Salwa Azzahra, gadis berusia 22 tahun, menikah dengan orang yang sangat dia cintai , dan berharap Salwa bisa keluar dari rumah yang membuathya terluka . namun harapannya hancur seketika di malam pertama pernikahan .
Baru saja akad dilaksanakan, Yogie, suaminya, langsung menjatuhkan talak tiga tepat di malam itu juga, tanpa penjelasan yang masuk akal. Ia mengembalikan Salwa ke rumah orang tuanya seolah gadis itu barang yang tidak berguna. Salwa hancur, merasa harga dirinya diinjak-injak, dan kini harus menanggung malu serta fitnah masyarakat yang menuduhnya bersalah hingga diceraikan secepat itu.
Di balik sikap dingin Yogie, ternyata ada rahasia besar dan alasan tersembunyi yang membuatnya terpaksa melakukan hal menyakitkan itu, meski sebenarnya ia menyimpan rasa peduli. Takdir mempertemukan mereka kembali bertahun-tahun kemudian, saat luka keduanya belum sembuh , apakah Salwa akan kembali pada Yogie?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Penolakan
Hujan mulai turun deras membasahi bumi, seolah langit pun turut menangisi nasib malang Salwa. Di dalam mobil yang membawanya pulang, gadis itu masih terisak, tubuhnya gemetar hebat di balik sisa gaun pengantin putih yang kini terlihat kusut dan basah terkena percikan air hujan. Tidak ada lagi senyum bahagia, tidak ada lagi harapan indah yang sempat ia rajut. Yang tersisa hanya rasa sakit yang luar biasa dan rasa malu yang menyiksa.
Supir yang mengantarnya sopir pribadi keluarga Yogie hanya diam, sesekali melirik ke cermin belakang dengan tatapan iba namun tak berani bersuara. Perintah majikannya jelas: antarkan wanita ini kembali ke rumah orang tuanya, serahkan saja, dan segera pulang.
Setelah perjalanan yang terasa seabad lamanya, mobil itu akhirnya berhenti di depan rumah sederhana tempat Salwa dibesarkan. Rumah yang dulu ia harapkan bisa ia tinggalkan selamanya karena rasa takut dan trauma, kini harus ia masuki kembali dengan kondisi yang jauh lebih buruk.
Salwa turun perlahan, langkahnya gontai seolah ada beban berton-ton yang membebani bahunya. Ia menatap pintu kayu di hadapannya dengan napas tertahan. Ia berharap, setidaknya di sini ia akan menemukan tempat berlindung, sandaran bahu ibu yang dulu selalu menghiburnya, atau pelukan ayah yang dulu ia kagumi.
Namun, harapan itu hancur bersamaan dengan terbukanya pintu rumah.
Ibunya yang muncul lebih dulu. Wanita paruh baya itu berdiri di ambang pintu, tangannya masih memegang kain lap. Saat melihat putrinya berdiri di sana dengan wajah bengkak karena menangis, gaun pengantin yang sudah tidak rapi lagi, dan tanpa ditemani oleh suaminya, wajah Ibu langsung berubah pucat lalu berkerut kesal.
"Kau... kau kenapa pulang jam segini? Di mana suamimu?" tanya Ibu ketus, suaranya terdengar dingin tanpa sedikit pun rasa khawatir.
Salwa menahan isak tangisnya, mencoba berbicara dengan suara yang parau. "Bu... Ibu... aku..."
Belum sempat Salwa menyelesaikan kalimatnya, Ayah tirinya muncul dari belakang, diikuti oleh kedua saudara tirinya yang langsung memandang Salwa dengan tatapan menghakimi dan sinis.
"Apa yang terjadi?!" bentak Ayah tiri, melangkah maju menghadang Salwa di depan pintu. "Kenapa kau kembali ke sini? Bukankah kau sudah sah menjadi istri Yogie Pratama? Kenapa kau pulang sendirian seperti anak kecil yang diusir?"
Air mata Salwa mengalir semakin deras. Ia menggeleng lemah, tubuhnya terasa lemas hingga hampir roboh. "Mas Yogie... dia... dia menjatuhkan talak tiga kepadaku, Yah... Malam ini juga... di malam pertama kami..."
Hening sejenak. Hanya suara hujan yang terdengar memukul atap dan jalanan.
Namun, reaksi yang Salwa harapkan reaksi kaget, kemarahan pada pihak laki-laki, atau rasa iba sama sekali tidak ia dapatkan. Sebaliknya, Ayah tirinya justru tertawa sinis, tertawa yang penuh kepahitan dan kemarahan. Ibu di sampingnya langsung membuang muka dengan wajah penuh rasa malu.
"Dasar pembawa sial!" seru Ayah tiri dengan suara menggelegar, menunjuk wajah Salwa dengan jari gemetar karena marah. "Apa gunanya kami menikahkan mu kalau begini jadinya? Kami sudah berusaha mencarikan jodoh baik agar kau bisa pergi dari sini, agar nama baik keluarga kami tidak ternoda lagi oleh masalah-masalahmu, tapi apa balasanmu? Kau malah diceraikan di malam pertama! Kau benar-benar mempermalukan kami semua!"
"Yah... tolonglah... aku tidak tahu apa salahku... dia menuduhku hal-hal yang tidak benar... dia bilang aku wanita kotor... padahal aku korban, Yah... Ibu... kalian tahu itu..." Salwa mencoba membela diri, menggapai ujung baju ibunya, berharap wanita itu mau memihaknya.
Namun, Ibu dengan kasar menepis tangan Salwa, seolah kulit putrinya itu penuh kuman yang menular.
"Jangan pegang aku!" hardik Ibu tajam. "Cukup, Salwa! Sudah cukup masalah yang kau bawa ke rumah ini. Dulu kejadian buruk itu menimpamu, kami sudah menanggung malu. Kami pikir dengan menikahkan mu, semua orang akan lupa dan kau bisa hidup bahagia. Tapi lihatlah apa yang kau lakukan sekarang! Diceraikan di malam pertama? Itu pasti ada alasannya. Mana mungkin seorang suami sekejam itu kalau istrinya tidak punya cacat atau aib?"
"Tapi Bu, aku tidak salah apa-apa! Aku hanya diam saja, aku baru masuk kamar, dia langsung mengucapkan talak... aku bingung, aku juga sakit hati..." Salwa berusaha menjelaskan, suaranya hilang tertutup tangis yang semakin menjadi-jadi.
"Kami tidak mau tahu!" potong Ayah tiri dengan tegas, wajahnya terlihat bengis dan tidak mau tahu perasaan Salwa sedikit pun. "Dengar baik-baik, Salwa. Kami sudah mengeluarkan mu dari rumah ini saat kau menikah kemarin. Secara adat dan agama, saat kau menjadi istri orang lain, kau sudah bukan tanggung jawab kami lagi. Dan sekarang, karena kau sudah diceraikan, kami tidak bisa dan tidak mau menerimamu kembali di sini."
Salwa tertegun, matanya membelalak tak percaya. Ia mengira ucapan itu salah dengar. "Ma-maksud Ayah? Aku anak kandung Ibu... aku tidak punya tempat lain selain di sini... ke mana aku harus pergi kalau bukan pulang ke rumah orang tuaku sendiri?"
"Carilah tempat lain saja!" sahut saudara tirinya dengan nada mengejek. "Kau kan sudah janda, sudah bukan gadis lagi. Mana ada keluarga yang mau menerima kembali wanita yang baru dinikahi sehari lalu sudah diceraikan? Itu aib besar bagi kami. Kalau kau tinggal di sini, tetangga akan makin banyak bergunjing. Nama baik kami makin rusak karena mu!"
"Benar kata mereka," tambah Ibu dengan suara datar dan dingin, tanpa sedikit pun air mata di matanya. "Kau sudah besar, Salwa. Kau bisa mencari jalan hidupmu sendiri. Kami sudah cukup berkorban membesarka mu sampai dewasa. Jangan bawa masalahmu ke sini lagi. Pergilah."
"Aku mohon, Bu... Ayah... kasihanilah aku... aku tidak punya uang, aku tidak punya barang apa-apa... Yogie mengusirku begitu saja..." Salwa bersimpuh di lantai basah, memeluk kaki ibunya, namun lagi-lagi ditendang pelan hingga ia terguling ke belakang.
"Itu urusanmu! Kami sudah selesai denganmu. Sekarang pergilah dari depan pintu ini sebelum kami mengusir mu dengan cara yang lebih kasar!" bentak Ayah tiri. Ia lalu menoleh ke dalam rumah dan berteriak, "Sudah, tutup pintunya! Jangan biarkan dia masuk!"
sebelum menutup pintu Bu Ratna menatap Salwa tajam " kamu persis seperti ayah kandungmu pembawa sial , pergi dari sini sekarang juga ." usir Bu Ratna .
Dan dengan kasar, pintu kayu itu ditutup rapat tepat di hadapan wajah Salwa. Bunyi kunci diputar terdengar jelas, seolah menandakan pintu hatinya pun telah tertutup rapat oleh orang-orang yang seharusnya menjadi pelindung pertamanya.
Salwa duduk bersimpuh di teras rumahnya sendiri yang kini sudah tertutup baginya. Hujan turun semakin deras, membasahi seluruh tubuhnya hingga kedinginan. Tangisnya sudah kering, rasa sakit di dadanya begitu besar hingga ia sulit bernapas.
Di mana lagi ia harus pergi? Suami yang baru sejam lalu sah menjadi pemimpinnya telah menceraikan dan membuangnya. Keluarga kandung yang ia harapkan menjadi tempat pulang kini menolaknya seolah ia adalah sampah yang tidak berguna. Dunia ini terasa begitu kejam padanya.
Di balik jendela rumah yang tertutup tirai, ia samar-samar mendengar suara ibunya berbicara dengan nada kesal, "Semoga dia pergi jauh dan tidak pernah kembali. Aku tidak mau punya anak pembawa sial seperti dia."
Kalimat itu menjadi pukulan terakhir yang menghancurkan sisa-sisa harapan Salwa akan kasih sayang keluarga. Di tengah derasnya hujan dan dinginnya malam, Salwa bangkit berdiri dengan kaki gemetar. Ia menatap rumah itu terakhir kali, lalu berbalik pergi tanpa tujuan yang jelas, berjalan menjauh ke dalam kegelapan malam, sendirian, tanpa tempat berlindung, dan membawa luka yang mendalam di hati dan harga dirinya.
Sementara itu, di rumah megah milik keluarga Yogie, pria itu berdiri di balkon kamarnya, menatap ke arah jalan raya yang gelap. Ia tahu betul apa yang akan terjadi pada Salwa. Ia tahu gadis itu pasti akan ditolak oleh keluarganya sendiri. Namun, demi janji yang ia buat dan demi keselamatan nyawa gadis itu, Yogie harus membiarkan Salwa tersakiti sekarang, meski ia sendiri sedang hancur berkeping-keping melihat apa yang harus ia lakukan.
"Maafkan aku, Salwa," bisiknya pelan di tengah hening, air mata pertamanya jatuh diam-diam. "Hanya dengan cara ini kau akan selamat dari bahaya yang jauh lebih besar. Bertahanlah... sebentar lagi semua akan jelas."
Bersambung ,,,