Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sap 2
Nadia masih terus menatap struk pembelian perhiasan itu. Jemarinya mengusap lembaran kertas kecil tersebut berkali-kali seolah sedang memastikan semuanya nyata.
Kemudian matanya berhenti saat menangkap tanggal yang tercetak jelas di bagian atas struk pembelian tersebut dengan tulisan yang cukup mencolok.
13 Januari. Tanggal itu membuat Nadia terdiam beberapa detik sambil terus menatap angka yang ada di tangannya.
“Lusa tanggal 15 Januari,” gumam Nadia pelan sambil mencoba mengingat sesuatu yang mendadak muncul di pikirannya.
Dahi Nadia yang dari tadi berkerut perlahan mulai mengendur. Sudut bibirnya juga mulai bergerak membentuk senyum kecil tanpa sadar.
“Jangan-jangan ini hadiah ulang tahun pernikahan aku sama Mas Raka,” ucap Nadia pelan sambil menatap struk itu lagi.
Jantung Nadia yang tadi sempat berdetak nggak karuan sekarang perlahan mulai terasa tenang dan kembali ke irama normal.
Perlahan rasa hangat kembali menyusup ke dalam dadanya. Pikiran buruk yang tadi sempat menguasai isi kepalanya mulai menghilang satu per satu.
Belakangan ini Nadia memang sering melihat banyak konten prank suami istri yang lewat di media sosial dan sering viral.
“Mungkin Mas Raka terinspirasi dari konten kayak gitu,” pikir Nadia sambil tersenyum kecil pada dirinya sendiri.
Nadia terkekeh pelan sambil menggelengkan kepalanya sendiri. Dia merasa pikirannya tadi terlalu jauh dan terlalu berlebihan.
Rasa takut yang tadi memenuhi isi kepalanya perlahan menghilang begitu saja, lalu berganti dengan rasa bahagia yang mulai tumbuh.
Dia melipat kembali kedua struk itu dengan sangat hati-hati, lalu memasukkannya lagi ke tempat semula seperti sebelumnya.
“Dasar aku kebanyakan mikir,” gumam Nadia sambil menghela napas pelan dan menggelengkan kepalanya lagi.
Senyum tipis masih terlihat jelas di wajah Nadia. Hatinya terasa jauh lebih tenang dibanding beberapa menit yang lalu.
...
...
Waktu terus berjalan tanpa terasa. Malam yang tadi dipenuhi gerimis pelan akhirnya berganti dengan datangnya pagi yang tenang.
Pagi datang perlahan membawa cahaya matahari yang mulai masuk lewat celah jendela rumah dan menerangi sudut ruangan.
Nadia bangun lebih awal seperti biasanya, bahkan sebelum suara azan Subuh terdengar dari masjid yang ada dekat rumah.
Tangannya refleks meraba sisi tempat tidur yang ada di sampingnya sambil matanya masih setengah terbuka karena mengantuk.
Dingin. Kosong. Rasanya sedingin hati Nadia saat itu ketika menyadari tempat di sampingnya masih tetap rapi.
Kelopak mata Nadia berkedip pelan sambil menatap sisi tempat tidur yang sejak semalam tidak menunjukkan bekas seseorang tidur.
“Ternyata Mas Raka nggak pulang. Mas Raka lagi marah sama aku atau lagi nyiapin kejutan buat aku?” gumamnya pelan.
Nadia menatap bantal yang masih terlihat rapi tanpa ada bekas kepala yang bersandar di sana sepanjang malam.
Perasaan hampa kembali muncul dan perlahan mengusik hatinya yang tadi sempat merasa lebih tenang sebelum tidur.
Tapi Nadia segera menggeleng pelan lalu memaksa dirinya bangkit karena masih banyak hal yang harus dikerjakan pagi itu.
Nadia mengambil air wudu lalu melaksanakan salat malam dengan tenang sambil menundukkan kepalanya penuh harapan.
Dalam setiap sujud yang dia lakukan, Nadia selalu menyebut nama orang-orang yang sangat dia cintai di hidupnya.
Nanda, Raka, dan Yuni adalah nama-nama yang selalu hadir dalam setiap doa yang keluar dari bibir Nadia.
Dia memohon supaya orang-orang yang dia sayangi selalu berada dalam lindungan Allah dan dijauhkan dari segala kesulitan.
Dia juga berdoa supaya Allah membuka hati Yuni, ibu mertuanya, agar bisa kembali bersikap baik kepadanya seperti dulu.
Saat mengucapkan doa itu, mata Nadia perlahan mulai berkaca-kaca dan terasa hangat karena menahan air mata.
Meski sering disakiti dengan ucapan Yuni yang tajam, Nadia tetap menginginkan hal terbaik untuk perempuan tua itu.
Suara azan Subuh akhirnya mulai terdengar berkumandang memenuhi udara pagi yang masih terasa sejuk dan tenang.
Nadia menunaikan salat Subuh terlebih dulu sebelum melangkahkan kakinya menuju dapur untuk mulai menyiapkan sarapan pagi.
Nggak lama kemudian, dapur rumah itu mulai dipenuhi aroma makanan hangat yang perlahan menyebar ke seluruh ruangan.
Dengan gerakan yang sudah terbiasa, Nadia menyiapkan sarapan sehat khusus untuk Nanda dengan penuh perhatian dan kasih sayang.
Dia menyiapkan nasi hangat, sup wortel, brokoli, jagung manis, dada ayam panggang tanpa kulit, dan potongan apel segar.
Di sudut dapur, blender juga sedang bekerja menghaluskan campuran pisang, susu almond, dan madu menjadi minuman sehat.
Nadia nggak pernah membiarkan Nanda terlalu sering makan di luar rumah karena dia sangat memperhatikan kesehatan anaknya.
Dia ingin memastikan semua makanan yang masuk ke tubuh anak itu benar-benar sehat dan mengandung banyak gizi.
Di meja yang lain, Nadia juga menyiapkan sarapan untuk Yuni dengan menu yang lebih ringan dan sehat.
Dia menyiapkan bubur oat hangat, telur rebus, dan jus jambu yang dibuat tanpa tambahan gula sesuai anjuran dokter.
Terdengar suara mesin cuci mulai menyala dari arah belakang rumah menandakan Mbak Tari sudah datang bekerja.
Mbak Tari adalah asisten rumah tangga yang bekerja siang hari dan biasanya membantu pekerjaan rumah yang cukup berat.
Tugas perempuan itu cuma mencuci baju, mengepel lantai, mencuci piring, dan membersihkan rumah setiap harinya.
Kalau soal memasak dan mengurus Nanda, Nadia selalu turun tangan sendiri tanpa menyerahkannya kepada orang lain.
Dia ingin orang-orang yang dia cintai menikmati makanan yang dibuat langsung dengan tangannya sendiri setiap hari.
Walaupun sering kali semua yang dia lakukan dianggap hal biasa dan jarang mendapat perhatian dari orang lain.
“Bu, bajunya udah saya cuci. Nanti sekalian saya jemur ya,” ucap Mbak Tari sambil membawa keranjang pakaian.
“Terima kasih, Mbak. Tolong sekalian disetrika juga seragam sekolah Nanda buat nanti,” jawab Nadia sambil tersenyum.
“Baik, Bu,” jawab Mbak Tari singkat sambil melanjutkan pekerjaannya seperti biasa tanpa banyak bicara lagi.
Nadia kemudian berjalan menuju kamar Nanda sambil membawa seragam sekolah yang sudah disiapkan sejak tadi.
Dari dalam kamar mandi terdengar suara gemericik air yang menandakan Nanda sedang mandi seperti biasanya pagi itu.
Di usianya yang sekarang sudah enam tahun, Nanda memang mulai terbiasa melakukan beberapa hal sendiri tanpa bantuan.
Nadia tersenyum kecil melihat perkembangan anak itu karena selalu ada rasa bangga yang muncul di dalam hatinya.
Dia merapikan tempat tidur, menyiapkan seragam sekolah, kaus kaki, dan sepatu yang sudah dipoles bersih sebelumnya.
Nggak lama kemudian Nanda keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuh kecilnya dengan rapi.
Nadia langsung mengeringkan rambut anak itu dengan lembut lalu membantunya mengenakan seragam sekolah dengan telaten.
Setelah itu dia merapikan kerah baju, membetulkan pita rambut, lalu mengepang rambut Nanda menjadi dua bagian.
“Anak Bunda cantik banget,” ucap Nadia sambil tersenyum melihat wajah Nanda melalui pantulan cermin.
Nanda memandangi dirinya sendiri lewat cermin dengan wajah yang terlihat senang sambil tersenyum kecil.
“Bunda...” panggil Nanda pelan sambil menatap Nadia melalui pantulan cermin yang ada di depannya.
“Hmm?” jawab Nadia sambil tetap melanjutkan merapikan bagian ujung rambut anak itu.
“Nanda ini anak Bunda atau anak Mamah Ratna?” tanya Nanda polos tanpa sadar membuat Nadia terdiam.
Jantung Nadia rasanya seperti berhenti sesaat. Sisir yang ada di tangannya ikut berhenti bergerak beberapa detik.
Ratna. Sepupunya. Perempuan yang memang selama ini cukup dekat dengan Nanda dan sering bermain bersama anak itu.
Nadia menelan ludahnya pelan. Meski dadanya terasa nggak nyaman, dia tetap memaksakan senyum di wajahnya.
“Tentu aja anak Bunda,” jawab Nadia pelan sambil mengusap kepala Nanda dengan penuh rasa sayang.
Nanda terlihat puas mendengar jawaban itu, sementara Nadia diam-diam mengembuskan napas lega tanpa diketahui siapa pun.
melawan itu perlu demi kewarasan..kesehatan mental biar g jadi orang yg lemah ...aq paling benci kli melihat orang diam kli di singgung di kata katai mkinya klo mertua yg ngatai..langsung q lawan..g ada istilah mertua julid hatus di hormati..yg ada harus dihindari biar sehat jiwa raga
selamat berkarya Thor ditunggu cerita seru selanjutnya....tetap semangat Thor 💪💪