Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
hal yang dispelekan
Nadia terus menatap dua lembar struk di tangannya.
Lembar pertama dari sebuah restoran.
Rp850.000.
“Hanya dua porsi,” gumamnya pelan.
Artinya, Raka makan malam bersama satu orang.
Nadia memejamkan mata, memaksa pikirannya tetap jernih.
“Mas Raka manajer operasional,” bisiknya, berusaha menenangkan hati sendiri. “Mungkin dia sedang menjamu kolega bisnis.”
Ia menghela napas, lalu membuka lembar kedua.
Struk dari toko emas.
Satu set perhiasan.
Rp25.000.000.
Sudut bibir Nadia perlahan terangkat.
“Ini pasti untukku.”
Dua hari lagi adalah hari ulang tahun pernikahan mereka.
Mungkin Raka memang sedang menyiapkan kejutan.
Bukankah beberapa hari terakhir suaminya pulang larut? Bisa jadi semua itu demi hadiah istimewa untuknya.
Nadia memilih mempercayai kemungkinan yang paling indah.
Ia menoleh ke jam dinding.
Pukul sebelas malam.
Besok akan menjadi hari yang panjang.
Dengan hati yang masih penuh tanya, Nadia menyimpan kedua struk itu ke dalam laci, lalu membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
Alarm berbunyi pukul empat pagi.
Nadia membuka mata.
Refleks, tangannya meraba sisi ranjang.
Kosong.
Dingin.
Tak ada bekas tubuh Raka.
Nadia bangkit setengah duduk.
“Mas Raka tidak pulang?”
Ia segera meraih ponselnya.
Tak ada satu pun pesan.
Tak ada panggilan tak terjawab.
Tak ada balasan dari suaminya.
Nadia menggigit bibir.
Dadanya terasa sesak.
Namun seperti biasa, ia menengadahkan wajah dan berbisik lirih.
“Ya Allah, kuatkan aku.”
Ia bangkit, merapikan tempat tidur, lalu mengambil air wudu.
Dalam sepertiga malam yang masih tersisa, Nadia menumpahkan semua gelisahnya di atas sajadah.
Ia berdoa agar keluarganya baik-baik saja.
Agar rumah tangga yang telah ia jaga sepenuh hati tidak runtuh.
Sejak usia delapan belas tahun, Nadia hidup tanpa ayah dan ibu.
Ia hanya memiliki seorang paman, tetapi hubungan mereka tak pernah benar-benar dekat.
Karena itulah, setelah menikah, Nadia menggantungkan seluruh rasa memiliki pada keluarga kecil ini.
Raka.
Nanda.
Yuni.
Mereka adalah rumah yang tak ingin ia kehilangan.
Azan Subuh berkumandang.
Nadia menunaikan salat, lalu melangkah ke dapur.
Tak lama kemudian, dapur dipenuhi aroma makanan hangat.
Dengan cekatan Nadia menyiapkan sarapan sehat untuk Nanda.
Nasi hangat.
Sup wortel, brokoli, dan jagung manis.
Dada ayam panggang tanpa kulit.
Potongan apel segar.
Di sudut dapur, blender menghaluskan pisang, susu almond, dan madu.
Nadia tak pernah membiarkan Nanda terlalu sering makan di luar rumah.
Ia ingin memastikan setiap makanan yang masuk ke tubuh anak itu benar-benar bergizi.
Di meja yang lain, Nadia menyiapkan sarapan untuk Yuni.
Bubur oat hangat, telur rebus, dan jus jambu.
Terdengar suara mesin cuci menyala.
Mbak Tari, asisten rumah tangga yang bekerja pada siang hari, sudah datang.
Tugas perempuan itu hanya mencuci baju, mengepel, mencuci piring, dan membersihkan rumah.
Untuk urusan memasak dan mengurus Nanda, Nadia selalu turun tangan sendiri.
Ia ingin orang-orang yang dicintainya menikmati masakan yang dibuat dengan tangannya sendiri.
Walaupun sering kali, semua itu dianggap biasa.
“Bu, bajunya sudah saya cuci. Nanti saya jemur, ya,” ujar Mbak Tari.
“Terima kasih, Mbak. Tolong sekalian setrika seragam Nanda.”
“Baik, Bu.”
Nadia melangkah ke kamar Nanda.
Terdengar suara gemericik air dari kamar mandi.
Di usia enam tahun, Nanda sudah bisa mandi sendiri.
Nadia tersenyum kecil.
Ia merapikan tempat tidur, menyiapkan seragam sekolah, kaus kaki, dan sepatu yang sudah dipoles bersih.
Tak lama, Nanda keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit tubuh mungilnya.
Nadia mengeringkan rambut anak itu, lalu membantu mengenakan seragam.
Setelah itu, ia merapikan kerah, membetulkan pita rambut, dan mengepang rambut Nanda menjadi dua.
“Anak Bunda cantik sekali.”
Nanda menatapnya lewat cermin.
“Bunda…”
“Hmm?”
“Nanda ini anak Bunda atau anak Mamah Ratna?”
Jantung Nadia serasa berhenti sesaat.
Ratna.
Sepupunya.
Perempuan yang memang cukup dekat dengan Nanda.
Nadia memaksakan senyum.
“Tentu saja anak Bunda.”
Nanda tampak puas dengan jawaban itu.
Nadia lalu membuka buku pelajaran.
“Nanda, ini ada PR. Kenapa belum dikerjakan?”
Nanda menunduk.
“Nanda ketiduran semalam.”
“Baiklah. Kerjakan dulu, ya. Bunda siapkan sarapan.”
Anak itu meraih pensil tanpa membantah
Nadia membawa jus jambu ke kamar Yuni.
Ibu mertuanya sedang bersandar di tempat tidur sambil memainkan ponsel.
“Mah, ini jusnya.”
“Letakkan saja.”
Nadia meletakkan gelas di meja.
“Mah, kata dokter, Mamah harus sering berjemur. Setelah sarapan nanti keluar kamar, ya. Nanti Mbak Tari yang antar.”
“Bawel sekali kamu.”
“Mira hanya mengingatkan pesan dokter.”
Yuni mendengus.
“Aku akan lebih semangat kalau kamu hamil.”
Ucapan itu terasa seperti duri yang menusuk.
“Doakan saja, Mah.”
“Usaha dong. Jangan cuma berdoa.”
Nadia menelan semua rasa perih yang muncul.
“Jangan lupa sarapan, ya, Mah.”
“Malas.”
“Demi Mas Raka.”
Akhirnya Yuni meraih gelas jus dan menyesapnya.
“Kurang manis.”
“Mamah harus mengurangi gula.”
Yuni meletakkan gelas dengan wajah tak puas.
“Nasibku buruk sekali. Makananku hambar, tak ada penyedap rasa, tak ada gula. Hidupku membosankan.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara datar.
“Andai aku punya cucu lagi.”
Nadia membeku.
Cucu lagi?
Keningnya berkerut.
“Memangnya Mamah punya berapa cucu?”
Yuni tampak tersentak.
Tatapannya berubah.
“Sudah sana. Kerjakan saja urusanmu.”
Nadia menatap wajah ibu mertuanya beberapa detik.
Perempuan itu hanya memiliki satu anak: Raka.
Dan Raka hanya memiliki satu istri.
Dirinya.
Lalu… dari mana kata “cucu lagi” itu berasal?
Pertanyaan itu bergema di kepala Nadia.
Namun seperti biasa, ia buru-buru menepis prasangka buruk.
“Mas Raka hanya sedang lelah,” bisiknya dalam hati. “Aku tidak boleh curiga.”
Nadia bangkit dari tepi ranjang. Sebelum melangkah keluar kamar, ia menoleh ke arah ibunya.
“Mah, jangan lupa obatnya.”
Yuni yang masih berbaring mendecakkan lidah.
“Pergi sana. Bawel banget.”
Nadia terdiam. Sudah terbiasa. Ia memilih melangkah keluar tanpa membalas.
Meja makan masih kosong. Nanda belum sarapan.
Nadia menuju kamar putrinya. Kalau PR Nanda belum dikerjakan, ia berniat membantu.
Namun, begitu sampai di ambang pintu, langkahnya tertahan.
Nanda sedang asyik menonton video di tabletnya.
“Nanda, PR kamu sudah dikerjakan?”
Gadis kecil itu bahkan tidak menoleh.
“Malas, Bun.”
Nadia menarik napas.
“Enggak bisa begitu, Sayang. Kerjakan dulu PR-nya.”
“Bunda aja yang kerjakan.”
Jawaban itu meluncur begitu enteng, seolah hal yang sangat wajar.
Nadia mendekat. Suaranya kali ini lebih tegas.
“Nanda, tutup tablet kamu dan kerjakan PR.”
Belum sempat Nadia berkata lagi, tangis Nanda pecah.
“Omaaa...!”
Suara langkah tergesa terdengar dari luar.
“Ada apa ini?”
Yuni sudah berdiri di belakang Nadia.
Nanda langsung berlari dan memeluk neneknya.
“Oma, Bunda galak. Enggak kayak Mamah Ratna.”
Deg.
Lagi-lagi nama itu disebut.
Lagi-lagi dirinya dibandingkan dengan Ratna.
Nadia menahan nyeri yang menjalar pelan di dada.
“Mah,” katanya pelan, berusaha tetap tenang. “Nanda belum mengerjakan PR. Malah main tablet.”
Yuni memeluk Nanda lebih erat.
“Apa salahnya main tablet? Dia masih anak kecil. Anak kecil waktunya bermain.”
“Tapi, Mah, Nanda harus belajar tanggung jawab.”
Nadia tetap pada pendiriannya. Untuk urusan pendidikan, ia tidak ingin berkompromi.
“Omaaa...” rengek Nanda manja.
Yuni mengusap rambut cucunya.
“Dia masih anak kecil. Jangan terlalu keras, Nadia.”
“Mah, Nanda boleh main tablet, tapi harus dibatasi. Menurut banyak penelitian, anak yang waktu layar gawainya dibatasi punya perkembangan yang lebih baik.”
Yuni mendengus.
“Omong kosong. Kamu cuma ibu rumah tangga, tahu apa tentang semua ini?”
Kalimat itu jatuh seperti batu.
Menghantam hati Nadia yang sebenarnya hanya ingin memberikan yang terbaik.
Beginilah hampir setiap hari.
Sudah setahun terakhir, ia dan Yuni terus berselisih tentang cara mendidik Nanda.
“Cepat, sekarang kerjakan PR Nanda,” perintah Yuni.
Nadia menatap ibunya.
“Tidak bisa.”
“Kenapa?” tanya Nanda kesal.
Nadia berjongkok hingga wajah mereka sejajar.
“Dalam belajar, boleh salah,” ucapnya lembut namun tegas. “Tapi tidak boleh bohong. Kalau Nanda tidak mengerjakan PR, paling Ibu Guru akan memberi hukuman. Mungkin disuruh menyalin huruf sampai tangan pegal. Tapi itu bagian dari tanggung jawab.”
“Kamu ini!” Yuni menggerutu kesal.
Nadia tidak menjawab.
Ia memilih kembali ke dapur dan menyiapkan sarapan.
Tak lama kemudian, dari kejauhan ia melihat Yuni mengambil buku Nanda dan mulai mengerjakan PR itu.
Nadia hanya menggeleng pelan.
Ada hal-hal yang tak bisa ia paksakan.
Namun satu hal yang pasti.
Walau Nanda bukan anak kandungnya, kasih sayang Nadia tak pernah berkurang sedikit pun.
Ia hanya ingin gadis kecil itu tumbuh menjadi anak yang kuat, jujur, dan bertanggung jawab.
Karena Nadia tahu, bila suatu hari kebenaran terungkap—bahwa Nanda hanyalah anak adopsi—yang akan membuat Nanda tetap tegak bukanlah kemewahan, melainkan karakter yang telah ditanamkan sejak kecil.
raka tak bakal setuju cerai kan kamu
nadia terlalu bego sdh tau di jdi kan keluarga toxin jdi baby sister gratis tetap mau bertahan di dlm rmh demi nanda ank selingkuh raka/ ratna 🤭