NovelToon NovelToon
Terperangkap Dalam Permainannya

Terperangkap Dalam Permainannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:108
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di malam hujan yang seharusnya biasa saja, hidup Nayra berubah total setelah ia menerima undangan misterius dari aplikasi bernama “The Game Master.” Awalnya hanya permainan tantangan sederhana berhadiah uang. Namun, setiap level yang berhasil diselesaikan justru menyeretnya semakin dalam ke permainan berbahaya yang tak bisa dihentikan.
Aturannya hanya satu: jangan pernah melanggar perintah permainan.Di tengah usahanya mencari jalan keluar, Nayra bertemu dengan Zavian, pria dingin dan penuh teka-teki yang seolah mengetahui lebih banyak tentang permainan itu. Tapi semakin dekat mereka, semakin Nayra curiga bahwa Zavian mungkin bukan korban… melainkan bagian dari permainan itu sendiri.
Ketika cinta, pengkhianatan, dan kematian mulai bercampur dalam satu arena mematikan, Nayra harus memilih: mempercayai hatinya atau bertahan hidup.
Karena di permainan ini, tidak semua orang bisa keluar hidup-hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 — Orang-Orang yang Tersisa

Dua minggu kemudian.

Dunia belum benar-benar tenang.

Tapi setidaknya…

sudah tidak terasa seperti kiamat setiap hari.

Nayra akhirnya diperbolehkan keluar dari rumah sakit.

Walau sebenarnya kata “diperbolehkan” terdengar lucu, karena tiga dokter dan dua petugas keamanan masih mengawasinya seperti ia bisa berubah jadi monster kapan saja.

“Kenapa mereka lihat aku kayak aku mau meledak?” gerutu Nayra sambil memakai hoodie hitam.

“Karena kamu memang hampir meledak kemarin,” jawab Arsen santai.

“Itu bukan poinnya!”

Di depan rumah sakit, hujan baru saja berhenti.

Udara dingin.

Jalanan basah.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama—

Nayra menghirup udara luar tanpa rasa takut.

Aneh.

Rasanya seperti keluar dari mimpi buruk yang terlalu panjang.

Zavian berdiri di samping mobil dengan tangan di saku jaket.

Tetap dingin.

Tetap susah ditebak.

Tapi sekarang Nayra mulai bisa membaca ekspresinya sedikit demi sedikit.

Misalnya sekarang.

Tatapan cowok itu terus mengawasi sekitar.

Waspada.

Tegang.

Seolah masih belum percaya semuanya benar-benar selesai.

“Kamu santai dikit bisa nggak sih?” kata Nayra sambil mendekat.

“Aku santai.”

“Kamu keliatan kayak bodyguard mafia.”

“Aku anggap itu pujian.”

Arsen langsung menyahut dari belakang—

“Dia memang cocok jadi bodyguard. Tinggal tambah kacamata hitam.”

“Aku lempar kalian berdua ke sungai.”

“Lihat? Sangat romantis,” gumam Arsen.

Mereka akhirnya masuk ke mobil.

Dan selama beberapa menit…

Nayra cuma diam memandangi kota dari jendela.

Semua terlihat normal.

Orang beli kopi.

Motor lewat.

Anak sekolah bercanda di trotoar.

Padahal beberapa minggu lalu…

ia bahkan tidak yakin masih bisa melihat dunia lagi.

Aneh sekali rasanya.

“Capek mikir?”

Suara Zavian membuat Nayra menoleh.

Cowok itu sedang menyetir sambil sesekali meliriknya.

“Hm.”

“Mikir apa?”

Nayra diam sebentar.

Lalu menjawab pelan—

“Kalau hidup bisa berubah segila ini cuma dalam beberapa minggu…”

Tatapannya kembali ke luar jendela.

“…berarti semuanya memang bisa hilang kapan aja ya.”

Sunyi.

Zavian tidak langsung menjawab.

Lalu perlahan ia berkata—

“Karena itu kita jalanin aja selama masih ada.”

Deg.

Nayra langsung menatapnya.

Kadang cowok ini bicara seperti manusia biasa.

Dan itu mengejutkan.

“Kamu baru aja bijak?”

“Jangan dibahas.”

“Oke serem.”

Arsen muntir mata dari kursi belakang.

“Kalian flirting terus dari tadi.”

“KAMI NGGAK FLIRTING!”

“Versi denial paling kuat tahun ini.”

Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah apartemen kecil.

Bangunannya sederhana.

Tidak terlalu tinggi.

Dan jauh dari kata mewah.

Tapi justru itu yang membuat Nayra suka.

“Ini tempatnya?”

Zavian mengangguk.

“Aman.”

“Aman dari apa?”

“Semua.”

Deg.

Jawaban singkat itu terasa lebih hangat daripada yang seharusnya.

Begitu masuk—

Nayra langsung berhenti di ruang tengah.

Apartemennya kecil.

Tapi nyaman.

Sofa abu-abu.

Rak buku berantakan.

Dapur mungil.

Dan tanaman kecil di dekat jendela yang hampir mati.

Nayra langsung menunjuk.

“Itu kenapa kayak mau meninggal?”

Zavian menoleh.

“Oh.”

“OH?!”

“Aku lupa nyiram.”

“Sudah berapa lama?”

“Sebulan mungkin.”

“ITU BUKAN LUPA ITU PEMBUNUHAN.”

Arsen langsung tertawa keras.

“Aku bilang juga apa.”

Nayra akhirnya sibuk menyelamatkan tanaman itu dengan segelas air.

Dan entah kenapa…

aktivitas kecil itu terasa sangat normal.

Sangat damai.

Sampai ia hampir lupa semua kekacauan yang pernah terjadi.

Hampir.

Malam datang perlahan.

Hujan turun lagi di luar.

Arsen sudah pulang sejak tadi sore.

Dan sekarang cuma ada Nayra dan Zavian di apartemen kecil itu.

Aneh.

Sangat aneh.

Karena biasanya hidup mereka selalu penuh suara alarm, ledakan, atau ancaman kematian.

Sekarang justru terlalu tenang.

Dan Nayra belum terbiasa.

“Kamu lapar?”

Suara Zavian terdengar dari dapur.

Nayra yang sedang duduk di sofa langsung menoleh.

“Kamu bisa masak?”

“Hina banget pertanyaannya.”

“Karena kamu keliatan kayak orang yang hidup dari kopi dan dendam.”

Hening dua detik.

Lalu—

“Itu akurat sih.”

Nayra langsung tertawa sampai hampir jatuh dari sofa.

Ternyata kemampuan memasak Zavian…

tidak terlalu buruk.

Tidak terlalu bagus juga.

Tapi masih layak dimakan manusia.

Dan itu sudah pencapaian besar.

“Ini asin.”

“Masih hidup kan?”

“Itu standar rendah banget.”

“Tapi berhasil.”

Setelah makan—

mereka duduk diam di dekat jendela.

Lampu kota terlihat samar di balik hujan.

Dan suasana terasa terlalu tenang.

Sampai akhirnya Nayra bicara pelan—

“Kamu masih mikirin Hyren ya.”

Zavian membeku sedikit.

Lalu menghela napas.

“Kelihatan?”

“Sedikit.”

Sunyi.

Cowok itu menyandarkan kepala ke sofa.

Tatapannya kosong ke langit-langit.

“Aku marah sama dia.”

Suara rendahnya terdengar pelan.

“Tapi aku juga ngerti kenapa dia jadi seperti itu.”

Nayra diam mendengarkan.

“Dan itu bikin semuanya lebih ribet.”

Deg.

Ia mengerti.

Karena terkadang…

orang yang menyakitimu juga orang yang paling kamu sayangi.

Dan itu jenis luka yang paling sulit disembuhkan.

“Kamu mau ketemu dia?”

Zavian tidak langsung menjawab.

Lalu—

“Iya.”

Tatapannya turun.

“Tapi aku takut.”

“Hah?”

“Takut kalau itu terakhir kalinya.”

Sunyi.

Dada Nayra langsung sesak.

Karena ia tahu maksudnya.

Kalau pemerintah memutuskan menghukum Hyren berat…

mungkin mereka tidak akan bisa bertemu lagi untuk waktu lama.

Nayra perlahan menggenggam tangan Zavian.

Cowok itu sedikit kaget.

Mungkin karena Nayra jarang memulai sentuhan duluan.

“Ayo kita ketemu dia.”

Tatapan mereka bertemu.

Dan Nayra tersenyum kecil.

“Biar nggak nyesel.”

Deg.

Zavian menatapnya lama sekali.

Lalu perlahan—

ia menggenggam balik tangan Nayra lebih erat.

“Aku serius suka kamu.”

Deg.

Nayra langsung hampir keselek napas sendiri.

“APA HUBUNGANNYA DENGAN TOPIK INI?!”

“Pengen ngomong aja.”

“JANTUNGKU PUNYA BATAS!”

Zavian malah terlihat lebih santai sekarang.

Sedikit.

Sangat sedikit.

Tapi Nayra bisa melihatnya.

Cowok ini memang berubah.

Pelan-pelan.

Tiba-tiba—

suara kecil muncul lagi di kepala Nayra.

“Dia akhirnya ngomong juga.”

Nayra langsung menutup wajah pakai bantal.

“Astaga…”

Zavian mengernyit.

“Kamu kenapa?”

“Nothing.”

“Kamu aneh.”

“Kata orang paling aneh di ruangan ini.”

“Fair.”

Keesokan harinya—

mereka pergi ke fasilitas penahanan khusus pemerintah.

Bangunannya besar.

Dingin.

Dan terlalu banyak penjaga.

Nayra langsung tidak nyaman begitu masuk.

Karena tempat seperti ini selalu mengingatkannya pada laboratorium.

Zavian langsung sadar.

Tangannya menyentuh punggung Nayra pelan.

“Aku di sini.”

Deg.

Sesederhana itu lagi.

Dan bodohnya…

itu selalu berhasil menenangkan Nayra.

Mereka dibawa ke ruang kunjungan khusus.

Kaca tebal membatasi dua sisi ruangan.

Dan beberapa menit kemudian

Hyren masuk.

Nayra langsung hampir tidak mengenalinya.

Cowok itu masih terlihat tenang seperti biasa.

Tapi lebih kurus.

Lebih pucat.

Dan matanya terlihat sangat lelah.

Namun saat melihat Zavian—

senyum kecil tetap muncul di wajahnya.

“Kamu masih hidup.”

“Itu sapaan buruk.”

“Standarku memang rendah.”

Nayra hampir tertawa kecil.

Karena bahkan sekarang…

Hyren tetap Hyren.

Beberapa detik suasana jadi canggung.

Tak ada yang tahu harus mulai dari mana.

Sampai akhirnya Hyren menatap Nayra.

“Kamu keliatan lebih sehat.”

“Thanks… kurasa.”

“Masih gampang nangis?”

“HEY.”

Hyren tertawa kecil.

Dan untuk beberapa detik…

rasanya seperti mereka bukan orang-orang yang pernah terjebak dalam neraka eksperimen.

Cuma keluarga berantakan yang mencoba bicara lagi.

“Aku minta maaf.”

Kalimat itu akhirnya keluar dari Hyren.

Dan ruangan langsung sunyi.

“Aku tahu kata itu nggak cukup.”

Tatapannya turun pelan.

“Tapi aku tetap harus bilang.”

Zavian menatap kakaknya lama.

Sangat lama.

Lalu akhirnya berkata—

“Aku marah.”

Hyren tersenyum tipis pahit.

“Wajar.”

“Tapi…”

Napas Zavian berat.

“…aku juga nggak mau kehilangan kamu lagi.”

Deg.

Mata Hyren langsung sedikit melebar.

Dan Nayra bisa melihat sesuatu retak di ekspresi dinginnya.

Rasa bersalah.

Kesedihan.

Dan harapan kecil.

“Aku nggak pantas dapet keluarga lagi.”

Suara Hyren rendah.

“Terlambat.”

Zavian menjawab cepat.

“Kamu udah punya.”

Sunyi.

Dan untuk pertama kalinya—

Hyren benar-benar terlihat ingin menangis.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!