Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.
ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.
"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."
Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.
Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?
Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13 Mulai Cinta
"Mbak Dini, siang ini jangan ke mana-mana, ngaji sama saya." Sarah tiba-tiba menghadang jalan Nandini menuju dapur Ndalem.
"Astagfirullah, Ning Sarah! Ngagetin banget. Ning Sarah ini polisi apa ninja? Kok bisa semua?" Nandini mengelus dadanya.
"Hah? Maksudnya?" Sarah mengerutkan alisnya.
Nandini terkesiap. "Ehh, ndak apa-apa. Ning Sarah ngagetin, kayak setan." Astagfirullah, kok malah makin parah aku ngatainnya. Nandini menepuk bibirnya.
"Mbak Dini! Kasar sekali bicaranya! Ndak pantas walau becanda." Sarah mengetatkan rahangnya.
"Iya, Ning, maaf keceplosan. Jam 2 kan ngajinya? Sebelumnya kan Ning Sarah tidur siang dulu kan? Kayak bayi ih Ning..." Nandini sok asyik pada Sarah. Moodnya sedang bagus.
"Sunah Rasul itu. Namanya qailulah. Bagus itu buat jaga kesehatan. Supaya ndak kurang tidur juga pas tahajud. Mbak Dini tahajud kan? Apa sama Gus Taka ndak diajarin?" Mata Sarah memicing.
Ning Sarah ini mau dibaikin, mau dijudesin sama-sama nyebelin reaksinya. Sentimen tenan sama aku.
"Diajarin dong Ning. Gus Taka sudah bener-bener bimbing Dini kok, Ning." Nandini memiringkan bibirnya.
Sarah mengangguk. "Alhamdulillah kalau begitu. Bersyukur bisa jadi bagian Ndalem, Mbak. Banyak yang mau ada di posisi Mbak Dini."
Nandini mendengus. Bibirnya miring ke kiri dan kanan. Membuat Sarah jadi naik pitam. Mengira Nandini sedang membatin buruk tentangnya.
"Kenapa kayak begitu mukanya, Mbak? Mata, wajah itu cerminan hati. Dijaga, apalagi sekarang Mbak Dini itu istri seorang gus." Sarah menggelengkan kepala.
"Ndak kenapa-kenapa, Ning." Nandini kembali berusaha tenang. Teringat pula nasihat Santaka agar tenang jika menghadapi masalah di Ndalem.
"Hhmm, Mbak... Tapi insiden mobil itu bener-bener tak direncanakan kan?" Sarah bertanya dengan wajah tanpa dosa.
Baru berusaha tenang, Nandini kembali tersulut oleh lidah Sarah. Lidah membara. Istri Santaka itu membelalakkan matanya. Rahangnya mengetat. Ia langsung berkacak pinggang.
"Apa hukumnya menuduh saudara seiman tanpa bukti, Ning Sarah?" Nandini menggeram.
Sarah mengernyitkan dahi. "Saya ndak nuduh. Saya nanya. Tolong dibedakan." Sarah menggelengkan kepala.
Sarah merasa suaminya, Abyasa, terburu-buru memveto Santaka dan Nandini untuk menikah. ia paham alasannya kuat, menghindari fitnah dan indikasi ketertarikan Santaka terhadap Nandini.
Namun sangat disayangkan, keputusan itu tanpa menyelidiki kejadian memalukan tersebut secara komprehensif. Bisa saja itu sebenarnya adalah konspirasi Nandini sebagai fans berat Santaka. Siapa yang tahu?
"Nanya tapi tendensius banget." Nandini merasa dadanya sesak. Enak saja Sarah menuduhnya seperti itu.
Sehina apa diri Nandini sampai sengaja menjebak seorang Santaka? Untuk apa? Untuk kehidupan terpenjara seperti ini? Gila!
"Kalau ndak benar, ndak perlu marah, Mbak. Jangan lupa nanti siang, ngaji." Sarah melangkah menjauhi Nandini. Meninggalkan sang montir dalam geram.
Sarah merapikan kerudung besarnya sambil melangkah ke pondok. Ia akan mengecek kondisi santriwati. Ia mengingat interaksinya dengan Nandini.
Apapun kebenarannya, mau insiden mobil tiga minggu lalu adalah hasil rekayasa Nandini atau bukan, Sarah tak akan membiarkan Nandini melenggang kangkung masuk ke Ndalem. Ia akan menggembleng montir itu menjadi istri gus yang layak.
Yang tetap memenuhi standar seorang menantu kyai, menjadi bagian dari pendidik umat. Maka mendidik diri sendiri perlu dilakukan seorang Nandini. Demi kepantasan dirinya. Demi menjaga marwah Al Fatih.
*
*
Nandini meletakkan pangkal lidahnya di langit-langit mulut bagian belakang, sesuai buku panduan makhraj huruf hijaiyah. Kini ia mempraktikkan untuk huruf qaf.
Tadi siang Nandini kembali mengaji pada Sarah. Ia kesal, awalnya dibimbing langsung oleh Lastri. Di tengah jalan, dilimpahkan ke tangan Sarah. Kenapa tak Husna saja?
Lastri mengatakan ia yang akan membantu Nandini memperkuat hafalan Al Qur'an. Santaka pun mendukung hal itu. Ia pun membantu Nandini menghafal ayat-ayat suci pedoman hidup itu. Setiap sebelum tidur.
Kepala Nandini rasanya mau pecah. Cekot-cekot alias nyut-nyutan parah. Di usia 20-an, ia harus memaksa otaknya menghafal. Bukan bahasa sehari-hari lagi.
Ketika Surbakti menengoknya di Ndalem, Nandini menceritakan hal tersebut. Tak dinyana, mata Surbakti berkaca-kaca. Lelaki tua itu mengucapkan terima kasih karena Nandini akan memberikan ia mahkota di akhirat kelak.
Anak yang menjadi penghafal Al Qur'an memang akan memberikan mahkota bagi orang tuanya. Sungguh kehormatan luar biasa.
Nandini jadi tak tega untuk terus mengeluh. Sepertinya takdir memang memaksanya menjadi hadiah bagi Surbakti. Menjadi anak salihah, lewat status istri gus. Doa Surbakti memang makbul, dikabulkan oleh Allah.
Santaka keluar dari kamar mandi. Hanya menggunakan sarung. Ia lupa membawa kaus ganti.
Sang gus tersenyum melihat istrinya sedang belajar cara mengucapkan huruf hijaiyah dengan benar. Lucu sekali mimiknya. Ia jadi ingin menggoda. Santaka menghampiri Nandini.
"Bisa, Mbak? Perlu dibantu?"
Nandini menoleh, matanya langsung memejam. "Pake baju dulu, Gus! Jangan riya mentang-mentang badannya bagus eh maksudnya aurat itu, ndak tau malu!"
Santaka terbahak. "Badan saya bagus ya? Ini bukan AI, Mbak. Nyata, pegang dong." Santaka menggoyangkan tubuhnya.
Nandini merengut. Melengos. Sebenarnya maunya sih menatap lama. Pegang juga. Ih, gengsi banget. Tapi bagus lagi, ototnya kering. Ndak nyangka si Gus Roti.
"Gus, saya lagi belajar ngaji. Gus malah pornoaksi. Kebanyakan makan ragi, rasa ndak tau malunya ngembang!"
Santaka terkekeh. "Porno apaan sih, Mbak. Kan sama istri sendiri. Lagian ini bukan aurat lho. Sebentar saya copot sarung, biar beneran buka aurat."
Santaka berdiri dan berpura membuka sarungnya. Nandini berteriak kencang. Ia menutup wajahnya. Santaka tergelak.
Pintu kamar mereka digedor. "Gus Taka, Mbak Dini. Ada apa?" Sarah.
Nandini dan Santaka saling berpandangan. "Mbak Dini sih, heboh sendiri. Kedengeran kan sama Ning Sarah." Santaka gegas mengambil kausnya di lemari.
Santaka membuka pintu, wajah Sarah dan Abyasa ada di depan kamar. Nuansa angker langsung terasa. Nandini spontan menegakkan buku di tangannya sehingga wajahnya terhalang.
Nandini membiarkan Santaka seorang diri menghadapi duo penjaga marwah Al Fatih. Suruh siapa iseng?
"Kenapa tho, kalian ndak malu? Magrib baru lewat, malah bikin keributan. Abdi ndalem ada yang denger." Sarah melirik ke arah dalam. Nandini yang sedang mengintip buru-buru menaikkan bukunya.
Santaka menggaruk kepalanya. "Itu Gus, Ning, ada kecoak. Mbak Dini kaget."
"Kok bisa? Kan kamar sampeyan bersih." Sarah mengernyitkan alis. Abyasa hanya diam saja. Memang hanya diminta Sarah ikut. Belum waktunya turun gunung.
Santaka kini menggaruk alis. Mendadak gatal-gatal. "Mbak Dini kayaknya mengundang kecoak. Sekarang jadi banyak."
Nandini melotot. Pembelaan diri macam apa itu? Bukunya langsung ia turunkan.
"Duh, Ning Sarah kayak ndak ngerti aja sih, sebenernya kenapa. Sudah ya, mau Isya. Kita ketemu nanti makan malem. Ngapunten, pintunya Dini tutup. Gus Taka lagi nanggung."
Santaka melongo. Wajah Sarah dan Abyasa berwarna merah seperti udang rebus. Nandini langsung menutup pintu.
Nandini membuka mukenanya. Semangat belajarnya drop hingga lantai. Santaka dengan mata berbinar menghampiri. "Mbak Dini, sudah siap?"
Nandini merengut. "Siap marah! Udah Gus, mana ada muka kayak gini, lagi nafsu begituan? Kenapa sih resek banget. Iseng! Genit!"
"Genit cuma sama istri, sama Mbak Dini saja." Santaka membuka kausnya.
Netra Nandini membeliak. "Kok dibuka lagi bajunya, Gus?"
"Ternyata enakan gini." Santaka menghampiri istrinya.
Nandini langsung memakai mukenanya kembali dan mengambil buku makhraj. Ia memilih belajar daripada melihat otot liat Santaka. Takut mimisan.
Santaka terkekeh. Ia semakin paham mengapa menggoda istri adalah sunnah Rasul, karena memang bisa menyuburkan rasa cinta.
Sepertinya Santaka mulai merasakan itu pada Nandini. Sayang, cintanya masih sepihak. Semoga istrinya itu bisa mereguk perasaan serupa. Setidaknya, menerima pernikahan mereka.
pas mau Unboxing ehhhh passa tamu tak diundang datang tanpa kodess 😤🤣🤣🤣 ditunda minggu depan yaaa Takaaa 😆
istri Gus Taka, te ou pe be ge te. aku padamu mb Dini... 😘😘
Rasainnnn kelennnn 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rasain Ahsan, emang enak lihat bekas kemesraan Taka & Dini... ? suruh tuh abahmu belain kamu, agar Taka kena sanksi Krn bekas mesranya Taka+ Dini terlihat. biar semua sadar, siriknya si Mahmud+ Ahsan
g tidur ah, nungguin Ahsan + Yai Mahmud angkat kaki balik ke Magelang 😄😄
panaaaaassss nihhhh Ahsannn panass yaaaaa.... yaaa panassss dongggg pastinyaaaa 🤣🤣😏 Nandini ituu sama Santaka udah saling sayang saling cinta jadi otomatis saling menguatkan satu sama lainn.. kamuuu iriiiiii ? ya tentu sajaaaa, maka nikmati dg baikkkk wahai sampahhhh pondok 😏😏😏😤
semoga Gus Abi bijak dlm mensikapi. tendang aj Ahsan dr Al Fatih. biar dia penerus PP Al Irsyad aj