NovelToon NovelToon
Takdir Gelap Huang

Takdir Gelap Huang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Zerro One

Kisah ini adalah perjalanan pilu seorang anak yang ditempa oleh kehilangan. Huang adalah perwujudan dari ketabahan dalam kesunyian, dipaksa dewasa oleh kematian tragis orang tuanya. Pohon beringin menjadi saksi bisu atas kesedihan abadi, sementara tidur enam tahun di dasar kolam adalah simbol kematian masa kecilnya dan kelahiran kembali sebagai seseorang yang sama sekali baru. Huang melangkah bukan hanya untuk mencari pembunuh, tetapi juga untuk menemukan arti dari hidup yang tersisa.

Tema pembalasan dendam, kesepian, dan keinginan untuk menjadi kuat demi melindungi yang tersisa... menjadi nyawa dalam cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1. Darah Di Bawah Pohon Beringin

Desa itu tidak memiliki nama. Setidaknya, tidak ada peta di dunia ini yang mau repot menggambar gubuk reot di kaki bukit barat.

Ditempat terpencil inilah Huang tumbuh.

Lian, ibunya, memiliki keahlian meracik daun dan kulit kayu menjadi bubuk pahit yang bisa meredakan demam atau menyembuhkan luka bernanah.

Haoshu, ayahnya, adalah pemikul air yang diam. Tubuhnya bungkuk seperti udang tua, tapi senyumnya selalu hangat seperti tungku di musim hujan.

Huang tahu betul jalan setapak dari rumah menuju pasar. Setiap pagi, dia berjalan dengan kain penuh ramuan di kepalanya. Setiap pulang, kain itu berganti menjadi segenggam beras atau kadang sepotong kecil daging asin.

Anak-anak seusianya suka mencegat di tikungan dekat sungai.

“Hei, anak setan! Bawa apa hari ini?”

Mereka tertawa.

Huang tidak pernah menjawab. Dia hanya mempercepat langkah, atau sesekali berlari kecil. Bukan karena takut. Ayah dan ibunya sudah cukup khawatir dengan rezeki yang tak pernah cukup. Huang tidak ingin menambah beban.

Hari itu matahari terbit seperti biasa. Huang mencium kening ibunya sebelum berangkat, seperti ritual yang tidak pernah terlewat.

“Ibu, Huang pergi dulu.”

Lian tersenyum. Wajahnya kurus, tulang pipinya menonjol, tapi matanya selalu lembut. “Jaga diri. Kalau ada yang mengganggu, lari saja.”

“Huang tahu.”

Haoshu hanya mengangguk dari sudut ruangan, tangannya sibuk meraut bilah bambu. Ayahnya jarang bicara. Tapi setiap kali Huang berpamitan, tangan kasar itu pasti berhenti sejenak. Seperti memberi restu diam-diam.

Huang berjalan dengan kain di kepalanya terikat erat. Di dalamnya ada tiga bungkus kecil ramuan batuk dan satu bungkus khusus untuk demam. Ibu bilang, pelanggan tetap di pasar desa itu suka ramuan batuk, karena ampuh meredakan paru-paru yang meradang.

Seperti biasa, di tikungan dekat sungai, sekelompok anak laki-laki menunggunya. Yang paling besar bernama Keng, anak Kepala Desa. Tubuhnya dua kali lipat Huang, dengan lengan tebal dan wajah penuh bintik-bintik hitam.

“Hei, lihat! Anak setan datang!” Keng menyeringai.

Huang tidak mengubah arah. Dia terus berjalan, matanya lurus ke depan. Tangannya memegang erat kain di kepalanya.

“Lari, setan! Lari seperti tikus!” teriak salah satu dari mereka sambil melempar batu kecil.

Batu itu mengenai punggung Huang. Rasanya perih, tapi dia tidak berhenti. Kakinya terus melangkah. Dia hanya menggigit bibir bawahnya, dan dalam hati dia berkata, "Tidak apa. Nanti malam ibu akan memijat punggungku. Ayah akan menyalakan api unggun."

Itu cukup. Itu selalu cukup.

Di pasar, Huang menyerahkan ramuan itu kepada Nenek Li, penjual sayur yang baik hati. Nenek Li mengambil dua genggam beras dan sepotong kecil ikan asin.

“Ini, Nak. Makan yang banyak. Kamu terlalu kurus.”

Huang mengangguk. “Terima kasih, Nenek.”

Perjalanan pulang terasa lebih ringan. Beras di kain itu berbunyi gemerisik setiap kali Huang melangkah. Dia hampir berlari kecil, membayangkan nanti ibunya akan memasak bubur dengan ikan asin. Ayahnya akan duduk di dekat pintu sambil mengupas kelapa muda dari belakang rumah.

Tapi ketika dia sampai di depan rumah, langkahnya terhenti. Karena di bawah ambang pintu, terlihat genangan merah mengkilap.

Darah, dan masih basah.

Kain beras di tangan Huang jatuh. Beras putih berserakan di tanah bercampur pasir. Tapi Huang tidak peduli. Dia segera masuk ke dalam gubuk yang gelap.

Di dalam.

Udara terasa panas dan pengap. Bau darah lebih pekat di sini, bercampur dengan aroma anyaman bambu dan abu dapur yang dingin.

Huang melihatnya.

Lian, ibunya tergeletak di dekat tungku. Lehernya menganga. Seperti ayam yang baru saja disembelih, kulit dan daging terbelah rapi.

Di sampingnya, Haoshu. Posisi tubuhnya setengah duduk bersandar pada tiang bambu. Luka yang sama. Darah masih merembes pelan ke tanah.

Huang berdiri terpaku.

Matanya bergetar. Dadanya terasa begitu sesak. Udara di sekitarnya mendadak terlalu berat untuk dihirup.

Dia ingin berteriak. Tapi suaranya hilang. Seperti ada tangan tak terlihat yang mencekik kerongkongannya.

'Bangun, Bu. Huang sudah pulang.'

Bibirnya bergerak, tapi tidak ada suara.

'Bu... ini bubur favorit Ibu. Huang bawakan ikan asin dari Nenek Li.'

Diam.

'Bu, jangan tidur di sini. Lantainya dingin. Nanti Huang panggilkan tikar anyaman baru.'

Diam.

Huang akhirnya terjatuh. Tangannya meraih tubuh ibunya yang sudah dingin. Dia memeluknya, wajah ibunya menempel di dadanya yang kecil. Dia bisa merasakan bau anyir darah, tapi dia tidak peduli.

“Bu... bangun...” Akhirnya suaranya keluar.

“Bu... tolong... bangun...”

Tidak ada jawaban.

Huang memeluk lebih erat. Bahunya terisak. Awalnya pelan, lalu semakin keras. Air matanya jatuh satu per satu, membasahi rambut ibunya yang kusut. Lalu tiba-tiba, seperti bendungan yang jebol, dia meraung.

“HAAAAAAAAAA!”

Raungannya menggema di antara dinding bambu. Tidak ada yang datang. Tidak ada tetangga. Tidak ada yang peduli. Desa itu tidak pernah ramah pada keluarganya.

Setelah entah berapa lama, Huang melepaskan pelukannya. Tangannya gemetar saat menyentuh wajah ibunya.

Lembut.

Wajah yang sama yang mencium keningnya setiap pagi, tapi sekarang pucat, bibirnya kebiruan. Lehernya... Huang tidak mau melihat ke sana. Tapi matanya tidak bisa berpaling.

Dia beralih ke ayahnya. Haoshu masih dalam posisi setengah duduk. Seolah-olah sebelum ajal menjemput, dia mencoba berdiri. Mungkin untuk melindungi istrinya. Mungkin untuk memanggil nama Huang. Tidak ada yang tahu.

“Ayah...” bisik Huang, suaranya pecah.

Tangan Huang menyentuh wajah kasar Haoshu. “Ayah, bangun. Huang janji tidak akan nakal. Huang janji akan bantu Ayah cari kayu di hutan setiap hari. Ayah... jangan tinggal Huang.”

Diam.

Huang menangis lagi. Lebih pelan kali ini.

Beberapa saat kemudian.

Huang mengusap air matanya dengan punggung tangan, lalu dia berdiri. Tubuhnya terhuyung sebentar. Lalu dia pergi keluar kebelakang rumah.

Di belakang rumah, ada cangkul tua. Gagangnya sudah retak, mata cangkulnya berkarat. Huang mengambilnya. Cangkul itu hampir sama besar dengan tubuhnya.

Dengan cangkul di tangan, dia berjalan ke halaman depan. Ke bawah pohon beringin besar. Pohon tempatnya biasa bersantai bersama ayah dan ibunya saat senja.

Di sana, di bawah naungan ranting-ranting yang menjuntai, Huang mulai menggali.

Setiap kali ayunan cangkul menghantam tanah, dia membayangkan ibunya tersenyum. Setiap kali dia membuang tanah dengan tangan kosong, dia membayangkan ayahnya mengelus rambutnya.

Matahari bergerak perlahan. Dari atas kepala merayap ke barat. Bayangan pohon beringin memanjang lagi. Sampai akhirnya, saat langit mulai berwarna jingga tua, dua lubang sudah tergali. Tidak dalam, tapi cukup.

Huang kembali ke dalam rumah. Tubuhnya lemas, lengannya terasa putus, tapi dia tidak menyerah.

Dia berlutut di samping ibunya. “Maafkan Huang, Bu. Huang tidak kuat mengangkat Ibu. Huang hanya bisa menyeret.”

Tangannya meraih pergelangan tangan Lian. Tubuh ibunya tergeser pelan di atas lantai bambu. Terdengar suara gesekan yang keras. Setiap sentuhan, Huang menangis.

“Maafkan Huang, Bu. Maafkan Huang...”

Di luar, di tepi lubang pertama, Huang berusaha menurunkan tubuh ibunya. Dia memeluk pinggang ibunya, lalu perlahan-lahan membiarkan tubuh itu meluncur ke dalam lubang. Terdengar bunyi thud pelan saat kepala Lian menyentuh tanah di dasar lubang.

Huang melompat turun. Tubuhnya yang kecil masuk ke dalam lubang di samping ibunya. Tanah dingin. Bau anyir masih melekat. Dia mencium kening ibunya. Air matanya menetes.

“Ibu... Huang menyayangi Ibu. Sampai kapan pun. Jangan lupakan Huang, ya. Kalau Ibu ada disana... di alam lain... semoga Ibu hidup damai. Tidak perlu masak setiap hari. Tidak perlu begadang meracik ramuan.”

Dia mengepalkan tangannya. “Ibu tenang sana ya... Huang akan baik-baik saja. Janji.”

Huang naik dari lubang itu. Lalu tangannya mulai menutup tanah. Segenggam demi segenggam. Suara tanah jatuh menimpa tubuh ibunya terdengar begitu nyata.

Setelah lubang pertama tertutup rapi, Huang beralih ke ayahnya.

Haoshu lebih berat. Tapi Huang tidak menyerah. Dia menyeret tubuh ayahnya melewati pintu, melewati halaman, sampai ke tepi lubang kedua. Tubuh ayahnya jatuh ke dalam lubang dengan suara berat.

Huang turun lagi. Dia mengambil tangan kanan ayahnya yang besar dan kasar. Huang meletakkan telapak tangan ayahnya di atas kepalanya sendiri.

“Ayah... janjilah pada Huang. Janji bahwa Ayah akan selalu melindungi Ibu di sana. Ibu takut gelap, ayah tahu itu kan. Jangan biarkan Ibu sendirian.”

Diam.

Huang menggigit bibirnya sampai berdarah. “Kenapa tidak ada yang menjawab? Kenapa Huang ditinggal sendirian?”

Tangisannya pecah lagi. Lebih keras dari sebelumnya.

Beberapa saat berlalu. Huang menarik napas panjang.

“Ayah... semoga Ayah bahagia di sana. Jangan khawatir pada Huang. Huang sudah besar. Huang bisa jaga diri.”

Dia naik dari lubang. Lalu menutup tanah. Gerakannya kaku. Seperti boneka kayu yang engselnya berkarat.

Setelah kuburan ayahnya tertutup, Huang berjalan terhuyung ke sudut halaman. Di sana tumbuh bunga liar. Kecil berwarna putih. Huang memetik beberapa tangkai. Lalu dia kembali ke kedua gundukan tanah di bawah pohon beringin. Dia menancapkan bunga-bunga itu di pusat masing-masing kuburan.

“Untuk Ibu. Untuk Ayah.”

Matahari hampir tenggelam. Langit barat berwarna ungu dan merah, seperti luka yang masih segar.

Huang berdiri di antara dua kuburan. Matanya sayu. Tubuhnya yang kecil terlihat begitu rapuh di bawah pohon besar itu.

Lalu, perlahan, matanya terpejam. Huang jatuh tidak sadarkan diri di antara ayah dan ibunya. Di atas tanah yang masih baru digali. Di bawah pohon beringin yang menjadi saksi bisu seluruh kesedihan yang tak semestinya ditanggung anak seusianya.

...---...

...Tingkat Kultivasi...

1
yos helmi
tamat.. jgn tunggu up.. thornya dah modaaar 🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
💪😄😄😄💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄👍👍👍
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣😄😄
yos helmi
yg anehnya ko lan dong bisa di murid dalam.. ??? thor jgn terlalu tolol buat cerita..
Tinta Abadi: Ini komentar nya juga aneh. Padahal udah ada narasi. Huang heran mengapa Lan Dong yang murid luar bisa ikut eksplorasi murid dalam. Kau tolol, tapi ngatain orang tolol. Padahal cerita pengenalan Dhu Yan udah dijelaskan. kalau dhu yan itu orang yang memiliki banyak koneksi.

ngakak banget bro ini salah mulu🤣
kok bisa ya kek gitu. bacanya di lompat lompat kah?
total 1 replies
yos helmi
banyak yg ketinggalan dlm cerita ini.. ilmu dari org misterius..
Tinta Abadi: Otak bro yang ketinggalan. Literasi minus. Jadi pembaca itu yang teliti sedikit bro. Jangan dungu.

Saran: Baca ulang bab 4 berulang-ulang sampai paham. Mungkin anda sudah tua, jadi otaknya lemot, saya memahami🙏

Kasihan authornya ditanya mulu. Kebiasaan baca novel warisan, jadi beberapa pembaca nganggep warisan itu kekuatan sakti. Padahal pemahaman dasar loh tentang kultivasi.
total 1 replies
yos helmi
👍👍👍💪💪
yos helmi
😄😄😄😍😍😍
yos helmi
😄😄😄😄😄💪💪💪👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!