itu kecil tapi bersih. Sebuah dipan kayu, meja tulis, dan jendela yang menghadap ke timur—ke arah Bukit Batu Patah di kejauhan. Xiao Chen berdiri di depan jendela, menatap bukit tempat dia muncul beberapa jam yang lalu.

"Aku ingin bertanya sesuatu," suara Feng Mo dari ambang pintu.

Xiao Chen menoleh ringan. "Ya?"

"Kau... kau benar-benar tidak ingat apa pun?"

"Aku ingat namaku. Aku ingat bahwa aku memiliki kekuatan. Dan aku ingat..." Dia menatap langit malam. "...bahwa ada sesuatu yang kucari. Sesuatu yang penting. Tapi aku tidak tahu apa itu."

Feng Mo mengerutkan kening. "Kedengarannya frustrasi."

"Justru sebaliknya." Xiao Chen tersenyum. "Aku baru saja tiba di dunia yang sama sekali baru. Ada begitu banyak hal untuk dipelajari. Begitu banyak tempat untuk dijelajahi. Begitu banyak orang untuk ditemui." Dia menoleh dan menatap Feng Mo dengan mata ungu keemasan yang berkilat. "Bagaimana mungkin aku frustrasi?"

Feng Mo terdiam. Ada sesuatu dalam cara Xiao Chen berbicara—bukan sekadar optimisme naif, melainkan keyakinan yang begitu dalam hingga hampir menular.

"Kau aneh," kata Feng Mo akhirnya.

"Aku tahu." Xiao Chen tertawa kecil. "Tidurlah yang nyenyak, murid Feng. Besok akan menjadi hari yang panjang."

Feng Mo mengangguk dan menutup pintu, meninggalkan Xiao Chen sendirian.

Di dalam kamar, Xiao Chen kembali menatap ke luar jendela. Tangannya menyentuh kain emas di balik jubahnya. Pola-pola formasi itu berdenyut pelan, seolah merespons sentuhannya.

"Aku akan menemukan jawabannya," bisiknya pada dirinya sendiri. "Perlahan-lahan. Satu langkah demi satu langkah."

Dan di atas bukit di kejauhan, retakan di ruang telah menutup sepenuhnya, meninggalkan kawah hangus sebagai satu-satunya bukti bahwa sesuatu yang luar biasa telah terjadi malam ini.

1
TGT
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!