“Nek,” protes Ryuhan. “Aku ini CEO muda. Masa harus nikah sama seorang dukun?”
Seroja adalah gadis muda yang berprofesi sebagai dukun beranak dan terapis saraf. Hidupnya berubah saat suami dari masa kecilnya, Ryuhan Kai Zander, CEO muda dari keluarga konglomerat datang menjemput.
Seroja harus menerima kenyataan, bahwa Ryu sudah memiliki pujaan hati. Clara.
Sebuah kecelakaan membuat Ryu lumpuh dan impoten. Kenyataan itu menghancurkan harga diri Ryu. Apalagi saat Clara memutus hubungan setelah kecelakaan itu.
Saat Ryu mulai menerima Seroja, muncul seorang pria yang diam-diam menyukai dan menghargai Seroja.
Akankah Seroja tetap bertahan di sisi suaminya… atau memilih pergi bersama pria yang benar-benar menginginkannya?
Dan apakah Ryu akan melepaskannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Satu Tahun
Ryu melebarkan matanya. Ia tak menyangka neneknya akan memintanya tidur sekamar dengan Seroja. Ia hendak protes, tapi mulutnya yang hampir terbuka tertutup kembali saat menyadari Seroja masih dalam pelukannya.
"Aku akan bawa dia ke kamar dulu," ucapnya kemudian dengan suara pelan. "Setelah itu aku mau bicara sama Nenek."
"Ya," sahut Nyonya Hanifah tenang. "Ada banyak hal yang perlu kita bicarakan. Bawa dia ke kamarmu."
Ryu menghela napas kasar, lalu berbalik menuju kamarnya. Langkahnya terukur menapaki anak tangga, seolah menggendong Seroja sambil menaiki tangga bukan beban berat baginya.
Nyonya Hanifah memberi isyarat pada seorang pelayan. Pelayan itu mengangguk, lalu mengikuti Ryu.
Pelayan membukakan pintu kamar saat Ryu tinggal beberapa langkah lagi dari pintu itu.
Ryu terdiam di ambang untuk beberapa saat ketika susunan kamarnya berubah. Lemari bertambah, dan sofa di sudut kamar tak ada lagi.
Ia memejamkan matanya sejenak, lalu melanjutkan langkahnya menuju ranjang. Membaringkan Seroja dengan hati-hati. Ia menatap wajah terlelap itu. Begitu tenang tanpa beban.
"Dia ini tidur beneran atau pura-pura, sih?" bisiknya lirih. "Sudah digendong dari mobil sampai dibaringkan di sini masih juga tidur."
Ryu curiga Seroja hanya pura-pura tidur. Satu sudut bibirnya terangkat samar. Lalu dengan gerakan lambat ia menunduk.
Semakin lama, ia semakin dekat dengan wajah gadis itu. Dan anehnya jantung Ryu berdetak semakin kencang. Napas hangatnya menyentuh kulit leher Seroja, namun gadis itu tetap tak bereaksi. Baik gerakan maupun ekspresi wajahnya tidak berubah sedikitpun.
Tapi Ryu masih curiga.
Entah apa yang merasukinya, hingga membuatnya menunduk lebih jauh. Semakin dekat aroma tubuh gadis itu samar tercium, lembut dan menenangkan.
Bibirnya menyentuh leher Seroja sekilas, cukup untuk membuat jantungnya sendiri berdegup kacau.
"Emh..."
Seroja mendesah lirih dan menggeliat pelan.
"Tarik napas....dorong..." igaunya dengan suara serak.
Ryu tersentak. Lalu buru-buru menjauh.
"Apa yang aku lakukan?" gerutunya.
Ia tak tahu kenapa sampai punya ide untuk mencium leher gadis itu. Pemuda itu buru-buru menutup tubuh Seroja dengan selimut. Ia berbalik dan keluar dari kamar.
Pintu di belakang tertutup tanpa suara. Ryu berdiri di depan pintu, mengusap wajahnya kasar.
“Gila!” umpatnya kesal. “Kenapa jadi begini?”
Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ryu melangkah menuju ruang tengah, tempat neneknya menunggu.
Di sana, Nyonya Hanifah duduk di sofa dengan punggung tegak. Kedua tangan bertumpu pada tongkat di depannya. Jordi berdiri di sampingnya entah sejak kapan.
"Saya pamit pulang, Nyonya," ucap Jordi pada Nyonya Hanifah.
"Iya. Terima kasih banyak ya," ucap Nyonya Hanifah tulus.
"Sama-sama, Nyonya," balas Jordi
Ia menunduk hormat pada wanita tua itu. Lalu ia beralih menatap Ryu.
"Bos, aku balik dulu," pamitnya singkat.
Ryu hanya mengangguk kecil.
Jordi berbalik pergi. Sedangkan Ryu akhirnya duduk berhadapan dengan wanita yang sorot matanya masih terlihat tajam, meski rambutnya telah memutih.
"Jelaskan, Nek," pinta Ryu dengan suara rendah, tapi tegas. "Kenapa Nenek gak bilang kalau aku sudah menikah?"
Di atas paha, tangannya perlahan mengepal. "Nenek terus menentang hubunganku dengan Clara, tapi tak pernah mengatakan kalau alasan Nenek..."
Ryu menundukkan wajahnya. Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Tidak perlu.
Nyonya Hanifah menatap cucunya dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Sejak kecelakaan itu, setiap berusaha mengingat masa lalu kamu selalu merasakan sakit yang hebat di kepalamu. Karena itu, Nenek tidak mengatakannya."
Wanita tua itu menghela napas panjang. "Tapi usiamu sekarang sudah dua puluh tujuh tahun. Sudah waktunya memiliki pendamping. Jadi Nenek tak punya pilihan selain memintamu menjemput istrimu."
"Tapi harusnya Nenek mengatakan kalau aku ke sana menjemput istriku," ucap Ryu kesal.
"Kalau Nenek katakan sebelum kau berangkat..." Bibir Nyonya Hanifah bergerak samar. "Nenek takut kamu jatuh sakit karena mencoba mengingat pernikahan itu."
“Aku gak bisa menerima semua ini begitu saja,” ucap Ryu dengan rahang menegang.
"Aku ingin membatalkan pernikahan kami," ucap Ryu mantap. "Aku mencintai Clara. Dia yang akan menjadi istriku."
Tok!
Nyonya Hanifah menghentakkan tongkatnya keras. Ia menatap Ryu tajam.
"Jika kamu ingin menceraikan istrimu, keluar dari rumah ini dan jangan bawa apa pun."
Kalimat itu diucapkan dengan nada rendah, tanpa tergesa. Tapi justru itu yang membuatnya makin terasa tegas.
“Nek,” protes Ryuhan. “Aku ini CEO muda. Masa harus nikah sama seorang dukun?”
"Bukan harus." Nyonya Hanifah langsung meluruskan dengan nada suara tegas. "Kamu sudah menikah sebelum kamu jadi CEO. Dan itu atas keinginanmu sendiri."
Ryu mengusap wajahnya kasar, tak bisa membantah perkataan neneknya.
"Lagipula," lanjut Nyonya Hanifah dengan suara datar. "memangnya kenapa kalau dukun beranak? Membantu orang melahirkan adalah pekerjaan mulia."
"Nek..." Ryu belum terima. "Dia tinggal di desa, bergaul dengan orang-orang sederhana. Sedangkan aku, sebagai CEO, aku harus menghadiri acara resmi. Dan lingkungan itu berbeda dari dunianya. Apa Nenek yakin dia bisa menyesuaikan diri dengan duniaku?"
"Cepat atau lambat dia akan menyesuaikan diri," sahut Nyonya Hanifah penuh keyakinan. "Lagipula dia juga cantik. Nggak bakal bikin kamu malu kalau jalan sama dia. Nenek rasa... Seroja lebih cantik dari pacarmu Clara yang wajahnya penuh dempulan itu."
Ryu terdiam. Ia mengingat bagaimana wajah Clara yang tak pernah lepas dari make-up. Lalu wajah Seroja yang baru selesai mandi.
Tidak dapat dipungkiri, wajah Seroja tanpa polesan sama cantiknya dengan Clara. Jadi bisa dibayangkan, bagaimana jika gadis itu merias diri.
Tapi tetap saja, dia mencintai Clara. Bukan Seroja.
"Nek, hati gak bisa dipaksakan." Kali ini Ryu bicara dengan suara lebih lembut.
"Aku tidak mencintai dia," lanjut Ryu dengan suara terkontrol. "Kalau kami dipaksa bersama, aku takut malah bikin dia terluka."
Sejenak tak ada yang bicara. Hanya ada suara samar pendingin ruangan.
"Baik," ucap Nyonya Hanifah akhirnya dengan suara tenang, tapi tegas. "Kalau begitu, jalani pernikahanmu selama satu tahun. Dan selama satu tahun itu, Nenek gak mau ada orang ketiga. Putuskan Clara."
Ryu terdiam. Tiba-tiba dadanya terasa sesak.
Putus dengan Clara?
Demi mempertahankan pernikahan yang bahkan tidak ia ingat?
Namun entah kenapa...bayangan wajah Seroja yang tertidur di dadanya tadi justru muncul di kepalanya.
Bersamaan dengan suara lembut gadis itu:
“Pakai sandal. Lantainya dingin.”
Ryu mengatupkan rahangnya kuat.
“Satu tahun?” gumamnya lirih.
...🔸🔸🔸...
...“Kadang hati tidak langsung jatuh cinta. Tapi perlahan luluh oleh perhatian sederhana yang datang di waktu paling kacau.”...
...“Yang paling sulit bukan menerima pernikahan itu… melainkan menerima bahwa hatinya mulai terusik oleh seseorang yang tak ia ingat pernah dicintainya.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Hampir mirip kisahnya, istri yang disembunyikan tapi bikin penasaran suami dengan segala tindakannya
Apakah Seroja masih ponakan Vexia ya 🤭😃
Seroja mau lanjut kuliah, Nenek senang mendengarnya - antusias mendukung Seroja kuliah lagi.
Ryu menawari Seroja pakai mobilnya, disuruh pilih yang Seroja suka. Setelah bertanya Seroja apa bisa bawa mobil.
Seroja malah pilih naik motor. Padahal motor Ryu motor sport wkwkwk.
Ryu mendengar Seroja mau pakai motor sport miliknya sampai hampir tersedak buburnya.
Yang ngajarin Seroja naik motor sport Tony. Nah lho - Ryu cemburu tuh 😄
lanjut kak nana... 💪🙏
Lucu juga nih Seroja. Meraba tubuh Ryu dari atas ke bawah - yang dikira gulingnya dan mengendus aromanya pula 😄.
Kebayang bagaimana Ryu menegang ketika diraba tubuhnya dan diendus Seroja wkwkwk.
Ryu turun ranjang menuju kamar mandi, repot menjinakkan ularnya yang menegang tuh.
Kebiasaan Ryu tidur bertelanjang dada. Seroja tertegun sejenak melihatnya. Jantungnya mulai tak karuan.
Dalam hati dua insan yang sudah sah sebagai pasabgan suami istri berbeda.
Dalam hati Seroja - apa Ryu bakal minta haknya sebagai suami.
Dalam hati Ryu yang ditanya kenapa tidak pakai baju - apa tubuhku gak bagus. Kenapa dia tidak terpesona sama sekali.
Perbincangan mengalir - mereka mulai tidur.
Semangat Kak Nana.. Up Bab Baru-nya ya Kak 🙏🙏🙏
Bagus Seroja... Lanjutkan lah lagi kuliahmu itu! Sayang loh, kslau nggk di lanjutkan!:😂😂😂