" Dua puluh tahun terkurung. Sebuah pernikahan tanpa suara. Dan seorang pria yang lebih memilih diam dari pada berjuang.
Arumi mengira ia akan mekar setelah menikah. Ternyata , ia hanya berpindah ke sangkar yg lebih dingin. Ketika kehidupan hidup mulai mencekik dan suaminya tetap membatu, Arumi menyadari satu hal : Untuk bisa bernafas lagi, ia harus merelakan segalanya. Termasuk status yg selama ini di anggap suci."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miss tiii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepergian Tanpa Suara
Jam dinding usang di ruang tamu berdetak lambat, bunyinya seperti palu yang menghantam peti mati. Pukul dua pagi. Tante Sari sudah pulang setelah keributan besar tadi sore, meninggalkan hawa panas yang masih tertinggal di udara. Ibu Maryam tertidur pulas di kamar depan karena kelelahan menangis.
Arumi berdiri di tengah kegelapan, menggendong Kinan yang terlelap dalam balutan kain jarik. Di tangan kirinya, ada satu tas jinjing berisi pakaian bayi dan ijazah SMA-nya. Hanya itu hartanya.
Ia melirik ke arah tempat tidur. Baskara telentang di sana, napasnya teratur, seolah badai yang merobek rumah tangga mereka tadi sore hanyalah mimpi semalam. Pria itu bisa tidur nyenyak di tengah kehancuran istrinya.
Arumi melangkah mendekat. Ia ingin melihat wajah suaminya untuk terakhir kali. Bukan karena cinta, tapi untuk meyakinkan dirinya bahwa ia tidak sedang meninggalkan seorang manusia, melainkan sebuah patung.
Tiba-tiba, mata Baskara terbuka.
Arumi tersentak, jantungnya berdegup kencang. Ia mengira Baskara akan bangkit, memegang tangannya, dan memohon agar ia tidak pergi demi anak mereka.
Baskara menatap tas di tangan Arumi, lalu menatap Kinan. Ia terdiam selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya.
"Mau pergi sekarang?" tanya Baskara. Suaranya serak khas orang bangun tidur, tapi nadanya datar. Tidak ada keterkejutan, tidak ada luka.
"Iya," jawab Arumi, suaranya bergetar namun tegas. "Aku tidak bisa mekar di sini, Mas. Aku dan Kinan akan mati kalau terus bersamamu."
Baskara menghela napas panjang, lalu kembali menatap langit-langit kamar yang berjamur. "Ya sudah. Kalau itu maumu. Jangan salahkan aku kalau di luar sana kamu lebih susah."
"Aku lebih baik susah karena berjuang, daripada mati rasa karena diabaikan oleh suamiku sendiri!" bisik Arumi tajam. "Mas tidak mau menahan kami? Sedikit saja? Demi Kinan?"
Baskara memejamkan matanya kembali. "Aku capek, Rum. Aku tidak mau berdebat lagi. Pintu tidak dikunci, tutup saja pelan-pelan kalau keluar."
Air mata Arumi jatuh tanpa suara. Itulah jawaban terakhirnya. Tidak ada pelukan perpisahan, tidak ada permintaan maaf. Baskara bahkan lebih peduli pada tidurnya daripada kehilangan anak istrinya.
Arumi berbalik, melangkah keluar kamar. Ia melewati Ibu Maryam yang mendengkur halus, merasa bersalah harus meninggalkan mertua sebaik itu, tapi ia tahu ia harus menyelamatkan dirinya sendiri.
Saat kakinya menginjak aspal gang yang dingin, Arumi menoleh ke arah rumah kontrakan itu. Gelap dan sunyi. Ia menutup pintu pagar kayu yang reyot itu dengan perlahan, persis seperti permintaan Baskara.
Klik.
"Selamat tinggal, Mas," bisik Arumi pada angin malam. "Terima kasih sudah mengajariku bahwa kesepian yang paling mengerikan adalah kesepian saat kita memiliki pasangan."
Ia terus berjalan menuju ujung gang, di mana sebuah taksi sudah menunggu—taksi yang dipesankan oleh Tante Sari secara diam-diam. Di dalam taksi, Arumi memeluk Banyu erat-erat.
"Kita akan mewangi, Nak," bisiknya. "Meskipun tanpa bantuan siapa pun. Kita akan mekar di tanah yang baru."
# greget ga sii sama baskaraa , apakah baskara bakal menyesal atau apakah emang dia sedingin itu angan lupa ikuti trus follow,like dn komen yahh.