Di saat fisiknya yang sawo matang selalu dihina oleh geng Ivanka, Alisha membuktikan bahwa kecerdasan dan rasa percaya diri jauh lebih memikat daripada standar kecantikan dunia. Namun, ketangguhannya diuji oleh Reyshaka, rival abadi berotak encer yang hobinya berdebat, tapi diam-diam selalu pasang badan paling depan saat Alisha direndahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kuliner dan rahasia Jalan Braga
Udara hari Minggu di Kota Bandung terasa bersahabat, Alisha dan Aleta akhirnya menginjakkan kaki di kawasan kuliner populer di daerah Gasibu. Agenda mereka hari ini adalah sister’s day out—jalan-jalan berdua untuk menyegarkan pikiran.
"Kak Alisha, beli cuanki itu yuk! Antrenya rame banget, pasti enak!" Aleta menarik-narik ujung kaus Alisha dengan wajah berbinar-binar. Aroma gurih kaldu dan tahu bakso yang mengepul di udara Bandung yang sejuk benar-benar membuat perut mereka keroncongan.
Mereka pun ikut mengantre. Aleta tampil modis dengan kardigan rajut putih dan riasan tipis yang membuatnya terlihat seperti selebgram kota. Sementara Alisha memilih tampil kasual dengan sweter oversized dan celana jins, membiarkan kulit sawo matangnya terpapar hangatnya matahari pagi.
"Neng, ini pesanannya. Dua porsi cuanki komplit," ucap si mamang penjual sambil menyodorkan dua mangkok hangat. Matanya kemudian memandangi Aleta yang putih bersih, lalu beralih menatap Alisha.
"Aduh, Neng yang ini geulis pisan ya, kayak artis Jakarta. Temen kuliahnya ya, Neng?" tanya si mamang penjual kepada Alisha, menyangka Aleta adalah pusat perhatiannya.
Alisha tersenyum tipis, sudah terbiasa dengan salah paham seperti ini. "Bukan Mang, ini adik kandung saya."
Si mamang penjual melotot kaget, menatap mereka berdua bergantian dengan tatapan tidak percaya. "Ah, seriusan Neng? Kok... punten ya, kok gak mirip sama sekali? Adikna mah jiga (kayak) bule putih gitu, kakaknya mah eksotis ya. Benar adik kandung, Neng? Bukan sepupu?"
Mendengar kalimat polos tapi menyakitkan dari si pedagang, senyum ceria di wajah Aleta seketika lenyap. Ia melihat perubahan mikro di mata Alisha yang sempat meredup. Rasa bersalah dan tidak enak hati langsung melonjak di dada Aleta.
Tanpa diduga, Aleta langsung mengambil langkah maju, berdiri pas di depan Alisha sambil berkacak pinggang. "Ih, si Mamang mah sok tahu! Kita beneran kakak adik kandung, satu bapak satu ibu tahu! Mbak Alisha ini emang kulitnya sawo matang karena mirip Bapak, tapi otaknya paling pinter se-kabupaten, Mang! Juara satu olimpiade fisik tingkat provinsi kemarin! Gak boleh dibeda-bedain gitu ah!"
Si mamang penjual langsung gelagapan, merasa tidak enak karena sudah menyinggung pelanggan setianya. "Eh... iya, Neng, maaf ya. Mamang gak maksud gimana-gimana. Wah, hebat atuh pinter mah!"
Alisha yang berdiri di belakang Aleta sempat tertegun. Ia menatap punggung adiknya yang mungil tapi mendadak terasa begitu kokoh berdiri membelanya. Setitik rasa hangat mengalir di hati Alisha. Aleta mungkin labil dan suka minder, tapi di depan orang lain, adiknya tetaplah pelindung pertamanya.
"Udah, Ta, gak apa-apa. Yuk kita makan di sebelah sana," lerai Alisha sambil merangkul bahu Aleta, membawa adiknya menjauh dari rombong cuanki.
Aleta masih merengut kesal sambil mengaduk baksonya. "Aku sebel banget, Mbak. Kenapa sih orang-orang tuh kalau liat fisik harus langsung ngebandingin begitu? Padahal Mbak Alisha tuh keren banget."
Alisha tersenyum geli, lalu mencowel pipi Aleta yang putih. "Makasih ya udah belain kakak. Udah ah, jangan cemberut terus, nanti cantiknya luntur."
Sore harinya, mereka berpindah ke kawasan Jalan Braga yang estetik untuk berfoto-foto. Di tengah ramainya pejalan kaki di trotoar berbatu, mata jeli Aleta mendadak menangkap siluet tubuh tegap yang sangat ia kenal dari jarak beberapa meter.
Itu Kak Aryan!
Kakak tertua mereka yang pamitnya ada urusan ke Bandung itu ternyata sedang berjalan santai. Dan yang membuat Aleta langsung melompat heboh adalah... Aryan tidak sendiri. Ia sedang menggandeng tangan seorang gadis berhijab manis yang berjalan malu-malu di sebelahnya.
"Kak! Kak Alisha! Liat tuh ke jam dua! Itu Kak Aryan, kan?!" bisik Aleta histeris sambil memukul-mukul lengan Alisha.
Alisha ikut menoleh dan matanya melebar. "Eh, iya! Wah, jalan sama cewek dia!"
Dengan jiwa jahilnya yang meronta-ronta, Aleta langsung berlari kecil dan mengendap-endap ke arah belakang Aryan. Begitu jaraknya sudah dekat, Aleta sengaja berdeham sangat keras.
"Ekhem! Bagus ya... pamitnya ke Bandung ada urusan kerjaan, tahunya urusan hati!" seru Aleta lantang.
Aryan refleks berbalik badan dengan wajah super panik. Begitu melihat dua adik perempuannya berdiri di sana dengan cengiran usil, wajah tegas Aryan langsung memerah padam karena malu. Gadis di sebelahnya pun ikut menunduk, wajahnya merona.
"Aleta? Alisha? Kalian kok bisa di sini?" tanya Aryan gagap, buru-buru melepas gandengan tangannya karena salah tingkah.
Aleta melipat tangan di dada, matanya menatap tajam ke arah gadis di sebelah Aryan, lalu menatap kakaknya dengan pandangan menggoda yang jahil maksimal. "Wah, Kak Aryan... kok ceweknya beda lagi, sih? Perasaan minggu lalu bukan yang ini deh kriteria Kakak!"
"Hah?! Sembarangan lo kalau ngomong!" pekik Aryan panik setengah mati. Ia langsung melirik pacarnya yang tampak terkejut mendengar ucapan Aleta. "Nggak, Yang, sumpah! Jangan dengerin Aleta, dia emang hobi memfitnah kakaknya sendiri! Ini pacar pertama dan satu-satunya Kakak, Ta! Jangan bikin gosip!"
Alisha di sebelah Aleta langsung tertawa terbahak-bahak melihat kepanikan Kak Aryan yang biasanya selalu pasang muka jaim dan tegas di rumah.
"Udah, Kak, jangan panik gitu mukanya. Aleta cuma bercanda kok," bela Alisha sambil tersenyum ramah ke arah pacar Aryan. "Halo Kak, aku Alisha, ini Aleta. Maaf ya, adik saya yang satu ini emang agak ajaib mulutnya."
Gadis itu akhirnya tersenyum lega dan mengangguk. "Halo, aku Risa."
Malam itu di Jalan Braga, di bawah lampu-lampu jalan yang mulai menyala, mereka berempat akhirnya mampir ke sebuah kafe kecil. Hubungan Alisha dan Aleta yang sempat diselimuti riak minder kini mencair sepenuhnya, berganti dengan kehangatan tawa keluarga saat mereka kompak menggoda Kak Aryan yang sepanjang malam tidak berhenti salah tingkah.