Ketika Aisyah terjebak di Shanghai sebagai seorang imigran gelap, ia tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah karena dua bersaudara dari keluarga Lin.
Lin Zhao memberinya rasa aman dan cinta yang tak pernah ia duga.
Sementara Lin Chou justru memberinya ancaman, kebencian, dan luka.
Namun siapa sangka, di balik semua kebencian itu tersimpan rahasia masa lalu yang mampu menghancurkan segalanya.
Tentang cinta yang tertinggal.
Tentang janji yang gagal ditepati.
Dan tentang seorang perempuan... yang memilih pergi setelah diam-diam menyelamatkan keluarga yang telah menyakitinya.
Di antara dua negara, dua budaya, dan dua hati yang dipertemukan takdir.
apakah cinta cukup kuat untuk melawan luka masa lalu?
Atau justru penyesalan akan datang... saat semuanya sudah terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naryati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22
Aisyah hanya bisa diam dia tidak berani menjawab apapun. Dia hanya ingin membuat hubungan Lin Zhao dan kakaknya kembali membaik. Dia ingin menyerahkan diri pada Mr.Wang secara sukarela tapi kini justru Mr.Wang menolaknya dan Lin Chou kembali salah paham tentangnya..
Aisyah hanya bisa pasrah dia sedang di intimidasi. Dia sedang dituduh tanpa bukti namun Aisyah tidak bisa menjawabnya.
Menjelaskannya juga percuma,Lin Chou membencinya dan apapun alasannya laki-laki itu tidak akan pernah percaya.
"Sekarang kamu ngapain masih disini? cepat kembali jangan sampai aku membawamu ke imigrasi." suara lantang Lin Chou membuat Aisyah tak mampu berkata-kata lagi. Dia pun pergi membawa luka didalam hatinya.
Aisyah pun berjalan pelan. Dia sekuat hati menahan airmatanya. Untuk pertama kalinya dia mendapatkan kata-kata yang sangat kasar dari orang yang sebenarnya tidak dia kenal.
"Apa benar kehadiranku hanya membawa masalah?"
"Kenapa setiap kali aku mencoba membantu, semuanya justru semakin buruk?"
"Ibu.. Bapak.. Aisyah ingin pulang."
Aisyah pun berjalan sembari menghapus airmatanya. Dari kejauhan Lin Chou mengikutinya. Entah kenapa melihat Aisyah menangis tiba-tiba saja dia merasakan sesak di dadanya seperti ada sesuatu..
"Jika saja kamu tidak mirip dengan istriku. Jika saja kamu tidak memiliki banyak kesamaan mungkin aku tidak akan pernah membencimu tanpa alasan."
Lin Chou masih terus mengikuti Aisyah dari kejauhan dia tak ingin jika wanita itu berada dalam masalah.
****
Aisyah pun kembali kerumah Lin Zhao.
Disana Aisyah langsung masuk kedalam kamarnya dan menyimpan surat yang sempat dia tulis untuk Lin Zhao..
"Kak Lin.. Maafkan aku jika mungkin memang sebaiknya kita tak pernah saling memiliki perasaan. Karena kehadiranku hubungan Kak Lin dan Tuan Lin menjadi renggang. Mungkin jika aku pergi akan membuat semua kembali seperti semula."
Aisyah pun merasa gundah. Dia bingung dengan pikirannya sendiri. Satu sisi dia nyaman dan tenang bersama Lin Zhao namun di sisi lain dia takut akan kekuasaan Lin Chou. Apalagi kata-katanya benar dia hanyalah wanita rendahan yang tidak pernah pantas untuk Lin Zhao.
Hari berganti sore. seharian Aisyah masih berada didalam kamarnya.
Lin Zhao yang baru saja pulang pun bingung dengan apa yang terjadi pada Aisyah.
Lin Zhao berdiri beberapa saat di depan pintu kamar.
Entah kenapa hatinya terasa tidak tenang.
Untuk pertama kalinya ia merasa Aisyah sedang menjauh darinya.
"Aisyah apa kamu baik-baik saja. Kenapa kamu gak keluar biasanya kalau aku pulang kamu selalu menungguku?"Lin Zhao memastikan kondisi Aisyah dia takut jika wanita sakit..
"Aku tidak apa apa Kak Lin. Aku hanya baru selesai membersihkan diri." Aisyah yang sedari duduk diatas pembaringan pun mencoba untuk menolak bertemu dengan Lin Zhao untuk saat ini..
Lin Zhao pun tak menganggu lagi. Dia pun langsung masuk kedalam kamarnya untuk beristirahat..
Waktu berlalu jam berganti hari sikap Aisyah semakin dingin. Dia tidak seperti biasanya. Kini Aisyah memilih untuk sering menghindari Lin Zhao..
Lin Zhao yang menyadari perubahan sikap Aisyah langsung berbicara dengan lembut pada wanita itu.
"Aisyah.. Kamu kenapa? Apa ada hal yang sedang kamu pikirkan?"
Lin Zhao bertanya dengan nada lembut membuat Aisyah hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Aku baik-baik saja Kak Lin." jawabnya pelan.
Lin Zhao tahu ada hal yang sedang disembunyikan oleh Aisyah. Namun laki-laki itu memilih untuk diam dan menyelidikinya sendiri..
"Baiklah kalau begitu. Aku pergi bekerja dulu. Kamu baik-baik ya dirumah. Kalau ada apa-apa kasih tahu aku."
Lin Zhao tersenyum kemudian pergi meninggalkan Aisyah sendirian dirumah..
Di tempat yang berbeda.
Lin Chou mendapatkan telepon dari anak buahnya bahwa Xioyi terjatuh dan kini tengah dibawa kerumah sakit.
Lin Chou panik dia pun langsung menyusul putrinya..
"Dokter bagimana kondisi putriku?" tanya Lin Chou dengan tatapan dinginnya.
Dokter yang merawat Xioyi mengatakan bahwa saat ini kondisi Xioyi memburuk dia harus mendapatkan donor ginjal secepatnya jika tidak mungkin nyawa anak itu tidak dapat diselamatkan..
Dunia Lin Chou seakan berhenti berputar.
Selama bertahun-tahun ia menghadapi musuh, darah, dan kematian tanpa pernah merasa takut.
Namun kali ini yang terbaring adalah putrinya sendiri.
Bagikan disambar petir disiang hari. Dunia Lin Chou seakan kembali runtuh mendengar kabar putrinya kini sekarat.
"Apa pihak rumah sakit tidak bisa mendapatkan pendonor yang cocok untuk putriku. Aku akan membayarnya berapapun biayanya." Lin Chou menatap Dokter itu dengan tatapan tajam.
Dokter itu hanya bisa menunduk dia tidak pernah berani menatap wajah Lin Chou ketua mafia paling disegani di Shanghai.
"Maaf Tuan. Kami sudah berusaha mencari dan selalu berusaha mencari tapi sampai saat ini kami belum menemukannya." Dokter itupun kembali memberikan penjelasan yang membuat Lin Chou marah.
"Lakukan upaya apapun untuk menyelamatkan putriku. Jika tidak rumah sakit ini akan aku ratakan dengan tanah. Dan jika kalian gagal menemukan pendonor jangan berharap kalian semua bisa hidup tenang."
Lin Chou kembali menekan pihak rumah sakit hal itu tentu saja membuat semua orang yang bekerja disana merasa khawatir.
Lin Chou masuk kedalam ruang ICU disana putrinya terbaring tak berdaya.
Dia masih mengalami koma karena benturan yang keras.
Lin Chou melihat rekaman cctv ia melihat kelalaian sang pengasuh yang membuat Lin Chou hanya bisa menutup mata. Namun Lin Chou lebih memilih untuk memaafkan pengasuh itu karena pengasuh itu yang telah merawat Xioyi dari bayi.
Di depan ruang rawat Xioyi,pengasuh itu bersujud didepan Lin Chou dan meminta maaf.
"Tuan Lin maafkan aku. Aku lalai dalam menjaga Nona muda. Aku pantas dihukum. Aku pantas m*ti." pengasuh itupun pasrah dengan hidupnya.
Lebih baik dia mengakui kesalahan daripada bungkam. Terlebih lagi dia sangat menyayangi Xioyi.
"Bangunlah dan duduklah. Ini semua sudah terjadi dan aku tidak menyalahkan kamu."
Lin Chou tidak marah dia tahu pengasuh itu yang paling menyayangi putrinya.
"Kamu keluar dulu aku ingin bersama putriku."
"Xioyi bangun sayang. Jangan bikin Papa takut."