Restu merasa hidup dalam keputus asaan ketika Istri dan anaknya suka menyalahkan dirinya hingga dirinya emosi membentak istri dan anaknya tersebut namun kini dirinya jadi orang yang di anggap paling bersalah hingga dia merasa hidup dalam ke hampaan tanpa harus bisa berbuat apa pun selain hanya diam karena apa pun yang dilakukannya akan jadi tambah Salah hingga akhirnya dia ingin mengakhiri hidupnya di suatu jurang yang dalam namun tiba-tiba takdir berkata lain, dia mengurungkan niatnya dengan mencari cara untuk memberi pelajaran kepada istei dan anaknya dengan bantuan sistim yang tiba-tiba datang memberikan pilihan bantuan hingga akhirnya dia mengatur cara agar semuanya menyadari kesalahannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DANA SUPRIYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Belum Saatnya
Restu betul-betul mengarahkan pak Tomas sebagai direktur utama untuk bisa memajukan perusahaan Angkasa menjadi perusahaan yang menguasai negara Nusantara dengan mengakuisisi perusahaan yang bisa membuat dan mendukung perusahaan Angkasa.
Setelah rapat selesai dengan pak Tomas yang sudah dapat pengarahan strategi jitu yang diberikan Restu kepada Pak Tomas selaku Direktur Utama yang saat ini tampak sangat hormat dan takjub dengan apa yang direncanakan oleh pak Restu.
Saat ini dia heran kenapa pak Restu terlama jadi orang biasa di perusahaannya sedangkan saat ini, pak Restu baru memunculkan dirinya untuk jadi orang teratas di perusahaan ini
"Baik Pak Restu, semua instruksi sudah kami catat. Dan untuk kenyamanan Bapak dalam bekerja, mulai hari ini perusahaan menyediakan fasilitas mobil dinas khusus, tipe Executive Luxury dengan sopir pribadi. Bapak bisa pakai untuk pergi ke mana saja, kapan saja."
Restu mengangguk santai dengan senyuman kenyamanan yang dia rasakan
"Baik, terima kasih."
Sebelum pulang, Restu merasa penampilannya harus berubah sesuai status barunya. Ia singgah di sebuah butik baju pria terkenal di pusat perbelanjaan mewah. Ia ingin membeli setelan jas dan kemeja kerja yang berkualitas, harganya memang berkisar jutaan hingga puluhan juta rupiah.
Restu masuk dengan penampilan yang masih sederhana, karena ia belum sempat mengganti bajunya. Saat ia sedang melihat-lihat koleksi baju, seorang pramuniaga melihatnya dengan sinis.
"Heh, lihat tuh. Kayaknya orang salah masuk toko deh. Ini tempatnya orang kaya, bukan tempat lo."
Bisik pramuniaga itu pada temannya, lalu mendekati Restu dengan wajah ketus dan tidak senangnya
"Mas, cari apa? Kalau cuma lihat-lihat mending keluar saja jangan ganggu pembeli serius. Baju di sini harganya jutaan lho, bukan puluhan ribu."
Restu terdiam, merasa sangat dihina. Ia sebenarnya bisa langsung membayar satu rak baju itu dengan uangnya sekarang, tapi ia memilih untuk membalikkan badan dan hendak pergi, malas berdebat dengan orang yang berprasangka buruk.
Namun, tiba-tiba seorang gadis muda yang masih terlihat baru dan sedang magang berlari menghalangi langkahnya.
"Maaf Pak, maafkan teman saya! Silakan Pak, silakan pilih saja. Kami siap melayani Bapak dengan baik!"
Gadis magang itu sangat sopan, tidak memandang rupa. Restu tersenyum, lalu menunjuk beberapa setelan jas terbaik dan bahan kain paling mahal.
"Bungkus yang ini, yang ini, dan yang ini. Semuanya."
Pramuniaga yang tadi mencibir terbelalak. Saat Restu menggesek kartunya, tertera angka jutaan rupiah terpotong lancar tanpa masalah.
"Am... ambilkan..."
Gumam pramuniaga itu lemas hingga dia hanya menyesal dan bersikap pasrah
Restu tidak mempedulikannya lagi. Ia menerima bungkusan itu, namun tidak langsung memakainya. Ia menyuruh sopirnya menyimpan semua baju baru itu di lemari ruangan kerjanya di lantai paling atas.
'Nanti saja dipakainya saat momen yang tepat"
Batinnya seperti ingin mengatakan kalau dia tidak ingin terlalu mencolok dan ingin bersikap biasa saja
Tiba-tiba suara sistem kembali berbunyi di kepalanya.
[NOTIFIKASI: INSTRUKSI KEPADA DIREKTUR UTAMA TELAH DIEKSEKUSI 100%. MODAL PERUSAHAAN AKTIF.]
[BONUS MISI: 10 MILYAR RUPIAH TELAH DITRANSFER KE REKENING PRIBADI PENGGUNA.]
Restu tersenyum miring. Uang 10 milyar masuk begitu saja. Sebenarnya dengan uang sebanyak itu, ia bisa langsung membeli mobil mewah supercar untuk dirinya sendiri hari ini juga. Tapi ia mengurungkan niat itu.
'Tidak... belum saatnya,'
Pikir Restu dengan harapan.ingin tahu lebih lanjut tentang orang-orang di dekatnya
'Biarlah mereka masih menganggap aku seperti dulu. Aku ingin melihat sampai sejauh mana mereka bersikap. Ini pelajaran berharga untuk mereka.'
Restu memutuskan tetap bersikap biasa saja. Ia menyuruh mobil dinasnya kembali ke garasi, dan ia memesan Ojek Online Premium atau taksi online kelas eksekutif untuk pulang.
Sesampainya di rumah...
Suasana langsung berubah mencekam. Istrinya, Rina, sudah menunggu di ruang tengah dengan wajah cemberut.
"Heh! Kamu ini kemana saja?! Pulang naik taxi mahal segala?! Uang habis buat gaya-gayaan ya?! Katanya mau hemat buat belanja?! Kamu ini memang tidak ada otaknya! Uang dikit gaya konglomerat!"
Serbu Rina meledak-ledak dengan berusaha membuat Restu harus menyadari kalau apa yang sudah dilakukan salah dan harus merubahnya dengan naik angkot atau taxi online dari perusahaan ojek online
"Padahal kan bisa naik angkot atau bus biasa! Buang-buang uang saja! Dasar suami tidak berguna!"
Restu hanya diam, memasang wajah lemas seperti biasa. Di dalam hatinya ia tertawa.
'Rina, Rina kalau papa mau, bisa beli satu armada taxi ini cuma buat mainan. Tapi sabar ya Bu, waktunya belum tiba.'
Belum reda omelan istrinya, Meisya keluar dari kamar.
"Pa, uang jajan tambahan bulan ini mana? Teman-teman pada pakai baju baru, HP baru. Aku mah apa atuh, punya papa pelit dan pelit!"
Meisya bicara menagih uang jajan kepada papanya mumpung papanya lagi ada uang jadi dia manfaatkan kesempatan ini namun Restu merasa sudah membayar sesuai permintaan anaknya.
"Papa kan sudah transfer uang kuliah dan uang belanja banyak tadi pagi..."
Potong Restu dengan bersuara pelan yang membuat Meisya marah-marah karena kata-katanya dipotong oleh papanya
"Itu buat bayar-bayar! Bukan buat gaya-gaya! Pokoknya kurang! Papa itu pelit banget sih!"
Potong Meisya ketus dengan gayanya yang membuat Restu geleng-geleng kepala dengan sikap anaknya ini.
Tiba-tiba Maya pun ikut nimbrung yang membuat suasana jadi ramai hingga mereka mendekati.papanya yang bersikap tenang
"Iya nih Pa! Maya mau beli sepatu baru! Papa kasih uangnya sekarang! Jangan pelit-pelit! Papa kan dapat gaji banyak!"
Restu hanya menghela napas panjang, lalu masuk ke kamar dengan tertunduk lesu di depan mereka tanpa mau menjawab permintaan mereka karena dia mau mendidik mereka untuk hidup sederhana dan tidak berlebihan.
"Ah!"
Sebenarnya saldo rekeningnya Restu itu sekarang sudah bernilai miliaran rupiah, dan ia adalah pemilik perusahaan tempat ia bekerja. Tapi ia memilih untuk tetap menjadi "Restu yang malang" dan "selalu disalahkan" demi sebuah rencana besar yang sedang ia susun di kepalanya dan dia tidak mau membuka dirinya saat ini yang sudah punya jadi orang terkaya di Negara Nusantara ini.
'Bersabarlah Restu... Balasan terindah dan terkejut terbesar sudah menanti mereka, pada saat itu kamu akan menyadarkan mereka"
Batinnya tegas untuk bisa memberikan yang terbaik buat keluarganya agar masa depan mereka tidak dibangun dengan cara yang salah apalagi bersikap poya poya karena memiliki uang yang banyak jadi hari ini dia diam saja dan tidak mau menuruti permintaan anaknya.
"Biarlah aku disalahkan anak ku untuk hal ini tapi aku punya tujuan yang baik buat mereka"
tinggalkan jejak sobat ya
makasi